My Princess

My Princess
#121



Dering ponsel yang berulang kali berbunyi membuat Marvel dan Rafeal bangun dari tidur nyenyak mereka. Di waktu yang bersamaan keduanya segera membuka ponsel masing-masing lalu segera memeriksa chat yang berulang kali masuk.


Setelah melihat foto yang masuk dengan sigap keduanya segera berdiri dengan tatapan yang saling menatap satu sama lain.


~Dia semakin mendekat, apa yang harus kami lakukan? membiarkannya masuk atau mencegahnya?~


Sebuah chat dari para penjaga yang sejak dari semalam berjaga di luar ruangan sana kembali masuk, membuat Rafeal dan Marvel kembali mengecek ponsel mereka.


~Biarkan dia masuk~ Balas Marvel.


Rafeal segera mendekati ranjang di mana Rakes berbaring, namun sosok yang semalam terbaring lemah kini menghilang entah kemana, hanya selang infus yang tertinggal dan juga baju pasien yang tergeletak di atas ranjang.


"Rakes kabur!" Jelas Rafeal.


"Bahkan dengan penjagaan yang begitu ketat di luar sana dia masih saja berhasil lolos, dasar!" Gumam Marvel yang segera mendekati jendela yang sedikit terbuka.


"Mulai saat ini aku benci keahliannya dalam melompat!" Cetus Marvel setelah menatap keatas rerumputan di bawah sana.


"Hufffff, jadi di kerjain nih! semalaman tidur di rumah sakit eh yang di tungguin malah enak-enakan tidur di rumah." Jelas Rafeal yang akhirnya duduk di ranjang.


Perlahan pintu ruangan tersebut di buka dari luar, Roger yang datang langsung masuk.


"Dimana abang? bukannya aku dengar dia sedang dirawat?" Tanya Roger saat tidak bisa menemukan sosok Rakes di ruangan tersebut.


"Rakes baru aja pulang, dia baik-baik saja." Jelas Rafeal.


"Kalau gitu permisi!" Jelas Roger.


"Tunggu! kamu mau kemana?" Tanya Marvel.


"Ke rumah om Iqbal." Jelas Roger.


"Sebelum kamu ke sana, boleh abang minta waktu mu sebentar?" Tanya Marvel.


"Apa ada masalah?" Tanya Rafeal.


"Aku hanya ingin mengobrol sebentar dengan Roger, tidak ada masalah apa-apa." Jelas Marvel.


"Aku akan menjadi pendengar yang budiman!" Jelas Rafeal.


"Apa yang ingin kalian tau dari aku?" Tanya Roger.


"Oke, langsung saja pada pokok pembahasan, kenapa kamu memihak pada kami?" Tanya Marvel.


"Apa aku tidak boleh melakukannya?" Roger balik bertanya.


"Setidaknya beri abang satu alasan!" Jelas Marvel.


"Aku memang tidak suka pada kalian bertiga, aku nggak suka dengan abang Rakes karena merebut Zea dari aku. Tapi kalian tidak lupakan? terlepas dari semua rasa tidak suka, aku dan dia tetap saudara. Meski aku ingin membunuh kalian tetap saja aku tidak bisa melihat kalian di sakiti oleh orang lain." Jelas Roger.


"Hanya itu?" Tanya Marvel memastikan.


"Apa harus ada alasan yang lainnya lagi?" Lagi-lagi Roger mengajukan pertanyaan pada setiap pertanyaan yang Marvel ajukan.


"Roger! untuk yang semalam terima kasih. Tapi aku tetap tidak bisa percaya sama kamu, dan aku harap kamu secepatnya sadar dan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah!" Jelas Rafeal.


"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Tanya Roger.


"Zea, jangan coba-coba untuk merebutnya dari Rakes dan satu lagi jangan pernah usik Mariana dia incaran aku!" Tegas Rafeal dan lekas keluar dari ruangan tersebut.


"Aku tidak mengerti dengan cara dia berpikir." Jelas Roger.


"Roger, aku bicara sebagai abang kamu, jangan bermain terlalu dalam karena kamu bisa saja tenggelam, dan soal Zea atau pun Mariana dan juga Kania, anggap mereka sebagai adikmu. Abang duluan, permisi!" Jelas Marvel yang ikut keluar lalu meninggalkan Roger begitu saja.


"Apa kalian sedang mengancam aku? disini bukankah kalian yang terlihat seperti orang jahat? apa sebegitu benci kalian terhadap aku? fine, aku salah tapi kalian yang lebih salah karena memandang aku dari sisi yang salah. Aku di pihak kalian, yah meski terlihat kejam tapi sebenarnya aku tidak berniat untuk merebut siapapun dari kalian, karena sejak awal kalianlah yang merebutnya lebih dulu dari aku." Jelas Roger dengan kepala yang tertunduk.


_____________________


"Apa ada masalah? kenapa mukanya kusut gitu?" Tanya Rakes setelah Zea masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya.


Rakes yang baru saja pulang dari kantor untuk menghadap sang kepala langsung meluncur untuk menjemput sang istri tercinta.


Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya Zea muncul dengan muka yang jauh dari kata tenang, bahkan Zea membanting pintu mobil saat menutupnya kembali.


"Kenapa?" Tanya Rakes saat mendapati Zea yang malah memejamkan matanya.


"Aku capek, aku mau tidur!" Cetus Zea lalu segera memalingkan wajahnya ke kaca mobil.


"Apa kamu marah kerena abang datang menjemput mu ke sekolah?" Tanya Rakes.


"Aku tidak ingin berdebat!" Cetus Zea.


Mendapat perlakuan dingin yang tanpa sebab membuat Rakes kebingungan, ia tidak ingin memperkeruh keadaan. Rakes segera menjalankan mobilnya meninggalkan area sekolah.


Sudah beberapa menit berlalu, suasana di dalam mobil masih saja sunyi, keduanya terdiam hingga akhirnya mata bulat Zea menatap horor kearah Rakes yang sedang menyetir.


"Apa abang buat salah?" Tanya Rakes saat menyadari Zea yang sejak beberapa menit lalu menatap kearahnya.


"Lupakan!" Cetus Zea yang kembali membuang pandangannya kearah kaca mobil.


(Sabar, kamu harus sabar Rakes. Tenang, jangan emosi, sekarang Zea memang sedang dalam kondisi yang tak menentu, sebentar-sebentar baik, terus tiba-tiba jadi galak, bawel dan manja, huuuffff harus ekstra sabar.) Bisik hati Rakes yang berusaha menenangkan dirinya.


"Hmmmmm mau makan dulu atau langsung pulang?" Tanya Rakes yang kembali berusaha untuk membujuk sang istri.


"Pulang!"


"Yakin?"


"Ya udah makan!"


"Beneran?"


"Terserah abang!" Cetus Zea yang kembali kesal.


"Kenapa berhenti di sini?"


"Abang? kenapa tidak lagi memanggil abang dengan panggilan Chim chim?" Tanya Rakes setelah menghentikan mobilnya di tepi jalan raya.


"Zea...!"


"Kenapa?"


"Katakan, apa salah abang?" Tanya Rakes dengan nada memohon.


Bukannya menjawab pertanyaan Rakes, Zea malah tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi Rakes yang terlihat jelas sedang kebingungan.


"Imutnya my Chim chim!" Ujar Zea yang langsung mendekap wajah panik Rakes dengan kedua tangannya.


"Kamu ngerjain abang?"


'Cup' Bibir Zea mendarat pada kening Rakes yang terpampang membahana.


"Suka aja lihat wajah Chim chim kalau lagi panik, imut banget!" Jelas Zea dengan senyuman.


"Kau tau, abang hampir serangan jantung!" Keluh Rakes.


"Benarkah, coba aku periksa!" Jelas Zea yang langsung meraba bagian kotak-kotak Rakes yang tertutupi dengan kemeja.


"Ngapain?" Tanya Rakes panik.


"Ya ngecek jantung Chim chim lah!" Tegas Zea.


"Berhenti!"


"Wahhhh detaknya semakin tak beraturan, seperti sedang maraton!" Lapor Zea.


"Itu karena kamu!"


"Aku?"


"Iya, sebelum abang lepas kendali, ayo pulang!" Jelas Rakes yang segera memindahkan kedua tangan Zea yang sedari tapi terus beraksi.


Rakes segera menjalankan kembali mobilnya.


"Berhenti menatap abang seperti itu!" Tegas Rakes saat melirik Zea yang terlihat jelas sedang memandangi wajah merah meronanya.


"Chim chim!" Panggil Zea kini dengan nada yang terdengar begitu serius.


"Kenapa?"


"Ayo kita bulan madu!"


"Zea...."


"Kita bertiga, aku ingin menghabiskan waktu bersama, hanya ada kita bertiga. Aku, Chim chim dan Raze Junior, satu hari saja, please!"


"Apa kamu begitu menginginkannya?"


"Hmmmm, aku sangat menginginkannya! menghabiskan waktu bersama tanpa harus memikirkan segala hal lainnya, hanya tentang kita." Jelas Zea dengan wajah tertunduk.


"Ayo kita lakukan!"


"Serius?"


"Iya, abang juga sangat ingin melakukannya!"


"Kapan? apa sebaiknya kita langsung pergi besok?" Tanya Zea girang.


"Besok? kenapa harus besok?"


"Ya udah, gimana kalau lusa?"


"Kenapa lusa?"


"Lalu kapan? bulan depan? atau Chim chim mau tunggu sampai perut aku membesar dulu?" Tanya Zea yang kembali kesal.


"Princess, abang tidak ingin menundanya lebih lama lagi, abang ingin kita pergi sekarang!"


"Sekarang?"


"Hmmm, saat ini juga, biar nanti abang yang kabari uma dan ayah dan juga papa dan mama."


"Chim chim jangan bercanda! aku nggak bawa apa-apa, terus aku masih pakek seragam nih!" Keluh Zea.


"Kita akan mampir buat beli kebutuhan kamu." Jelas Rakes yang langsung menambah kecepatan laju mobilnya.


"Waaaaah ternyata begini nih rasanya jadi istri orang kaya, semua bisa di atasi dengan mudah. Jadi penasaran, apa kakek memberikan banyak kartu elit buat Chim chim? kartu itu loh yang kayak anak sulthan, yang nggak ada limitnya sama sekali." Jelas Zea dengan mata yang begitu berbinar binar.


"Ternyata selain bar-bar kamu matre juga!"


"Yeeee matre itu wajar dong, toh suami aku kaya raya kan!"


"Dasar! jangan berimajinasi berlebihan, abang nggak punya kartu yang seperti itu!"


"Serius?"


"Iya!"


"Nggak seru!"


"Di seru-seruin aja lah!"


Zea hanya tersenyum mendengar ucapan Rakes yang terdengar begitu lucu apa lagi Rakes mengatakannya dengan memasang tampang polos tanpa beban dan dosa sama sekali.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️