My Princess

My Princess
#215



πŸ’œ1 Tahun KemudianπŸ’œ


Di ruang tamu sana Mariana duduk lesehan di ambal bulu dengan bersandar pada sofa, dia duduk dengan menjulurkan kedua kakinya ke depan dengan mata yang terus saja fokus menonton film kartun yang ada di layar tv di depannya, sedangkan tangan kanannya sibuk mengambil Snack dari dalam toples lalu berangsur memasukkan ke dalam mulutnya.


"Mama Ana....." Panggil Azan sambil terus berjalan pelan kearahnya.


"Sayang, ayo sini!" Sambut Mariana yang langsung mengulur tangan menyambut kedatangan Azan.


"Kangen sama dedek Putri!" Ujar Azan yang langsung mengusap pelan perut buncit Mariana yang hanya sedang menunggu hitungan hari untuk melahirkan.


"Baru juga satu malam nggak jumpa!" Ujar Mariana yang langsung mencium kedua pipi Azan secara bergantian.


"Tapi udah rindu banget ma!" Protes Azan yang masih saja setia mengusap perut Mariana.


"Calon suami idaman nih ceritanya,,," Ujar Mariana dengan senyuman.


"Putri, sehat-sehat selalu, abang Azan sayang Putri!" Ujar Azan dengan senyuman bahagia.


"Ciiiih gaya elo bang selangit! papa aja belom pernah tuh gombalin dedek Putri!" Ujar Rafeal yang langsung duduk di samping Azan.


"Ganggu, awashhh!" Seru Azan yang langsung mengusir Rafeal.


"Eh bocah, papa lebih berhak loh atas Putri, harusnya papa tuh yang ngusir kamu dari sini!" Ujar Rafeal.


"Mama Ana, ayo pergi! di sini nggak seru lagi!" Cetus Azan yang langsung menarik tangan Mariana untuk ikut dengannya.


"Benar-benar nih bocah!" Ujar Rafeal.


"Azan mama nggak kuat jalan loh, kaki mama masih kram." Ujar Mariana.


"Mama Ana sakit?" Tanya Azan yang segera beralih memijit kaki Mariana.


"Alololo sayang, perhatiannya itu loh nggak kayak yang di sebelah nggak peka!" Cetus Mariana sambil melirik pada Rafeal.


"Yah kode lagi deh!" Ujar Rafeal.


"Habis nggak pernah peka, kayaknya Azan jauh lebih dewasa deh!" Jelas Mariana.


"Ciiiih di samain sama bocah tuyul pula, belum lagi yang paling kacau satu lagi itu gabung, bisa langsung nggak ada artinya aku ini!" Ujar Rafeal yang beranjak ikut memijit kaki Mariana.


"Ihhhhhh gitu aja langsung pasang wajah kesal gitu, manja bener!" Cetus Mariana yang langsung mengusap rambut Rafeal.


"Love you sayang!" Ujar Rafeal dengan senyuman namun Azan langsung menghadangnya.


"Love mama Ana, love dedek Putri!" Ujar Azan.


"Hadeuhhhhhh!" Ujar Rafeal yang mau tak mau langsung mengalah dari pada tambah parah nantinya.


___________________


"Mau kemana? wangi banget!" Tanya Rakes saat masuk ke kamar dan mendapati Uzun yang sedang menggunakan parfum.


"Kencan sama permaisuri ku!" Jawab Uzun yang masih saja sibuk merapikan rambutnya.


"Bukan main...." Ujar Rakes.


"Waaah kayaknya ada botol parfum pecah nih!" Cetus Zea yang juga baru masuk ke kamar tersebut.


"Mommy sama daddy di sini aja, bye....!" Ujar Uzun yang langsung melarikan diri.


"Copyan kamu tuh! bar-barnya selangit! tukang nyosor pula!" Ujar Rakes.


"Kalau nggak gitu nggak bakal menang kali!" Cetus Zea.


"Iya juga sih!" Cetus Rakes.


"Gini-gini cuman aku kan yang bisa buat abang menggila!' Ujar Zea.


"Kambuh lagi deh!" Ujar Rakes.


'Cup' sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Rakes dan Zea pun lekas keluar meninggalkan Rakes begitu saja.


"Waah main tinggalin gitu aja, tanggung jawab dong!" Protes Rakes yang segera menyusul Zea keluar dari kamar si kembar.


________________


Pelan-pelan tangan mungil Uzun terus mencoba mengetuk daun pintu kamar milik Kania.


"Bentar...." Jawab Kania dari dalam kamar hingga akhirnya perlahan pintu dibuka dari dalam.


Baru saja Kania membuka pintu, harum semerbak seketika membuat Kania langsung menutup hidungnya. Sikap Kania dengan spontan membuat Uzun melangkah mundur.


"Apa permaisuri tidak suka wangi ini?" Tanya Uzun sambil mencoba mencium tubuhnya sendiri.


"Bukan cuma wangi yang ini, semua jenis parfum dia nggak suka!" Ujar Marvel yang perlahan keluar dari kamar dengan penampilan yang begitu lesu dan acak-acakan.


"Gawat!" Gumam Uzun dan segera berlari kembali ke kamarnya.


"Maaf!" Ujar Kania sambil menyentuh lengan Marvel membuat langkah Marvel seketika terhenti.


"Sayang, nggak apa-apa kali, abang senang selama kamu dan juga Baby kita juga senang!" Ujar Marvel yang perlahan mengusap pelan jilbab Kania.


"Terima kasih!" Ujar Kania manja dan langsung memeluk erat tubuh Marvel.


"Selalu aja gitu, pada hal aku kangen banget manja sama abang!" Ujar Kania dengan begitu manja ia bahkan semakin mengeratkan pelukannya.


"Mama Nia..." Ujar Uzun yang kembali dengan penampilan barunya.


"Sayang..." Ujar Kania yang langsung melepaskan pelukannya.


"Yah si tuyul selalu aja muncul diwaktu yang nggak tepat!" Marvel mulai ngedumel kesal dengan suara pelan.


Ucapan Marvel sontak membuat Kania langsung mencubit lengannya. Uzun mendekat lalu mengusap pelan perut buncit Kania.


"Boleh peluk?" Tanya Uzun penuh harap.


"Tumben nanya? biasa juga langsung nyosor!" Ujar Marvel.


Sejenak Uzun kembali mencium tubuhnya hingga membuat Kania tertawa dengan tingkah lucunya itu.


"Abang Uzun kan udah ganti baju, nggak lagi pakek parfum, ayo sini peluk mama Nia." Ujar Kania.


"Beneran mama Nia nggak enek lagi?" Tanya Uzun memastikan.


"Nggak kok sayang, beneran!" Ujar Kania meyakinkan.


"Yesss! abang coming!" Ujar Uzun girang dan langsung memeluk Kania.


"Berasa jadi obat nyamuk! belum lahir aja udah gini, gimana kalau udah nyata di dunia ini, bakal di kuasai penuh deh sama nih bocah!" Ujar Marvel lalu mengusap pelan rambut Uzun.


"Sayang papa Marvel juga!" Ujar Uzun dengan tatapan yang begitu menenangkan.


"Papa juga sayang kalian semua! abang Uzun harus janji kalau abang bakal jagain dedek dengan baik, pastikan dia selalu bahagia!" Ujar Marvel.


"Hmmmmmm!" Angguk Uzun dengan penuh percaya diri.


"Khmmmmmm! jadi mommy nggak di prioritaskan lagi nih ceritanya!" Ujar Zea.


"Mommy number one terus Permaisuri nomer 2 hingga seterusnya!" Jelas Uzun.


"Terus mama Nia urutan ke berapa?" Tanya Kania.


"Nanti di pikirkan lagi!" Ujar Uzun sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Waaah! kalau daddy?" Tanya Rakes.


"Daddy kan kuat nggak butuh penjaga!" Jawab Uzun spontan yang sontak membuat semuanya tertawa.


"Anak pinter!" Ujar Marvel yang masih belum bisa berhenti tertawa.


"Pada ngumpul di sini rupanya!" Ujar Mariana yang melewati ruangan tersebut bersama Azan.


"Mau kemana?" Tanya Zea.


"Ke teras!" Jawab Azan.


"Ngapain?" Tanya Marvel.


"Nungguin mie ayam!" Jawab Mariana.


"Mie ayam? emang ada gerobak yang lewat?" Tanya Rakes.


"Rafeal yang lagi nyariin gerobaknya!" Jawab Mariana.


"Waaah kebetulan lagi lapar, ayo ke teras!" Ujar Kania yang seketika langsung bersemangat dan lekas ke teras dengan diikuti oleh Uzun pastinya


"Aku juga lapar!" Ujar Zea yang segera menyusul langkah Kania.


"Ayyok sayang!" Ajak Mariana yang langsung menggandeng tangan Azan dan bergegas ke teras.


"Huffff makan lagi! padahal baru aja tadi makan martabak! kayaknya mereka semua mulai di serang penyakit kelaparan deh!" Ujar Rakes.


"Aku juga heran! okay, Ana sama Kania emang lagi hamil bisa jadi bawaan bayi, lah terus Zea sama Rafeal juga ikutan belum lagi dua bocah itu, apa perut mereka semua terbuat dari karet apa!" Ujar Marvel heran.


"Zea sama Rafeal kan emang sejak dulu udah gitu raja and ratu makan, semuanya mereka embat dan si kembar ya otomatis nurun dari mommy dan papa Rafeal nya dong!" Ujar Rakes.


"Benar-benar!" Ujar Marvel.


"Ayo buruan, sebelum mereka datang kembali terus ngamuk-ngamuk kayak kemaren, ngeri!" Ujar Rakes yang segera menyusul begitu pula dengan Marvel ia pun lekas bergegas ke teras.


__________________


Jangan lupa LIKE Comen vote😘


Stay terus sama My Princess 😘😘😘😘


Khamsahamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Oh ya manteman jangan lupa main ke novel baru aku ya,,,


🍁Xue_Lian🍁


Ditunggu kunjungannyaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ™πŸ™