
Kaki panjang Rakes mendarat di aspal jalan setelah ia keluar dari mobil yang berwarna hitam yang mengantarkannya hingga di depan gerbang rumah Iqbal.
Mobil tersebut langsung meninggalkan Rakes yang tertatih pelan.
Dengan keadaan wajah yang begitu pucat, keringat yang bercucuran serta tangan yang terus menekan bagian perut kanannya dari balik kemeja yang ia kenakan, Rakes terus berusaha untuk membuka gerbang dengan satu tangannya. Setelah mencoba sebanyak lima kali akhirnya ia berhasil membuka gembok gerbang dan lekas masuk.
sama halnya dengan membuka gerbang, ia juga butuh enam kali percobaan hingga akhirnya ia berhasil membukakan pintu kali ini ia bahkan melakukannya dengan bantuan tangannya yang sedari tadi menekan bagian lukanya hingga darah yang membekas di tangannya juga ikut menempel di pintu utama. Dengan sisa tenaga yang masih ada Rakes segera menaiki tangga lalu langsung masuk ke kamarnya.
Tubuh lemah Rakes terjatuh di lantai, sejenak menahan rasa sakit, kini Rakes mulai merangkak menuju meja yang letaknya didekat jendela sana. Perlahan membuka laci paling atas lalu mencoba meraih kotak obat yang tersimpan di sana.
Tangan yang bahkan kian melemah membuat kotak obat tersebut terjatuh dilantai, hingga membuat Zea yang tertidur di atas kasur sana terjaga.
Zea lekas bangun lalu segera menekan saklar lampu, seketika membuat kamar terang benderang.
"Chim chim!" Seru Zea panik dan langsung mendekat pada Rakes.
"Zea...!" Ujar Rakes yang mencoba menyembunyikan lukanya.
Sejenak memerhatikan darah yang menetes di sepanjang lantai, lalu dengan cepat tangan Zea langsung memeriksa tubuh Rakes. Tangan Zea terhenti saat ia menyentuh perut Rakes yang berlumuran darah.
"Hanya luka ringan, kembalilah tidur! abang akan mengobatinya." Jelas Rakes .
"Diam!" Bentak Zea yang terlihat marah sekaligus ketakutan.
Air mata yang menetes dengan sendirinya membuat keadaan Zea semakin terlihat kacau.
Tanpa panduan, Zea langsung menyeret tubuh Rakes untuk bersandar di dinding, lalu ia kembali mengambil semua peralatan pengobatan yang tadinya berantakan di lantai karena ulah Rakes.
Perlahan Zea membuka kemeja Rakes, hingga luka yang agak memanjang itu terlihat jelas.
"Abang bisa melakukannya sendiri." Jelas Rakes yang sejenak menggenggam tangan Zea yang sedang gemetar.
"Jangan menangis, abang baik-baik saja!" Lanjut Rakes yang berusaha memamerkan senyuman manisnya.
"Chim chim!" Ujar Zea dengan tangis yang kian terisak.
"Ambilkan alkohol dan kapas!" Pinta Rakes.
Dengan cepat Zea langsung menyerahkan kedua benda tersebut pada Rakes.
Rakes terlihat begitu telaten mengurus dirinya sendiri, setelah ia membersihkan luka tersebut, tangannya langsung mengambil jarum serta benang, kini ia sudah bersiap untuk menjahit luka tersebut.
Jahitan pertama sukses membuatku Rakes merengkuh kesakitan, jarum dan gunting terjatuh dari tangannga, ia bahkan menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan rasa perih di bagian perut sana. Melihat keadaan Rakes, membuat Zea dengan cepat langsung merangkul bahu Rakes, dengan lembut Zea mengecup sang suami.
"Abang sudah terbiasa dengan keadaan ini, abang baik-baik saja!" Ungkap Rakes yang terus memperlihatkan bahwa ia memang baik-baik saja.
"Sekarang Chim chim nggak sendiri, maka Chim chim harus berbagi, luka pun harus dibagi, kita akan melewatinya bersama." Jelas Zea lalu kembali mencium Rakes.
Rakes tersenyum, lalu kembali melanjutkan aksinya, setelah jahitan ke empat, Rakes langsung membalut lukanya.
"Apa masih sakit?" Tanya Zea sembari terus merapikan peralatan yang tadi Rakes gunakan untuk mengobati lukanya.
"Hmmmmm!" Ujar Rakes dengan tangan yang menyentuh lembut tangan Zea.
Sikap Rakes membuat Zea menghentikan aktivitasnya.
"Bantu abang untuk berbaring!" Pinta Rakes.
"Ayo!"
Zea langsung membantu Rakes untuk bangun lalu berjalan menuju tempat tidur, Zea langsung membaringkan tubuh Rakes di atas kasur.
"Bagaimana keadaan Marvel dan Rafeal?" Tanya Rakes setelah berbaring.
"Tangan Rafeal hanya sedikit terluka, dokter sudah memberinya obat, satu dua hari juga bakal sembuh, sedangkan abang Marvel harus di rawat inap, bagian lukanya harus menerima sepuluh kali jahitan, tapi keadaannya sudah membaik, tidak ada yang harus di khawatirkan." Jelas Zea.
"Apa mereka masih di rumah sakit? Kamu pulang sama siapa?"
"Syukurlah, ayo sini ikut rebahan!" Ujar Rakes sambil mengusap bagian kasur di sebelahnya.
Zea langsung memenuhi perintah Rakes.
"Tidurlah!" Pinta Rakes.
"Chim chim"
"Hmmmmmm"
"Sebenarnya apa yang aku tidak tau?"
"Jangan memikirkan hal yang tak harus dipikirkan! abang, Rafeal dan juga Marvel, inilah resiko dari pekerjaan kami, sekeras apapun kamu memikirkannya, terluka tetap menjadi bagian dari pekerjaan kami."
"Tapi aku kan yang menjadi alasan abang mengambil keputusan untuk berada dalam dunia penuh bahaya ini?"
"Zea, apapun itu, tidak peduli bahaya, kekacauan, petaka abang sama sekali tidak peduli, karena tujuan hidup abang adalah melindungi mu. Jika kamu aman, abang bahkan rela membayarnya dengan nyawa abang sekalipun." Jelas Rakes yang mulai mengusap lembut wajah Zea.
"Aku pun akan melakukan hal yang sama, aku juga akan melindungi abang dengan segenap kekuatan yang aku miliki!" Tegas Zea lalu mengecup lembut kening Rakes.
"Serius?" Tanya Rakes dengan memainkan kedua alisnya.
"Jadi Chim chim pikir aku becanda?"
"Oke, abang ingin melihatnya sekarang!"
"Siap! apa yang abang ingin aku lakukan?"
"Tidurlah, tidur dengan terus memeluk erat tubuh abang, jangan biarkan sesiapapun meluluhkan kesetiaan kita, selamanya kamu dan abang akan bersama, selamanya." Jelas Rakes.
Zea segera memeluk kotak-kotak kekar Rakes dengan tangannya lalu membawa wajahnya mendekat pada bagian leher Rakes.
"Selamat malam My Chim chim!" Ujar Zea lalu mengecup kilas bagian leher Sang suami dan lekas memejamkan matanya.
"Selamat malam Jannati, My Princess tercinta!" Ujar Rakes lalu mengecup lembut kening Zea.
Keduanya tertidur lelap, sejenak melupakan semua kekacauan yang kerap kali mendatangi mereka.
__________________
"Istirahatlah!" Jelas Delia.
Tangan Delia dengan lembut mengusap bahu Rafeal yang sedari tadi masih sibuk dengan ponselnya.
"Tante..." Ujar Rafeal ketika Delia duduk di sebelahnya.
"Mami, panggil mami! Rafeal, terima kasih karena sudah begitu peduli pada Marvel, kamu adalah sahabat terbaiknya, bukan cuma memberinya perlindungan kamu bahkan mengorbankan perasaanmu untuk menjaga perasaannya, terima kasih sayang!" Jelas Delia.
"Tante eh Mami, semua yang aku lakukan bahkan tidak sebanding dengan apa yang ia korbankan untuk aku dan juga keluarga ku! aku yang harusnya berterima kasih pada mami, karena mami mengizinkan anak lelaki tante satu satunya berteman dengan anak seorang penipu seperti aku." Jelas Rafeal.
"Kenapa harus mencampur adukkan perilaku anak dan orang tua, Mami tau kamu tumbuh dengan baik. Sekarang istirahatlah! sudah tengah malam kamu juga harus menjaga kesehatan mu, besok di lanjutkan lagi kerjanya." Jelas Delia.
"Hmmmm, mami juga istirahat." Ujar Rafeal.
"Iya sayang!" Ujar Delia dan lekas kembali mendekati ranjang di mata Marvel terlelap dengan infus yang masih terpasang di tangannya.
"Marvel, terima kasih karena sudah bertahan. Kamu harus tetap hidup, karena jika kamu pergi akan banyak hati yang terluka, kamu beruntung hidup dengan orang-orang yang begitu menyayangi kamu, jika pun ada yang harus pergi diantara kita maka akulah orangnya karena hanya dengan begitu akan banyak hati yang akan terjaga. Aku akan terus menjaga kalian berdua, Marvel, Rakes, terima kasih karena telah menjadikan aku bagian dari hidup kalian berdua, bahkan saat ayah aku membenci dan mengusir ku, kalian malah mengulurkan tangan padaku. Ternyata, beginilah cara kerja dunia saat ini, bahkan terkadang orang asing berfungsi di batas limit keluarga." Ungkap hati Rafeal yang perlahan memejamkan matanya sembari merebahkan kepala di sandaran sofa yang ada di ruang VIP tempat dimana Marvel di rawat.
๐๐๐๐๐๐๐
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE๐๐
Stay terus sama My Princess๐๐๐
KaMsaHamidaโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธ