
"Zea, pagi-pagi buta udah rapi aja, mau kemana?" Tanya Elsaliani.
Zea terlihat rapi dengan stelan celana kulot warna maron, kemeja hitam dan jilbab yang berwarna senada dengan celananya. Zea lekas duduk samping sang uma tercinta.
"Mau jalan!" Jawab Zea lalu meneguk susu coklat favoritnya.
"Jalan? sama siapa? tumben, biasanya kalau hari minggu jam segini masih molor aja."
"Sebenarnya nih kepala masih pengen nempel di bantal cuman ya mau gimana lagi, udah terlanjur buat janji!" Jelas Zea yang kini mulai menyantap roti yang telah Elsaliani olesi dengan selai coklat kesukaannya.
"Janji sama siapa?" Tanya Iqbal.
"Sama siapa lagi kalau bukan sama bocah lelaki kesayangan ayah!" Cetus Zea kesal.
"Mau kemana kalian?" Tanya Iqbal yang langsung paham dengan bocah lelaki yang Zea maksud.
"Kemana lagi, kalau bukan ke rumah gebetannya!" Jelas Zea yang kembali memasukkan roti hingga memenuhi mulutnya.
"Zea, kebiasaan deh makan begitu, pelan-pelan sayang!" Jelas Elsaliani.
"Nurun dari sana uma!" Jelas Zea sambil menunjuk kearah Iqbal yang juga dalam keadaan mulut yang di penuhi dengan nasi goreng, yah keduanya terlihat sama.
"Benar-benar, ayah sama anak selalu saja bikin uma pusing!" Gumam Elsaliani dengan tatapan horor pada kedua manusia yang selalu saja tidak bisa makan dengan baik dan sopan.
"Tuh dengar!" Seru Iqbal.
"Ini juga berlaku buat mas!" Tegas Elsaliani yang membuat Iqbal dan Zea tersenyum lebar.
"Dari tadi abang Rakes nggak kelihatan, kemana?" Tanya Zea.
"Dia, dia hmmmm!" Elsaliani terus mencoba mencari alasan yang tepat.
"Paling juga ngumpul sama teman-temannya!" Jelas Iqbal.
"Sepagi ini? mana mungkin!" Ujar Zea.
"Olah raga bareng mungkin!" Cetus Iqbal ngasal.
"Assalamualaikum!" Suara yang berasal dari ruang utama terdengar semakin mendekat.
"Zafran, ayo sini sarapan dulu!" Ajak Elsaliani ketika melihat sosok Zafran yang kian mendekati mereka.
"Aku udah sarapan tadi rumah. Om, tante, aku pinjam Zea ya!" Pinta Zafran.
"Barang kali di pinjam!" Cetus Zea yang langsung bangun dari kursinya.
"Hati-hati di jalan!" Pesan Iqbal.
"Kirim salam uma buat tante Amanda, dan juga semoga kamu berhasil Zafran!" Ujar Elsaliani yang sontak membuat Zafran tersipu malu.
"Oke uma, bakal Zea sampaikan salamnya, terus soal asmara putra kesayangan uma, tenang aja, bakal Zea pastikan kalau Qalesya bakal kesemsem sama nih cowok!" Jelas Zea lalu menepuk bahu Zafran membuat Zafran semakin malu.
"Kami pamit om, tante!" Ujar Zafran.
"Iya sayang, hati-hati!" Ujar Elsaliani.
Zafran dan Zea langsung berangkat, namun langkah keduanya terhenti di teras ketika sosok Rakes yang terlihat sedang berjalan dari gerbang sana.
"Abang Rakes!" Seru Zea dan Zafran hampir bersamaan membuat langkah Rakes terhenti.
"Zea, Zafran!" Ujar Rakes kaget dan terus berusaha tetap tenang.
Zea melangkah mendekati Rakes yang masih mematung di depan teras.
"Pakaian apa ini? kenapa berpenampilan seperti ini?" Tanya Zea yang terus memperhatikan Rakes dari ujung kelapa hingga ujung kaki.
Rakes yang terlihat begitu kokoh dalam balutan pakaian yang serba hitam lengkap dengan topi dan masker yang menutup wajahnya, lalu sebuah ransel besar yang melekat di punggungnya. Pandangan Zea terhenti di bagian sepatu Rakes yang mana pada setiap sisi dipenuhi dengan rentetan pisau lalu sebuah kotak senjata yang lumayan besar terpasang pada bahu kiri Rakes sedangkan tangan kanan Rakes menggenggam seuntai tali yang berwarna hitam.
"Zea, abang...." Gumam Rakes yang seketika terhenti dengan sendirinya.
Nafas Rakes seakan memburu. Rakes pulang dengan penampilan begitu karena biasanya hari minggu, jam segini Zea masih tidur, tapi nyatanya perkiraan dia kali ini meleset, kini Zea tepat berada dihadapannya, membuat lidahnya kelu dan tubuhnya kaku.
"Apa ini semua?" Tanya Zea dengan nada meninggi membuat Zafran ikut mendekat.
"Zea, tenang dulu, dengarkan penjelasan abang Rakes, jangan main ngegas!" Pinta Zafran.
"Oke, bicaralah!" Pinta Zea.
"Zea, apa kamu berencana untuk ingkar janji? Qalesya pasti udah nungguin kita, kamu nggak lupa kan kalau kita ngajak dia keluar pagi ini?" Jelas Zafran.
"Tapi...."
"Kamu mau merusak image aku di depan Qalesya?" Tanya Zafran.
"Oke, aku rasa abang Zafran juga tau tentang apa yang aku lihat sekarang." Jelas Zea.
"Zea...." Ujar Zafran yang langsung disela olah Zea.
"Oke kita pergi sekarang!" Jelas Zea dan langsung meninggalkan kedua lelaki yang sedari tadi saling menatap satu sama lain.
"Aku hanya bisa mengulur waktu, abang siapkan cerita yang bagus, Zea pasti akan menagihnya." Jelas Zafran dan segera ikut Zea yang telah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Apa memang sudah saatnya aku bicara yang sebenarnya. Zea, abang harap fikiran mu akan sejalan dengan cara pikir abang." Harap Rakes yang melangkah masuk.
____________________
Di bangku taman sana mereka bertiga terlihat begitu menikmati cuaca pagi yang masih begitu sejuk terasa. Zea yang duduk diantara Qalesya dan Zafran tiba-tiba bangun lalu sejenak menatap keduanya secara bergantian.
"Mau minum apa?" Tanya Zea.
"Kak Zea mau kemana? aku ikut!" Jelas Qalesya.
"Qalesya sayang, kamu disini aja, kakak akan membeli beberapa minuman dan cemilan, nikmati waktu kalian dengan baik, bey!" Jelas Zea yang langsung meninggalkan Zafran dan Qalesya.
"Khmmmmmm!" Zafran berdehem mencoba menghilangkan suasana canggung diantara keduanya.
"Abang haus?" Tanya Qalesya dengan tatapan yang begitu polos.
"Nggak, bukan. Hmmmm, Qalesya!" Zafran berusaha untuk menjelaskan situasi sebenarnya.
"Apa saat ini kamu sedang mencintai seseorang?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Karena abang pengen tau."
"Apa aku harus menjawabnya?"
"Iya, tapi abang nggak maksa kok. Kamu juga boleh tetap diam." Jelas Zafran dengan pandangan lurus ke depan.
"Jujur, aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan hati aku sendiri, rasanya ada satu perasaan yang membuat aku senang setiap kali melihat seseorang."
"Jadi kamu sedang jatuh cinta rupanya, beruntung sekali orang yang kamu cintai itu."
"Benarkah? aku harap juga begitu, semoga orang itu menyadari perasaanku dan alangkah beruntungnya jika dia justru membalas cintaku!"
"Hmmmm, Zea mana ya? kok lama? abang cari Zea sebentar ya!" Jelas Zafran yang segera bangun dengan sikap yang tidak seperti biasanya.
"Apa abang tidak ingin tau siapa orang yang aku cintai?"
Pertanyaan yang Qalesya ajukan sontak membuat Zafran menghentikan langkahnya dan seketika kembali menatap Qalesya.
"Abang, tidak ingin mengetahuinya!"
"Benarkah? berati aku sama sekali tidak beruntung, menyedihkan!" Ungkap Qalesya dengan menundukkan wajahnya bahkan air bening mulai menetes dari ujung kedua mata bulatnya.
"Apa ucapan abang terdengar kasar? maaf!" Pinta Zafran yang kembali duduk di samping Qalesya dan berusaha menenangkan gadis tersebut.
"Jangan minta maaf, toh abang sama sekali nggak salah!"
"Apa dia itu abang Mikeal atau mungkin abang Roger?" Tanya Zafran yang tetap berusaha terlihat tegar.
"Bukan!" Tegas Qalesya menggelengkan kepalanya.
"Atau Adam?"
"Dia, cowok yang aku suka namanya Zafran!"
"Oooooo Zafran!" Ulang Zafran datar.
Namun seketika otak Zafran kembali berputar dan mengingat kembali nama yang baru saja Qalesya sebutkan.
"Zafran? abang?" Ulang Zafran dengan wajah yang begitu kebingungan.
"Lalu siapa lagi?" Tanya Qalesya.
"Kamu suka sama abang?"
"Kenapa? apa abang menolak pernyataan yang baru saja aku lakukan?"
"Mustahil abang menolaknya!"
"Kenapa memendamnya begitu lama?"
"Sejak kapan kamu tau dengan perasaan abang?"
"Sejak pertama abang jatuh cinta!"
"Beneran?"
"Hmmmmm, lima tahun yang lalu kan? saat acara syukuran di rumah Adam!" Tebak Qalesya.
"Hmmmm, ketika tangan mungil mu menarik kaos abang agar kaki abang tidak tergelincir ke dalam kolam. Sejak saat itu senyuman kamu selalu menghantui malam abang. Terima kasih untuk waktu itu dan juga untuk hari bahagia ini."
"Iya, sama-sama."
"Jadi? sekarang kamu pacar abang kan?"
"Hmmmm"
"Love you!" Seru Zafran dengan penuh kebahagiaan lalu segera memeluk erat tubuh Qalesya.
___________________
"Apa Chim chim sudah berhasil membuat cerita?" Tanya Zea.
Sedari tadi Rakes menunggu Zea pulang, Rakes masih lengkap dengan penampilan tadi pagi. Rakes yang memilih menunggu di kamar Zea, masih saja berdiri dengan mata yang hanya memandang lantai di mana kakinya berpijak.
Zea melangkah melewati Rakes begitu saja. Zea melemparkan tasnya keatas kasur lalu kembali mendekati Rakes.
"Kenapa hanya diam? apa belum cukup waktu yang aku berikan untuk abang mengarang cerita?"
"Zea..."
"Aku tidak peduli abang mau berbohong atau bicara yang sebenarnya, yang penting jangan diam seperti ini, jangan buat aku khawatir!" Gumam Zea dengan tatapan sendu dan penuh kegelisahan.
"Abang, Sebenarnya abang...."
"Stop!" Pinta Zea yang langsung memeluk tubuh Rakes.
"Apa Chim chim sedari tadi terus mematung seperti ini? Apa selama sembilan jam tadi, Chim chim terus menunggu aku sambil berdiri disini?" Tanya Zea yang mendapatan tubuh Rakes yang terasa begitu dingin dan kaku.
"Hmmmmm!"
"Dasar bodoh!" Cela Zea yang langsung menarik tubuh Rakes untuk duduk di sofa.
"Abang hanya takut kalau kamu nggak akan pulang."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😉😉
Stay terus sama My Princess 😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️