My Princess

My Princess
#114



Mobil Rakes berhenti di area parkiran sebuah restauran megah nan mewah. Rakes bahkan segera meloncat keluar dari mobilnya dan segera berlari memasuki restauran tersebut.


Suasana yang sepi tanpa penghuni sama sekali membuat langkah Rakes seketika terhenti, ia terus memandangi ke setiap sudut ruangan yang memang tak ada pengunjung sama sekali, lama terdiam akhirnya satu orang pelayan datang menghampirinya.


"Tuan muda!" Ujar pelayan yang memang sudah sangat mengenali Rakes.


"Apa ini juga ulah kakek?" Tanya Rakes.


"Iya, Tuan Jordan memang sengaja menutup restauran malam ini." Jelasnya lagi.


"Kenapa?"


"Katanya sih Tuan ingin makan malam dengan cucu dan cucu menantunya, ayo saya antar!" Jelas sang pelayan.


Rakes hanya mengikuti langkah sang pelayan yang membawanya ke sebuah ruangan VIP.


"Apa mereka di dalam?" Tanya Rakes.


"Iya, tuan muda masuklah! mereka sudah menunggu tuan muda dari tadi!" Jelas sang pelayan.


"Oke, terima kasih!" Ujar Rakes.


Pelayan lelaki tersebut sedikit membungkuk pada Rakes lalu berjalan meninggalkan Rakes yang masih berdiri menghadap pintu ruangan tersebut.


Restauran ini adalah salah satu dari puluhan restauran milik Jordan yang tersebar di seluruh kota yang ada di dalam negeri ini, Jadi pantas saja kalau semua pelayan mengenali Rakes dan juga Roger yang tak lain adalah para calon pewaris dari kekayaan Jordan yang begitu berlimpah.


Tangan Rakes langsung menyeret pintu ruangan tersebut ke sisi kiri hingga terlihatlah para penghuni ruangan yang sedang duduk manis menunggunya di meja sana.


"Masuklah!" Ujar Jordan saat melihat sosok Rakes yang masih berdiri di ambang pintu sana.


Tatapan Rakes terhenti pada sosok yang duduk tepat di samping Zea.


"Tidak perlu kaget begitu, aku juga cucu kakek, jadi keberadaan aku di sini itu normal." Jelas Roger yang paham dengan tatapan Rakes.


"Abang..." Ujar Zea yang segera bangun lalu menghampiri Rakes.


"Kalian duduklah!" Pinta Jordan saat Zea yang tadinya duduk kini malah berdiri di samping Rakes.


"Ayo!" Ajak Rakes dengan menggenggam tangan Zea, lalu membawanya kembali bergabung di meja makan.


Kini Zea duduk tepat di samping Rakes, dengan tangan yang masih saja menggenggam erat tangan Rakes.


"Kenapa hanya kita? kenapa kakek tidak mengundang papa dan mama?" Tanya Rakes.


"Kakek hanya ingin makan malam bersama kalian bertiga." Jelas Jordan.


"Kenapa tiba-tiba menjemput Zea? apa yang kakek inginkan?" Tanya Rakes.


"Kakek hanya ingin mengenal cucu menantu kakek, apa kakek salah?" Jelas Jordan.


"Apa yang sedang kakek rencanakan?" Tanya Rakes.


"Kenapa selalu saja berprasangka buruk sama kakek? sebenarnya apa yang begitu abang takutkan? lagi pula kami tidak akan mungkin menyakiti istri abang!" Jelas Roger.


"Lalu apa aku harus tetap tenang?" Tanya Rakes.


"Apa abang takut kalau aku akan merebut Zea dari abang? atau mungkin abang takut kalau kakek akan mewariskan semua hartanya untuk aku?" Tanya Roger.


"Roger tenanglah!" Pinta Jordan.


"Aku rasa tidak ada lagi yang harus kita bahas! kami permisi!" Jelas Rakes yang langsung bangun dari kursinya.


"Rakes tetap di tempat mu! kita bahkan belum malam sama sekali!" Tegas Jordan.


"Kami sudah kenyang." Seru Rakes.


"Abang..." Ujar Zea pelan.


"Apa sekarang abang mulai takut?" Tanya Roger sinis.


"Iya, kamu benar! saat ini abang benar-benar ketakutan. Abang takut mama dan papa akan kehilangan salah satu dari kita jika semua ini terus berlanjut." Jelas Rakes.


"Kakek, aku tidak tertarik menjadi pewaris kakek, jadi tolong jangan ganggu istri aku. Selamat malam!" Jelas Rakes lagi setelah ia menatap lekat mata Jordan yang sejak tadi memang begitu memerhatikan dirinya.


Rakes keluar dengan membawa serta Zea bersamanya. Rakes terus melangkah keluar tanpa peduli dengan para pekerja yang sejak tadi terus tersenyum padanya bahkan saat ada yang menyapanya Rakes sama sekali tidak meresponnya.


Zea ikut masuk ke dalam mobil, di dalam mobil Rakes terlihat masih saja berusaha menahan emosinya, ia bahkan terus menekuk wajahnya.


Zea mencoba menyentuh genggaman tangan Rakes yang sejak tadi saling menggenggam satu sama lain.


"Abang Roger baru saja datang, awalnya hanya aku dan kakek, hanya kami berdua." Jelas Zea pelan.


"Apa dia menyentuh mu? apa dia membuatmu tertekan?" Tanya Rakes yang kini mulai menatap lekat wajah Zea.


"Chim chim rilexs! aku bisa menjaga diri aku dengan baik, jika dia berani bakal langsung aku kenalkan dia dengan jurus andalan aku!" Jelas Zea.


"Syukurlah!" Ujar Rakes lega lalu mengusap lembut Kepala Zea.


"Ayo kita makan malam berdua, Dinner romantis!" Ujar Zea.


"Ayyo!"


"Beneran nih?"


"Hmmm, pasang sabuk pengaman mu!" Jelas Rakes lalu membatu memasangkan sabuk pengaman pada Zea.


"Makasih Chim chim!" Ujar Zea yang langsung menghadiahkan kecupan di pipi kanan Rakes.


"Mau dinner di mana?" Tanya Rakes setelah menjalankan mobilnya.


"Dimana aja boleh, tempat sama sekali nggak ngaruh, selama aku bersama dengan Chim chim di manapun itu pasti akan terasa indah."


"Ya udah kalau begitu di rumah aja!" Ujar Rakes.


"Oke!"


"Beneran nih?" Goda Rakes.


"Iya! mau di hutan, di lautan, di gunung, di lereng, lembah, di manapun itu, aku sama sekali tidak keberatan." Jelas Zea.


"Baiklah...."


"Kenapa?"


"Kakek, jangan terlalu membencinya. Dia begitu menyayangi Chim chim dengan sepenuh hati. Apa Chim chim tau kalau sebenarnya kakek hanya berusaha untuk melindungi Chim chim." Jelas Zea.


"Apa dia mulai mengotori otak mu?"


"Mungkin cinta dan sayang Chim chim untuk aku pun akan kalah besar dan hebat dari cinta kakek untuk Chim chim."


"Justru karena itu, abang ingin agar dia sedikit menguranginya!"


"Maksudnya?"


"Abang mau kakek adil dalam membagi kasih sayang dan cintanya. Abang dan Roger sama tidak ada bedanya, abang tidak mau kakek terlihat kejam di mata Roger."


"Tapi setidaknya...." Penjelasan Zea langsung terhenti saat Rakes menambah kecepatan laju mobilnya.


"Tutup mata mu, apapun yang terjadi tetap tenang!" Tegas Rakes.


"Kenapa? apa terjadi sesuatu?" Tanya Zea.


"Abang rasa ada mobil yang mengikuti kita." Jelas Rakes yang sontak membuat Zea segera menoleh kearah belakang.


"Apa abang mengenali mereka?"


"Itu mobil anak buahnya Temi."


"Temi? Temi yang waktu itu? sekongkolannya Tante Lestari?"


"Hmmmmmm"


"Kenapa mereka mengikuti kita? apa jangan-jangan...."


"Abang akan jelaskan semuanya nanti, sekarang ikuti perintah abang, tetap tenang dan tutup matamu!" Jelas Rakes yang mulai kembali menambah laju mobil.


"Ayo tukar?" Ujar Zea.


"Tukar?" Ulang Rakes.


"Iya tukaran tempat, akan aku perlihatkan pada Chim chim cara balapan yang sesungguhnya." Jelas Zea.


"Abang tidak mengizinkannya!" Tegas Rakes.


"Apa Chim chim meragukan anaknya kapten Iqbal?"


"Zea...."


"Buruan!" Pinta Zea yang mulai mendekat lalu meraih stir mobil.


"Zea...." Seru Rakes.


"Mau secara baik-baik atau...." Ancam Zea.


"Huuuuuf!" Rakes mencoba mengatur nafasnya kasar.


Zea yang begitu lihai langsung mengambil alih Stir, sedangkan Rakes tampak gesit dan dengan mudah berpindah dari kursi pengemudi beralih ke kursi penumpang yang tadinya di tempati oleh Zea.


"Bersiaplah!" Jelas Zea puas dan langsung beraksi.


Zea kembali menambah kecepatan hingga dua kali lipat dari laju sebelumnya, Zea terlihat begitu santai bahkan saat berulang kali mobilnya terus menyelip kendaraan lainnya.


"Apa mereka masih terlihat?" Tanya Zea setelah berhasil menyelip sebuah truk besar.


"Sepertinya tidak lagi."


"Yes!" Seru Zea puas.


"Zea...."


"Hmmmmm" Ujar Zea dan masih fokus.


"Aku rasa tidak hanya satu mobil, tapi ketiga mobil hitam tadi memang sedang mengikuti kita."


"Baiklah, let's go Zea!" Seru Zea lalu kembali beraksi.


Mobil Zea terus melaju menembus jalanan malam, Hingga Zea memutuskan untuk beralih ke dalam sebuah gang yang berada di sisi kiri jalan raya.


Sesaat setelah mobil Zea memasuki gang Sebuah tabrakan terjadi, suara hantaman yang begitu keras membuat Zea menghentikan laju mobilnya. Lewat kaca mobil keduanya menyaksikan kecelakaan beruntun yang melibatkan dua mobil sedan hitam dan dua truk besar


"Tunggulah di sini, abang akan mengeceknya!" Jelas Rakes yang hendak keluar dari mobil.


"Chim chim!" Ujar Zea dengan suara yang terdengar gemetar.


"Jangan keluar, tunggu di sini!" Tegas Rakes.


"Aku bahkan tidak bisa gerak sama sekali!" Jelas Zea dengan wajah yang mulai panik.


"Zea jangan bercanda!"


"Chim chim aku serius, awwww perut aku keram, rasanya sakit banget." Jelas Zea.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rakes yang tak kalah panik.


Tangan Rakes langsung menyentuh bagian perut Zea.


"Awwwww!" Jerit Zea yang benar-benar kesakitan.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Tegas Rakes.


Rakes mengangkat tubuh Zea lalu membawanya ke kursi penumpang, Rakes segera keluar lalu beralih kembali masuk lalu segera memutar balik arah dan lekas meluncur menuju rumah sakit terdekat.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️