
Stefany nya dengan Mension Alrico dia berjalan seperti biasa.
Stefany harus segera pulang ke rumah Bibi dan Paman nya, Stefany sudah yakin pasti Bibi dan Paman nya akan memukulinya karena tidak pulang semalaman.
Hanya membutuhkan waktu 20 menit Stefany sudah sampai di rumah Bibi dan Paman nya, Stefany berhenti sejenak karena rumah Bibi dan Paman nya sangat gelap sekali dan tidak seperti biasanya. Apakah Bibi dan Paman sedang keluar? Batin Stefany.
Stefany mengetuk pintu rumah dan ia membuka pintu nya, pintu nya tidak terkunci berarti Bibi nya berada di rumah. Stefany pun masuk ke dalam rumah dengan langka yang pelan.
Keadaan rumah Bibi dan Paman nya itu sangat sepi dengan lampu yang mati dan aneh nya pintu tidak terkunci.
Tiba-tiba lampu rumah pun menyala dan terdapat Bibi dan Paman nya yang sedang merhatikan Stefany.
Stefany pun terlonjak kaget dan refleks ia mundur selangkah, Bibi nya mendekat ke arah Stefany dan membuat Stefany semakin takut.
"Dari mana saja kau gadis kecil!!" Bibi nya menarik rambut Stefany dengan sabgat kencang dan membuat kepala Stefany kebelakang.
"Maafkan aku Bibi Paman" Stefany hanya bisa meminta maaf karena ia sangat bingung untuk menjelaskan kejadian semalam kepada Bibi dan Paman nya.
"Maaf! Apakah kau diam-diam menjadi jalang! Jika kau ingin menjadi jalang kenapa tidak dari dulu gadis bodoh!" Ucap Bibi Stefany dengan menampar wajah Stefany hingga Stefany terjatuh di lantai dan kepalanya terbentur oleh meja yang berada di dekat nya.
"Kau tidak ada terimakasih nya, sudah numpang dengan kami dan sekarang kau ingin kabur HAH!" Seru Bibi Stefany dan berjongkok di depan Stefany.
Stefany hanya bisa diam, dia sudah tidak berdaya ditambah dia belum makan pagi ini. Di depan nya terlihat Bibi nya dengan menampilkan wajah yang sangat marah.
Tuhan tolong aku.
"Biar aku yang urus dia sayang" Ucap Paman nya dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat.
Bibi nya pun mundur dan kini Paman nya menari rambut Stefany dan menampar wajah Stefany, Stefany hanya bisa menangis.
"Paman maafkan aku" Ucap Stefany dengan sangat pelan.
"Mana uang mu! Aku tidak membutuhkan mu aku hanya membutuhkan uang mu!" Paman nya menendang perut Stefany dengan sangat kencang dan ia memegangi perutnya.
"Maaf Paman, aku belum mendapatkan gaji ku" Seru Stefany dengan tangisan dan ia menahan sakit di perutnya.
"Dasar tidak tahu diri kamu ya!" Paman nya menendang perut Stefany berkali-kali dan Bibi nya yang menyaksikan kejadian itu malah tersenyum.
πππππ
Alrico mengangkat telepon dari supirnya.
Tuan, saya sudah mengikutinya dan sekarang saya mendengar nona sedang menangis dan terdengar suara perempuan dan laki-laki yang seperti nya sedang memarahi nona. Ucap supir nya di sebrang sana.
"Kirimkan alamatnya!"
Alrico segera menutup telepon nya dengan sepihak, ia sangat murka mendengar Stefany menangis dan siapa yang memarahinya apakah Bibi dan Paman nya
Alrico mendapatkan pesan dari supir nya dan ia langsung mengambil kunci mobilnya.
"Hey mau kemana kau dude?" Ucap Andrew yang melihat Alrico terburu-buru.
AL tidak mendengarkan ucapan nya Andrew dan dia segera menaiki mobilnya.
Teman-teman nya tidak mau ikut campur jika Al sudah terlihat marah seperti tadi. Dan ia pasti bisa menyelesaikan masalah nya sendiri.
Sesampainya di sana, Al melihat seorang supirnya sedang melihat ke arah rumah itu, Al segera turun dari mobilnya.
Supirnya melihat ke arah Al dan mengarahkan pandangan mata nya ke arah pintu rumah Bibi nya Stefany.
Al segera berlari dan ia mengintip dari balik jendela, terlihat seorang laki-laki sedang menendang tubuh gadis kecil itu dengan berkali-kali.
Al sudah tidak bisa menahan amarah nya lagi, ia mendobrak pintu rumah itu dan Al mengeluarkan pistol dari balik jaket nya.
Bibi dan Paman nya terkejut sedangkan Stefany sudah tidak sadarkan diri, namun Al fokus kepada Paman dan Bibi nya Stefany.
"BERHENTI MENYIKASANYA ATAU KAU AKAN MATI DITANGANKU!" Ujar Al dengan mengarahkan pistol ke arah Paman nya.
Paman nya terkejut melihat Alrico pasalnya ia memiliki hutang dengan Al dan ia terlihat takut sekali dengan Al.
"Maaf tuan" Ucap Paman nya dengan menyatukan kedua tangan nya.
Alrico tau semua tentang Paman dan Bibi nya karena semalam pas Stefany pingsan Al segera mencari tahu tentang Stefany dan ia tahu betul Paman nya itu memiliki hutang sangat banyak kepadanya.
"Maaf tuan nona sudah tidak sadarkan diri" Ucap supir nya yang tengah melihat keadaan Stefany.
"Aku harus membawa gadisku ke rumah sakit dan kau beruntung belum mati di tangan ku" Seru Al dan ia kembali memasukkan pistol nya ke dalam jaket nya.
Al segera membawa Stefany dengan menggendong nya terlihat wajah yang tenang namun terdapat bekas tangan, dan Al yakin itu tangan dari Paman dan Bibinya.
Al segera memasukkan Stefany ke dalam mobilnya Al duduk dan kepala Stefany ia taruh di atas pahanya.
"Cepat jalan ke rumah sakit terdekat!" Ucap Al kepada supirnya dan supirnya pun segera menjalankan mobilnya.
Al terlihat sangat panik dan ia merapikan rambut Stefany dan betapa terkejutnya ketika darah mengalir dari kepala Stefany.
Tidak butuh waktu lama mobil Al sudah sampai di depan rumah sakit dan Al segera mebawa Stefany turun dengan menggendong nya.
"Help me!" Suara Alrico menggema di dalam rumah sakit. Para perawat membwakan bed stretcher.
Alrico meletakkan tubuh Alana ke atas ranjang dengan sangat hati-hati. Para perawat segera mendorong bed itu menuju ruang ICU. Saat sampai di pintu ruang ICU seorang perawat wanita menghentikan langkah Alrico yang ingin masuk, perawat itu meminta Alrico untuk menunggunya di luar.
"Tolong selamatkan gadisku!" Ucap Alrico kepada perawat itu, wajah cemas tergamar di wajah tampan nya.
"Kamu akan berusaha semaksimal mungkin, dan berdoalah ke pada Tuhan" kata perawat wanita kemudian ia menutup pintu ruangan ICU dari dalam.
Alrico terlihat frustasi. Ia duduk di kursi tunggu. Ia tidak tahu dengan hati nya saat ini pasalnya ia tidak pernah bersikap seperti ini kepada wanita dan kali ini Stefany membuat Alrico sangat frustasi, ia berkali-kali mengacak rambutnya.
Matanya hanya terfokus pada pintu ruangan ICU yang tertutup. Di dalam sana terdapat dokter dan para perawat sedang menyelamatkan Stefany. Alrico hanya bisa berdoa di dalam hati, ia benar-benar merasa terpukul.
Alrico memang mempunyai harta dan wajah yang sangat tampan tetapi itu semua tidak menjamin hidupnya akan nyaman. Alrico tidak mengerti dengan perasaan nya, ia terbayang wajah gadis nya dengan darah di kepala nya membuat Alrico sangat terpuruk.
Suara ponsel Al terus berbunyi, namun ia tidak mengangkatnya dan ia pun mengabaikannya. Ponsel nya pun terus berbunyi terpampang jelas nama Javiero di layar ponsel nya, ia sedang tidak mau ditanya-tanya saat ini. Alrico pun memutuskan menonaktifkan ponsel nya dan menaruh nya di saku jaket nya.
Javiero Alexander adalah seorang bilionaire ternama asal Paris. Pria tampan itu adalah sepupu nya Alrico.
Ia tak ingin menceritakan kisahnya kepada Javiero. Javiero memang pria yang sangat dekat dengannya. Hanya saja terkadang sikap Javiero yang membuatkan kesal pasalnya pria itu terkadang menasehati Alrico yang membuatnya sangat kesal dan terkadang meledeki Alrico, namun nasehat nya pun selalu benar.
Pintu ruangan ICU terbuka. Keluarlah seorang dokter pria paruh baya yang terlihat sangat cemas.
Alrico pun menghampiri sang dokter "Bagaimana dengan gadisku"
Dokter itu terlihat sangat cemas dan beberapa kali menghela napas nya. Dokter itu pun berbicara kepada Alrico dengan sangat hati-hati.
"Saluran darah di kepalanya tidak berjalan tuan dan kami harus melakukan tindakan operasi" Ucap sang dokter dan membuat tubuh Al semakin lemas hingga ia terjatuh di kursi.
"Tapi dia tidak kenapa-kenapa kan dokter?!" Seru Alrico dengan menatap dokter itu terlihat mata nya yang sudah merah.
Dokter pun hanya bisa menghela nafas nya "Kita berdoa kepada Tuhan agar operasi nya berjalan lancar, dan tuan segera tanda tangan untuk melakukan tindakan operasi" Ucap dokter dengan menyerakan secarik kertas, dan Alrico pun segera menanda tangani nya.
AL terus mengacak rambut nya frustasi dan ia tidak tahu harus bagaimana lagi.
Terlihat para dokter pun berdatangan dan pintu ruangan ICU terbuka lebar bad yang membawa Stefany dibawa keluar dengan Stefany yang sudah memakai pakaian operasi.
Alrico segera menghampirinya dan ia mencium kening dan tangan Stefany dengan sangat lembut.
"Kamu harus kuat, aku tidak mau kehilangan kamu" Ucap Alrico dan ia memeluk tubuh Stefany yang rapuh itu dan Alrico menatap para dokter.
"Selamatkan gadisku aku mohon" Ucap Alrico dengan suara yang sangat pelan.
"Kami akan semaksimal mungkin menyelamatkan nya" Ucap sang dokter dan setelah itu membawa bed yang membawa Stefany menuju ruang operasi.
Sedangkan Alrico hanya bisa mengikutinya dan berdoa kepada Tuhan agar gadisnya selamat.
Andai kau tidak pulang, mungkin sekarang kau tidak apa-apa batin Alrico
**TBC
semoga kalian suka dengan cerita aku yaaπ€
seperti biasa kalau mau curhat, curhat aja ke aku hehe aku orang ny gabutan.
ini Chapter 3 aku semoga kalian menikmati cerita aku yaa
love penulis amatirπ**