
"Kania..." Panggil Marvel sambil menyentuh kepala Kania yang masih menempel di bantal.
"Hmmmm" Ujar Kania dengan sedikit menggeliat lalu kembali menarik selimut ke seluruh tubuhnya.
"Sayang..." Panggil Marvel untuk yang kesekian kalinya.
"Aku masih ngantuk!" Gumam Kania dengan suara yang terdengar begitu kesal.
"Sayang, katanya hari ini mau ke kampus? ayo bareng sama abang!" Ajak Marvel.
"Abang, aku masih ngantuk banget, lima menit lagi aja, please!" Rengek Kania.
"Udah jam delapan nih, abang juga lagi buru-buru harus ke kantor, ada masalah yang harus abang laporkan." Jelas Marvel.
"Ya udah abang duluan aja, ntar aku naik ojek online aja." Jelas Kania yang masih betah tidur.
"Sayang..." Kali ini tangan Marvel menyentuh lembut tangan Kania dari balik selimut.
"Abang..." Ujar Kania pelan sembari membuka matanya lalu perlahan bangun.
Mata Kania langsung tertuju pada sosok sang suami yang masih saja duduk di sampingnya.
"Abang..." Ujar Kania dengan tangan yang langsung menyentuh wajah Marvel yang sedang tertunduk.
"Apa yang terjadi? apa ada masalah? atau...aku yang bikin abang sedih seperti ini?" Tanya Kania.
"Nggak ada masalah sama sekali, abang hanya...!" Penjelasan Marvel terhenti dengan sendirinya.
"Lalu kenapa wajah abang terlihat sedih seperti ini?"
"Semuanya baik-baik saja, kembali lah tidur, abang berangkat, assalamualaikum." Ujar Marvel dan lekas keluar dari kamar.
________________
"Kania mana? kok abang sendiri?" Tanya Mariana saat Marvel bergabung bersama yang lainnya di meja makan.
"Dia lagi siap-siap." Jawab Marvel datar dan langsung mengambil sarapannya.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rakes.
"Apa dia sakit?" Tanya Rafeal.
"Dia baik-baik aja, ayo buruan sarapan kita kan harus melapor hari ini." Jelas Marvel.
"Ya udah sekalian aja, aku juga ada rapat penting hari ini." Jelas Mariana.
"Kalian berangkat aja, biar nanti aku yang nemanin Kania sarapan." Jelas Zea.
"Baiklah kami duluan, dada jagoan Daddy!" Ujar Rakes sambil mencium si kembar yang sedang bermain di dekat meja makan.
"Dahhh" Ujar Azan dan Uzun hampir bersamaan dengan terus melambaikan tangan mungil mereka.
"Gemes banget, dah sayangnya papa Rafeal!" Ujar Rafeal yang langsung mencium paksa kedua bocah tersebut bahkan sampai membuat keduanya menangis.
"Kami pamit ya, Zea..." Ujar Mariana dan lekas keluar mengikuti Rakes dan Rafeal yang telah lebih dulu keluar.
"Apa kalian ada masalah?" Tanya Zea yang peka dengan ekspresi wajah Marvel yang beda dari biasanya.
"Masalah? nggak sama sekali!" Jawab Marvel gelagapan.
"Abang, Kania masih remaja, jika dia salah tegur dia, dia butuh abang untuk membimbing dia agar jadi istri yang baik. Jangan diamin dia, karena aku yakin dia sama sekali nggak akan paham dengan diamnya abang." Jelas Zea.
"Ntah lah Zea..."
"Sebenarnya tadi itu aku lihat pas abang merhatiin kami di meja makan lalu kembali lagi ke kamar. Nanti biar aku jelaskan pada Kania, aku tau abang tadi sedikit kecewa kan dengan sikap Kania yang malah lebih memilih tidur dari pada membantu suaminya untuk siap-siap kerja."
"Abang nggak masalah sih, tapi...."
"Aku paham maksud abang, udah sana gih berangkat!"
"Abang pamit, dan terima kasih atas nasihatnya!" Ujar Marvel lalu mengusap lembut jilbab Zea lalu beralih mencium Azan dan Uzun dan lekas keluar.
"Ayo sayang kita sarapan, aaaaaa!" Ajak Zea sambil mengarahkan sendok yang berisi bubur kepada Azan dan pastinya langsung di serobot oleh Uzun yang memang lebih lincah dan gesit dari sang abang.
"Uzun, ini jatah abang loh..." Jelas Zea.
"Mamam, mamam Mi.." Rengek Azan yang langsung dituruti oleh Zea.
"Huffff, kayaknya Uzun lebih banyak mewarisi gen mommy deh, jailnya minta ampun, kelakuannya selalu aja bikin mommy pusing, nggak kebayang gimana capek dan kesalnya uma saat ngurusin aku waktu kecil dulu, maafin Zea uma..." Ungkap Zea penuh penyesalan.
"Kak Zea..." Panggil Kania yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Kania, kamu belum siap-siap? katanya mau lihat-lihat kampus hari ini?" Tanya Zea.
"Nggak jadi kak, males!" Jawab Kania yang langsung sibuk main bersama Uzun.
"Kania..."
"Hmmm, kenapa kak?"
"Sebenarnya, kakak nggak maksud ikut campur masalah keluarga kamu dan abang Marvel, tapi..."
"Kenapa kak?"
Penjelasan Zea sukses membuat Kania lemah seketika, ia bahkan tidak lagi menggubris Uzun yang sibuk menarik-narik lengan bajunya.
Kepala Kania langsung tertunduk, ada rasa kecewa yang diiringi air mata yang perlahan keluar dari ujung mata indahnya.
"Kania, abang Marvel sama sekali nggak protes loh, cuman kakak aja yang...."
"Aku memang bukan istri yang baik!"
"Kania, hei... nggak gitu, kakak juga bukan istri yang baik, tapi setidaknya kita belajar sama-sama, saling menasehati, saling menegur, iya kan?"
"Maafkan Kania, kak!" Ujar Kania yang langsung memeluk Zea.
"Udah, nggak perlu nangis, lagi pula abang Marvel sama sekali nggak marah kok!" Ujar Zea mencoba menenangkan.
"Kan, ma...kan...!" Ujar Uzun yang kini sudah asyik memakan bubur dengan tangannya.
Tidak hanya membuat kedua tangannya belepotan tapi ia juga membuat seluruh wajah Azan ikut belepotan.
"Sayang, ihhhhhs kok gitu sih sama Abang?" Ujar Kania yang langsung menghentikan aksi Uzun.
"Ma nia....mama nia..." Adu Azan yang ikut memeluk Kania.
"Pecah kepala mommy!" Gumam Zea stres dan langsung mengambil mangkuk dari tangan Uzun.
"Ayo mandi!" Ajak Kania yang langsung membawa Azan dan Uzun bersamanya.
_______________
"Aku nggak telat kan?" Tanya Mariana yang langsung mengambil tempat tepat di depan Rafeal.
"Nggak sama sekali, aku juga baru aja datang!" Jawab Rafeal dengan senyuman.
"Abang Marvel dan abang Rakes mana? kenapa nggak ikut?"
"Mereka langsung pulang, makan siang di rumah katanya." Jelas Rafeal.
"Terus kamu?" Tanya Mariana.
"Aku?"
"Hmmm, kenapa nggak langsung pulang?"
"Yah, karena aku..."
"Terima kasih, hmmm anggap aja kita lagi ngedate, lagi pula kita memang nggak pernah ngedate kan sebelumnya!"
"Ana..."
"Hmmmmm"
"Ada hal yang ingin aku katakan!"
"Ada apa?"
"Aku...."
"Iya, aku? kenapa?" Tanya Mariana yang masih sibuk memilih menu yang ingin dia pesan.
"Aku mencintaimu!" Tegas Rafeal.
Pernyataan Rafeal sontak membuat Mariana kaget ia bahkan terbatuk-batuk tak karuan, betapa tidak ini adalah kali pertama Rafeal menyatakan cinta dengan begitu serius pada dirinya, bahkan terlihat lebih serius dari saat mereka akad.
"Hmmmm" Ujar Mariana yang semakin salah tingkah dibuatnya.
"Aku tau, mungkin ini agak telat, tapi aku tetap ingin melakukannya. Ana, aku mencintaimu istri ku!" Tegas Rafeal.
"Aku jauh lebih mencintaimu, suami ku!" Ujar Mariana yang langsung menyentuh tangan Rafeal lalu menciumnya dengan lembut.
"Terima kasih!" Ucap Rafeal dengan senyuman.
"Ayo kita makan, sebelum aku menyeret mu pulang! huffff." Jelas Mariana yang berusaha menahan dirinya.
"Ana..."
"Jangan lagi tersenyum seperti itu! aku goyah, iman aku nggak kuat kalau kamu menggoda aku dengan senyuman maut mu." Tegas Mariana.
"Ada ada aja!" Ujar Rafeal yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Huuuuuf, tahan Ana!" Pinta Mariana pada dirinya sendiri, meski dengan suara yang tertahan namun Rafeal masih bisa mendengarnya dengan begitu jelas, dan itu cukup membuat dirinya cekikikan.
πππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ
πππππ
Maaf ya manteman semuanya, karena belakangan ini jaraaaaaaaaaaaang banget up dan juga terima kasih karena udah begitu setia sama MyPrincess ππ