My Princess

My Princess
#132



Mobil Mariana terus melaju menelusuri jalan malam, tepat jam sepuluh tadi semuanya berpamitan pada Elsaliani dan Iqbal, mereka langsung meluncur ke rumah masing-masing.


Sebelum pulang Mariana lebih dulu mengantar Kania ke rumahnya di karenakan Marvel tidak bisa ikut karena tiba-tiba saja ada panggilan kerja.


"Khmmmmmm, Kania!" Panggil Mariana yang memecah kebisuan antara keduanya.


"Iya, kenapa kak?" Tanya Kania yang langsung menoleh pada Mariana.


"Boleh aku tau, apa yang membuatmu menerima abang Marvel?"


"Nggak ada alasan, aku hanya nyaman dan senang saat bersamanya, aku melihat ketulusan dari matanya, rasa khawatirnya terhadap aku, perhatiannya, ntahlah, yang aku tau aku ingin terus memilikinya." Jelas Kania.


"Jika, seandainya, jikalau ada lelaki lain yang bahkan bisa memberikan nyawanya untuk kamu, apa kamu akan meninggalkan abang Marvel?"


"Apa kakak kira abang Marvel tidak bisa melakukannya?"


"Aku tidak bilang begitu, tapi seandainya ada lelaki yang bahkan mengorbankan dirinya hanya untuk kebahagiaan mu, apa kamu akan mendatanginya?"


"Abang Marvel adalah lelaki pertama yang datang dalam hati aku, dan aku mau dia juga lelaki terakhir ku." Jelas Kania.


"Sebegitu besar rasa setia mu pada abang Marvel?"


"Tidak, bahkan apa yang aku lakukan, tidak akan sebanding dengan apa yang telah abang Marvel berikan!"


"Syukurlah!" Ujar Mariana lega lalu tersenyum bahagia.


Keduanya kembali terdiam, hingga di menit berikutnya tatapan Kania terhenti di kaca spion.


"Kak, kenapa mobil itu seperti sedang mengikuti kita? apa cuma perasaan aku? atau mungkin mereka pengawal kakak?" Tanya Kania.


"Mobil?" Tanya Mariana yang segera menatap spion yang memperlihatkan dua mobil hitam yang memang terlihat begitu mencurigakan.


"Kania, hubungi abang Marvel sekarang!" Perintah Mariana yang langsung menambah laju mobilnya, hal itu bukan tanpa sebab, entah mengapa ingatannya tentang kejadian di bandara waktu itu langsung terputar ulang begitu melihat mobil tersebut.


Kania dengan cepat mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, tangannya langsung menekan nomor Marvel, hingga beberapa kali melakukan panggilan, namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Apa abang tidak mengangkatnya?"


"Hmmmmmm!" Jawab Kania yang mulai resah.


"Rafeal, ya cepat hubungi dia!" Perintah Mariana yang langsung dilaksanakan oleh Kania.


"Kenapa Kania?" Tanya Rafeal dari seberang, suara Rafeal bahkan langsung terdengar hanya berselang dari beberapa detik saja setelah Kania menekan namanya yang ada di layar ponsel.


"Abang Rafeal, tolong kami!" Jelas Kania.


"Ada apa? apa sesuatu terjadi? kamu di mana?" Tanya Rafeal yang terdengar jelas begitu panik dan khawatir.


"Kami lagi....." Penjelasan Kania terhenti, matanya terus melirik ke sana-sini.


"Rafeal, dengarkan aku! ada dua mobil yang mengikuti aku dan Kania, kami lagi di jalan menuju rumah Kania, tolong hubungi abang Marvel suruh dia datang, untuk lokasinya lacak saja no Kania." Jelas Mariana dengan suara lantangnya.


Kania yang terlihat semakin panik, sedangkan Mariana terus berusaha untuk tenang dengan terus mengemudi dengan baik, namun sesaat kemudian sebuah mobil berhenti secara mendadak tepat di depan mereka, membuat Mariana segera menginjak rem, mobil Mariana berakhir dengan menabrak bagian samping mobil tersebut, sesaat kemudian satu mobil lainnya menghadang dari belakang dan sedikit menghantam bagian belakang mobil Mariana.


"Keluar!" Teriak seorang lelaki yang dengan kasar menghantam kaca mobil Mariana.


"Kania tetap di sini, aku yang akan urus mereka!" Jelas Mariana yang langsung keluar, dan Kania pun ikut keluar.


"Kania!" Ujar Mariana saat melihat Kania ikut keluar bersamanya.


"Tuan putri Revtankhar!" Ujar Seorang lelaki yang terlihat begitu rapi dan elegan, lelaki tersebut baru saja turun dari mobil.


"Ternyata kamu!" Gumam Mariana menatap sosok tersebut dengan penuh kebencian.


"Waaah ternyata kamu masih mengenali aku, jadi terharu!" Jelasnya dengan senyuman sinis.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Mariana.


"Suruh Marvel untuk segera datang!" Perintah Lelaki tersebut.


"Bajingan kamu Rama!" Gumam Mariana.


"Wah wah, ternyata ada si cantik lainnya ya? hai cantik! apa dia saudara mu?" Tanya Rama yang terus saja menatap Kania dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Berhenti menatap dia!" Tegas Mariana yang langsung menyembunyikan Kania di belakangnya.


"Mariana, ayo kita kerja sama. Biar aku dekati si bocah cantik itu, sebagai gantinya aku tidak akan menyentuh mu!" Jelas Rama yang langsung memberi perintah pada para anak buahnya, dengan hanya mengangkat jari telunjuknya ke arah Mariana, para anak buah langsung menyekap Mariana.


"Rama, jangan dekati Dia!" Tegas Mariana sambil terus meronta mencoba melepaskan tubuhnya dari cengkraman dua orang bawahannya Rama.


Permintaan Mariana bak angin berlalu, Rama terus melangkah mendekati Kania.


"Hentikan! Namanya Kania, papanya seorang abdi negara, anggota tim pasukan khusus, mamanya seorang polisi lebih tepatnya seorang kepala tim investigasi criminal dan satu hal lagi, pacarnya adalah seorang, adalah...." Penjelasan Mariana terhenti saat tangan Rama dengan kasar di tepis oleh Kania saat sang empunya hendak menyentuh wajahnya.


"Wowwwww! ternyata kamu kasar juga, tapi aku suka, bawa mereka kedua ke mobil!" Jelas Rama.


Para anak buah Rama langsung beraksi, mereka langsung menyeret Kania dan Mariana untuk masuk ke dalam mobil.


"Lepas!" Gumam Mariana yang terus memberontak.


"Lepas! jangan sentuh aku!" Teriak Kania dengan terus berusaha melawan sekuat tenaga.


"Bakal dapat uang banyak nih!" Jelas Rafeal yang masih asyik memeriksa hasil jipratannya.


"Kamu tau apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Rama Marah.


"Mengambil foto!" Jawab Rafeal.


"Kamu tau siapa aku?" Tanya Rama yang masih terus menatap sosok Rafeal.


"Rama Pratama, anak pengusaha yang terbilang begitu sukses kan? kalau nggak salah dulu pernah terlibat dalam kasus kekerasan terhadap wanita namun semuanya terselesaikan dengan baik karena kekuasaan papa mu. Aku penasaran jika foto ini beredar apakah papa kamu masih bisa melepaskan sang putra semata wayang dari jeratan hukum?" Jelas Rafeal.


"Tunggu apa lagi? habisi dia!" Perintah Rama.


Ketujuh anak buah Rama langsung menyerang Rafeal, sedangkan dua orang lagi masih saja mendekap Kania dan Mariana.


Perkelahian terus terjadi, Rafeal terus saja membalas setiap pukulan yang mencoba menyerangnya.


Satu persatu para anak buah Rama berjatuhan di jalan hingga pada akhirnya suara Rama mengalihkan fokusnya Rafeal, membuat tiga pukulan yang membabi buta mengenai wajah dan kaki Rafeal membuat kedua lutut Rafeal tertekuk di aspal.


"Habisi bocah sialan itu, ayo pergi!" Perintah Rama.


Kedua lelaki yang tadi mendekap Mariana dan Kania langsung mendorong keduanya untuk masuk ke mobil.


'Door' Suara tembakan yang menggelegar membuat Rama kembali keluar dari dalam mobil.


"Kamu bawa senjata?" Tanya Rama dengan begitu heran saat melihat Rafeal melepaskan pelurunya di ban mobil miliknya.


Tanpa jawaban Rafeal langsung melumpuhkan beberapa lawannya yang masih tersisa. Perlahan Rafeal terus mendekati Rama, Rama yang mulai terpojok langsung menarik Mariana dari dalam mobil.


"Selangkah lagi kamu maju, aku akan membunuh Mariana!" Jelas Rama yang dengan spontan menempelkan kepala Mariana di kaca mobil.


"Rama!" Seru Marvel yang baru saja tiba bersama Rakes.


"Kita damai ajalah! kembalikan Mariana maka aku akan melepaskan mu, gampang kan?" Jelas Rakes santai.


"Kalian mau Mariana kembali, oke ambil!" Jelas Rama.


Marvel perlahan mendekat, mencoba untuk meraih Mariana, melihat aksi Marvel membuat Rama langsung mendorong Mariana kearah Marvel lalu ia lekas masuk ke dalam mobil yang satunya lagi.


"Kamu baik-baik aja?" Tanya Marvel yang masih memeluk erat sang adik tercinta.


"Aku oke, tapi..." Penjelasan Mariana terhenti saat mobil Rama beranjak pergi.


"Sialan!" Gumam Rafeal yang langsung mengejar mobil Rama.


"Kenapa? biarkan dia pergi!" Jelas Rakes.


"Kania ada di dalam mobil itu!" Jelas Mariana yang sontak membuat Marvel kebingungan.


"Apa? ah sial!" Gumam Marvel yang segera mengejar mobil Rama.


Rakes pun tak tinggal diam, ia ikut mengejar. Rafeal yang kini masih berlari mencoba mengejar mobil Rama yang terus melaju kencang.


"Rafeal!" Teriak Rakes saat melihat Rafeal mengarahkan pistolnya kearah mobil.


"Doooor!" Rafeal kembali melepaskan pelurunya kali ini sasarannya adalah kaca mobil Rama.


Rafeal terus berlari, dan untuk yang ketiga kalinya ia melepaskan pelurunya kali ini peluru menembus ban belakang mobil hingga membuat kondisi mobil bergerak tak karuan. Rafeal memanfaatkan keadaan tersebut dengan terus berlari lalu langsung melompat kearah mobil, setelah tubuhnya mendarat sempurna pada bagian bagasi secepat kilat tangannya menghancurkan kaca yang tadinya memang sudah retak akibat pelurunya.


Hanya butuh beberapa kali hantaman, Rafeal berhasil menghancurkan kaca tersebut lalu segera masuk ke dalam mobil Rama.


Arah laju mobil semakin kacau, bahkan beberapa kali menabrak pembatas jalan.


"Rafeal!" Teriak Rakes yang masih terus mengejar.


"Akan ku bunuh kalian semua! Rafeal, Kania, bertahan lah!" Gumam Marvel dengan teriakan lantang dan terus saja berlari.


Mobil tersebut sama sekali tidak berhenti yang ada lajunya semakin bertambah, kaki Marvel dan Rakes langsung terhenti saat mobil menghantam bagian pembatas jalan hingga membuat kondisi mobil terbalik dan terlempar hingga beberapa meter ke depan.


"Kania...." Teriak Marvel histeris lalu kembali berlari mendekat.


"Rafeal, Kania..." Ujar Rakes dengan langkah tertatih.


"Bruuuuuuuuk" Sebuah truk yang datang dari arah utara menghantam mobil tersebut, hingga menimbulkan kecelakaan beruntun, karena dua mobil lainnya yang tiba-tiba muncul dari arah berlawanan juga ikut terhantam dengan mobil Rama.


Kecelakaan yang melibatkan tiga mobil dan satu truk tersebut sukses membuat Marvel dan Rakes melemah dan terjatuh ke jalan.


Tangis Marvel seketika pecah, ia terlihat begitu kebingungan, matanya yang masih kebingungan masih saja tertuju pada mobil Rama yang terjepit antara mobil lainnya dan truk.


"Kania, Rafeal!" Teriak Marvel dan pada akhirnya seluruh tubuhnya melemah dan terbaring di aspal.


Rakes masih saja menangis dalam kebisuan, ia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali, situasi yang ada di depan matanya benar-benar membuat dirinya tidak berdaya sama sekali.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️