My Princess

My Princess
#061



Tepat pukul lima sore Rakes tiba di rumah, setelah memarkirkan motornya ia segera berlari masuki rumah pasalnya tadi pas di jalan ia baru di kabari kalau malam ini Elsaliani dan Iqbal menginap di rumah Ayu.


Rakes terus berlarian menaiki tangga ia tidak bisa tenang sebelum memastikan keadaan Zea yang hanya tinggal berdua dengan Fadhil di rumah. Dengan kasar tangan Iqbal membuka pintu kamar Zea namun kamar tersebut kosong, Zea tak ada di sana. Langkah Rakes segera beralih ke kamarnya.


"Syukurlah! hampir saja abang menyalahkan diri abang jika saja sesuatu yang buruk menimpamu." Ujar Rakes lega ketika mendapati Zea yang terlelap di atas kasur sana.


Perlahan Rakes terus mendekati Zea, lalu duduk disisinya, dengan lembut tangan Rakes menyentuh rambut Zea yang terurai menutupi wajahnya.


"Tidurlah, kamu pasti sangat lelah! dan juga selamat karena lagi-lagi kamu mengalahkan Alif. Pertandingan tadi pasti seru banget, andai saja abang bisa menontonnya secara langsung, tapi ya udahlah, yang penting kamu bahagia." Ungkap Rakes lalu beranjak dari duduknya.


Tanpa sengaja tangan Rakes malah menyentuh bagian lengan Zea yang langsung membuat Zea memekik kesakitan.


"Awww sakit!" Keluh Zea dengan tangan kanan yang spontan menyentuh tangan kirinya yang tadi tak sengaja disentuh oleh Rakes.


"Kenapa?" Tanya Rakes yang langsung memeriksa tangan kiri Zea.


"Chim chim pelan pelan, sakit!" Keluh Zea yang kini mulai menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Dimana yang sakit? kenapa? apa yang terjadi? apa lukanya parah? siapa yang melakukannya?"


Pertanyaan yang Rakes ajukan malah semakin membuat Zea bingung.


"Kenapa diam?"


"Pertanyaan Chim chim terlalu banyak, aku sampai bingung mau jawab yang mana dulu."


"Sini, coba abang lihat!" Pinta Rakes yang langsung memeriksa lengan Zea.


"Pelan pelan!" Tegas Zea.


"Angkat tangan!" Pinta Rakes yang hendak membuka seragam yang masih menempel di tubuh Zea.


"Gimana mau di angkat, sakit, mau gerak aja susah."


Rakes segera bangun lalu cepat-cepat mengambil kotak obat yang ada di lemarinya, lalu kembali duduk di samping Zea.


Tanpa permisi Rakes langsung menggunting lengan seragam Zea hingga terlihatlah tangan yang memar.


"Kapan ini terjadi?"


"Tadi."


"Tadi itu kapan?" Bentak Rakes dengan suara yang sukses membuat Zea ketakutan.


Zea yang tidak pernah melihat wujud Rakes yang seperti saat ini langsung tersentak ketakutan, baru kali ini Rakes bicara kasar padanya.


"Katakan siapa yang melakukan ini?" Bentak Rakes untuk yang kedua kalinya.


"Chim chim, apa Chim chim sadar kalau Chim chim malah membuat aku ketakutan." Jelas Zea.


"Maafkan abang, sini!"


Rakes langsung mengolesi salep pada lebam tersebut.


"Di kaki juga!" Jelas Zea.


Rakes beralih menyentuh kaki Zea lalu mengobati luka gores yang ada di betis Zea.


(Awas kamu Kancil, bisa-bisanya Zea terluka dan kamu tidak tau apa-apa.) Hati Rakes mulai mengutuk si Kancil yang tidak mengabarinya tentang keadaan Zea.


"Tadi aku ikut balapan, maaf karena tidak minta izin sama Chim chim lebih dulu. Mungkin ini teguran dari Allah karena aku pergi tanpa izin suami."


"Apa kamu terjatuh atau memang dijatuhkan?"


"Ada yang tiba-tiba ngerem mendadak di hadapan aku, dan inilah hasilnya!"


"Apa dia Alif?"


"Bukan! lagi pula dia udah minta maaf kok, ini murni kecelakaan, dia nggak sengaja." Jelas Zea.


"Apa kamu yakin?"


"Hmmm!" Jawab Zea.


Rakes mulai mendekat ia hendak memeluk Zea namun dengan cepat Zea menghentikannya.


"Kenapa?" Tanya Rakes kebingungan, karena ini adalah kali pertama Zea menolaknya.


"Coba lihat!" Pinta Zea sambil memperlihatkan bagian lehernya.


"Ke...ke...napa?" Tanya Rakes yang mulai panik dan salah tingkah.


"Chim chim lihat lebam di leher aku? aku rasa aku terinfeksi penyakit kulit deh, jadi jangan dekat-dekat takutnya malah menular." Jelas Zea.


(Aku kira cewek bar-bar tau segala hal, ternyata tidak, kenapa kamu bisa polos gini? meski bobrok ternyata kamu tidak paham tentang hal semacam ini. Bagaimana bisa itu penyakit kulit, hufffff, bagaimana aku harus menjelaskannya kalau ternyata akulah yang menciptakan lebam itu. Kenapa jadi sepusing ini sih!) Keluh hati Rakes.


"Biar nanti aku minta obat sama uma."


"Kenapa?"


"Zea, itu, sebenarnya, hmmmm..., itu bukan penyakit, ya sejenis apa ya? hmmmm ah tahapan pergantian kulit!" Jelas Rakes yang menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Bukannya cuma ular yang ganti kulit? apa manusia juga melalui hal seperti itu?"


"Iya, pastinya."


"Syukurlah. Aku sempat khawatir nggak bisa bersentuhan sama Chim chim."


"Ayo sini!" Pinta Rakes yang langsung merentangkan kedua tangannya.


Zea segera memeluk erat tubuh Rakes, membenamkan wajahnya di dada kokoh Rakes dengan tangan yang mulai menyentuh lembut setiap kancing kemeja Rakes.


"Selain abang tidak ada yang melihat lebam ini kan?" Tanya Rakes yang menyentuh lebam tersebut.


"Nggak ada lah, kan aku pakek jilbab."


"Baguslah!" Ujar Rakes lega.


"Eh, tapi tadi Namira melihatnya kok, dia bahkan terlihat shok, pasti dia juga mengira kalau ini penyakit menular." Jelas Zea.


"Haaaaaah, semoga saja dia juga berpikiran sama seperti kamu." Ujar Rakes yang mengecup lembut kening Zea.


"Apa kita boleh tabrakan?"


'Cup' Rakes langsung mengabulkan permintaan Zea.


"I love you, my Chim chim." Ucap Zea yang semakin mempererat pelukannya.


__________________


"Mau sampai berapa jam lagi aku harus melakukan ini?" Tanya Kania pada dirinya sendiri. Ia terus saja mengikuti langkah Marvel yang sedari tadi mengikuti Reva.


Reva yang masuk ke sebuah Cafe bersama dengan sahabatnya membuat Marvel juga memasuki cafe tersebut.


"Harusnya aku tidak mengikuti mereka, jika saja aku tau akan sesakit ini." Ungkap Kania dengan air mata yang perlahan menetes dari ujung mata indahnya.


Langkah Zea seketika terhenti dengan sendirinya, punggungnya yang bersandar di dinding luar cafe kini ambruk sudah, dadanya terasa begitu sesak.


"Harusnya abang memutuskan aku lebih dulu baru mengejar Reva. Kenapa kalian melukai aku dengan begitu sadis." Tangis Kania pecah dengan tangan yang terus berusaha menyembunyikan wajahnya dari tatapan orang-orang yang lalu lalang di situ.


"Mau temani abang minum?"


Suara tersebut langsung membuat Kania menoleh keatas mencoba melihat sosok yang sedang menyapanya.


"Apa abang mengenali aku?" Tanya Kania lalu mengusap air matanya.


"Pasti, Kania Kamila anak tante Angel kan?" Jelas cowok yang mengenakan topi hitam tersebut.


"Iya."


"Abang temannya tante Angel, ayo kita masuk!" Ajaknya lagi lalu mengulurkan tangannya kearah Kania.


Meski agak ragu namun akhirnya Kania menyambut uluran tangan tersebut. Keduanya langsung memasuki cafe.


*Tetap fokus pada target, biar aku yang menenangkan Kania. Setelah tugas mu selesai baru jelaskan keadaan yang sebenarnya pada Kania*~Kancil~


Sebuah Chat masuk di group chat 🍁Monster Action🍁 yang langsung di baca oleh kedua anggota lainnya.


*Kenapa Kania bisa bersamamu?*~Harimau~


*Udah ceritanya bentar aja, aku akan tenangin Kania dulu*~Kancil~


*Tetap fokus sama Reva, aku yakin dia pasti menjalin hubungan dengan Fadhil*~Srigala~


*Oke*~Harimau~


*Jaga Kania, atau aku akan menarik jatungmu keluar*~Harimau~


Marvel kembali fokus menguntit Reva. Reva masih terlihat asyik dengan temannya, hingga beberapa menit kemudian, Reva beranjak dari mejanya meninggalkan sang teman begitu saja. Marvel segera ambil langkah agar tidak kehilangan jejak Reva namun langkah Marvel langsung terhenti ketika Reva berhenti tepat di meja di mana Kania dan Kancil berada.


"Kania!" Ujar Reva yang langsung membuat Kania dan Kancil menoleh kearah Reva.


"Reva, kamu..." Ujar Kania langsung terhenti ketika Reva terlihat begitu fokus menatap Lelaki yang duduk di hadapannya.


"Kamu? ahhh anggota club kak Zea! apa kalian sedang kencan? nama mu......." Jelas Reva yang memang sangat hafal dengan wajah para sahabat Zea.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️