My Princess

My Princess
#146



"Ivent, tolong jaga Zea, antar dia ke rumah bunda sekarang!" Perintah Rakees saat semuanya sedang menunggu jemputan di depan bandara. Yah, setelah menghabiskan waktu selama beberapa puluh menit dalam pesawat kini akhirnya mereka sampai di negara tercinta.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu yang aku nggak tau?" Tanya Rafeal.


"Aku ikut kamu!" Tegas Marvel yang langsung merapat pada Rakes.


"Aku juga ikut abang!" Jelas Zea yang langsung menggenggam erat tangan kanan Rakes.


"Zea, Pergilah bersama Ivent!" Jelas Rakes.


"Tapi....!" Sanggah Zea penuh rasa khawatir.


"Mending ke rumah aku aja, ayo! Kania dan Qalesya juga ikut, ayo!" Ajak Mariana yang tidak ingin membuat suasana semakin mencengkam.


"Ayo kak Zea, ayo kita main ke rumah kak Ana!" Ajak Kania yang menggandeng tangan Zea.


"Apapun yang terjadi segera kabari aku!" Jelas Zea.


"Pasti sayang! Ivent tolong antar mereka berempat, pastikan mereka selamat sampai tujuan!" Jelas Rakes.


"Siap pak!" Jawab Ivent.


"Ada apa ini? kenapa aku tidak paham dengan apa yang sedang kalian bicarakan? apa yang sedang terjadi?" Tanya Roger.


"Pulanglah! urusan kita sudah selesai!" Jelas Marvel.


"Dasar!" Gumam Roger jengkel dan lekas pergi.


"Zafran ikut kami!" Ajak Rakes.


"Baik!" Jawab Zafran.


"Rafeal, tolong jaga abang Rakes dengan baik, jangan biarkan dia sendirian saat dia sedang dipenuhi amarah, kabari aku apapun yang terjadi!" Jelas Zea.


"Oke! aku akan ingat pesan kamu." Jelas Rafeal.


"Mobil kita datang! ayo berangkat." Ajak Rakes saat sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan mereka.


"Ayo masuk!" Perintah Lexel setelah membuka kaca mobil, yang lainnya segera berlari memasuki mobil lalu pergi meninggalkan Ivent bersama para wanita.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Qalesya.


"Semuanya akan segera membaik, nggak ada yang harus di khawatirkan." Jelas Zea yang dengan lembut mengusap jilbab biru yang membungkus kepala Qalesya.


"Semoga tidak ada yang terluka!" Ujar Kania lalu memeluk erat tubuh Zea.


"Nah itu jemputan kita, ayo!" Ajak Mariana ketika sopir pribadinya datang.


"Ayo!" Ajak Ivent yang langsung diikuti oleh semuanya.


___________________


"Zafran lacak keberadaan ayah Iqbal!" Perintah Rakes yang terlihat masih sibuk mengisi peluru ke dalam senjatanya.


"Iya!" Jawab Zafran yang langsung beraksi dengan laptopnya.


"Lexel! kamu bisa mengemudikan? tambah kecepatannya!" Gumam Rakes.


"Siap!" Jawab Lexel yang langsung menambah kecepatan laju mobil.


"Rakes! coba tenangkan dirimu. Katakan, apa yang terjadi? kami sama sekali tidak tau apapun!" Jelas Marvel.


"Sebenarnya ada apa dengan om Iqbal?" Tanya Rafeal.


"Haissssss! aku juga nggak tau!" Gumam Rakes frustasi.


"Lalu? apa kita harus meraba? sial!" Umpat Rafeal yang ikut frustasi.


"Ayah sedang di markas!" Jelas Zafran.


"Markas?" Tanya Rakes, Rafeal dan Marvel serentak.


"Jika sedang dalam masalah kenapa posisi ayah di markas?" Tanya Rakes kebingungan.


"Sepertinya kita harus lebih teliti, ini berhubungan dengan markas tim pasukan khusus, akses kita terbatasi untuk terjun langsung." Jelas Marvel.


"Lexel, kamu tau kan dengan apa yang sedang terjadi? katakan, katakan semuanya!" Pinta Rakes dengan penuh penekanan.


"Aku akan mengantarkan kalian pada pak Hadi." Jelas Lexel.


"Itu akan membuang waktu, langsung antar kami ke markas kapten Iqbal." Pinta Rakes.


"Tidak, ini perintah pak Hadi. Aku akan membawa kalian pada pak Hadi!" Jelas Lexel.


"Aku rasa Lexel benar, kita harus tau semuanya baru kita bisa menyusun rencana!" Jelas Marvel.


"Haissssss!" Gumam Rakes kesal.


Mobil terus melaju membawa mereka ke lokasi tujuan, dimana Hadi sedari tadi menunggu kedatangan mereka semua.


"Yakin kamu nggak salah alamat?" Tanya Rakes saat Lexel menghentikan mobilnya tepat di salah satu rumah Jordan yang biasanya ia pakai saat sedang tugas.


"Pak Hadi dan juga yang lainnya menunggu kalian di dalam!" Jelas Lexel.


"Ayo buruan!" Ajak Rafeal yang langsung melompat keluar dari mobil.


"Akhirnya kalian sampai juga!" Ujar Hadi lega saat melihat putranya datang bersama pasukannya.


"Papa, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kalian berkumpul disini?" Tanya Rakes yang langsung memeluk Hadi.


"Ayo masuk! kita bicara di dalam!" Ajak Mikeal lalu semuanya segera ikut masuk ke salah satu ruangan.


"Aku sudah melacak keberadaan ayah Iqbal, dia di markas. Lalu apa yang jadi masalahnya?" Tanya Zafran yang mulai membuka suara.


"Justru karena dia berada di markas makanya semuanya semakin rumit!" Jelas Alam.


"Iqbal sedang di sidang oleh Pak Rudi, atasan kami." Jelas Hendra.


"Sidang? atas kesalahan apa?" Tanya Marvel.


"Kasus pembunuhan." Jawab Lukman.


"Pembunuhan? aaaah, aku paham pasti dalam misi ada target yang terbunuh, iyakan? bukankah itu hal yang wajar, paling juga di skors sementara waktu!" Jelas Rafeal.


"Tidak Rafeal, masalahnya tidak se-sepele yang kamu pikirkan!" Jelas Mikeal.


"Siapa yang ayah bunuh?" Tanya Zafran.


"Pak Vikram, komandan kami tujuh belas tahun yang lalu." Jelas Alam.


"Yah Vikram papanya Lestari, wanita yang dulunya menjalin hubungan dengan Iqbal." Jelas Hadi.


"Apa? jadi, aaaah aku paham sekarang kenapa Lestari begitu di penuhi amarah saat berhadapan dengan om Iqbal, dan juga terlihat jelas kalau dia begitu membenci tante El, ternyata mereka punya kisah silam, lalu apakah Fadhil juga anak dari om Iqbal?" Tanya Rafeal.


"Rafeal!" Gumam Mikeal yang begitu marah dengan tuduhan yang Rafeal tuduhkan.


"Lalu kenapa om Iqbal membunuh pak Vikram?" Tanya Rafeal kasar.


"Rafeal, tenanglah!" Pinta Marvel.


"Mereka menjalin hubungan jauh sebelum El menjadi istri Iqbal, dan satu hal yang pasti bahwa Fadhil bukanlah anak Iqbal." Tegas Hendra.


"Lalu apa alasan ayah Iqbal membunuh pak Vikram?" Tanya Zafran yang masih sibuk mengecek ponselnya sedari tadi.


"Ntahlah, yang jelas semua cerita itu tiba-tiba kembali mencuak, dan ada bukti yang jelas atas kasus tersebut, Iqbal ada di sana saat pak Vikram dibunuh." Jelas Hadi.


"Apa aku bisa melihat buktinya?" Tanya Zafran.


"Kami tidak memegang bukti tersebut!" Jelas Lukman penuh rasa kecewa.


"Kita akan mengatur strategi, apapun yang terjadi kita akan membebaskan abang Iqbal dari tuduhan palsu itu, karena aku tau jelas ini semua pasti rencana busuknya Lestari." Jelas Mikeal.


"Tapi saat ini Lestari sedang di penjara, lalu bagaimana bisa dia merencanakan semua ini?" Tanya Alam.


"Dia licik, dia pasti mengunakan segala macam cara untuk menghancurkan keluarga om Iqbal!" Jelas Marvel.


'Bruuuuuk' Seketika tubuh Rakes ambruk ke lantai, dia terlihat begitu kacau bahkan ia tampak terus menahan isak tangis yang membuat dadanya begitu sesak.


Dengan sigap Lexel segera mendekap Rakes, ia terus mencoba untuk menenangkan Rakes yang memang semenjak tadi tidak memberi komentar sama sekali, sejak masalah dibahas Rakes terus saja diam membisu.


"Rakes kamu baik-baik saja?" Tanya Lexel khawatir.


"Rakes!" Ujar Hadi khawatir dan panik.


"Rakes, apa yang terjadi? jangan tumbang, kita bahkan belum menyusun strategi untuk menyerang!" Jelas Rafeal.


"Kamu oke?" Tanya Marvel sembari menyentuh bahu Rakes.


"Bukan ayah pelakunya, tapi aku! aku adalah orang yang melepaskan empat peluru sekaligus pada pak Vikram, aku pembunuh yang sebenarnya!" Jelas Rakes dengan nada yang penuh penekanan, hingga membuat semua orang tercengang dengan apa yang baru saja ia katakan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida❤️❤️❤️❤️❤️