My Princess

My Princess
#062



"Kamu? ahhh anggota club kak Zea! apa kalian sedang kencan? nama mu Rafeal kan?." Jelas Reva yang memang sangat hafal dengan wajah para sahabat Zea.


"Ah iya, aku Rafeal. Aku rasa kamu kenal sama semua anggota kami dengan sangat baik, kita kan satu kelas." Jelas Rafeal yang langsung membuka topinya.


"Satu kelas?" Tanya Kania menatap keduanya secara bergantian.


"Iya, ya udah selamat berkencan!" Jelas Reva dan lekas pergi.


"Tunggu!" Pinta Kania yang langsung bangun dari kursinya.


"Iya, ada apa?" Tanya Reva yang kembali menoleh pada Kania.


"Apa sekarang kamu dan...." Ucapan Kania langsung di selip oleh Rafeal.


"Kania! aku mencintaimu!" Seru Rafeal yang cukup membuat Kania kaget.


"Oke, aku tidak ingin mengganggu acara romantis kalian, bey!" Jelas Reva yang segera meninggalkan meja tersebut.


"Kania!" Panggil Rafeal yang mencoba membangunkan Kania dari lamunannya.


"Ah iya, kenapa?"


"Soal tadi..."


"Aku tau abang bohong kan? ah kita pasti seusia kan, Abang eh Rafeal." Jelas Kania yang masih terlihat begitu kebingungan.


"Panggil aja aku abang, aku pasti lebih tau darimu meski kita satu angkatan. Hmmmm, soal tadi..." Rafeal pun mulai kehabisan kata-kata untuk membuat sebuah kebohongan.


"Aku tau, abang kesini karena membututi Reva kan? abang pasti suka sama Reva iya kan? kita sama, sama-sama sedang mengawasi orang yang kita cintai. Jujur aku kesini karena sedang membututi abang Marvel, dan aku yakin kalau sebenarnya abang Marvel juga kesini karena Reva. Kita senasib, semoga abang bisa menerima semua ini dengan hati yang ikhlas dan sabar." Jelas Kania dengan wajah yang begitu murung.


"Kania...."


"Meski terlihat lemah aku gadis yang tangguh kok! meski tidak setangguh kak Zea. Ya udah aku permisi. Ingat tetap semangat!" Jelas Kania yang berusaha memamerkan senyuman.


"Kamu tau Kania, sejak dulu orang yang aku cintai itu kamu bukan Reva. Tapi mau gimana lagi, aku harus mengalah karena memang Marvel lebih baik dari aku. Aku pastikan kalau Marvel tidak akan pernah menyakitimu, karena dia begitu mencintaimu." Jelas Rafeal yang masih menatap punggung Kania yang perlahan terus menghilang dari tatapannya.


"Permisi!" Ujar Marvel yang melewati meja Rafeal lalu meletakkan secarik tisu diatas meja tersebut.


~Ikuti Reva, aku harus menemui Kania~


Setelah membaca tulisan yang ada di tisu tersebut, Rafeal bergegas keluar dari cafe.


_______________


Marvel terus mempercepat langkahnya, bahkan ia terlihat berlarian mengejar sang gadis pujaan hati yang terlihat tertatih di sepanjang trotoar.


"Ikut abang!" Tegas Marvel yang langsung menarik tangan Kania agar mengikutinya.


Kania hanya mengikuti langkah Marvel tanpa perlawanan sama sekali, matanya hanya menatap tangan Marvel yang menggenggam erat tangannya.


Marvel berhenti ketika keduanya tiba di sebuah taman kecil. Marvel segera beralih menatap wajah Kania yang masih saja menunduk lesu.


"Apa kamu meragukan abang? kalau memang iya, maka abang tidak akan menjelaskan apa-apa!" Jelas Marvel dengan terus menatap Kania.


"Tidak!"


"Mau mendengar penjelasan abang?"


"Hmmmmmm!"


"Please, lihat abang!"


Perlahan Kania mengangkat wajahnya lalu sejenak menatap wajah Marvel dan beberapa menit kemudian kembali menundukkan wajahnya.


"Kenapa berhenti menatap abang? kamu pasti meragukan abang, iya kan?"


"Abang, aku sama sekali tidak akan marah jika abang jatuh cinta sama Reva, karena itu hak abang, aku tidak bisa melarangnya. Tapi setidaknya putuskan dulu hubungan abang dengan aku, jangan seperti ini, karena hati aku benar-benar terluka jika abang perlakukan aku dengan cara sesadis ini." Jelas Kania.


"Sayang...."


"Nggak masalah, aku paham. Bisa kan abang meninggalkan aku dengan cara yang manis?" Tanya Kania yang tidak lagi bisa membendung air matanya.


"Ada hal yang sedang abang urus, dan....."


"Jangan katakan apapun lagi, aku paham. Boleh aku pergi sekarang? oh ya, kita masih bisa berteman kan? Assalamualaikum." Jelas Kania yang mulai melangkah meninggalkan Marvel.


"Kania, abang hanya mencintai kamu. Ada hal yang terkadang tidak bisa abang jelaskan. Tapi percayalah abang sama sekali tidak mencintai Reva, karena bagi abang hanya kamu satu-satunya gadis yang bisa membuat hati abang terpikat. Tolong mengertilah!" Jelas Marvel.


Kania masih saja melanjutkan langkahnya tanpa peduli dengan penjelasan Marvel.


"Please sayang, percayalah!" Pinta Marvel yang segera mencegah Kania dari depan.


"Lihat mata abang! apa abang terlihat sedang berbohong? tolong jangan begini, mengertilah dengan keadaan abang." Lanjut Marvel.


"Ayo pulang!"


"Apa ini artinya kamu percaya sama abang?"


"Hmmmm, aku akan terus percaya, sekali pun abang berbohong, aku akan tetap percaya. Ayo kita pulang!"


"Ayo!"


Marvel langsung menggenggam kembali tangan Kania, lalu keduanya berjalan beriringan meninggalkan taman tersebut.


___________________


"Aku rasa Reva memang sedang menyembunyikan sesuatu!" Jelas Rafeal yang terus saja mengayuh sepedanya.


"Yang itu aku juga tau, yang jadi masalahnya apa yang dia coba sembunyikan itu" Jelas Marvel kesal dengan tangan yang terus bermain game di ponselnya.


Marvel terlihat begitu santai duduk di kursi taman tempat biasa mereka ketemuan.


"Apapun yang terjadi kita harus bisa melindungi Reva, Reva masih labil di mudah dipengaruhi terlebih dia sedang sakit hati jadi mereka bisa dengan mudah memanfaatkan celah yang ada pada Reva. Yang harus kita selidiki adalah siapa sebenarnya yang terus mendorong Reva untuk terus membenci Zea." Jelas Rakes yang masih saja berlari mengelilingi taman.


Meski ketiganya sesekali sempat bertemu namun mereka bertingkah bak orang asing, Rafeal yang melintas di depan Marvel bahkan sama sekali tidak menoleh, begitu juga dengan Rakes, ketiganya hanya berkomunikasi lewat benda kecil yang terpasang di telinga mereka masing-masing.


"Aku curiga Fadhil lah dalang dari semua ini." Jelas Marvel.


"Ih sok tau banget!" Cetus Rafeal.


"Ya emang aku tau, dasar Kancil licik selalu seja meremehkan indra ke-enam ku!" Jelas Marvel.


"Ciiiiih! sok-sokan indra ke-enam, indra ke-dua aja elo nggak punya!" Ujar Rafeal.


"Oke kembali pada pembahasan awal, untuk jaga-jaga, aku juga akan ikut membantu!" Jelas Rafeal.


"Membantu? tugas mu sendiri aja nggak becus kamu lakukan, sekarang malah mau bantu kami!" Jelas Rakes.


"*Nggak becus, eh Srigala jangan asal bacot ya, aku jagain Princess dengan sangat baik, bahkan nyamuk aja nggak berani dekatin." Jelas Rafeal.


"Zea tadi pulang dengan lebam di tangan dan kakinya, apa itu namanya baik-baik saja!" Jelas Rakes.


"Lebam? bagaimana bisa?" Tanya Rafeal.


"Makanya kalau kerja fokus! tanggung jawab gih sana!" Cetus Marvel.


"Ahhhh aku rasa itu alasannya kenapa Princess langsung pulang tadi, ah siaaaal, aku bahkan tidak tau apa yang terjadi. Oke besok aku akan cari tau apa yang sebenarnya terjadi*." Jelas Rafeal.


"Aku tunggu laporannya!" Tegas Rakes.


"Siap! Ahhhh pegal." Gumam Rafeal yang berhenti mengayuh sepeda.


"Aku juga bosan, dari tadi kalah terus. Dasar game sinting!" Cela Marvel yang langsung mematikan ponselnya.


"Bukan game yang sinting tadi elo nya aja yang bodoh!" Cetus Rafal.


"Cukup! dasar kalian berdua emang nggak bisa damai. Aku harus pulang, besok semua fokus pada target masing-masing. Jangan ada yang bergerak tanpa aba-aba. Harimau terus awasi kupu-kupu, Kancil tetap jagain Princess dan aku akan memperketat pengawasan terhadap ular. Oke, diskusi over, bey!" Jelas Rakes yang langsung berlari meninggalkan taman.


Dengan keringat yang membasahi wajah dan kaos yang ia kenakan, akhirnya Rakes tiba di kamarnya. Sejenak menoleh pada Zea yang masih tertidur nyenyak, lalu segera beranjak untuk mandi.


Dua puluh menit berlalu, Kini Rakes sudah siap dengan pakaian tidurnya. Perlahan merebahkan tubuh lelahnya di samping Zea lalu mencoba memejamkan matanya.


"Wangi!" Ujar Zea yang terus menghirup aroma Rakes.


Perlahan Zea terus bergeser mendekat pada Rakes lalu segera memeluknya erat.


"Begini lebih nyaman!" Jelas Zea yang kini berada dalam pelukan Rakes.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Rakes lalu mengecup lembut kening Zea.


"Bagaimana aku bisa tidur, kalau Chim chim belum pulang, aku khawatir, aku takut sesuatu terjadi." Jelas Zea.


"Zea, jangan lagi bergadang hanya untuk menunggu abang. Kamu tau sendiri kan bagaimana pekerjaan abang? abang harap kamu bisa mengerti kalau suatu hari nanti mungkin abang tidak bisa kembali ke sisi kamu."


"Jangan bahas hal yang tidak akan pernah terjadi."


"Zea...."


"Cukup! aku sama sekali tidak tertarik."


"Tapi...."


"Chim chim cukup! Ayo kita bahas yang yang lebih seru!"


"Tidurlah!"


"Apa Chim chim nggak pernah berpikir untuk memiliki anak?"


Pertanyaan Zea sontak membuat Rakes langsung bangun, melihat Rakes yang kini memilih untuk duduk membuat Zea juga ikut duduk.


"Kenapa? apa aku salah bicara?"


"Zea, kita bahas anak setelah kamu lulus."


"Kenapa?"


"Turuti abang, sekarang ayo tidur!" Ajak Rakes yang kembali berbaring.


"Aku akan kembali ke kamar ku, Chim chim istirahatlah!" Jelas Zea yang hendak turun dari tempat tidur.


Dengan cepat Rakes menarik Zea kedalam dekapannya, menciumnya dengan lembut.


"Abang minta maaf!"


"Aku paham!"


"Jangan marah!"


"Aku tidak marah!"


"Benarkah?"


"Hmmmm"


"Boleh kita tabrakan?"


"Kenapa meminta?"


"Abang hanya tidak ingin melakukan secara sepihak, abang akan melakukan jika kamu mengizinkan, abang tidak ingin memaksakan kehendak abang."


"Apa selama ini Chim chim risih karena aku selalu saja nyosor tanpa izin lebih dulu?"


"Risih? abang senang setiap kali kamu menyentuh abang."


"Benarkah?"


"Iya. Abang nyaman setiap kali kamu dekat dengan abang."


"Aku jauh lebih nyaman saat Chim chim menyentuhku. Aku bahkan ingin Chim chim melakukannya setiap menit!"


"Dasar mesum!"


"Biarin, kan sama suami sendiri."


"Love you Jannati." Ucap Rakes lembut dan di lanjutkan dengan mencium lembut sang istri tercinta.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️