My Princess

My Princess
#130



Sejak selepas magrib tadi ruang TV di rumah Iqbal sudah di penuhi oleh para sahabat Zea, mereka semua begitu larut dalam canda tawa. Tak hanya para pasukan club Zea saja tapi yang lainnya juga ikut meramaikan.


Suara tawa mereka semua seolah mengubah sang malam menjadi lebih indah dan menyenangkan. Di sofa sebelah barat ada Kania, Qalesya dan juga Namira sedangkan di sisi utara ada Taufan, Rayyan dan pada sofa di sebelah timur ada Elsaliani bersama Zafran sedangkan Zea dan Bian duduk lesehan di atas ambal bulu sambil menikmati keripik yang sejak tadi mengalihkan dunia keduanya.


Saat semuanya sibuk bercerita sebuah suara mengalihkan fokus mereka.


"Selamat malam!" Ujar Erina yang baru saja datang bersama Iqbal, Hadi, Roger dan juga Reva.


"Kak Erina, ayo duduk!" Ajak Elsaliani yang langsung bangun lalu mengajak Erina untuk duduk di sebelahnya.


"Zea, apa kamu beneran sedang sakit? papa lihat kamu malah lebih terlihat kuat dan sehat dari yang lainnya!" Ujar Hadi yang langsung menyentuh pucuk kepala Zea.


"Papa benar banget! sebenarnya aku sehat cuman mereka aja yang mau aku sakit katanya biar ada alasan buat makan gratis di rumah!" Jelas Zea dengan senyuman.


"Nah itu tau!" Seru Bian yang kembali mengunyah kripik yang ada di tangannya.


"Ayo sini duduk om!" Ajak Rayyan lalu bangun dari sofa memberi ruang untuk Hadi dan Iqbal.


"Silahkan om, jangan malu-malu!" Ujar Taufan yang ikut bangun.


Iqbal dan Hadi langsung mengganti posisi Taufan dan Rayyan.


"Gimana kabar kamu?" Tanya Roger yang hendak duduk di sebelah Zea.


"Aku juga mau kripiknya!" Seru Taufan yang segera duduk di sebelah Zea hingga membuat Roger menatapnya horor.


Rayyan juga segera duduk di dekat Taufan membuat Roger mau tak mau memilih untuk duduk di sampingnya Bian.


"Apa abang mau?" Tanya Bian yang langsung menyodorkan toples keripik namun langsung di sambut dengan gelengan kepala oleh Roger, hingga membuat Bian seketika menarik kembali toples tersebut ke hadapannya.


"Reva ayo sini!" Ajak Kania.


Tanpa jawaban Reva langsung duduk di sebelahnya Namira.


"Senang lihat kalian semua ngumpul, seru banget, kapan-kapan mainlah ke rumah Mama!" Jelas Erina.


"Dengan senang hati!" Ujar Qalesya.


"Undangannya di terima!" Ujar Rayyan.


"Mama tunggu loh!" Ujar Erina.


"Siap, mama eh boleh ni ya aku panggil tante mama?" Tanya Bian.


"Tentu!" Jelas Erina.


"Mama bakal masak banyak kan?" Tanya Bian memastikan.


"Pasti dong!" Jelas Erina.


"Dasar! di otak mu cuma ada makan dan makan." Ujar Taufan.


"Harus dong!" Belas Zea.


"Susah kalau ngomong sama kalian berdua, sang juara makan!" Cetus Rayyan.


"Loh makan itu emang hal yang penting kan? tenang aja kapanpun kalian lapar langsung hubungi papa!" Timpal Hadi.


"Beneran pa?" Tanya Zea penuh semangat.


"Reaksi kamu seolah-olah membuat pernyataan kalau ayah tidak pernah memberikan makanan yang cukup!" Jelas Iqbal.


"Ayah cemburu?"


"Cemburu?" Ulang Iqbal.


"Udah ngaku aja, ayah cemburukan karena papa lebih sayang sama Zea dari pada ayah?" Jelas Zea.


"Apaan? asal kamu tau ya, papa kamu ini bahkan lebih sayang sama ayah dari pada dirinya sendiri." Jelas Iqbal.


"Fitnah!" Tegas Hadi.


"Abang Hadi nggak usah malu, udah akui aja!" Jelas Iqbal.


"Ayah nggak usah maksa dong, kan yang punya hati udah bicara." Jelas Zea.


"Tapi ayah lebih tau...." Tegas Iqbal.


"Stop! Selalu saja berakhir dengan perdebatan yang tak berfaedah." Jelas Elsaliani.


"Dari dulu nggak berubah, asal ngumpul selalu aja ribut!" Jelas Erina.


"Tapi seru kok ma!" Jelas Rayyan yang dari tadi begitu asyik menonton drama keluarga tersebut.


"Iya, bahkan lebih asyik dari drama-drama action" Jelas Namira.


"Assalamualaikum!" Ujar sebuah suara yang terasa begitu asing, membuat semua mata langsung tertuju pada asal suara tersebut.


"Maaf kami telat!" Ujar Mariana yang menyusul dari belakang.


"Assalamualaikum!" Ujar Marvel dan Rafeal yang baru saja tiba.


"Oh ya ini Una teman kampus aku dan Rakes!" Jelas Marvel karena melihat semuanya terus menatap sosok Una.


"Ah...itu yah aku...." Jelas Rafeal yang terus berusaha mencari alasan.


"Dia calon adik ipar aku!" Jelas Marvel yang sontak membuat Mariana menatap kearahnya.


"Waaaah gila, beneran kamu pacaran sama anak miliader?" Tanya Bian.


"Jangan harap!" Tegas Mariana yang segera bergabung dengan Zea.


"Abang Rakes mana?" Tanya Zea.


"Di sini!" Ujar Rakes yang baru saja masuk.


"Ayo Una, sini gabung!" Ajak Elsaliani.


"Terima kasih tante!" Ujar Una yang ikut duduk di samping Mariana.


"Apa kalian bertiga mau terus berdiri di situ?" Tanya Iqbal.


"Siap!" Tegas ketiganya dengan suara lantang dan serentak ulah ketiganya sukses membuat semua mata menatap kearah mereka.


"Apa kalian sedang latihan paduan suara?" Tanya Hadi di akhiri dengan gelak tawa yang lainnya.


"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" Tanya Rayyan.


"Apa? kenapa? katakan!" Tegas Rafeal.


"Kenapa justru aku melihat aura persahabatan yang begitu melekat antara kamu dan mereka berdua? kita bahkan sudah berteman semenjak SMP, tapi kenapa rasanya kedekatan kalian seperti telah hidup bersama dalam waktu yang lama? apa aku salah?" Jelas Rayyan.


"Untuk kali ini aku setuju dengan omongan bocah itu! apa kalian menyembunyikan sesuatu?" Jelas Roger yang berniat memanaskan suasana.


"Benarkah kami terlihat sedekat itu? aku senang mendengarnya!" Jelas Marvel.


"Bukankah calon adik ipar emang harus dekat, dia calon adik ipar Marvel ya pasti aku juga harus dekat dong, aku dan Marvel kan satu paket!" Jelas Rakes.


"Berhenti mengatakan adik ipar, kupingku rasanya gatal setiap kali mendengarnya!" Protes Mariana.


"Loh kenapa? tante lihat kalian cocok." Jelas Erina.


"Menurut tante juga gitu, kalian serasi!" Timpal Elsaliani.


"Udah-udah, dan kalian bertiga ayo sini gabung!" Ajak Hadi yang langsung dituruti oleh Rakes, Marvel dan Rafeal.


"Reva gimana kabar mama kamu?" Tanya Elsaliani.


"Baik tante!" Jawab Reva singkat.


"Mama aku nggak tante tanya?" Protes Qalesya.


"Tadi siang tante udah jumpa sama mama kamu di pasar, kami malah sempat makan siang bersama, iya kan Rakes?" Jelas Elsaliani.


"Iya Qalesya." Ujar Rakes.


"Ohhh gitu loh ceritanya!" Ujar Qalesya dengan senyuman.


Semuanya mulai membuka pembicaraan yang begitu mengasyikkan, di mulai dari Namira yang menceritakan keluarganya lalu di lanjutkan dengan cerita kocak Mariana yang sering bolos saat jam kuliah, lalu tiba-tiba protes soal kehadiran di akhir semester di akhiri dengan Una yang dengan ramah bercerita tentang persahabatannya dengan Marvel dan Rakes.


Semuanya begitu larut dalam suana namun itu tidak berlaku bagi Zea dan Kania. Mata keduanya seakan membuat seluruh tubuh Rakes dan Marvel remuk, kala Una membahas soal kedekatan ketiganya.


"Yah begitulah persahabatan kami, jika aku sedang berjalan hanya dengan Rakes maka semuanya akan mengira kalau kami pacaran, begitu juga saat nongkrong berdua dengan Marvel. Tapi aku benar-benar senang bisa kenal mereka berdua." Una mengakhiri ceritanya dengan senyuman bahagia yang membuat Kania dan Zea semakin memanas.


"Waaaaah sepertinya ruangan ini mulai panas!" Jelas Zafran yang menatap Zea dan Kania secara bergantian.


"Apa AC-nya mati?" Tanya Qalesya dengan polosnya.


"Bukan AC yang mati, tapi ada hati yang sedang memanas!" Jelas Mariana.


"Bakal perang nih kayaknya!" Ujar Iqbal.


"Rakes, Marvel ayo bantu mama sebentar! mama baru ingat ternyata ada barang mama yang ketinggalan di mobil." Jelas Erina yang segera bangun dan lekas menuju pintu depan dengan diikuti oleh Rakes dan Marvel.


"Zea, aku mau ke kamar mandi, bisa antarkan aku?" Tanya Mariana.


"Ayo kak!" Ajak Zea yang langsung beranjak dari tempatnya.


"Kania, bukannya kamu juga mau ke kamar mandi, ayo buruan!" Ajak Mariana.


"Oh iya." Ujar Kania yang juga ikut dengan Mariana dan Zea.


Setelah kepergian ketiganya, Elsaliani segera membuat suasana kembali seperti sedia kala, dia tidak ingin ada yang curiga atau bahkan mengajukan pertanyaan yang akan sulit untuk ia jawab. Kini permainan diambil alih oleh Rafeal, ia sengaja bercita tentang hal konyol agar semua fokus pada dirinya. Rafeal bahkan dengan santai membahas tentang club mereka yang dulu sering mengikuti balapan liar dan selalu menang di setiap kali balapan.


Kekonyolan Rafeal juga kerap di timpali oleh protes yang Bian ajukan di setiap Rafeal menjadikannya sebagai tersangka utama dalam setiap hal gila yang mereka lakukan, namun protes yang Bian ajukan langsung di hancurkan oleh Rayyan dan Taufan yang dengan sigap memihak pada Rafeal. Aksi mereka berempat bahkan membuat Iqbal ikut tertawa.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️