My Princess

My Princess
#089



"Wanita ku? aku juga akan memperlihat pada mu siapa aku sebenarnya. Meski harus menjadikan Mariana sebagai jembatan untuk mendapatkan My Queen, aku akan tetap melakukan nya. Akan aku tempuh jalan manapun untuk mendapatkan My Queen ku kembali. Tunggu, istri? sejak kapan mereka menikah? apa ada yang aku lewatkan? apa yang sebenarnya telah terjadi??" Gumam Roger dengan penuh ambisi.


Roger yang saat ini memang tak lagi bisa mengendalikan dirinya, membiarkan amarahnya meluap seketika. Dengan kasar tangannya langsung membanting semua barang yang ada di meja tidak hanya sampai di situ, ia malah semakin brutal melempar semua map yang berderet rapi di lemari.


"Aku kira waktu itu mereka hanya menakutiku, ternyata memang benar mereka telah menikah dan itu mereka lakukan secara diam-diam, dan yang lebih parah aku tidak menyadari semua itu. Zea, kamu itu Queen aku, bukan milik sesiapapun lainnya." Gumam Roger yang semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.


Perlahan pintu ruangan di buka dari luar, seseorang terus melangkah mendekat pada dirinya yang duduk di lantai pojok lemari dengan keadaan ruangan yang bak kapal pecah.


"Abang Roger!" Panggil Kania dengan suara yang gemetar lalu perlahan duduk di samping Roger.


"Pergilah! aku tidak ingin di ganggu. Pergi, sebelum aku berbuat kasar pada mu!" Tegas Roger setelah sejenak menoleh sosok Kania.


"Apa abang marah pada ku?" Tanya Kania.


"Pergilah!" Teriak Roger lalu kembali membanting sebuah map yang ada di hadapannya.


"Jangan terlalu mencintai seseorang, karena itu bisa membuat kita terluka terlalu dalam saat kita kehilangannya. Aku tau, melepaskan adalah hal yang sulit, tapi jika itu pilihan yang harus kita lalui kenapa kita tidak mencoba untuk ikhlas?" Jelas Kania.


"Aku mencintai Zea, dia hanya milik aku, sampai kapanpun dia tetap milik aku!"


"Pasti abang sangat mencintai kak Zea kan?"


"Tidak perlu kamu tanyakan lagi, aku bahkan bisa melakukan apapun untuk dia." Tegas Roger dengan tatapan sangar.


"Abang, obsesi dan cinta adalah dua hal yang berbeda. Jika abang mencintai kak Zea, abang tidak akan membuatnya kecewa apa lagi terluka, abang akan melakukan apapun untuk melihatnya bahagia termasuk melihatnya menjadi milik orang lain. Sedangkan obsesi membuat abang lupa akan arti sayang yang sebenarnya, di hati abang hanya ada keinginan untuk memilikinya." Jelas Kania.


"Kania...." Ujar Roger


"Untuk memenuhi ambisi kita manusia kerap kali menyakiti manusia lainnya yang bahkan tidak tau menahu dengan keadaan kita. Untuk menyenangkan hati kita, kita justru menjadikan hati orang lain sebagi tumbal, untuk membuat hidup kita bahagia kita justru membuat hidup orang lain berantakan. Jangan egois dengan hanya fokus pada tujuan kita tanpa peduli dengan proses yang kita lalui yang justru menyakiti banyak hati." Jelas Kania.


"Kamu tidak akan mengerti dengan keadaan aku!" Cetus Roger.


"Aku tau, berada di posisi abang tidaklah mudah, jika abang mau, aku bisa membantu abang untuk keluar dari obsesi yang menjerat hati dan perasaan abang." Jelas Kania.


"Aku takut, aku takut kehilangannya!" Tangis Roger pecah di dalam pelukan Kania.


"Semua akan baik-baik saja..." Ujar Kania dengan mengusap lembut punggung Roger.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Reva yang baru saja masuk ke ruangan Roger.


Roger yang tadinya memeluk Kania seketika langsung melepaskan pelukannya. Roger kembali bersandar di dinding sedangkan Kania lekas bangun dari duduknya.


"Kania datang untuk menenangkan aku!" Jelas Roger.


"Apa sekarang kalian mulai bekerjasama?" Tanya Reva yang terus mendekat.


"Bekerjasama? maksudnya?" Tanya Kania polos.


"Kania pulanglah!" Pinta Roger.


"Tapi...." Keluh Kania.


"Aku janji aku akan mendengarkan nasehat mu!" Tegas Roger.


"Baiklah aku permisi, Assalamualaikum." Jelas Kania lalu beranjak keluar dari ruangan tersebut.


"Ada apa?" Tanya Roger setelah Kania benar-benar telah keluar.


"Kenapa tidak menghubungi aku? bagaimana dengan rencana kita? apa kita sudah bisa kembali beraksi?" Tanya Reva.


"Sabarlah! aku masih menyusun strategi. Ingat jangan sampai ada yang tau tentang rencana kita."


"Oke, bisa di atur. Ngomong-ngomong ada hubungan apa abang sama Kania? kenapa dia datang ke kantor abang?"


"Ceritanya panjang, dia benar-benar begitu polos, kenapa bisa ada gadis sebaik dia? dia bahkan tidak menaruh rasa curiga sedikitpun, dia memang gadis yang baiknya kebangetan." Jelas Roger lalu tertawa lepas mengingat sikap Kania terhadapnya.


"Awas! jangan sampai beralih pada Kania loh!" Tegas Reva.


"Nggak akan! Aku gemas aja dengan kepolosannya." Tegas Roger.


"Jika semuanya sudah di mulai kabari aku. Jadi nggak sabar ingin melihat hubungan mereka retak lalu hancur berkeping keping." Jelas Reva dengan begitu puas.


______________________


"Uuuuuuuu cewek gatal lewat! baru kelas satu sudah jadi pelakor gimana nantinya, waaaah ngeri!!!!" Cela Cindy dengan suara lantang.


Saat ini Cindy bersama kedua sahabatnya sedang menyantap mie bakso di meja kantin, di saat itu pula Zea melintasi meja tersebut.


Langkah Zea yang awalnya terus melewati meja tersebut akhirnya terhenti ketika suara tepuk tangan Cindy mengalihkan semua mata yang ada di kantin.


"Gadis murahan! penggoda!" Cela Cindy dengan suara lantang.


Rayyan segera bergegas bangun dari bangku di mana ia dan yang lainnya duduk lalu menghampiri Zea, namun langkah Rayyan kalah cepat dari aksi Zea.


"Aku pelakor? emang laki siapa yang pernah aku rebut?" Tanya Zea.


"Elo menggoda guru magang kita kan? elo sampai merayunya di UKS, dan yang lebih parah elo melakukan pelecehan seksual terhadap guru magang kita." Jelas Cindy.


"Oh ya? biar sekarang aku yang tanya, emang guru magang itu laki kamu? dia kekasih kamu? bukan kan? so terserah dong mau aku goda atau nggak. Dan soal pelecehan yang kamu koar-koar sejak kemaren, apa kamu punya bukti? lagi pula kalau ia aku melakukannya, aku rasa guru magang itu tidak cukup bodoh untuk diam saja, dia pasti akan melaporkan kejahatanku pada pihak sekolah!" Jelas Zea.


"Kamu pasti mengancamnya!" Tuduh Cindy yang kini mulai menggunakan fisik, tangan Cindy menarik ujung jilbab Zea yang sedikit tertiup angin.


"Lepas!" Gumam Zea yang langsung menyiram teh dingin ke wajah Cindy.


Suasana semakin memanas, para siswa bukannya melerai tapi malah menjadi spoter kedua belah pihak.


"Zea, hentikan!" Pinta Rayyan yang terlihat satu-satunya siswa yang normal di kantin.


Di tengah-tengah para murid yang terus mempropokasikan keduanya, Rayyan adalah siswa yang justru mencoba memisahkan Zea dari Cindy.


"Udah biarkan aja!" Jelas Bian yang jadi penonton yang budiman.


"Ayo Zea, hantam terus!" Seru Taufan menyemangati.


"Cindy....Cindy....!" Teriak para siswa.


"Go Zea.....!" Teriak Rafeal dengan begitu santai.


"Haisssh aku harus segera mencari bantuan!" Cetus Namira yang segera berlari menuju kantor guru.


Cindy yang tak terima dengan perlakuan Zea kini balik menyiram wajah Zea membuat Zea semakin memanas.


"Dasar pelakor teriak pelakor!" Gumam Zea lalu menjambak rambut lurus Cindy.


"Awwww lepas!" Jerit Cindy kesakitan.


Melihat Cindy yang kalah membuat kedua sahabatnya segera membantu, keduanya ikut menyerang Zea, namun dengan cepat tangan kanan Zea menghadang tangan mereka tak sampai di situ, kaki Zea langsung mendarat di betis keduanya hingga membuat mereka berdua terjatuh.


"Wowwww inilah pertunjukkan yang menakjubkan, harus diabadikan nih!" Seru salah seorang siswa.


"Jago benar tuh anak kelas satu, pangen punya pacar yang modelnya begitu,,," Seru siswa lainnya.


"Bakal ada bos tawuran baru nih!" Seru salah satu siswa yang begitu memperhatikan setiap gerak penyerangan yang Zea lakukan.


"Benar-benar beda dari lainnya, aku harus gercep dekatin tuh bocah!" Bisik hati sang ketua OSIS yang sejak awal memang sudah mengincar Zea.


"Apa-apaan ini!" Murka pak Haikal yang tak lain adalah wali kelasnya Cindy.


"Zea.....!" Teriak Susi yang merupakan wali kelas Zea.


Suara keduanya membuat Zea menghentikan aksinya.


Mereka berdua datang setelah menerima laporan dari Namira.


Rakes dan Marvel ikut mendatangi kantin. Saat melihat keadaan Cindy yang begitu berantakan serta kedua temannya yang meringis kesakitan di lantai dan juga Zea yang masih berdiri tegap dengan jilbab yang basah.


"Ayo ikut!" Seru Rakes yang langsung menarik tangan Zea untuk ikut bersamanya.


"Pak Rakes....!" Panggil Cindy.


"Pak Rakes, kita selesaikan ini secara baik-baik. Aku tau bapak marah karena murid saya menyerang murid bapak, tapi setidaknya kita dengarkan dulu penjelasan dari keduanya, belum tentu Zea yang salah." Jelas Bu Susi.


"Baru kelas satu tapi sudah buat onar, nggak kebayang gimana ke depannya." Cetus Pak Haikal sinis.


"Chim chim!" Ujar Zea pelan dengan menatap dalam mata Rakes.


"Panggil aja walinya, dia itu melakukan kesalahan fatal, dia melakukan pelecehan...." Penjelasan Cindy langsung terhenti.


"Cindy, Zea adalah i...." Tegas Rakes yang langsung di selip oleh Marvel


"Dia adik saya, dan saya sahabatnya Rakes, sejak dulu mereka memang dekat. Mereka sudah saling kenal jauh sebelum saya dan Rakes magang di sekolah ini." Jelas Marvel.


Penjelasan Marvel membuat suasana semakin seru, banyak siswa yang mulai berbisik-bisik dan menerka-nerka dengan apa yang sebenarnya terjadi di antar mereka.


"Maaf, pak Marvel Revtankhar, saya kira adik anda cuma nona Mariana Revtankhar. Maafkan kelancangan saya, tolong maafkan saya, saya sama sekali tidak bermaksud menghina nona Zea. Maafkan kekhilafan saya..." Pinta Pak Haikal yang begitu takut membuat kesalahan terhadap keluarga Revtankhar yang memang memiliki pengaruh besar di sekolah tersebut.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️