
Setelah dirawat inap selama tiga hari dua malam, akhirnya Zea di benarkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Semenjak pulang dari rumah sakit tadi sore, Zea sama sekali tidak keluar dari kamarnya, ia pulang dengan di jemput oleh para pasukan clubnya dan juga sang uma tercinta, sedangkan Iqbal sedang dalam tugas yang tidak bisa ditinggalkan dan Rakes juga sibuk dengan misinya yang bahkan membuat dirinya tidak menemani sang istri selama dirawat di rumah sakit. Rakes hanya datang saat membawa Zea dan juga menemaninya selama satu malam, setelah berangkat di pagi hari kedua Zea dirawat, Rakes sama sekali belum pulang.
Setelah menyelesaikan sholat Insya, Zea beranjak dari sajadah lalu melangkah keluar kamar dengan masih mengenakan mukena dan kain sarung yang tadi ia gunakan untuk sholat. Perlahan Zea membuka pintu kamar Rakes lalu melangkah pelan memasuki kamar tersebut dengan mata yang terus saja memerhatikan ke setiap sudut ruangan yang ada.
Sejenak berdiri dengan mata yang terus menatap tempat tidur yang kosong tanpa penghuni, lalu Zea kembali melangkah, kali ia berjalan menuju ruang ganti.
Zea masih berjalan pelan menelusuri lemari yang tertutup rapat, hingga akhirnya kakinya berhenti pada pintu lemari paling ujung.
"Maaf! maafkan aku, aku bukannya tidak percaya sama Chim chim, hanya saja kepingan masa lalu yang tiba-tiba muncul itu membuat hati ini ingin mencari tau lebih dalam lagi tentang siapa Chim chim sebenarnya. Maaf karena aku dengan lancang menyentuh barang-barang milik Chim chim." Jelas Zea dengan tangan yang langsung membuka pintu lemari yang ada di hadapannya.
Lemari tersebut dipenuhi dengan tumpukan buku-buku tebal lalu di rak paling bawah dihuni oleh berbagai jenis pisau. Tangan Zea mulai menyentuh deretan buku-buku tersebut, sembari terus membaca judul dari setiap buku yang ia sentuh.
"*Zea awas!" Teriak Rakes yang langsung menarik tubuh Zea agar menjauh dari rak buku yang tinggi menjulang.
Setelah tubuh Rakes dan Zea terhempas ke sudut ruang, rak buku tersebut tumbang ke lantai hingga membuat semua buku-buku tebal berserakan memenuhi ruangan tersebut.
"Dimana yang luka? kamu baik-baik saja kan?" Tanya Rakes yang terus mengecek seluruh tubuh Zea.
"Zea baik-baik aja, tapi kepala abang berdarah!" Jelas Zea ketika melihat darah yang mengalir membasahi kening Rakes.
"Syukurlah! abang juga oke, cuma berdarah sedikit nggak masalah, ayo bangun!" Jelas Rakes lalu mengulurkan tangan kearah Zea.
Zea meraih tangan Rakes lalu segera berdiri.
"Ayo keluar dari sini, biar nanti abang minta bi Leha untuk menata kembali buku-buku ini." Jelas Rakes.
"Tapi...."
"Udah ayo kita keluar!" Ajak Rakes*.
"Zea, kenapa termenung!" Tanya Rakes yang baru saja memasuki ruang ganti, ia masih lengkap dengan pakaian serba hitam dan juga senjatanya.
Ucapan Rakes menyadarkan Zea dari sepihal masa lalunya bersama sang suami. Rakes melepaskan semua senjata yang terpasang di tubuhnya lalu beralih memeluk erat tubuh Zea.
"Maaf, karena abang tidak bisa menemanimu selama di rumah sakit."
"Aku ngerti, abang kan kerja." Jelas Zea lalu membalas pelukan Rakes.
"Gimana? apa masih ada yang sakit?"
"Aku udah sembuh, aku baik-baik saja."
"Syukurlah"
"Abang mandilah, aku tunggu dikamar."
"Oke, abang akan mandi dengan cepat!"
Rakes segera berlari ke kamar mandi, sedangkan Zea kembali ke kamarnya.
Setelah menunggu selama tujuh menit, Rakes akhirnya datang, Rakes yang mengenakan celana pendek berwarna hitam di padu dengan kaos dengan warna senada serta rambut yang masih basah membuat penampilannya semakin menggiurkan.
Rakes duduk di samping Zea, membuat pandangan Zea langsung tertuju pada wajah Rakes.
"Apa yang ingin kamu dengarkan? abang akan cerita apapun itu!"
"Chim chim..."
"Chim chim..."
"Tanyakan apapun yang kamu ragukan! abang akan menjawab semuanya."
"Tiba-tiba sebuah kenangan muncul, kenangan buruk yang begitu membuat aku sesak nafas memikirkannya."
"Apa ada abang di sana?"
"Hmmmmm. Dulu saat abang mengantarkan aku ke arena balap, bukankah abang tau tentang aku yang takut pada gelap? dan sejak dulu cuma ayah dan uma yang tau tentang itu, tapi abang justru lebih mengerti tentang ketakutan ku itu, dan anehnya sebelum aku terjaga di rumah sakit, kenangan tentang penyebab aku takut dengan suasana gelap tiba-tiba muncul dan Chim chim muncul disana." Jelas Zea panjang lebar.
"Penjelasan apa yang ingin kamu dengar?"
"Abang tertidur lelap di sebelahku, bahkan tangan abang memeluk erat perut ku. Kenapa kita ada dalam keadaan seperti itu? kenapa kita bisa tertidur di tempat tidur yang sama?"
"Jika abang yang cerita, akan kah kamu percaya? bisa saja abang membohongimu."
"Aku percaya sekalipun Chim chim berbohong aku akan tetap percaya. Aku ingin mendengarnya secara langsung dari Chim chim." Jelas Zea sambil menyentuh wajah Rakes.
"Maaf karena abang menyentuh mu tanpa izin lebih dulu. Masih ingat saat kita terperangkap di sebuah gedung kosong?"
"Yang aku ingat hanya para mafia yang menyeret aku dan uma dari kamar secara paksa, lalu aku yang diikat dalam ruang gelap, dan terakhir aku terbangun dengan luka perih di bagian wajah dan perut, ketika aku membuka mata wajah Chim chim lah yang pertama kali aku lihat." Jelas Zea.
"Abang akan menyambungkan semua kepingan ingatan mu menjadi sebuah cerita yang utuh."
"Aku akan mendengarkannya!"
"Zea, satu hal yang harus kamu tau, abang mencintaimu, tidak ada kebohongan dalam cinta abang. Mungkin abang bukanlah lelaki yang baik, tapi abang sudah berusaha untuk jadi baik untuk kamu." Jelas Rakes.
Kedua tangan Rakes menyentuh lembut wajah Zea, menatapnya lekat, kian mendekat hingga kening keduanya saling bersentuhan, lalu hidung mancung keduanya pun ikut menyatu, Mata Rakes terus menatap dalam bola mata bening Zea.
"Haruskah abang yang memulai ceritanya?" Tanya Rakes.
"Hmmmmm, Ceritakanlah, apapun itu aku akan mendengarkannya dengan baik." Jelas Zea lalu merebahkan kepalanya di bahu lebar Rakes.
"Cerita pertama di mulai dari ingatan kamu dimalam itu,,,,
Saat mereka menyerat paksa kamu dan uma dari kamar mu, kamu ingat kan? mereka membawa kamu dan uma lalu meminta tebusan pada ayah, saat kejadian itu abang sedang berkemas untuk berangkat ke luar negeri, abang memutuskan untuk melanjutkan kuliah di sana, kakek yang memaksa abang untuk belajar bisnis lalu menjadi penerus kakek. Saat itu abang berfikir hanya dengan cara itu abang bisa menjagamu, kerena dengan punya banyak uang abang bisa menjamin keselamatanmu, tapi nyatanya abang salah, baru beberapa jam abang melepaskan kamu dari pentauan abang, kamu malah di culik oleh para ******** itu. Kamu boleh membenci abang semaumu tapi tolong jangan minta abang untuk berhenti peduli padamu." Jelas Rakes.
"Jika mereka yang membawa aku, lalu kenapa saat terjaga aku justru bersama Chim chim?"
"Setelah mereka membawamu dan uma, papa mengabari abang dan saat itu yang ada di pikiran abang hanya kamu, tanpa peduli lagi dengan siapapun, abang langsung meluncur untuk mencari keberadaan mu, malam itu abang benar-benar menggila, hingga akhirnya abang menemukan lokasi tempat kamu dan uma di sekap dan......."
πDelapan Tahun Lalu......π
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
πππππππ