My Princess

My Princess
#145



Marvel masih saja sibuk memerhatikan penampilannya, sedari tadi terus saja membetulkan gaya rambutnya bahkan berulang kali mengubahnya.


"Haaaah...sepertinya begini lebih oke! hmmmm atau seperti ini? haaaashhhh!" Gumam Marvel dan masih saja sibuk mengubah gaya rambutnya.


"Udah ah mending kembali seperti biasanya aja!" Ujar Marvel lalu kembali menggunakan model rambut sehari harinya.


Lalu melepaskan kemeja yang ia gunakan dan menggantikannya dengan kaos.


"Begini lebih nyaman, semoga semuanya berjalan seperti yang aku rencanakan!" Ujar Marvel dengan mata terpejam.


"Mau lamar aja udah macam mau perang! udah rileks, Kania itu milik kamu!" Jelas Rafeal sembari menepuk bahu Marvel.


"Kania nggak bakal nolak! siapa sih yang bakal menolak pinangan anak miliader!" Ujar Rakes yang perlahan melangkah masuk ke dalam kamar Marvel.


"Benarkah? tapi dari tadi jantung aku terus saja berdetak tak karuan, jujur aku gugup banget bahkan lebih gugup dari pada saat kita beraksi!" Jelas Marvel.


"Udah tenang aja! ayo!" Ajak Rakes.


"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Marvel.


"Hmmmm, yang lain semuanya ngumpul di ruang depan." Jelas Rafeal.


"Huuuuuf! oke ayo!" Ujar Marvel dan segera keluar bersama dengan kopernya.


"Lalu bagaimana dengan cinta mu?" Tanya Rakes yang perlahan mendekati Rafeal yang sedang bersiap dengan kopernya.


"Aku? yah aku akan segera mencarinya!" Jawab Rafeal ngasal dan segera berlalu.


"Jangan dicari orang udah di depan mata!" Ujar Rakes.


"Jangan Ngaco, ayo buruan! ntar ketinggalan pesawat loh!" Cetus Rafeal dan segera pergi meninggalkan Rakes begitu aja.


"Apa aku harus terjun lapangan? dasar Rafeal, giliran ngurusin orang aja hebatnya selangit pas masalah diri sendiri bodohnya nongol!" Cetus Rakes dan segera bergabung dengan yang lainnya.


"Gimana udah siap? ayo berangkat!" Ajak Ivent yang sedari tadi sudah siap bersama yang lainnya.


"Nggak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Mariana memastikan setelah semuanya sudah berada di sana.


"Nggak ada kok, ayo!" Ajak Kania.


"Tunggu sebentar!" Pinta Marvel dengan jantung yang mulai berpacu tak menentu.


"Kenapa? apa ada barang abang yang ketinggalan? dimana? biar aku yang ambilkan!" Jelas Mariana.


"Bukan, maksud abang...." Ujar Marvel menggantung.


"Apa lagi? apa kamu lupa beli tiket pesawat?" Tanya Roger.


"Bukan....!" Tegas Marvel lalu kembali diam.


"Udah buruan!" Pinta Rafeal.


"Khmmmmm, Kania, hmmmmmm!" Ujar Marvel dengan perasaan yang benar-benar deg-degan.


"Kenapa? apa terjadi sesuatu?" Tanya Kania yang mulai khawatir.


"Dasar abang Marvel payah, gitu aja repot!" Cetus Zea yang kini beranjak duduk do sofa.


"Oke! hmmmm Kania, menikahlah dengan abang!" Seru Marvel dengan semua keberanian yang telah ia kumpulkan, perlahan Marvel menekuk lutut kanannya lalu mengambil cincin dari saku celananya.


"Jadilah istri abang!" Lanjut Marvel sembari memperlihatkan cincin tersebut.


"Waaaaaah, so sweet banget!" Ujar Mariana tersenyum bahagia.


"Drama apa lagi ini? kalian selesaikan secepat mungkin aku tidak ingin ketinggalan pesawat." Cetus Roger dan segera keluar.


"Tunggu apa lagi? Kania langsung peluk aja tuh calon suami mu!" Ujar Mariana.


"Ntar keburu di tikung loh, udah iya aja!" Ujar Rakes.


"Abang beneran melamar aku?" Tanya Kania yang masih begitu kebingungan.


"Terus kamu kira abang Marvel bercanda? udah dari sebulan dia mempersiapkan diri untuk melakukannya." Jelas Zea santai.


"Zea,,,!" Ujar Marvel kerena merasa begitu malu saat Zea membuka aibnya.


"Udah Kania, iya aja." Ujar Zafran.


"Nggak usah mikir terlalu lama, aku sih yes!" Ujar Qalesya dengan senyuman.


"Kalian berisik!" Cetus Marvel pelan dengan menatap yang lainnya secara bergantian.


"Hmmmmm!" Ujar Kania pelan


"Hmmmmmm? maksudnya?" Tanya Marvel.


"Apa lagi? dasar lelaki tak peka!" Cetus Mariana yang langsung memeluk erat tubuh Kania.


"Serius? jadi jawabannya iya?" Tanya Marvel memastikan.


"Iya, tapi kita nggak akan langsung nikah kan? aku masih harus lulus sekolah dulu!" Jelas Kania.


"Jadi iri!" Ujar Qalesya.


"Apa abang juga harus melakukannya sekarang?" Tanya Zafran.


"Dasar, nggak peka!" Cetus Rafeal sembari menepuk pundak Zafran.


"Situ lebih nggak peka!" Cetus Zafran.


"Apa hubungannya sama aku?" Tanya Rafeal.


"Dia emang suka amnesia, kadang diri sendiri aja nggak ingat!" Cetus Zea.


"Apaan sih?" Cetus Rafeal kesal.


"Tuuh Mariana, sampai kapan dia harus menunggu?" Tanya Rakes.


"Siapa yang nunggu? aku? nungguin bocah bar-bar itu, ihhhhhh nggak banget!" Cetus Mariana dan segera keluar.


"Tuh kan ngambek! sana gih susul!" Cetus Ivent.


"Ngambek dari mananya coba? yg ada dia lagi marah tuh gara gara kalian!" Jelas Rafeal.


"Abang Rafeal, wanita emang gitu, meski terlihat ogah tapi nyatanya dia nungguin kamu, udah buruan sana!" Jelas Qalesya.


"Kode nih!" Ujar Marvel.


"Apaan sih, udah ah, mending aku aja yang susul kak Ana." Ujar Qalesya dan segera keluar.


"Ayo!" Ajak Ivent.


"Kayaknya aku harus ke kamar mandi sebentar!" Ujar Zea dan segera kembali ke kamarnya.


"Kalian duluan aja, tunggu kami di bandara, aku susul Zea dulu!" Jelas Rakes.


"Aku akan tunggu disini!" Jelas Ivent dan Rafeal serentak.


"Udah kalian tunggu di bandara aja!" Jelas Rakes.


"Ya udah kami duluan!" Ujar Marvel.


"Ayo semuanya." Ajak Zafran dan langsung bergegas keluar, sedangkan Rakes segera menyusul Zea.


___________________


Dengan langkah yang begitu buru-buru Zea segera menuju kamar mandi, namun langkahnya seketika terhenti saat ia mendengar suara dering ponsel yang berasal dari atas tempat tidur sana.


Zea kini beralih untuk mengambil ponsel tersebut yang ternyata adalah milik Rakes.


"Tuh kan hampir aja ketinggalan, sejak kapan sih Chim chim jadi pikun gini!" Ujar Zea dan segera melihat siapa sebenarnya yang sedang menelpon.


"Papa! ya udah deh aku angkat aja!" Ujar Zea pada dirinya sendiri lalu langsung menggeserkan tombol hijau yang ada dilayar ponsel Rakes.


"Kamu dimana? cepat pulang! kamu harus pulang sekarang juga!" Tegas Hadi dari seberang sana, suaranya terdengar begitu tegas dan serius.


Zea masih kebingungan, ia yang mulai angkat bicara namun langsung dihentikan dengan Hadi yang kembali berbicara.


"Terjadi masalah serius! segeralah pulang, bantu papa mengatasinya, saat ini Iqbal sedang dalam masalah besar, papa nggak mau kalau sampai masalah ini semakin memburuk karena itu akan membuat El dan juga Zea berada dalam bahaya besar, kamu harus mengurus semuanya dan satu lagi jangan cerita apapun pada Zea terlebih El. Pulang sekarang!" Jelas Hadi yang sukses membuat Zea mematung dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Rakes! kamu dengar papa kan?" Tanya Hadi memastikan.


"Zea...." Panggil Rakes yang baru saja tiba dikamar dan mendapati sang istri yang kini duduk di lantai dengan air mata yang terus saja menetes.


Keadaan Zea terlihat begitu tak menentu, tangan kirinya yang menggenggam ponsel Rakes terlihat jelas sedang gemetaran tak hanya itu, tangan kanannya yang sedari tadi terus menggenggam erat kerudungnya juga terlihat gemetaran, matanya memerah sempurna.


"Rakes!" Panggil Hadi yang suaranya terdengar jelas.


"Papa!" Ujar Rakes yang mengambil alih ponsel dari tangan Zea.


"Kamu dengar apa yang papa katakan? pulang sekarang juga, jika kamu terlambat papa nggak tau apa Iqbal bisa keluar dari semua kekacauan ini!" Jelas Hadi.


"Iya pa!" Jawab Rakes dan langsung memutuskan panggilan Hadi.


"Zea, tenanglah! nggak ada hal buruk yang terjadi, semua baik-baik saja!" Jelas Rakes yang langsung mendekap erat sang istri tercinta.


Tangis Zea pecah, kini dia terlihat begitu ketakutan dan lemah.


"Bagaimana ini? apa yang sebenarnya terjadi pada ayah? aku harus bagaimana?" Gumam Zea dalam isak tangisnya.


"Zea tenanglah! kamu wanita yang kuat, kita pulang sekarang, abang akan membereskan semuanya!" Tegas Rakes yang langsung mengangkat tubuh Zea kedalam gendongannya.


Kaki Rakes terus berlari menuju garasi mobil dan bergegas pergi menuju bandara.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️