My Princess

My Princess
#162



Selamat datang Tuan Muda dan nona Ana!" Sapa Tiga orang satpam yang berjaga tepat di depan pintu Restauran nan mewah dimana keempat pasangan tersebut akan makan malam bersama. Restauran tersebut merupakan salah satu dari puluhan restauran milik keluarga Revtankhar.


Tidak hanya satpam tapi beberapa pelayan juga menyambut kedatangan mereka dengan begitu sopan dan ramah.


"Waaaah begini rupanya jadi orang kaya...!" Ujar Rafeal dengan penuh rasa takjub.


"Ayo silahkan Tuan!" Ujar seorang pelayan wanita dengan senyuman hangat.


"Ahhhh Ana apa ini ulah mu? kan sudah aku tegaskan berulang kali, jangan perlakukan aku seperti ini! dan kalian semua kembalilah bekerja!" Jelas Marvel yang begitu risih ketika diperlukan bak seorang raja.


"Bukan Ana loh bang! serius!" Tegas Mariana.


"Maaf Tuan muda, sebenarnya Tuan Revtankhar sendiri yang meminta kami menyambut kedatangan Tuan muda dan semuanya." Jelas pak satpam yang memiliki name tag Ruslan.


"Papi?" Tanya Marvel dan Mariana serentak.


"Apa pak Revtankhar juga ada di sini? sekarang?" Tanya Zea.


"Benarkah?" Tanya Kania yang justru terlihat begitu panik.


"Ah jangan bercanda, mana mungkin Tuan besar menyambut kedatangan para kurcaci seperti kita, jangan ngaco!" Cetus Rafeal ngasal.


"Sebenarnya....." Penjelasan pak Ruslan seketika terhenti saat sebuah suara dari kejauhan memanggil nama Marvel.


"Marvel!" Suara khas kharismatik pak Revtankhar terdengar begitu jelas hingga membuat semua mata langsung mencari asal suara tersebut.


"Papi!" Seru Mariana yang begitu kaget dengan kehadiran papinya.


"Selamat datang semuanya!" Ujar Jordan yang ternyata ikut bergabung dengan Revtankhar.


"Kakek!" Seru Rakes yang begitu tegang karena melihat sosok Jordan yang kini tepat berada di hadapannya.


"Kenapa begitu lama? ayo masuk! Qalesya ayo sayang!" Ajak Jordan yang memang begitu dekat dengan sosok Qalesya.


"Iya kek!" Jawab Qalesya nurut dan segera menghampiri Jordan, lalu keduanya segera masuk ke dalam ruangan VIP yang telah disiapkan oleh Revtankhar.


"Aku pulang!" Jelas Rakes.


"Rakes, masuklah!" Ajak Revtankhar.


"Apa yang sebenarnya papi rencanakan? kenapa mengajak kakek Jordan?" Tanya Mariana yang langsung bergelayut manja di lengan sang papi.


"Kakek Jordan hanya ingin ikut makan malam, dan dia udah janji, kalau dia nggak akan bahas apapun, Zea ayo!" Ajak Revtankhar.


"Iya om!" Ujar Zea nurut.


"Kania juga, ayo sayang!" Ajak Revtankhar lalu segera menyusul Jordan, Kania, Mariana dan Zea pun ikut masuk.


"Udah ayo! bukankah kakek Jordan sudah berjanji pada om Revtankhar, jangan khawatir!" Jelas Zafran.


"Aku...." Keluh Rakes.


"Ayo lah lidah aku udah nggak sabar pengen dimanjakan dengan makanan mahal!" Jelas Rafeal.


"Kamu ini!" Cetus Marvel.


"Buruan!" Desak Rafeal yang langsung menyeret Rakes ikut bersamanya.


"Ayo Zafran!" Ajak Marvel setelah Rafeal dan Rakes masuk.


"Ayo bang!" Ujar Zafran lalu keduanya pun ikut bergabung dengan yang lainnya.


________________


"Zea..." Panggil Jordan saat semuanya terlihat sibuk menyantap makan malam mereka.


Zea yang memang duduk tepat di depan Jordan seketika langsung menoleh pada sang kakek.


"Iya kek!" Jawab Zea pelan.


"Apa yang ingin kakek bicarakan? kita lagi makan, jangan memperkeruh keadaan!" Tegas Rakes yang langsung menatap intens Jordan.


"Rakes, kakek tau ada hal yang kamu tidak suka dari kakek, tapi ingatlah terlepas dari sikap kakek, kamu adalah orang yang paling kakek sayang bahkan lebih dari pada kakek menyayangi diri kakek sendiri, jadi kamu tidak perlu khawatir kakek tidak akan sanggup menyakiti orang yang bisa membuat kamu ikut tersakiti." Jelas Jordan.


"Abang..." Ujar Zea pelan lalu perlahan menggenggam lembut tangan Rakes.


"Kakek gimana kabarnya? sehat kan? apa asam uratnya masih sering kambuh?" Tanya Qalesya yang berusaha mencegah perdebatan antara Jordan dan Rakes.


"Kakek sehat sayang, makanlah yang banyak, kamu juga Zea, makanlah, cicit kakek butuh tenaga yang banyak!" Jelas Jordan.


"Terima kasih kek!" Ujar Zea dengan senyuman.


"Rafeal..." Panggil Revtankhar.


"Iya om." Jawab Rafeal yang juga ikut menghentikan aktivitas makannya.


"Gimana dengan anak om?" Tanya Revtankhar.


"Om tenang aja, semuanya aman terkendali, Marvel nggak macam-macam kok!" Lapor Rafeal.


"Gaya mu!" Cetus Marvel kesal dengan sikap sahabatnya.


"Yang om maksud bukan Marvel, tapi Ana!" Jelas Revtankhar.


"Ngapain papi tanya soal aku sama bocah itu? emangnya dia pengawal pribadi aku!" Cetus Mariana.


"Bocah? siapa yang kamu panggil bocah?" Tanya Revtankhar tak mengerti.


"Siapa lagi, ya dia kawan sekelasnya Zea, Rafeal!" Tegas Mariana.


"Ana, dia bukan bocah! jangan tertipu dengan wajah polosnya!" Jelas Jordan dengan senyuman.


"Maksud kakek?" Tanya Mariana kebingungan.


"Abang Rafeal!" Jelas Zafran.


"Abang? Zafran, dia itu masih kelas satu SMA, jelas dong kamu lebih tua dari dia!" Jelas Mariana.


"Kak Ana, sebenarnya Rafeal lebih tua dari aku bahkan dari kakak!" Jelas Zea.


"Ana, Rafeal itu sahabat abang kamu. Mereka satu angkatan, satu tempat tugas dan satu tim." Jelas Revtankhar.


"Papi jangan ngawur deh!" Cetus Mariana.


"Dan soal Rafeal yang bisa satu kelas dengan Zea itu karena dia adalah pengawalnya Zea, ayah sendiri yang langsung menunjuk Rafeal untuk mengawasi Zea selama dia berada sekolah." Jelas Rakes.


"Jadi? abang Rafeal sebenarnya bukan teman kak Zea tapi teman abang Marvel dan juga abang Rakes?" Tanya Kania yang juga baru tau tentang Rafeal.


"Kania maaf, abang tidak bermaksud membohongi mu selama ini." Pinta Rafeal.


"Jadi...." Ujar Kania tertahan.


(Selama ini aku pasti berulang kali menyakiti abang Rafeal, maafkan aku, maaf karena aku tersenyum bahagia bersama teman abang bahkan saat abang berada di samping kami, jika saja aku tau, mungkin aku akan sedikit menahan diri, aku bisa sedikit menjaga perasaan abang.) Gundah hati Kania.


"Kania, maafkan abang!" Pinta Rafeal.


"Kenapa? apa sekarang kamu berniat untuk datang pada Rafeal, setelah kamu tau siapa dia sebenarnya?" Tanya Mariana yang memang sejak tadi terus memperhatikan Rafeal dan Kania secara bergantian.


"Ana jaga bicara mu, Kania itu calon kakak ipar mu!" Tegas Revtankhar.


"Ana, kamu jangan salah paham!" Jelas Rafeal.


"Salah paham? dimananya yang salah paham?" Tanya Mariana.


"Ana, kendalikan diri kamu! mereka bukan orang yang seperti kamu tuduhkan, abang kenal mereka berdua dengan baik!" Jelas Marvel.


"Abang Marvel benar kak Ana, aku kenal. Aku kenal adik aku dengan baik, Kania bukan gadis yang seperti kakak pikirkan. Dan soal Rafeal, aku kenal siapa Rafeal dengan sangat baik, dia bahkan tidak cukup berani untuk membuat abang Marvel kecewa apa lagi tersakiti karena sikap dia. Mungkin kak Ana hanya mengenalnya dari segala sikap pecicilan yang dia ciptakan tapi dari balik semua itu dia adalah sahabat yang setiap saat bahkan tidak tidur karena memikirkan keselamatan abang Rakes dan juga abang Marvel. Dia bahkan pernah berdiri di tempat yang sama dari pagi hingga malam tanpa beranjak sedikit pun hanya karena dia ingin memastikan kalau abang Marvel dan abang Rakes baik-baik saja." Jelas Zea.


"Zea...." Ujar Rafeal menunduk.


"Kak Ana, siapapun yang kelak akan datang bahkan jika pun ia lelaki tersempurna sekali pun, aku akan tetap memilih abang Marvel, tapi yang saat ini aku pikirkan bukan bagaimana cara aku datang pada abang Rafeal tapi bagaimana cara aku meminta maaf karena berulang kali aku melukai perasaannya. Aku bahkan kerap kali memamerkan kemanjaan aku dengan abang Marvel di hadapannya, jika saja aku tau mereka bersahabat mungkin aku bisa sedikit mengendalikan diri aku agar tidak membuat lukanya terlalu dalam, maafkan aku!" Jelas Kania dengan menitikkan air mata.


"Kania, yang salah abang bukan kamu, abang yang harusnya minta maaf!" Jelas Marvel lalu perlahan menyentuh lembut tangan Kania.


"Kania, tidak ada yang salah, kalian hanya menjadi korban dari kejamnya keadaan. Lagi pula papi sudah mempersiapkan jodoh untuk Rafeal, karena bagi papi dia juga putra papi, bagian dari keluarga Revtankhar." Jelas Revtankhar.


"Jodoh? siapa?" Tanya Rakes.


"Atau biar kakek yang carikan!" Usul Jordan.


"Tidak pak, bapak tidak perlu repot-repot mencarikannya karena aku sendiri sudah sejak dulu mempersiapkannya bahkan saat pertama kali aku tau persahabatan Rafeal dengan Marvel." Jelas Revtankhar.


"Siapa pi?" Tanya Marvel penasaran.


"Jadi penasaran, siapa sih om?" Tanya Zea yang juga tidak kalah penasaran dari yang lainnya.


"Apa itu Shinta, anaknya tante Vivi? Atau mungkin Winda anaknya teman dekat papi itu?" Tanya Mariana.


"Nggak sayang, bukan mereka!" Tegas Revtankhar.


"Apa om serius? aku tidak harus di jodohkan, aku bisa mencarinya sendiri!" Jelas Rafeal.


"Apa kamu menolak pilihan papi?" Tanya Revtankhar.


"Bukan begitu, baiklah aku akan nurut!" Ujar Rafeal.


"Apa itu putri om?" Tanya Zafran.


"Aku? nggak, nggak mungkin kan pi?" Tanya Mariana memastikan.


"Lalu siapa? aku juga begitu penasaran!" Jelas Qalesya.


"Siapa lagi kalau bukan putri kesayangannya papi, Mariana!" Jelas Revtankhar.


"Apa?" Seru Rafeal dan Mariana serentak.


"Sudah ku duga!" Ujar Rakes santai.


"Sudah ku duga? apa maksud mu? kamu tau semua rencana papi?" Tanya Marvel.


"Sejak dulu om Revtankhar begitu memerhatikan Rafeal, bahkan om langsung mengiyakan permintaan mu begitu saja tanpa menyelidiki dulu siapa orang yang akan dia biayai, apa kalian tidak curiga kalau sebenarnya om sudah begitu kenal dengan Rafeal." Jelas Rakes.


"Apa benar pi?" Tanya Marvel.


"Hmmmmm." Ujar Revtankhar.


"Papi jangan bercanda, aku nggak setuju!" Tegas Mariana.


"Papi sama sekali tidak meminta persetujuan mu!" Jelas Revtankhar.


"Maksud papi?" Tanya Mariana.


"Kamu anak gadis papi, kamu masih tanggungan papi, lalu untuk apa papi harus izin sama kamu, papi yang melamar Rafeal, bukan Rafeal yang melamar mu!" Jelas Revtankhar.


"Papi...." Gumam Mariana kesal.


"Kania untuk Marvel dan Rafeal untuk kamu, nggak ada lagi yang harus di bahas." Jelas Revtankhar.


"So sweet!" Ujar Zafran.


"Tapi om!" Sanggah Rafeal.


"Udah berhenti protes, ayo makan lagi, katanya kamu lapar!" Jelas Rakes.


"Ayo di lanjutkan lagi makannya!" Ajak Jordan.


"Iya kek!" Jawab Qalesya dan Kania.


(Kenapa hati ini justru begitu girang, bahkan mulut aku terbungkam tanpa bisa mengajukan protes sama sekali, apa ini artinya aku senang dengan rencana papi? apa aku sudah gila? jadi, apa aku benar suka dengan manusia bodoh seperti Rafeal, haissssss) Hati Mariana begitu kesal dengan dirinya sendiri.


(Apa ini? sebenarnya apa yang sedang pak Revtankhar rencanakan, mana bisa aku berdampingan dengan putrinya, aku bahkan tidak pantas menjadi sahabat dari putranya tapi kenapa kini dia malah menjadikan aku menantunya?) Gundah hati Rafeal.


(Apa yang sebenarnya papi rencanakan? apa benar papi ingin menjadikan Rafeal sebagai menantunya atau ini hanya agar Kania tetap di samping aku? apa papi sedang berusaha membuat Kania tetap jadi milik aku. Pi, aku harap papi tidak mengorbankan perasaan Ana dan Rafeal hanya demi menjaga perasaan aku.) Tegas hati Marvel.


"Zea, bisa ikut dengan kakek sebentar?" Permintaan Jordan yang tiba-tiba sontak membuat semua mata menatap padanya terutama Rakes, dia bahkan terlihat siap menerkam Jordan.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamidaπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ