
πππBack To #037πππ
πSatu Hari setelah kejadianπ
"Om, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Rakes yang memang semenjak dua jam yang lalu menunggu kepulangan Iqbal.
"Bicaralah!" Pinta Iqbal lalu duduk di sofa ruangan tersebut.
"Hmmmm, sebenarnya..."
"Apa ini tentang Zea?"
"Bukan, aku ingin minta izin untuk menemui Fadhil."
"Untuk apa? apa lagi yang ingin kamu selesaikan?"
"Aku hanya bicara sebentar, dua puluh menit aja."
"Oke, tanyakan pada Marvel, karena sekarang Marvel yang menjaganya untuk beberapa hari ini."
"Baik, terima kasih!" Ucap Rakes yang terlihat begitu girang.
"Ada lagi yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Iqbal.
"Nggak ada."
"Kalau gitu om ke kamar sekarang, selamat malam!"
"Selamat malam om!"
Iqbal segera ke kamarnya, sedangkan Rakes langsung bergegas menuju lokasi yang baru saja ia dapatkan dari Marvel.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya Rakes tiba tepat di depan rumah miliknya dan Marvel, Rakes langsung masuk dan segera mencari keberadaan sang sahabat.
"Apa sepenting itu?" Tanya Marvel setelah melihat kedatangan Rakes.
"Iya, aku harus bertemu dengannya malam ini juga, dimana dia sekarang?"
"Di kamar tamu."
"Aku ke sana sekarang!" Jelas Rakes yang langsung bergegas ke kamar di mana Fadhil berada.
Dengan kasar tangan Rakes membuka pintu kamar tersebut membuat sang penghuni terperanjat kaget. Di atas ranjang sana Fadhil masih terbaring lemah, dengan kaki yang masih terbalut perban, tangan yang masih dalam proses pemulihan serta memar yang terlihat jelas di wajahnya. Rakes mempercepat langkahnya, setibanya di hadapan Fadhil tanpa ba bi bu, tinju Rakes langsung melayang di pipi kanannya Fadhil.
"Aku ingin sekali membunuhmu!" Gumam Rakes emosi dengan tangan yang terus berusaha menahan tinjunya agar tidak kembali mendarat di wajah Fadhil.
"Bunuh saja aku! aku pun lebih memilih mati dari pada harus hidup seperti ini!" Jelas Fadhil.
'Buuuuk' kali ini pipi kiri Fadhil yang jadi sasaran.
"Bunuh aku! jika pun kamu tidak membunuhku, aku tetap juga akan di bunuh!"
"Apa maksud dari ucapan mu barusan?"
"Aku tau kamu ingin membunuhku karena aku telah menyentuh gadis yang kamu cintai, aku paham dengan kemarahan mu karena semua itu beralasan, tapi mama? aku tidak mendapatkan alasan yang tepat kenapa mama menjadikan aku seperti ini" Jelas Fadhil.
"Apa kamu sedang berusaha untuk membodohi aku?"
"Apa itu penting? Aku, kamu dan gadis kesayangan mu itu akan mati, hanya urutannya yang belum pasti."
"Semua manusia juga pasti akan mati!"
"Mati, karena menunggu takdir itu memang kodrat manusia, namun mati karena rancangan manusia lainnya, bukankah itu suatu hal yang memalukan!"
"Jadi, apa mama mu yang berada dibalik layar dari semua kejadian kemarin?" Tanya Rakes.
"Iya, mama ingin om Iqbal merasakan apa yang dia rasakan. Ia ingin om Iqbal merasakan rasa sakit karena di tinggalkan oleh orang yang sangat ia sayangi."
"Apa kamu jadi boneka mama mu sendiri?"
"Boneka? itu bakti seorang anak pada ibunya."
"Bakti? omong kosong! perintah ibu yang melanggar ketentuan Allah tidak wajib di ikuti, kamu mencoba tidak durhaka pada ibu mu tapi pada nyatanya kamu malah durhaka pada Allah." Jelas Rakes.
"Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu terlahir dari orang tua yang begitu menyayangimu, menjagamu dengan baik, sedangkan aku, aku di besarkan dengan begitu kasar tanpa kasih sayang, tanpa perhatian, tanpa belaian seorang ibu, pada hal dia ibuku tapi dia memperlakukanku seperti peliharaan." Jelas Fadhil.
"Mau barter?"
"Apa maksud mu?"
"Beri aku akses untuk mencari keberadaan mama mu, dan aku janji aku akan memberikan perlindungan penuh terhadap keselamatan mu!" Jelas Rakes.
"Apa janji mu bisa aku pegang?"
"Aku di didik untuk jadi manusia yang selalu bertanggung jawab atas setiap perkataan yang telah aku ucapkan."
"Oke, biarkan aku tinggal bersamamu, maka aku akan berikan semua informasi tentang mama."
"Deal!"
"Akan ku kabari langkah selanjutnya, untuk beberapa hari ini Marvel akan menjagamu dengan baik." Jelas Rakes dan langsung keluar dari kamar tersebut.
"Apa yang sedang kamu rencanakan?" Tanya Marvel yang memang sejak tadi menguping pembicaraan antara Rakes dan Fadhil.
"Menjadikannya umpan atau mungkin malah sebagai tumbal!"
"Kamu gila?" Tanya Marvel.
"Ada dua hal yang menarik tentang bocah itu, entah dia yang sedang berperan atau dia yang sedang berkhianat!"
"Maksudmu?"
"Aku akan bawa dia bersamaku, setelah itu baru aku kabari kamu."
"Kamu akan langsung menjadikannya sebagai alat penelitian?"
"Iya!"
"Selalu bermain di luar zona aman, oke! aku tunggu perintah selanjutnya." Jelas Marvel.
"Untuk sementara tolong jaga dia, aku akan segera menjeputnya setelah bicara dengan om Iqbal."
"Oke!"
"Aku pulang!"
"Hati-hati! kirim salam aku buat kakak ipar!"
"Dasar! aku pulang."
______________________
"Bagaimana kalau dia justru mengkhianati kita?" Tanya Zea setelah mendengarkan cerita Rakes yang begitu panjang lebar.
"Maka abang akan langsung menghancurkan semua kerja keras mereka selama ini!".
"Jika nantinya justru Zea yang jadi korban?"
"Itu tidak akan pernah terjadi, abang akan menjaga kamu dengan sangat baik."
"Maaf karena aku telah berburuk sangka pada Chim chim!" Pinta Zea.
"Abang paham! mulai hari ini bantulah abang untuk menjaga mu dengan baik. Abang percaya kalau kamu bisa melakukannya dengan baik!"
"Pastinya, Zea Bin Iqbal gitu loh!" Tegas Zea dengan begitu bangga.
"Soal sekolah, apa benar tidak ada yang harus abang urus?"
"Urusan sekolah biar papanya Taufan yang urus, yang harus Chim chim urus sekarang adalah pernikahan kita!" Jelas Zea.
"Zea, bagaimana jika nanti pernikahan kita justru mengganggu sekolah kamu?"
"Jangan buat alasan untuk menunda pernikahan kita, ingat satu bulan lagi, mau tidak mau, iya atau nggak, Chim chim harus tetap menikahi aku, nggak ada lagi tawar menawar, titik." Jelas Zea.
"Apa kamu sudah istikharah?"
"Mau berapa kali lagi aku harus melakukannya? setiap kali aku sholat dan memohon petunjuk sama Allah, Allah selalu mendatangkan Chim chim dalam mimpiku sebagai jawaban. Rakes Al-Maliki, abang adalah jodoh terbaik untuk aku."
"Nuri Zea Zahiya Saka, kamu satu-satunya gadis yang abang cintai. Wallahi, hanya kamu satu-satunya yang selalu abang aminkan nama mu di sepanjang doa abang. Sejak tujuh belas tahun lalu sampai seterunya kamulah yang abang pilih untuk menjadi ibu dari anak-anak abang kelak."
"Oke, tunggu apa lagi, mending kita langsung ke KUA sekarang!" Seru Zea yang langsung berdiri lalu mengulur tangan kearah Rakes.
"Tuh kan mulai lagi bar-barnya!" Seru Rakes.
"Udah buruan!" Desak Zea yang mulai meraih tangan Rakes.
"Karian mau beli cemilan bisa langsung exspres? semuanya butuh proses." Tegas Rakes.
"Bisa lumutan aku kalau tunggu abang gerak!" Cetus Zea.
"Bukan kamu yang menggandeng, tapi kamu yang di gandeng, tunggulah sebentar lagi, abang akan segera merobohkan pembatas diantara kita."
"Siap komandan! Lihat aja, bakal aku buat tuh kontak-kotak kewalahan atau mungkin betonnya yang bakal aku jadikan sasaran, atau mungkin...." Penjelasan Zea terhenti dengan pandangan yang ikut terhenti di bibir sexi Rakes.
"Dasar bocah bar-bar, sana gih belajar!" Seru Rakes yang menjitak jidat Zea lalu lekas berlari meninggalkan Zea begitu saja.
"Tunggu aja, bakal aku kenalkan siapa bocah bar-bar ini sebenarnya, aku akan ikat Chim chim dua puluh empat jam!" Gumam Zea yang di akhiri dengan tawa penuh kemenangan karena lagi-lagi yang berhasil membuat wajah Rakes merona sempurna dan juga membuatnya salah tingkah.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya ππ
Stay terus sama My Princess πππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ