My Princess

My Princess
#203



Hari ini merupakan hari perjanjian diantara mereka. Yaitu hari yang telah mereka sepakati bersama untuk pindah ke rumah mereka bersama yang sudah mereka beli bertahun lamanya. Sesuai dengan janji saat membeli rumah dengan gaji pertama mereka, bahwa rumah itu adalah milik mereka bertiga dan setelah menikah pun mereka akan tetap tinggal bersama hingga selamanya.


Hari ini genap seminggu sudah usia pernikahan Marvel begitu pula dengan Rafeal. Semua barang-barang milik mereka sudah tertata rapi di rumah tersebut. Di halaman depan sana tampak enam mobil sedan yang berjajar rapi, sedangkan para pemiliknya masih berkumpul di teras rumah sana.


Ada Elsaliani yang sedang sibuk dengan si Azan, lalu Erina yang sejak tadi terus mengikuti Uzun kemana-mana, ada Iqbal, Hadi, Hendra dan Revtankhar yang sejak tadi asyik ngobrol bersama, sedangkan Angel dan Aryani masih di dalam rumah mengurusi penataan perabot yang sejak tadi terus saja berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.


Mariana dan Kania pun di buat kewalahan dengan tingkah orang tua mereka. Di halaman belakang sana, Marvel dan Rakes masih saja sibuk membersihkan halaman, betapa tidak, halaman belakang terlihat begitu kotor dan tak terawat karena sudah berapa minggu lamanya mereka tinggalkan begitu saja.


Di balkon atas sana Zea dan Rafeal duduk manis dengan terus memperhatikan Rakes dan Marvel yang sedang menyapu halaman.


"Bagai mimpi rasanya!" Ujar Rafeal dengan menghela nafas dalam.


"Iya, aku juga merasakan hal yang sama. Serasa kita masih sekolah, masih sibuk bolos dan balapan liar, dan sekarang..." Jelas Zea menggantungkan ucapannya, dia tersenyum tipis mengenang masa lalunya.


"Kamu benar, Zea. Rasanya baru seminggu yang lalu kami membeli rumah ini, dan sekarang kami malah disini dengan para istri yang begitu kami cintai." Jelas Rafeal.


"Boleh aku tanyakan sesuatu?" Tanya Zea.


"Tentang perasaan aku? apa yang ingin kamu tau?" Rafeal malah kembali mengajukan pertanyaan untuk Zea.


"Kania misalnya?" Ujar Zea.


"Kania, iya kamu benar, aku memang sangat mencintai Kania, aku adalah orang yang akan terluka saat Kania menangis, rasanya aku ingin membunuh orang yang membuatnya sedih, aku sangat mencintainya. Tapi, itu cerita lama. Dan sekarang rasa itu memang masih ada, tapi bukan lagi perasaan seorang lelaki untuk gadis yang ia cintai, melainkan rasa khawatir seorang abang untuk adik perempuannya" Jelas Rafeal panjang lebar.


"Lalu bagaimana dengan kak Ana?" Tanya Zea.


"Ana, aku sedang mengubah rasa ini. Butuh waktu lama, namun perlahan Ana mulai masuk ke pikiran ku, aku khawatir dengan keadaannya, aku takut menyakitinya, dan kini aku takut kehilangannya." Jelas Rafeal.


"Itu artinya kamu sudah mulai jatuh cinta pada kak Ana. Jangan kejam pada dirimu sendiri, sebelum aku, abang Marvel, abang Rakes dan Kania, kamu adalah orang pertama yang harus kamu bahagiakan." Jelas Zea.


"Sejak kapan kamu jadi sebijak ini?" Tanya Rafeal dengan senyuman manisnya.


"Ihhhh udah sejak dulu kali, kamu aja yang nggak nyadar!" Seru Zea.


"Ciiih, belagu!" Gumam Rafeal sambil mengacak-acak jilbab Zea.


Di kejauhan sana, diam-diam Mariana mendengar pembicaraan Zea dan Rafeal. Ia yang awalnya berniat untuk memanggil mereka turun akhirnya mengurungkan niatnya karena mendengar pembicaraan mereka tentang dirinya.


Dari sudut mata indah Mariana, perlahan air mata mulai turun membasahi wajah cantiknya, tangan kirinya terus saja mengusap dadanya yang terasa begitu sesak.


"Akhirnya usaha aku selama ini tidak sia-sia. Terima kasih Rafeal karena mengizinkan aku masuk ke hati mu, terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk menerima cintamu, meski belum seutuhnya aku dapatkan, tapi semua ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih karena kalian menjadikan aku bagian dari bahagia kalian." Ungkap Mariana dengan air mata kebahagiaan.


____________________


"Buruan turun, kalau nggak, nih sapu bakal melayang!" Teriak Marvel dengan sapu yang sudah siap untuk mengudara di tangannya.


Teriakan Marvel membuat Rakes juga ikut melayangkan tatapannya kearah balkon sana dimana sang istri dan sahabatnya sedang duduk santai dengan terus memantau dirinya dan Marvel yang sedang kerja bakti.


"Udah slow, kalian kan emang cocok jadi petugas kebersihan, lah kami ini kan majikan toh!" Seru Rafeal dengan sombongnya.


"Rasanya ingin ku geplak tuh mulut" Gumam Rakes kesal.


"Udah para dayang lanjut kerja ya!" Seru Rafeal.


"Turun nggak?" Ancam Marvel.


"Nggak mau!" Jawab Zea cuek.


"Buruan!" Gumam Rakes dan Marvel hampir bersamaan.


"Baiklah, kalau emang kalian maksa!" Ujar Rafeal yang langsung mendekati besi pembatas balkon, diikuti oleh Zea yang juga mulai menggenggam erat bagian besi pembatas tersebut.


"Mau ngapain?" Tanya Rakes panik saat Zea mulai mengambil ancang-ancang.


"Ya turun lah!" Jawab Zea.


"Jangan becanda!" Ujar Marvel.


"Tadi kalian yang minta kami turun, lah sekarang kami turun, jadi masalahnya dimana coba?" Protes Zea.


"Zwa jangan macam-macam, sana lewat tangga!" Perintah Rakes.


"Rafeal, jangan biarkan Zea ikut loncat!" Perintah Marvel.


"Ayo Zea!" Ajak Rafeal yang langsung meloncat dari lantai dua sana.


Sebelum tubuh Rafeal mendarat di tanah, Zea telah menyusulnya.


"Zea...." Seru Erina yang baru datang dan menyaksikan aksi Rafeal dan Zea.


"Mama!" Ujar Zea yang buru-buru berdiri dan menghampiri Erina.


Sebelum Zea menghampiri Erina, Erina malah lebih dulu bergegas menghampiri Rakes lalu memukul bahu Rakes.


"Mama!" Ujar Rakes.


"Kalian juga!" Cetus Erina yang ikut memukul Rafeal dan Marvel secara bergantian.


"Ayo Zea, kita masuk!" Ajak Erina dan langsung merangkul tubuh Zea lalu membawanya masuk.


"Zea benar-benar deh!" Gumam Rafeal.


"Kamu yang salah!" Tuduh Marvel.


"Loh kok jadi aku? noh itu suaminya, dia dong yang salah!" Jelas Rafeal.


"Dasar!" Cetus Rakes dengan menendang kasar betis Rafeal.


"Awwww!" Desah Rafeal.


"Tunggu apa lagi, kalian nggak mau masuk? bentar lagi magrib loh!" Seru Erina dari kejauhan sana.


"Iya ma!" Jawab Rafeal dan langsung lari menyusul Erina dan Zea.


"Kelihatannya, bakal sering perang nih!" Ujar Marvel.


"Hmmmm, huffff!" Ujar Marvel dan Rakes bersamaan dengan menghembuskan nafas kesal.


"Ayo masuk, kalau nggak mama bakal balik lagi ntar!" Jelas Rakes.


"Ayo!" Ujar Marvel lalu keduanya langsung masuk.


_________________


Tepat pukul sembilan malam, semuanya pamitan untuk pulang. Meski awalnya Elsaliani terlihat begitu enggan untuk melepaskan kedua cucunya namun akhirnya ia tetap juga harus pergi.


Setelah semua mobil para keluarga silih berganti meninggalkan rumah minimalis berwarna abu-abu tersebut para anak-anak pun yang sejak tadi mengantar hingga ke teras kini silih berganti kembali ke dalam rumah.


"Malam ini Uzun tidurnya sama aku aja kak ya?" Pinta Kania yang mana sejak tadi terus menggendong Uzun.


"Waaaah, abang sih nggak masalah, cuman....tuh ada yang mulai kesal kayaknya!" Goda Rakes mengarahkan dagunya kepada Marvel.


"Kania, kayaknya malam ini Kania nggak boleh main sama Uzun deh, mainnya sama papa Marvel aja yah!" Ujar Zea yang langsung mengambil Uzun dari gendongannya Kania.


"Ya udah Kania ke kamar duluan, selamat malam semuanya!" Ujar Kania dengan nada yang begitu tak bersemangat, ia pun langsung ke kamarnya.


"Makanya sabaran dikit napa? Kania masih remaja loh!" Ujar Mariana pada sang abang lalu ia pun lekas ke kamarnya.


"Yah puasa lagi deh!" Ujar Marvel kecewa.


"Aku nggak ikutan deh, selamat malam!" Ujar Zea dan juga segera ke kamarnya dengan membawa Uzun bersamanya.


"Butuh waktu lama dan kesabaran yang luar biasa. Aku malah menunggu lebih lama, tenang aja toh Kania sudah menjadi milik sah mu, nggak bakal ada yang ngambil kok. Ya udah aku juga harus ke kamar, mau nidurin Azan, selamat malam para pengantin baru!" Jelas Rakes dan lekas pergi.


"Hufffff! selamat malam pertama, semoga sukses mencetak Ana junior!" Jelas Marvel sambil menepuk bahu Rafeal dan langsung berlalu begitu saja.


"Haaah! malam pertama, aku jauh harus lebih bersabar dari pada kamu, Marvel. Aku bahkan tidak berani menatap wajah Ana." Gundah Rafeal dengan langkah yang bergegas ke kamarnya.


____________


"Kenapa begitu lama? apa yang kalian bicarakan di luar sana? kalian nggak ngomongin aku dan Kania kan?" Tanya Mariana saat Rafeal masuk ke kamar.


"Tidak sama sekali, ayo tidur!" Ujar Rakes dan langsung mengambil tempat di sebelahnya Mariana.


"Hmmmm, boleh aku bertanya satu hal?" Tanya Mariana yang langsung fokus menatap wajah Rafeal.


"Tentu, tanyalah!


"Pernah dengar sebuah nasihat nggak?"


"Maksudnya?" Tanya Rafeal kebingungan.


"Ya nasihat, hmmm kalau nggak salah gini nih bunyinya 'Istri yang meminta lebih dulu, maka pahalanya sungguh luar biasa." Jelas Mariana.


"Meminta?"


"Hmmmmm!"


"Meminta apa?"


"Huuuuff!" Mariana malah dibuat kesal dengan pertanyaannya Rafeal.


"Ana....!" Panggil Rafeal karena melihat Mariana hanya terdiam membisu.


"Lupakan saja! kamu sama sekali nggak seru, ayo tidur!" Gumam Mariana yang semakin kesal dan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ