
(Bagaimana kalau dia tau aku berbohong, haissssss sudahlah, jika semuanya kacau aku tinggal menggunakan otot kekar ku! huuuuf, semoga semuanya sesuai rencana) Bisik hati Rafeal yang terus berusaha meneteskan air mata.
Perlahan tangan Rafeal mengarah menuju arah wajah Fadhil yang berdiri di hadapannya meski masih dibatasi dengan jeruji gerbang diantara keduanya.
"Apa aku harus jadi pembunuh?" Tanya Amel dengan nada melemah dan ujung jemarinya yang berhasil menyentuh wajah Fadhil yang benar-benar terlihat begitu tegang.
"Buka gerbangnya!" Perintah Fadhil yang langsung dilaksanakan oleh para anak buahnya.
Setelah gerbang terbuka lebar, Fadhil lekas meninggalkan lokasi begitu saja.
"Apa kamu benar ingin aku menjadi pembunuh? oke, akan aku lakukan seperti mau mu!" Gumam Amel dengan suara lantang.
"Tunggu apa lagi? seret jalang itu masuk, sekarang juga!" Tegas Fadhil dengan suara yang tak kalah lantang dari Rafeal.
"Bajingan kamu! darah memang selalu mengalir kental, kamu terlihat persis seperti ayah mu! hanya jadi penikmat belaka, setelah itu melarikan diri seperti pengecut!" Cela Amel.
"Bajingan? haaaah!!" Cetus Fadhil yang segera kembali mendekati Amel lalu menggenggam kasar wajah Amel.
Dengan kasar Rafeal langsung menepis tangan Fadhil dari wajahnya lalu langsung menyerang dua anak buah Fadhil yang sejak tadi menghimpit dirinya dari sisi kiri dan kanan.
Disaat itu pula suara tembakan yang menggelegar terdengar dari dalam rumah.
"Suara apa itu? dan siapa kamu? segera periksa ke dalam!" Titah Fadhil.
Semua anak buah Fadhil segera berlarian ke dalam rumah mencari asal suara tembakan, sedangkan Fadhil langsung menarik kasar lengan Rafeal namun Rafeal tidak membiarkan itu semua terjadi, dengan lihai ia balik menyerang dan hasilnya kini Fadhil lah yang berada di bawah kekuasaannya.
"Haissssh! huuuuuuuff!" Gumam Rafeal kesal dengan tangan yang langsung mencabut wig panjang yang berwarna pirang yang sejak tadi begitu membuatnya gerah dan gatal.
"Baiklah, aku akan jadi pembunuh! sesuai seperti yang kamu inginkan!" Jelas Rafeal dengan kaki yang semakin kuat menekan bagian leher Fadhil yang saat ini tepat terbaring di bawah kaki jenjang Rafeal.
"Ternyata kamu! kamu bahkan lebih baik dalam wujud cewek!" Gumam Fadhil dengan tawa sinisnya.
"Apa yang kalian rencanakan? kenapa mencari masalah dengan pak Iqbal? apa kalian sungguh ingin mati?" Tanya Rafeal.
"Sesuai prediksi! kalian beneran datang, apa orang yang ada di dalam sana adalah Rakes dan anak sultan keluarga Revtankhar? waaaah! ternyata semuanya terjadi sama persis seperti yang mama inginkan!" Jelas Fadhil.
"Sesuai prediksi? apa maksudnya?" Tanya Rafeal yang mulai menerawang dengan pikiran buruknya.
"Kami menang!" Seru Fadhil.
"Bicaralah dengan jelas sebelum aku merobek mulut mu!" Gumam Rafeal yang semakin emosi.
"Elsaliani! wanita jalang itu, dia target utama kami, bukan kalian ataupun monster Iqbal. Elsaliani akan mati, aku akan melenyapkan wanita yang telah melenyapkan kebahagiaan dalam hidup mama ku! aku akan membunuhnya." Jelas Fadhil dengan tatapan yang terbakar api ambisi.
Secepat kilat Rafeal langsung menyentuh benda yang terpasang di telinganya, Rafeal terlihat begitu panik dan ketakutan.
"Dimana kalian?" Tanya Rafeal.
"Sedang bermain sebentar di kandang macan dengan beberapa tikus menjijikan!" Jawab Marvel santai dan masih saja menyerang para anak buah Fadhil yang sejak beberapa saat yang lalu menyerang mereka bertiga.
"Kita masuk perangkap mereka! Haissssh!" Jelas Rafeal.
"Apa yang terjadi? apa mereka menyerang ayah?" Tanya Rakes bersamaan dengan tinjunya yang melayang tepat di wajah salah satu lawannya.
"Aku akan cek keadaan pak Iqbal!" Jelas Lexel.
"Bukan om Iqbal tapi tante El!" Jelas Rafeal.
'Brukkk' Tubuh Rakes langsung ambruk dengan sendirinya di lantai.
"Rakes sadarlah!" Teriak Lexel yang segera menghadang serangan yang mengarah pada Rakes.
"Rakes, ini bukan waktunya kamu berdiam diri, segera cari keberadaan tante El, aku dan Lexel yang akan mengurus disini!" Jelas Marvel.
"Aku ikut! Rakes aku tunggu di mobil!" Jelas Rafeal yang segera menuju mobil serta ikut menyeret Fadhil bersamanya.
___________________
Ya Allah, jangan Engkau biarkan ayah dan uma ku terluka, jangan ambil keduanya dari ku, tolong biarkan mereka tetap di samping ku. Jauhkanlah mereka dari orang-orang yang berniat jahat pada mereka, hanya pada-Mu lah tempat hamba memohon dan meminta. Titip uma dan ayah ku ya Allah, aku percaya Engkaulah sebaik-baiknya penjaga, Aamiin, aamiin, ya Rabbal 'alamin" Zea begitu kusyuk dalam doanya, air mata terus saja membasahi kedua pipinya.
Zea masih saja duduk tegak di atas sajadah, kini kedua tangannya menutupi seluruh wajahnya, ia begitu larut dalam isak tangis yang tak mampu ia kendalikan.
Pikirannya terus menerawang jauh, ia begitu gelisah dan ketakutan, saat ini yang ada di pikirannya hanyalah kedua orang tuanya.
"Nggak, aku nggak bisa berdiam diri di sini! aku nggak bisa lagi menunggu kabar di sini, aku harus temui uma, perasaan aku benar-benar nggak enak, aku takut kalau sampai uma kenapa-napa, aku harus pergi." Tegas Zea pada dirinya sendiri, lalu segera menggantikan mukenah dengan jilbabnya dan lekas keluar dari kamar tanpa pamit lebih dulu pada Qalesya yang masih tertidur lelap.
Dengan langkah yang begitu terburu-buru, Zea terus berjalan menuju pintu utama, sesampainya di sana, ia baru menyadari kalau saat ini sedang tengah malam dan semua pintu terkunci rapat.
"Terkunci?" Tanya Zea pada dirinya sendiri dan segera mengecek jam di layar ponselnya.
"Jam dua? apa? masih jam dua, bagaimana aku bisa keluar, yang lain pasti lagi tidur aku nggak mungkin ngebangunin kak Ana buat minta kunci, terus aku harus gimana? apa aku teriak aja biar satpam yang berjaga diluar dengar lalu ngebukain pintu, tapi kalau sampai suara aku malah bikin tante Aryani dan om Revtankhar bangun gimana? apa yang harus aku lakukan?" Gundah Zea dengan berbagai macam pemikiran dari segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Non Zea..." Suara yang tiba-tiba memanggil namanya membuat Zea segara berbalik menghadap sang pemilik suara.
"Bi Yati, untunglah ada bi Yati, boleh aku pinjam kunci pintu?" Tanya Zea yang segera mendekati bi Yati.
"Buat apa non? ini masih tengah malam, non Zea mau kemana?" Tanya Bi Yati.
"Hmmmmmmm" Ujar Zea tertahan.
(Kalau aku bicara jujur bi Yati pasti tidak akan memberikannya, maaf bi, kayaknya kali ini aku harus berbohong, maafkan Zea.) Pinta hati Zea penuh rasa bersalah.
"Aku rasanya pengap banget di kamar bi, tiba-tiba aja pengen nikmati udara malam sambil jalan-jalan di taman!" Jelas Zea.
"Ya udah ayo bibi temanin." Ajak bi Yati yang langsung membukakan pintu.
"Terima kasih bi!" Ujar Zea dengan senyuman dan segera keluar.
"Loh, non mau kemana?" Tanya salah seorang satpam yang berjaga di pintu depan.
"Mau cari udara segar pak!" Ujar Zea dan terus melangkah menuju taman belakang.
"Hati-hati non, kalau ada apa-apa langsung panggil bapak ya!" Ujar satpam itu lagi.
"Iya pak, terima kasih." Ucap Zea meski sudah agak jauh dari pak satpam.
"Bi, tiba-tiba aku haus, boleh minta tolong ambilkan minum?" Tanya Zea saat ia dan bi Yati tiba di taman belakang rumah.
"Baik non, tapi non jangan kemana-mana, tetap duduk di sini ya!" Ujar Yati.
"Iya bi." Jawab Zea dengan senyuman.
"Kalau begitu bibi ke dalam sebentar!" Ujar bi Yati dan segera kembali masuk ke dalam rumah.
Seolah tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, dengan cepat Zea menyeret kursi yang tadi ia duduki, setelah sampai di depan pagar, lalu menaruh kursi di sana, Zea langsung meluncurkan aksinya. Zea perlahan menaiki kursi lalu mencoba memanjat pagar beton tersebut, meski harus dengan usaha keras, Zea terus saja berusaha hingga akhirnya dia berhasil berada tepat di atas pagar sana.
"Huffffff! Raze Junior, ini nggak tinggi loh, kamu bisa kan bantu mommy mendarat dengan sempurna? kita sama-sama kuat, tolong jangan kenapa-napa, tolong bertahanlah, mommy janji kalau ini terakhir kalinya mommy melakukannya. Raze Junior, kamu bisa kan? oke, hufff, baiklah, bismillah!" Ujar Zea dengan tangan yang mengusap lembut perutnya lalu di menit berikutnya ia telah mendarat sempurna dan anehnya kaki Zea sama sekali tidak mendarat di aspal sana, saat membuka mata ia baru menyadari bahwa kini tubuhnya tepat di dalam dekapan Ivent.
"Aku tau kamu pasti akan melakukannya, bukan Zea kalau akan menurut dan berdiam diri di rumah!" Ujar Ivent lalu menurunkan tubuh Zea.
"Jadi sejak tadi kamu berjaga di sini?"
"Iyap! ayo aku antar!" Ajak Ivent yang langsung membuka pintu mobil yang ia parkirkan tidak jauh dari tempat ia dan Zea berada.
"Terima kasih!" Ucap Zea dan langsung masuk ke mobil, keduanya segera meluncur ke tujuan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️