
Zea yang terus mencoba melawan rasa ngantuk terlihat begitu kesal pada dirinya sendiri, bahkan ia tak henti mengutuk matanya sendiri yang selalu saja terpejam meski berulang kali ia kucek, bahkan sesekali wajahnya terbentur dengan buku yang ada di hadapannya akibat rasa ngantuk yang tak bisa diajak damai lagi.
"Zea, shiiiits!" Panggil Rafeal sembari terus menarik ujung jilbab Zea dari belakang.
Usaha Rafeal tak membuahkan hasil apa-apa, yang ada kini Zea telah tertidur pulas dengan wajah yang menempel sempurna di atas bukunya.
"Ngapain sih tuh anak semalaman, kok bisa molor gitu?" Tanya Bian yang duduk tepat di belakang Zea.
Rafeal hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
"Tadi pagi aku lihat dia ke sekolah bareng om Hadi, nginap di sana kali." Jelas Taufan.
"Apa?" Seru Rayyan dengan suara lantang yang sontak membuat seisi kelas menoleh kearahnya.
"Ada apa ini? apa ibu meminta kalian untuk berdiskusi kelompok?" Tanya Susi yang tak lain adalah guru Matematika sekaligus wali kelas mereka.
"Nggak buk!" Jawab Namira yang duduk di samping Rafeal.
"Kalian, ini baru hari pertama tapi sudah bertingkah, ada yang molor pula. Besok pagi kalian berenam temui ibu di ruang guru, ingat jam tangan tujuh." Jelas Susi.
"Jam tujuh? bu..." Protes Rafeal yang langsung dihentikan oleh Namira.
"Baik bu!" Jawab Namira patuh.
"Zea!" Panggil Bu Susi.
"Hmmmm, haihssss jangan ganggu napa? birisik!" Seru Zea yang semakin memejamkan matanya.
'Buuk' Tangan Susi mendarat di atas meja yang seketika membuat Zea segera bangun.
"Maaf bu!" Pinta Zea yang sedikit membenarkan jilbabnya.
"Jika besok kamu tertidur lagi saat jam belajar maka ibu akan langsung menghukum mu!" Jelas Susi.
"Baik bu!" Jawab Zea.
"Ingat besok ibu tunggu!" Tegas Susi yang kembali ke mejanya.
"Tunggu? tunggu siapa?" Tanya Zea.
"Siapa lagi kalau bukan kita, jam tujuh pagi, besok!" Jelas Bian yang kembali fokus ke papan tulis.
"Jam tujuh? wuiiiiisssh." Seru Zea.
"Apa harus ibu undurkan lagi jadi jam enam?" Tanya Susi sambil menatap keenamnya satu persatu.
"Nggak bu, kami akan datang tepat waktu, jam tujuh!" Jawab Namira.
Susi kembali melanjutkan pelajarannya hingga bel pulang berbunyi, setelah mengakhiri perjumpaan pertamanya dengan para murid baru, Susi langsung keluar dari kelas tersebut, diikuti oleh para murid yang langsung berbondong-bondong keluar dari kelas.
"Mau pulang bareng aku?" Tanya Namira ketika mereka semua berada di parkiran.
"Kamu ngajak semuanya atau cuma Zea aja?" Tanya Taufan.
"Ya Zea, kan kalian bawa kendaraan sendiri." Jelas Namira.
"Hari ini aku nggak bawa, so boleh aku nebeng?" Tanya Taufan.
"Modus!" Seru Bian yang memang tau niatnya Taufan yang ingin dekat-dekat sama Namira.
"Biarin!" Cetus Taufan.
"Kalian pulanglah, sebentar lagi aku dijemput." Jelas Zea.
"Kalau gitu, ayo Namira!" Ajak Taufan
"Kami duluan!" Ujar Namira yang bergegas memasuki mobilnya dengan diikuti oleh Taufan.
"Kamu nginap di rumah Rakes?" Tanya Rayyan yang sontak membuat Bian dan Rafeal ikut menatap Zea.
"Rumah om Hadi, abang Rakes nggak punya rumah." Jawab Zea.
"Rumah om Hadi rumah dia juga kan? jadi semalaman kamu menghabiskan waktu sepanjang malam bersama Rakes sampai-sampai kamu ngantuk di sepanjang jam pelajaran? kalian ngapain aja?" Tanya Rayyan sinis.
"Rayyan! kamu jangan aneh-aneh deh! Zea nggak seperti yang kamu bayangkan." Tegas Bian.
"Kalian jangan tertipu dengan penampilannya, di depan kita aja berlagak suci tapi saat bersama Rakes siapa tau!" Cela Rayyan.
"Zea ayo ikut aku!" Ajak Rafeal.
"Apa sekarang Rafeal juga target mu?" Cetus Rayyan.
"Kenapa? kamu cemburu kalau Zea lebih memilih aku dari pada kamu?" Rafeal balik menyerang Rayyan.
"Aku nggak tau kenapa persahabatan kita jadi rusuh gini, jika aku penyebabnya maka aku akan keluar dari club kita. Rayyan, aku kira persahabatan kita yang bertahun-tahun tidak akan roboh hanya karena masalah pribadi tapi ternyata aku salah." Jelas Zea.
"Kalian kenapa sih? Rayyan jika kamu suka sama Zea bukan berarti Zea juga harus menyukaimu kan? aku nggak mau hanya karena cinta semuanya berantakan." Tegas Bian.
"Kita sahabat selamanya, ingat itu! Bian kamu urus Rayyan, biar Zea ikut aku!" Jelas Rafeal yang langsung menarik Zea ikut bersamanya.
"Zea teman kita sejak kecil, aku yakin kamu lebih mengenalinya dari aku. Dia bukan gadis yang akan dengan mudah membiarkan dirinya di sentuh oleh cowok manapun, termasuk kita berempat. Jangan karena perasaan mu kamu malah melukai hati dan kepercayaannya selama ini terhadapmu. Zea, kamu, aku, Taufan dan Rafeal, kita bahkan lebih mengenali satu sama lain dari pada diri kita sendiri. Rayyan, aku tau kamu sedang kebingungan, Zea juga akan mengerti, cepatlah kembali jadi Rayyan yang selalu bijaksana, Rayyan yang selalu marah ketika kami buat salah, Rayyan yang selalu menyelesaikan semua onar yang kami buat dengan begitu tenang." Jelas Bian lalu menepuk bahu sang sahabat.
"Ayo pulang!" Ajak Bian.
Bian beranjak masuk ke dalam mobilnya, Rayyan pun langsung menaiki motornya, keduanya meninggalkan area parkiran sekolah yang sudah sepi sejak tadi.
___________________
"Kenapa membawa aku ke sini?" Tanya Zea ketika mobil Rafeal berhenti di parkiran sebuah restauran.
"Ngapain ke sini?" Tanya Zea masih saja dengan badmood nya.
"Benerin mobil!"
"Nggak lucu!"
"Ya habis, udah tau kita di restauran, lah kamu malah nanya mau ngapain emang ada orang ke restauran buat benerin mobil? ayo kita makan siang dulu, habis itu baru kita pulang." Jelas Rafeal yang langsung keluar dari mobil.
Meski masih terlihat kesal, Zea segera mengikuti Rafeal yang telah lebih dulu masuk ke dalam restauran. Rafeal langsung mengambil tempat di meja nomor tujuh, Zea terus mengikuti langkah Rafeal, hingga tanpa sengaja matanya menoleh pada meja no tiga yang sontak membuat langkahnya langsung berbalik menuju meja tersebut.
"Boleh aku duduk di meja ini?" Tanya Zea yang sontak membuat pelanggan yang berada di meja tersebut segera mengarahkan pandangannya pada Zea.
"Zea...!" "Kak Zea!" Seru Dion dan Reva hampir bersamaan.
"Reva, apa yang kamu lakukan disini? terlebih dengan dia?" Tanya Zea.
"Apa masalah mu?" Tanya Dion.
"Eh kamu diam, aku sedang bicara dengan adik aku!" Tegas Zea.
"Kenapa memangnya? apa salah aku berteman dengan Abang Dion?" Tanya Reva.
"Iya salah! dia bukan cowok baik-baik!" Tegas Zea.
"Lalu apa kakak pikir kalau kakak itu cewek baik-baik?" Reva malah menyerang Zea dengan pertanyaan yang membuat Zea mengernyitkan keningnya.
"Zea...!" Panggil Rafeal yang ikut bergabung di meja tersebut.
"Kenapa meracuni otak adik aku? masalah kamu sama aku, kenapa menyertakan adik aku dalam masalah kita?" Zea terlihat mulai emosi.
"Siapa yang meracuni siapa? kakak jangan konyol, tidak usah berlagak sok peduli jika pada akhirnya nikung lagi!" Jelas Reva.
"Apa maksud mu? kakak sama sekali tidak paham!" Ujar Zea.
"Pikir aja sendiri! ayo abang Dion kita pulang, aku udah nggak betah lagi di sini!" Cetus Reva yang beranjak dari kursinya.
"Apa yang kamu lakukan pada adik aku?" Pertanyaan yang Zea ajukan langsung diiringi dengan tinju yanh mendarat sempurna tepat di wajah Dion.
"Zea!" Seru Rafeal yang mencoba menahan Zea.
Dion yang tak tinggal diam langsung membalas Zea, tinju Dion tepat mengenai pipi kanan Zea.
Di saat perkelahian semakin memanas, satpam pun datang untuk melerai mereka.
"Tolong jangan buat onar di sini, berhenti!" Jelas pak satpam tersebut yang berusaha menahan Dion.
"Abang Dion ayo kita pulang!" Ajak Reva.
"Reva, Reva berhenti!" Pinta Zea.
"Jangan urusi hidup aku!" Tegas Reva yang langsung menarik Dion bersamanya.
"Zea tenanglah! emosi tidak akan menyelesaikan masalah!" Jelas Rafeal.
"Tapi...!" Jelas Zea.
"Udah tenanglah dulu, nanti kita pikirkan lagi caranya, sekarang ayo pulang!" Ajak Rafeal.
"Lihat aja Dion, aku bakal memutilasi tubuh mu itu!" Gumam Zea yang sontak membuat pak Satpam yang berdiri di dekatnya langsung menjauh.
"Dia hanya bercanda pak, permisi!" Seru Rafeal yang langsung membawa Zea keluar dari restauran tersebut.
"Lihat saja Dion, aku akan membuat mu menyesal karena telah bermain dengan adik aku!" Gumam Zea ketika berada di dalam mobil, ia masih saja terus memikirkan keadaan Reva.
"Aku akan cari tau hubungan mereka, jadi sebelum semuanya jelas kamu tidak boleh bertindak, paham!" Jelas Rafeal.
"Hmmmmm!"
"Ngerti atau nggak?"
"Iya!" Tegas Zea kesal.
"Sekarang kita pulang, besok aku akan cari tau apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua." Jelas Rafeal yang langsung menjalankan mobilnya.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ