
"Aku juga lapar!" Adu Zea.
"Nih, aaaaaa!" Ujar Rakes yang mengarahkan sendok makan kearah mulut Zea.
"Pak Rakes....!" Seru Cindy yang berdiri di ambang pintu dengan terus menatap Zea.
Mulut Zea yang di penuhi dengan makanan yang baru saja ia terima dari suapan Rakes, seketika langsung memuncratkannya ke wajah Rakes karena mendengar suara Cindy.
Rakes hanya menghela nafas kasar lalu membersihkan wajahnya dengan tisu.
"Dasar bocah penggoda!" Cela Cindy yang kini mendekat pada Zea.
"Penggoda? siapa yang kamu sebut penggoda?" Tanya Zea yang mulai panas.
"Siapa lagi? kamu sengaja kan datang ke UKS bawa makanan pula, kamu ke sini mau menggoda pak Rakes yang lagi kurang sehat kan? dasar murahan." Cela Cindy.
Tangan Cindy langsung menjambak jilbab Zea, namun sebelum Cindy berhasil menarik jilbab Zea, dengan gesit tangan Zea langsung menghantam tangan Cindy hingga membuat Cindy meringis kesakitan.
"Hah! berani beraninya kamu!" Gumam Cindy yang hendak kembali memukul Zea.
Namun lagi-lagi Cindy kalah cepat dari Zea, kini tangan Zea mendarat di rambut lurus Cindy yang tertata rapi.
"Kenapa bapak diam saja? pak tolong aku dari bocah gila ini!" Pinta Cindy yang menahan rasa sakit pada bagian rambutnya.
"Zea lepaskan!" Pinta Rakes.
"Jangan cari masalah sama aku, jangan usik ketenangan ku, dan satu lagi pak Rakes bukan pacar mu jadi terserah dong mau aku goda atau aku lecehkam, orang yang di goda tenang tenang aja, kenapa kamu yang panas." Jelas Zea.
"Benar-benar!" Teriak Cindy yang begitu dipenuhi emosi.
"Bapak nggak marah kan kalau aku goda?" Tanya Zea.
"Ya nggak masalah!" Ujar Rakes.
"Good boy..." Seru Zea lalu mencoba mengusap rambut Rakes meski harus dengan bersusah payah pada menit berikutnya Zea sukses mengecup kening Rakes.
Zea langsung melarikan diri dari lokasi tersebut. Rakes masih berdiri kaku dengan sikap Zea yang bahkan diluar perkiraannya.
"Pak, kenapa diam aja? dia udah melakukan pelecehan pada kening bapak, bukannya bapak sama sekali nggak mau disentuh sama cewek yang bukan muhrim bapak? harusnya bapak ambil tindakan dong!" Jelas Cindy kesal.
"Permisi!" Jelas Rakes yang langsung mengambil semua kotak makanan lalu segera pergi.
"Kurang ajar! lihat aja aku bakal kasih kamu pelajaran. Oke, untuk hari ini aku akan diam, tapi lihat saja aku akan membalas mu." Gumam Cindy yang ikut keluar dari UKS.
___________________
"Boleh kita bicara sebentar?" Tanya Kania yang diam-diam mengikuti langkah Marvel hingga ke gerbang sekolah.
"Kania!" Ujar Marvel setelah melihat Kania yang berdiri tepat di belakangnya.
"Apa abang sibuk?" Tanya Kania dengan kedua tangan yang bermain dengan gantungan yang ada di tas sekolahnya.
'Tiiiiiit tiiiiiiiiit!' Suara klakson yang ditekan begitu lama segera mengalihkan pandangan Marvel.
"Buruan, mami sama papi udah nungguin kita dari tadi!" Jelas Mariana dari dalam mobil.
"Aku duluan, assalamualaikum!" Jelas Kania dan segera pergi.
Langkah Kania yang terburu-buru membuat dirinya menabrak seseorang yang sedang berjalan bersama temannya.
"Maaf!" Ucap Kania.
"Kania..." Ujar Rafeal lalu memungut tas milik Kania yang tergeletak di jalanan.
"Abang Rafeal...kak Zea...!" Ujar Kania yang menyadari bahwa yang ia tabrak adalah Rafeal yang sedang berjalan bersama Zea.
"Kania, ayo ikut bersama kami!" Ajak Mariana.
Marvel dan Mariana mendekat, bahkan dengan senyuman Mariana langsung menggandeng tangan Kania.
"Kalian berdua juga ikut, aku akan mengenalkan kalian sama papi dan mami." Jelas Rakes.
"Abang apaan sih, nggak usah ajak bocah kasar itu kali." Tegas Mariana sambil menatap pada Rafeal.
"Abang sama adek sama aja, mulut sadis!" Ujar Rafeal pelan.
"Mereka berdua teman abang." Jelas Marvel.
"Hai aku Zea, kamu Mariana kan? kamu cantik banget, bahkan lebih cantik dari pada yang di foto." Jelas Zea.
"Terima kasih! Zea juga cantik banget kok! calon kakak ipar ku juga cantik" Ujar Mariana.
"Ya udah ayo!" Ajak Rafeal bersemangat.
"Kalian mau kemana?" Tanya Rakes yang baru saja tiba.
"Makan enak!" Jelas Rafeal yang langsung meluncur masuk ke dalam mobil Mariana.
"Abang juga harus ikut, ayo!" Ajak Kania yang langsung menarik tas Rakes agar sang empunya ikut bersama.
"Ayo Princess!" Ajak Marvel.
"Princess? sebenarnya calon kakak ipar aku yang mana? Kania atau Zea?" Tanya Mariana.
"Princess itu panggilan abang Marvel buat aku bukan karena aku pacar dia tapi karena aku tunangannya abang Rakes." Jelas Zea pelan.
"Oh jadi yang barusan itu namanya abang Rakes?" Tanya Mariana.
"Iyap, udah buruan katanya papi dan mami nungguin kita." Jelas Marvel.
"Ah iya, ayo!" Jelas Mariana yang segera ke mobil.
___________________
Meja yang di penuhi berbagai hidangan mewah lengkap dengan kue kue yang cukup menggiurkan. Di sana terlihat jelas sepasang suami istri duduk manis dengan di temani oleh seorang lelaki yang mengenakan stelan jas nan rapi. Keenamnya langsung mendekati meja tersebut.
Semakin mendekat semakin jelas pula sosok yang sedang duduk di samping Ghaffar, hingga membuat langkah Kania dan Zea terhenti seketika. Sedangkan Mariana segera duduk di samping sang papi dan Marvel langsung di sambut hangat oleh sang mami tercinta, Rafeal dan Rakes mengambil tempat di kursi paling ujung sisi kanan.
(Kenapa abang Roger bisa ada di sini? sebenarnya ada acara apa ini? aku takut jika sesuatu yang ku takuti malah terjadi di sini.) Bisik hati Kania yang mulai ketakutan.
(Dia, apa yang dia lakukan disini? Kenapa setiap kali berpas-pasan dengan dia aku jadi gemetaran begini, ayolah Zea, kamu nggak akan tumbang hanya karena pecundang itu kan? lagian dia nggak mungkin macam-macam di tempat umum. Tenanglah!) Gundah hati Zea yang terus mencoba menenangkan perasaannya yang telah kalang kabut saat melihat Roger juga ikut hadir di acara makan siang keluarga Revtankhar.
"Kalian berdua kenapa berdiri di sana, ayo sini!" Pinta pak Ghaffar yang melihat Kania dan Zea masih saja berdiri di sana.
"Kania, ayo sayang!" Ajak Delia yang lekas menghampiri Kania dan Zea.
"Iya tante." Ujar Kania.
"Ayo nak!" Ajak Delia yang kembali merangkul Kania dan Zea untuk ikut bergabung di meja makan.
"Makasih tante!" Ujar Zea dengan senyuman.
Keduanya segera mengikuti Delia untuk bergabung di meja makan. Zea mendapatkan kursi tepat di hadapan Roger yang mana ia langsung mendapatkan tatapan yang begitu dalam dari Roger.
"Kania, selamat datang di keluarga baru mu. Terima kasih karena selama ini udah begitu setia mencintai putra papi, secepatnya papi dan mami akan menemui kedua orang tuamu." Jelas Ghaffar.
"Hmmmmmm iya, hmmmm!" Ujar Kania yang terlihat jelas begitu gugup.
"Sayang, kamu nggak harus gugup gitu, kamu sekarang bagian dari keluarga ini juga." Jelas Delia lalu mengusap lembut bahu Kania.
"Iya, kamu santai aja, papi sama mami nggak makan orang kok!" Ujar Mariana yang di akhiri dengan tawa.
"Kamu? Ana meski Kania lebih muda dari kamu dia ini calon kakak ipar mu lo, panggil dia kak Kania." Jelas Delia.
"Eh lupa, kak Kania." Ujar Kania.
"Nggak apa, panggil Kania aja." Ujar Kania.
"Kenapa dia juga ikut pi?" Tanya Marvel.
"Dia siapa?" Tanya Ghaffar.
"Roger!" Tegas Marvel.
"Ya harus dong, ini kan makan siang keluarga kita, kamu bawa teman-teman mu, dan papi juga bawa semua menantu Papi." Jelas Ghaffar.
"Apa?" Gumam Rakes yang terlihat begitu syok.
Mata tajam Rakes langsung menatap Roger seolah meminta jawaban dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Abang sih jarang pulang jadi nggak tau kabar di rumah. Papa dan mama setuju untuk menjodohkan aku dengan Mariana, karena awalnya papa ingin menjodohkan aku dengan Kania, tapi setelah papa tau kalau Kania adalah kekasihnya abang Marvel, papa langsung mengurungkan niatnya, lalu kakek menjodohkan aku dengan Mariana." Jelas Roger.
"Kacau, hufffff!" Ujar Rafeal pelan.
"Tapi...!" Bantah Zea namun langsung menghentikan ucapannya.
"Kenapa Zea?" Tanya Mariana.
"Tapi aku sudah lebih dulu menjodohkan Ana dengan Rafeal." Tegas Marvel.
Pernyataan Marvel membuat semua pandangan langsung berpusat pada Rafeal yang saat itu justru memasang wajah yang begitu kebingungan.
"Apa maksud mu?" Tanya Rafeal tak paham.
"Abang, kalau pun mau menjodohkan aku, jangan lah dengan bocah kasar seperti dia. Lagian aku sudah mulai suka dengan Roger, aku nyaman dengan dia." Jelas Mariana.
"Ana, kamu adik abang satu-satunya, abang sangat menyayangi mu, kali ini saja tolong turuti keinginan abang." Pinta Marvel.
"Kenapa abang Marvel ingin membatalkan perjodohan kami? apa abang pikir aku tidak cukup baik dari Rafeal?" Tanya Roger yang mulai emosi.
"Iya, Rafeal jauh lebih baik dari kamu." Tegas Marvel.
"Om Ghaffar, aku akan meminta kakek untuk membatalkan perjodohan ini. Zea ayo pulang!" Jelas Rakes yang langsung bangun dari kursinya.
Zea ikut bangun lalu segera mengikuti Rakes yang telah lebih dulu meninggalkan meja makan tersebut.
"Dia Rakes, cucu pertama kakek Jordan, papi masih ingat dengan wajahnya kan. Kania, Rafeal ayo pulang." Jelas Marvel yang juga ikut meninggalkan meja makan.
"Marvel, tunggu dulu nak, kita bicarakan secara baik-baik." Jelas Delia.
"Aku rasa mereka semua tidak menyukaiku, termasuk abang aku sendiri. Mungkin dia mengira aku telah merebut segala miliknya tapi nyatanya kakek lah yang memberikannya sendiri." Jelas Roger.
"Roger tunggu!" Panggil Mariana yang segera menyusul Roger yang ikut pergi.
"Bagaimana ini pi?" Tanya Delia yang begitu khawatir dengan keadaan saat ini.
"Papi akan minta orang untuk menyelidiki Roger, Papi percaya setiap hal yang Marvel lalukan pasti ada alasan yang kuat. Dia tidak pernah sama sekali menentang kita selama segala hal yang kita putuskan tidak salah, kali ini pasti papi yang keliru karena menerima Roger. Papi percaya sama putra kita mi, papi tau dia pasti tau segala hal tentang Roger." Jelas Ghaffar.
"Semoga semuanya akan kembali membaik!" Harap Delia.
"Aamiin, semoga saja mi." Ujar Ghaffar.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ