My Princess

My Princess
#161



"Chim chim!" Panggil Zea saat ia sudah siap dengan stelan favoritnya.


"Udah?" Tanya Rakes yang lekas bangun dari sofa saat Zea datang menghampirinya.


"Hmmmmm!" Ujar Zea dengan tatapan yang masih saja menunduk dan kedua tangan yang sedari tadi terus bermain di kedua ujung jilbabnya.


"Kenapa? apa ada yang mengganggu pikiran mu?"


"Ntahlah, aku nggak tau entah kenapa rasanya aku begitu gelisah ada sesuatu yang membuat aku begitu khawatir!" Jelas Zea dan langsung memeluk erat tubuh Rakes.


"Rasanya begitu menyesakkan dada!" Lanjut Zea.


"Raze Junior baik-baik aja kan?" Tanya Rakes yang juga mulai khawatir.


"Iya, Chim chim..."


"Ada apa?"


"Abang Rakes, aku takut kehilanganmu!" Ujar Zea lalu perlahan mulai menitikkan air mata.


"Zea, abang di sini, bersama kalian berdua. Tenanglah, bukankah malam ini kita akan makan malam bersama, jadi berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Abang akan tetap bersamamu, selamanya." Jelas Rakes lalu mengecup lembut kening sang istri.


"Abang Roger, aku...."


"Ssssttttt! jangan lagi bahas tentang Roger, dia adik abang maka abang sendiri yang akan mengawasinya dan soal Reva, saat ini om Luqman sudah memperketat penjagaannya terhadap Reva. Yang harus kamu pikirkan saat ini hanyalah Raze Junior, kalian harus sehat-sehat selalu." Jelas Rakes lalu mengusap pelan perut Zea.


"Ayyo!" Ajak Rafeal dan Marvel yang baru saja datang dan dengan lancang langsung membuka pintu Rakes.


"Bisa nggak ketuk pintu!" Cetus Rakes kesal.


"Sorry! kebiasaan!" Ucap Marvel dengan senyuman.


"Apa bayinya mulai gerak?" Tanya Rafeal yang justru segera mendekati Zea.


"Benarkah?" Tanya Marvel memastikan dan ikut mendekat.


"Kalian ngapain?" Tanya Rakes spontan saat melihat kedua sahabatnya mulai berjongkok di hadapan Zea.


"Mau buktiin!" Jawab Rafeal polos.


"Apaan sih? awaaas!" Gumam Rakes yang langsung menjewer kedua sahabatnya.


"Zea boleh ya? sedikit aja, aku juga penasaran sama titisannya Serigala!" Jelas Rafeal.


"Lagian kami juga nggak bakal nyentuh Zea kok, kan terlapisi jilbab dan kemejanya." Jelas Marvel yang malah langsung mengarahkan tangan kanannya ke bagian perut Zea.


"Nggak ada, nggak ada! minggir!" Gumam Rakes yang langsung menangkis tangan Marvel.


"Zea, boleh ya!" Pinta Rafeal dengan memasang wajah yang terlihat begitu iba.


"Kalau abang Rakes bilang nggak itu artinya nggak, aku sama sekali nggak punya kekuasaan untuk mengubahnya menjadi iya." Jelas Zea.


"Dasar sahabat tak berperasaan!" Gumam Marvel kesel.


"Kalian beneran ingin menyentuhnya?" Tanya Rakes memastikan.


"Iya!" Jawab Rafeal dan Marvel dengan begitu semangat.


"Makanya buruan nikah, terus cetak sendiri!" Jelas Rakes yang langsung merangkul bahu Zea lalu membawanya keluar.


"Haisssssh!" Gumam Rafeal kesal.


"Pelit, lihat aja, tunggu pembalasan aku!" Cetus Marvel.


"Kalian ngapain di sini?" Tanya Mariana yang baru saja melewati kamar Rakes.


"Ana, mending cepetan deh kamu halalin Rafeal, dia udah nggak sabar tuh buat nyetak Rafeal versi junior." Jelas Rakes dengan tawa khasnya.


"Apaan sih!" Ujar Mariana dengan wajah yang memerah sempurna.


"Dasar bajingan!" Gumam Rafeal yang benar-benar terlihat begitu kesal.


"Kamu juga Kania, tuh lihat abang Marvel udah nggak sabar pengen ada yang memanggilnya papa!" Jelas Zea.


"Zea....!" Seru Marvel dengan wajah yang begitu merona dan segera pergi meninggalkan semuanya.


"Kak Zea ada-ada aja!" Ujar Kania dan segera mengikuti Marvel.


"Ana segera proses ya, biar abang yang melamar Rafeal, kamu tenang aja papi pasti merestui kalian, abang jaminannya." Jelas Rakes.


"Bocah? jadi kak Ana belom tau siapa yang dia panggil bocah. Buruan ntar di selip orang loh!" Goda Zea.


"Ayo sayang, biarkan bocah ini berpikir dengan waras. Ingat, Ana cantik loh, kaya pula tuh, banyak yang ngantri, jangan di anggurin terlalu lama!" Jelas Rakes dan lekas pergi.


"Huuuuf!" Rafeal membuang nafas kasar dan lekas menyusul yang lainnya.


_____________


"Abang tunggu!" Pinta Kania yang langsung berdiri di hadapan Marvel membuat langkah Marvel terhenti.


"Kania, kenapa?" Tanya Marvel yang terus berusaha menyembunyikan pipi merahnya.


"Abang..." Ujar Kania lalu perlahan menyentuh tangan kanan Marvel.


"Udah siap? ayo ke mobil!" Ajak Marvel mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa pipi abang merah banget? apa tadi itu benar?"


"Benar? apanya?"


"Apa yang kak Zea dan abang Rakes katakan."


"Bohong! maksudnya, mereka ngasal, haissssh! oke, fine, abang..." Ungkap Marvel dengan perasaan tak karuan.


"Abang...." Ujar Zea dengan suara yang begitu lembut lalu menatap lekat wajah Marvel.


"Maaf! Abang mencintai mu, sangat mencintaimu, menikahlah dengan abang!" Pinta Marvel dengan tatapan yang begitu dalam.


"Apa ini lamaran yang sesungguhnya?"


"Hmmmmm, jadilah istri abang!"


"Hmmmmmm!" Ujar Kania.


"Cepatlah besar, abang udah nggak sabar ingin cepat-cepat jadi suami mu!" Ujar Marvel lalu mengusap lembut kepala Kania.


"Hmmmm, tunggulah sebentar lagi, abang bisa kan menunggu akuu? jangan sampai oleng, setia lah, karena aku sangat mencintai abang!" Jelas Kania dengan senyuman yang begitu manis.


"Abang nggak akan berpaling arah, hanya kamu satu-satunya. Ayo!" Jelas Marvel.


"Terima kasih!" Ucap Kania dan segera ke mobil bersama Marvel.


"Aku turut bahagia melihat kalian bahagia! Kania semoga kamu dan Marvel menjadi pasangan yang bahagia di sepanjang hidup kalian, aku menyayangi kalian!" Ungkap Rafeal yang berdiri di balik vas bunga sana.


Rafeal mencoba menenangkan dirinya, perlahan ia mengusap air mata yang ntah sejak kapan sudah membasahi wajahnya.


"Kania, beri abang sedikit waktu, abang janji abang akan menghapus perasaan ini untuk kamu, meski dengan cara pelan-pelan tapi percayalah abang akan melakukannya dengan baik. Maaf karena begitu mencintai mu! akhirnya cinta yang diam-diam akan kalah dengan cinta yang datang belakangan namun penuh dengan kejantanan. Mungkin kisah aku, kamu dan Marvel berbeda dengan kisah Zea, Roger dan Rakes, karena memang jalan dan peran kita jelas berbeda sejak awal, Rakes menang dalam cinta diam diamnya selama 17 tahun dan aku kalah dalam cinta yang aku sembunyikan selama 8 tahun." Ungkap Rafeal dengan tangan yang mendekap erat bagian dadanya yang terasa begitu sesak.


"Aku tau sebenarnya dari balik sikap kasar dan bar-bar, kamu menyimpan ketulusan yang begitu mendalam. Kamu lelaki yang luar biasa baik Rafeal, aku salut dengan sikap mu yang begitu dewasa dalam menyikapi persoalan hidup mu, sepertinya aku mulai sedikit tersihir dengan sosok dirimu." Bisik hati Mariana yang ternyata diam-diam begitu memerhatikan sosok Rafeal dari kejauhan sana.


_______________


"Kami nggak telat kan?" Tanya Zafran yang baru saja tiba bersama Qalesya.


"Nggak kok, ayo berangkat!" Ajak Kania.


"Ayo naik!" Ajak Qalesya.


"Ya udah aku dan abang Rakes naik mobil abang Zafran aja, ayo buruan!" Jelas Zea dan langsung masuk ke dalam mobil Zafran dengan diikuti oleh Rakes.


"Ya udah, kita pakek mobil aku aja!" Ajak Mariana.


"Ayo!" Ujar Kania dan lekas masuk ke dalam mobil.


Mariana yang mengemudi dengan didampingi oleh Rafeal di sampingnya, lalu di kursi belakang di huni oleh Marvel dan Kania.


Kedua mobil tersebut segera meluncur menuju restauran yang memang sudah sejak tadi sore di pesan oleh Mariana.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamidaπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ