
"Haisssssh!"Gumam Rakes kesal saat lawan mainnya di meja judi tiba-tiba mengeluarkan senjata lalu mengarahkannya tepat di kepala Rakes.
"Kamu kira permainannya sudah berakhir? bagaimana? permainan sesungguhnya baru saja kita mulai!" Jelas lelaki tersebut dengan senyuman penuh ambisi.
Tak lama kemudian dua lelaki berbadan tegap langsung mengambil paksa semua uang yang sudah Rakes menangkan.
"Singkirkan tangan mu dari uang ku?" Tegas Rakes yang langsung menarik kembali tumpukan uang miliknya.
"Kamu lupa aturan mainnya? ini meja ku, maka hanya aku yang boleh menang dan jika ada orang selain aku yang menang maka orang itu harus ditiadakan!" Jelas Lelaki tersebut yang merupakan bandar judi yang memang begitu populer dengan tingkah sadisnya.
"Tuan Windy yang terhormat, saya kenal dengan betul siapa anda, oleh karena itu saya datang kesini!" Jelas Rakes.
Rakes langsung menarik tangan Windy yang memegang senjata lalu mematahkannya begitu saja lalu dimenit berikutnya Rakes langsung menyerang kedua anak buah Windy hingga tersungkur ke lantai.
"Geledah tempat ini!" Perintah Rakes yang langsung di laksanakan oleh Rafeal dan Marvel yang sejak tadi menjadi pemain judi di meja lainnya.
Setelah semua lawan mereka lumpuhkan, Rakes merogoh saku celananya lalu mencoba menghubungi pihak polisi namun sayang niat Rakes langsung terhenti saat suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan bawah tanah tersebut, seorang wanita muncul dengan beberapa pengawal yang memiliki tubuh kekar.
"Sejak dua hari yang lalu aku sudah curiga dengan kalian bertiga, dan lihat! ternyata dugaan aku benar, kalian ingin menghancurkan ladang yang telah aku bangun bertahun lamanya." Jelas Wanita yang mengenakan gaun merah tersebut.
"Jadi kamu pemilik sebenarnya? bagaimana? sayangnya aku tau kebenarannya!" Jelas Rafeal yang langsung beraksi.
Hanya butuh beberapa detik Rafeal kini berdiri tepat di hadapan wanita tersebut dengan menempelkan pistolnya tepat di bagian samping kanan kepala wanita itu.
"Jangan ada yang bergerak! atau kepala ketua kalian akan langsung pecah!" Ancam Marvel yang juga ikut mengarahkan senjatanya pada para anak buah wanita tersebut, meski terpisah oleh jarak yang lumayan jauh.
"Tempat M berhasil kami amankan, dan benar bukan hanya tempat durjana yang mereka sediakan tapi mereka juga melakukan kekerasan, pemaksaan dan juga perampokan terhadap para pemain judi dan yang paling penting mereka juga memiliki senjata." Lapor Rakes setelah menghubungi sang kepala.
"Serang mereka!" Perintah Windy yang baru saja bangun.
"Aku akan langsung melepaskan peluruku! sedikit saja kalian bergerak maka 'Door'! aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku!" Jelas Rafeal yang semakin mengeratkan pistolnya di kepala wanita tersebut.
Namun sesaat kemudian tiba-tiba tangan Rafeal yang menggenggam erat senjata seakan mulai melemah hingga akhirnya tubuh Rafeal juga ikut melemah. Aliran darah segar mulai menetes dari perut Rafeal.
"Rafeal!" Teriak Rakes dan Marvel yang hendak lari kearah Rafeal namun langkah keduanya terhenti saat dengan kasar wanita tersebut membalikkan wajah Rafeal agar menghadap kearah Rakes dan Marvel.
"Sejengkal saja kalian melangkah maka pisau ini akan semakin mengocok isi perutnya!" Tegas wanita tersebut dengan tatapan sadis dan pisau yang terus ia gerak-gerakkan di bagian perut Rafeal.
"Hentikan!" Gumam Rakes penuh emosi.
"Oke! kalau itu mau mu!" Gumam Marvel yang langsung melemparkan sebuah bom rakitan kearah kerumunan para anak buah wanita tersebut.
Bersamaan dengan tangan kanannya yang menarik pelatuk pistol hingga pelurunya tepat mengenai tangan wanita tersebut, secepat kilat Rakes berlari menarik Rafeal bersamanya dan kini giliran Marvel yang yang menarik wanita itu bersamanya pastinya dengan menodongkan senjata tepat di urat leher wanita tersebut, mereka langsung berlari keluar gedung. Hanya selang beberapa menit suara ledakan menggelegar dalam ruangan bawah tanah yang telah di penuhi dengan asap.
"Rafeal, bertahanlah!" Pinta Rakes dengan terus menekan bagian luka di perut Rafeal.
"Ada yang terluka, cepat kirimkan ambulance ke lokasi misi!" Tegas Marvel setelah menekan alat pendengar yang terpasang di telinganya.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada teman ku, maka akan ku bunuh kamu!" Gumam Rakes penuh amarah dengan mata yang menatap tajam pada Wanita yang masih berada di bawah kuasa Marvel.
Wanita tersebut tersenyum puas membuat Marvel hilang kendali lalu menghantam kepalanya dengan bagian belakang pistol.
"Aku akan membunuh mu!" Gumam Marvel yang sudah siap untuk melepaskan pelurunya.
"Marvel, berhentilah!" Pinta Rafeal dengan tatapan lemah lalu jatuh pingsan di pangkuan Rakes.
"Rafeal, Rafeal sadarlah! aku mohon tetap sadar!" Pinta Rakes dengan air mata.
Saat suasana semakin panik tim dari unit kriminal pun tiba di lokasi, para pasukan polisi langsung mengamankan pelaku dan lokasi kejadian.
"Kami akan mengambil alih tempat ini! terima kasih atas kerja samanya!" Jelas sang ketua tim dan lekas memerintah para bawahannya untuk segera mengeledah gedung tersebut.
Ambulance pun datang, lalu dengan cepat Rakes langsung membopong Rafeal menuju ambulance dengan dibantu oleh Marvel.
___________________
"Terima kasih hadiahnya!" Ucap Kania dengan senyuman manis.
"Hadiah?" Tanya Marvel kebingungan.
"Iya, gelas yang kemaren abang berikan." Jelas Kania.
"Oh iya, gimana kamu suka?" Tanya Marvel.
"Pastinya dong, selera Rafeal emang nggak bisa di ragukan lagi, nggak salah abang minta tolong sama dia." Jelas Marvel.
"Jadi gelas itu abang Rafeal yang memilihnya?" Tanya Kania.
"Iya, kemaren tiba-tiba orang tua abang nelpon dan meminta abang untuk segera pulang karena ada urusan keluarga jadi abang minta tolong sama Rafeal untuk membelikan hadiah buat kamu." Jelas Marvel.
"Ohhh, tolong abang sampaikan terima kasih aku padanya, aku benar-benar menyukai gelas itu apa lagi ukiran namanya bagus banget, ' Kania-ku' lucu dan juga keren." Jelas Kania.
"Siap, akan abang sampaikan!" Ujar Marvel dengan memamerkan senyuman manisnya dan perlahan menyentuh lembut tangan Kania.
Suara dering ponsel yang berkali-kali akhirnya membangunkan Kania dari mimpinya.
"Abang Rafeal, apa justru firasat aku ini bukan tentang abang Marvel melainkan tentang abang Rafeal, kenapa perasaan aku semakin tidak karuan, kacau sekali!" Keluh Kania dengan pandangan tertunduk.
Satu panggilan kembali masuk membuat Kania kembali menoleh pada ponselnya yang tergeletak di atas meja dekat ranjangnya, tangan Kania hendak meraih ponsel tersebut namun suara pintu kamar yang dibuka dari luar membuat Kania menghentikan tangannya.
Perlahan Angel terus masuk mendekati sang putri yang masih duduk di atas kasur dengan mata yang terus menatap kedatangannya.
"Mama,,," Ujar Kania.
"Sayang....." Ujar Angel yang seketika langsung memeluk erat tubuh Kania.
"Kenapa? apa sesuatu terjadi sama papa? kenapa malam-malam begini mama ke kamar aku? ada apa ma? jangan buat aku semakin khawatir!" Jelas Kania.
"Sayang, sebenarnya...."
"Kenapa ma? ada apa? apa papa baik-baik saja? apa abang Marvel terluka? Jawab ma!" Tanya Kania memastikan.
"Papa kamu baik-baik saja, papa sedang di markas, dan Marvel juga baik-baik saja." Jelas Angel.
"Lalu? apa abang Rakes yang terluka? atau kak Zea yang kenapa-napa?" Tanya Kania.
"Rakes dan Zea juga baik-baik saja!"
"Apa ini tentang abang Rafeal? apa dia yang terluka? ma, bagaimana keadaan abang Rafeal?"
"Sayang, tenanglah dulu! Rafeal sedang menjalani operasi, kita akan tau keadaannya setelah operasi selesai, Marvel akan segera mengabari mama!" Jelas Angel.
"Separah itu kah? ma, ayo ke rumah sakit sekarang!"
Kania hendak turun dari ranjangnya namun dengan cepat Angel mencegahnya.
"Kania, doakan Rafeal agar dia cepat sembuh. Malam ini Rakes dan Marvel akan menjaganya, jadi tidurlah, mama janji besok pagi-pagi kita langsung ke rumah sakit!" Jelas Angel.
"Tapi ma...."
"Kania, dengerin mama ya sayang."
"Hmmmmm" Ujar Kania pelan lalu kembali rebahan, Angel hanya bisa menatap Kania dalam diam.
_______________
Dengan langkah yang tertatih Mariana turun dari mobilnya yang baru saja berhenti di depan rumah sakit di mana Rafeal di rawat.
Mariana segera berlari memasuki rumah sakit, meski berulang kali terjatuh ia tetap bangkit kembali. Pak sopir yang mengantar Mariana hanya bisa mengikutinya dari belakang tanpa berani bicara sepatah kata pun karena memang keadaan Mariana begitu kacau, sejak berangkat dari rumah ia terus saja menangis tanpa henti.
"Ana......" Panggil Marvel saat melihat Mariana yang terjatuh tepat beberapa langkah dari tempat ia dan Rakes berdiri menunggu Rafeal yang sedang menjalani operasi.
Marvel langsung merangkul sang adik tercinta.
"Ana, tenanglah!" Pinta Marvel dan langsung memeluk erat tubuh Mariana yang begitu lemah.
"Bagaimana keadaan Rafeal? dia tidak akan meninggal kan?" Tanya Mariana yang sama sekali tidak bisa menahan isak tangisnya yang kian membuncah.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ