My Princess

My Princess
#139



"Waaaaaaaah! indah banget tempatnya." Jelas Kania dengan begitu takjub saat melihat tempat di mana ia sedang berada.


Mereka semua baru saja tiba di sebuah resort yang begitu luar biasa megah dan indah, dengan teras kaca yang menghadap kearah laut yang memiliki air yang begitu jernih dan indah bahkan Zea tanpa kata terus melangkah menuju sisi utara dimana hamparan laut indah yang begitu memanjakan mata.


"Kamu menyukainya?" Tanya Marvel.


"Hmmmmm, ini luar biasa indah, terima kasih!" Ucap Kania yang terlihat jelas begitu senang.


"Nah, ayo masuk!" Ajak Mariana yang langsung membuka pintu.


"Kenapa disini?" Tanya Ivent yang sedari tadi terus mengikuti langkah Zea hingga ke tepi pantai.


"Senang aja lihat ombak! menenangkan hati!" Jelas Zea yang perlahan menutup mata menikmati angin yang menghembuskan jilbabnya perlahan.


"Ayo masuk, kalian harus istirahat!" Ajak Rakes.


"Pak!" Ujar Ivent yang langsung berdiri tegak menghadap Rakes.


"Ivent, santai aja, kamu teman Zea berarti teman aku juga. Ayo masuk!" Jelas Rakes.


"Aku masih mau di sini! sebentar lagi aja, boleh kan?" Pinta Zea.


"Hmmmmm" Ujar Rakes yang ikut duduk di samping Zea yang telah lebih dulu duduk di atas pasir.


"Ivent, duduklah!" Lanjut Rakes.


"Terima kasih!" Ujar Ivent namun ia masih saja tak bergerak dari posisi semula.


"Ivent, ayo ini!" Ajak Zea.


"Tapi....." Keluh Ivent.


"Udah buruan!" Ajak Rakes yang langsung menarik tangan Ivent.


Meski agak risih namun akhirnya Ivent menurut, ia duduk di samping Rakes.


"Sebenarnya ada apa di balik liburan ini?" Tanya Zea.


"Maksudnya?" Tanya Rakes.


"Apa ada yang sedang kalian selidiki?" Tanya Zea.


"Sebenarnya......" Penjelasan Rakes langsung di slip oleh Ivent.


"Lautnya benar-benar indah, anginnya juga begitu menenangkan! jadi pengen rebahan disini!" Jelas Ivent karena ia menyadari ada yang perlahan mendekati mereka.


"Apa aku boleh gabung?" Tanya Reva.


"Tentu, ayo sini!" Ajak Zea saat Reva tepat di sisinya.


"Terima kasih!" Ujar Reva yang langsung mengambil tempat di tengah-tengah antara Rakes dan Zea.


"Reva...." Ujar Rakes yang sedikit bergeser menjauh dari Reva.


"Aku kangen sama abang! udah lama banget aku nggak lihat wajah tampan abang, aku rindu setengah mati, tau!" Jelas Reva yang mencoba menyentuh lengan Rakes namun langsung di cegah oleh Rakes.


"Reva, tolong jaga jarak!" Pinta Rakes yang kembali bergeser mendekati Ivent.


"Apa aku benar-benar nggak boleh menyentuh abang sedikitpun? sedikit aja, hmmmmm!" Pinta Reva.


"Reva, oh abang baru ingat kalau abang belum mengeluarkan koper abang dari dalam mobil, abang permisi!" Jelas Rakes yang lekas pergi.


"Kesaaaal!" Teriak Reva.


"Apa kamu menyukainya pak Rakes?" Tanya Ivent.


"Apa begitu terlihat jelas? iya, aku menggilainya. Pak? kenapa memanggilnya dengan panggilan pak?" Tanya Reva.


"Kamu lupa kalau dulu abang Rakes pernah jadi guru di sekolah kita!" Jelas Zea.


"Tapi kan itu jauh sebelum dia datang!" Jelas Reva.


"Kamu kira pasukan kakak nggak menceritakan semuanya padapa dia, mereka bahkan tidak melewatkan satu kata pun!" Jelas Zea.


"Iya, aku benar-benar beruntung karena bisa menjadi anggota club Zea." Ujar Ivent dengan senyuman.


"Ayo kembali ke dalam, yang lain pasti nungguin kita!" Ajak Zea.


"Ayo, lagi pula jika abang Rakes nggak ada di sini, percuma kan aku di sini, ayo masuk!" Jelas Reva yang segera bergegas untuk masuk ke resort.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ivent saat keduanya beranjak dari sana.


"Tentang apa?" Tanya Zea.


"Reva yang mencintai Pak Rakes." Jelas Ivent.


"Aku udah tau sejak dulu kok, ayo masuk! aku baik-baik saja." Jelas Zea yang kembali mempercepat langkahnya.


Ivent segera mengikuti Zea dari belakang, setelah mereka memasuki resort perlahan dua lelaki yang tadinya memang memantau mereka dari jauh kini perlahan mulai mendekat, lalu menatap resort dengan begitu seksama.


"Sepertinya mereka tau pergerakan kita." Jelas seorang lelaki.


"kamu benar, buktinya mereka menjaga ketat sang target. Kita harus mengabari Bos untuk melakukan perubahan strategi." Jelas yang satunya lagi.


"Ayo pergi!" Ajak lelaki yang pertama.


"Ayo!" Ujarnya dan keduanya lekas pergi menjauh dari lokasi resort.


______________________


"Kak Zea, ada apa? apa kakak sakit?" Tanya Kania yang perlahan mendekati Zea yang sedang duduk meringkuk di depan pintu kamar mandi.


Dengan lembut tangan Kania menyentuh wajah Zea yang terlihat memerah.


"Badan kakak panas, ayo ke tempat tidur!" Ajak Kania yang mencoba membantu Zea untuk bangun.


"Kania, Zea kenapa?" Tanya Mariana yang baru saja datang.


"Aku nggak tau, tiba-tiba aja pas aku datang, kak Zea udah gini!" Jelas Kania yang begitu khawatir ia bahkan mulai menangis.


"Kania, kenapa menangis? kakak belom mati loh!" Ujar Zea.


"Kak Zea.....!" Ujar Kania kesal.


"Ayo bangun!" Ajak Mariana.


"Nggak bisa, kak Zea bahkan nggak bisa menggerakkan badannya sedikitpun." Jelas Kania.


"Aku akan panggil abang Rakes." Jelas Mariana yang segera berlari ke luar kamar.


"Kania, berhentilah menangis! kakak cuman kram doang!" Jelas Zea yang terus berusaha tersenyum meski ia harus menahan rasa sakit yang semakin membuat keringat bercucuran di seluruh wajahnya.


"Zea...." Panggil Rakes dan Rafeal yang baru saja datang.


Rakes langsung mendekati Zea lalu menggendongnya. Dengan begitu pelan Rakes membaringkan tubuh Zea ke atas kasur.


"Dimana yang sakit?" Tanya Rakes yang begitu khawatir dan terus memeriksa seluruh tubuh Zea.


"Ayo kita ke rumah sakit!" Ajak Rafeal.


"Aku, aku cuma sedikit kram, bentar lagi juga baikan!" Jelas Zea, namun tangannya semakin kuat menggenggam erat tangan Rakes.


"Beneran?" Tanya Mariana memastikan.


"Hmmmmm!" Ujar Zea.


"Bisa tinggalkan aku dan Zea sebentar?" Pinta Rakes.


"Oke, ayo kita tunggu di luar!" Ajak Rafeal yang langsung diikuti oleh Mariana dan Kania.


"Zea,,,!" Ujar Rakes dengan tatapan yang begitu mendalam.


"Tiba-tiba aja perut aku sakit dan kaki aku kram, aku sama sekali nggak bisa menggerakkan kaki aku. Aku takut, Chim chim!" Adu Zea yang pada akhirnya air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos sudah.


"Kita pulang sekarang!" Ajak Rakes.


Zea menggelengkan kepalanya pelan, membuat tangan Rakes perlahan terus saja mengusap lembut perut Zea.


"Sayang, anak Daddy tercinta, baik-baik di sana, jangan nakal, jangan buat mommy kesakitan. Zea, maafkan abang!"


"Kenapa Chim chim yang minta maaf, lagi pula Raze Junior dan Chim chim nggak melakukan kesalahan sama sekali. Ya emang udah sakit, mau gimana lagi, nggak mungkin kan aku nggak sakit-sakit yang ada ntar di kira vampir lagi!" Jelas Zea yang semakin mempererat genggaman tangannya.


"Apa masih sakit banget?"


"Asal Chim chim tetap bersama aku, semua ini tidak seberapa."


"Zea...."


"Apa Chim chim nggak berniat untuk memeluk aku dan Raze Junior?"


"Maafkan abang!" Ujar Rakes yang langsung membawa tubuh Zea ke dalam dekapannya.


"Hangat, menenangkan!" Ujar Zea pelan.


"Khmmmmmm!" Ujar Rafeal yang baru saja masuk.


"Kenapa? apa terjadi sesuatu?" Tanya Rakes yang perlahan melepaskan tubuh Zea dari dekapannya.


"Reva sedang menuju ke sini!" Jelas Rafeal.


Penjelasan Rafeal membuat Rakes segera meloncat dari tempat tidur di saat yang bersamaan Rafeal menjatuhkan tubuhnya di kasur tepat di kaki Zea dan di saat itu pula Reva membuka pintu kamar.


"Ahhhhh Zea kamu curang! masak hukumannya harus nyium aroma kaki kamu, aku kan cuma kalah satu putaran!" Gumam Rafeal yang sontak membuat Zea kebingungan begitu juga dengan Kania dan Mariana yang baru saja masuk menyusul Reva.


"Udah buruan! yang kalah nggak ada hak untuk protes, iya kan abang Rakes!" Jelas Zea yang mencoba menyeimbangkan keadaan.


"Ah iya..." Ujar Rakes.


"Makanya kalau main itu otak di pakai biar nggak kalah!" Cetus Mariana lalu mendekati Rafeal.


"Kamu pikir otak bisa di tinggal sesuka hati apa!" Gumam Rafeal.


"Iya siapa tau, di tinggal biar nggak berat tuh kepala!" Ujar Mariana.


'Doooor' Suara tembakan yang menggelegar seketika mengubah suasana menjadi tegang dalam sekejap mata.


"Marvel..." Seru Rafeal dan Rakes bersamaan dengan mata yang terus menatap dalam satu sama lain.


"Kalian tetap disini! jangan kemana-mana!" Tegas Rakes yang segera berlari keluar.


"Ivent akan segera datang, untuk sementara kunci pintunya. Mariana, tolong jaga Zea dan Kania!" Jelas Rafeal yang juga segera keluar.


Mariana segera menuruti perintah Rafeal, ia segera mengkunci pintu kamar.


"Ada apa ini? kenapa ada suara tembakan? apa abang Roger menyerang abang Marvel?" Gumam Reva yang mulai gelisah.


"Apa maksud mu?" Tanya Kania, Zea dan Mariana yang menatap horor pada Reva.


"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan? kenapa kalian menyerang abang Marvel?" Tanya Kania yang tidak lagi bisa tenang, ia bahkan dengan kasar menarik kerah bajunya Reva, sosok Kania yang lembut hilang ntah kemana, saat ini ia bahkan terlihat sama seperti Zea saat sedang marah.


"Jika sesuatu terjadi sama abang Marvel, aku tidak akan pernah memaafkan mu! aku akan membunuh mu!" Ancam Kania kali ini ia melakukannya dengan tatapan yang mematikan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida❤️❤️❤️❤️❤️