
Marvel segera keluar dari kamarnya setelah memastikan bahwa Zea telah benar-benar pergi dari rumah tersebut. Marvel terus melangkah menuju dapur.
"Haaah! dasar kejam!" Gumam Marvel dan langsung duduk tepat di hadapan Rakes.
Tangan Marvel langsung meraih gelas kopi yang ada di hadapan Rakes lalu meneguknya sampai habis, lalu menarik piring yang berisi nasi goreng yang sedang Rakes makan.
"Aku lagi makan!" Tegas Rakes yang kembali menarik piring miliknya.
"Aku lapar dari semalam kamu kurung aku di kamar! dasar manusia tidak berpri-ketemanan!" Cetus Marvel dan merampas kembali piring tersebut.
"Belum pun dua puluh empat jam!" Ujar Rakes.
"Benar-benar nggak punya perasaan! lagian kenapa sih kamu begitu takut mempertemukan aku dengan Zea? apa kamu takut Zea bakal kepincut dengan ketampanan dan aura sexy ku ini!"
"Ciiih! mulut ember itu yang jadi masalah terbesar!"
"Makanya jangan terlalu banyak berbohong, ginikan jadinya!"
"Siapa yang bohong coba?"
"Kuliah? kamu udah terlalu tua untuk jadi mahasiswa, kamu menyembunyikan pekerjaan kamu yang sebenarnya, apa itu bukan kebohongan? belum lagi tentang masa lalu kalian, tentang rumah ini, tentang...."
"Benar-benar mulut ember!" Gumam Rakes yang langsung melempar kotak tisu kewajah Marvel.
"Aku paham kalau kamu bohong tentang pekerjaanmu, karena kita bekerja tapi tidak terlihat, kita ada tapi seperti tidak ada, tapi tidak tentang kamu yang menjaganya dua puluh empat jam, sampai kamu memasang chip ditubuhnya dan itu kamu lakukan tanpa sepengetahuan kapten Iqbal dan om Hadi."
"Lalu aku harus bagaimana? aku tidak bisa selalu ada dibelakangnya dua puluh empat jam. Aku tidak bisa membiarkan seorang pun menyentuhnya, kamu paham kan? aku tidak ingin cerita lama terulang kembali!" Jelas Rakes dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.
"Aku tau dia adalah nyawa bagi hidupmu, karena itu aku takut kalau dia justru akan membencimu karena keadaan ini!" Jelas Marvel yang beranjak mendekati Rakes lalu merangkul bahu yang mulai melemah tersebut.
"Hanya dengan begini aku bisa menjaganya dengan baik, aku harap dia bisa mengerti dengan jalan pikiran aku ini."
"Tapi tetap saja, kamu nggak cocok jadi mahasiswa!" Goda Marvel dengan tawa khasnya.
"Bilang aja kalau iri, secara kamu malah jadi pelayan cafe!" Cetus Rakes yang langsung menepis tangan Marvel dari bahunya.
"Aku mau pulang!" Tegas Rakes.
"Jauh-jauh sana! jangan pulang lagi ke rumah ini!" Seru Marvel.
Rakes segera pergi, Marvel melanjutkan kembali sarapan paginya yang sedari tadi tertunda.
"Aku harap kamu akan bahagia Rakes, kamu manusia terbaik yang pernah aku temui, terima kasih karena telah menjadi sahabat aku!" Ungkap Marvel dengan penuh penghayatan.
___________________
Dengan langkah yang bermalas-malasan Roger terus bergabung dengan kedua orang tuanya yang sedang berada di meja makan, Roger mengambil posisi tepat di hadapan Erina.
"Roger, ada apa dengan wajah kamu? sejak kapan kamu jadi tukang berkelahi?" Tanya Erina yang begitu khawatir melihat lebam dan bekas luka di wajah Roger.
"Biarkan saja ma, dia lelaki, lebam sana sini itu wajar!" Jelas Hadi yang masih fokus dengan sarapannya.
"Tapi pa, dia Roger bukan Rakes!" Tegas Erina.
"Lalu kenapa? apa cuma abang Rakes yang boleh berkelahi sedangkan aku tidak?" Tanya Roger.
"Bukan begitu maksud mama, kalau Rakes memang sudah terbiasa, bahkan dia sering pulang dengan luka dan lebam sejak SD, tapi kamu, mama khawatir jika kamu yang terluka, karena kamu...."
"Karena aku tidak bisa bertarung? karena aku tidak sekuat abang Rakes?"
"Roger!" Seru Erina.
"Bukankah pagi ini kamu ada rapat di kantor? pergilah!" Jelas Hadi.
"Aku pamit, assalamualaikum!" Ujar Roger dan langsung meraih jasnya yang tadi ia sangkutkan di sandaran kursi, lalu bergegas meninggalkan ruang makan tersebut.
"Papa pasti taukah apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Erina.
"Roger bukan lagi anak kecil ma, biarkan dia mengurus masalahnya sendiri!"
"Tapi pa..."
"Udah, pembahasan tentang Roger kita sudahi. Papa harus berangkat ke markas sekarang ada hal yang harus diurus." Jelas Hadi yang langsung bangkit dari kursinya.
"Hati-hati!" Pesan Erina setelah mengantarkan sang suami hingga ke pintu depan.
"Assalamualaikum!" Ucap Hadi lalu mengecup lembut kening sang istri.
"Waalaikumsalam!" Jawab Erina bersamaan dengan mencium punggung tangan Hadi.
"Roger semoga kamu baik-baik saja nak, mama khawatir melihat kamu yang seperti tadi. Rakes, kamu udah janji kan sama mama, kalau kamu akan menjaga adik kamu dengan baik. Mama sayang kalian berdua." Ungkap Erina dengan raut wajah penuh harap.
_________________
"Semalam Roger ajak kamu kemana?" Tanya Elsaliani.
"Makan malam!" Jawab Zea yang masih saja melanjutkan latihan tinjunya meski kini Elsaliani berada tepat disebelahnya.
"Uma tau kalian pergi makan malam, tapi yang uma nggak tau dimana kalian makan malam?"
"Di restoran lah uma, nggak mungkin kan di toko bangunan!" Jawab Zea ngasal dan kembali melayangkan tangannya yang hanya mengenakan hand wrap tepat mengenai bagian tengah samsak hingga membuat benda tersebut melayang agak jauh dari posisi asal.
Membuat Elsaliani melangkah mundur menjauhi Zea.
"Zea, uma sedang bicara!" Tegas Elsaliani.
"Iya uma, Zea dengar kok!" Jelas Zea yang melangkah mendekati Elsaliani lalu memeluknya erat.
"Love uma!" Ucap Zea dengan ikuti kecupan lembut di kedua pipi Elsaliani.
"Uma tidak mau kalau sampai anak gadis uma kenapa-napa." Jelas Elsaliani dengan lembut mengusap bahu Zea.
"Uma tenang aja, nggak akan ada yang berani sentuh Zea sedikit pun, anak gadis uma ini kan jago shu shu shu!" Jelas Zea sambil meninju ke sana sini memamerkan keahliannya.
"Apa semalam Roger memperlakukan kamu dengan baik?"
"Pasti dong uma! secara aku ini kan adik kesayangan dia, lagi pula mana berani abang Roger macam-macam sama anak kapten Iqbal dan juga calon kakak iparnya. Udah uma tenang aja, Zea sama abang Roger baik-baik aja, abang Roger tetap abang terbaik bagi Zea. Zea mau lanjut latihan dulu, bey uma." Jelas Zea lalu kembali latihan.
"Makin jago aja nih!" Seru Iqbal dengan pandangan yang terus menatap sosok Zea yang terlihat begitu fokus dengan latihannya. Iqbal terus melangkah mendekati Elsaliani lalus memeluknya dari belakang.
"Pastinya dong, putri kapten Iqbal!" Seru Zea.
"Mas..." Ujar Elsaliani lalu berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Iqbal.
"Miss you sayang!" Bisik Iqbal.
"Mas, ada Zea loh!" Cetus Elsaliani.
"Ada aku juga disini!" Seru Rakes yang berdiri tepat di belakang pasangan suami istri yang lagi kasmaran tersebut.
"Sejak kapan kamu datang?" Tanya Iqbal lalu melepaskan dekapannya dari tubuh Elsaliani.
"Sejak tadi, sebelum om beraksi!" Jelas Rakes.
"Makanya ayah, lihat kiri kanan dong!" Goda Zea.
"Kok jadi kalian yang protes? rumah, rumah sendiri, istri juga milik sendiri terserah dong mau ngapain! atau kalian iri? ayo ngaku!" Jelas Iqbal yang kembali memeluk istri tercinta.
"Lihat aja, secepatnya akan aku buat ayah lebih iri!" Cetus Zea kesal.
"Dasar bocah!" Seru Iqbal
"Mas, jangan buat malu deh!" Seru Elsaliani sambil memukul dada kekar Iqbal dengan tangan kanannya.
"Auw sakit sayang!" Protes Iqbal.
"Ayah sama anak sama aja, sama-sama nggak waras!" Cetus Elsaliani yang akhirnya bisa melepaskan tubuhnya dari dekapan Iqbal.
Elsaliani bergegas pergi, Iqbal segera menyusulnya. Di taman belakang hanya tinggal Zea dan Rakes yang saling menatap dari kejauhan.
"Buat om Iqbal iri?" Ulang Rakes dengan penuh kebingungan.
"Hmmmmm, setelah Chim chim halal buat Zea, tunggu aja aku bakal raba tuh dada kotak setiap menit, terus bakal aku dekap tuh beton kokoh dua puluh empat jam, biar ayah iri dengan keromantisan aku dan Chim chim!" Jelas Zea dengan kedua mata yang mulai menggoda Rakes.
"Benar kata tante El, ayah sama anak sama saja, sama-sama bar-bar!" Cetus Rakes yang segera kabur dari serangan Zea.
"Manisnya! aaah semakin bersemangat aja jiwa menggodaku ini! tenang Zea, hajar terus sampai Chim chim nyerah lalu angkat tangan terus langsung nikahin aku." Gumam Zea lalu tertawa puas.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😉😉
Stay terus sama My Princess 😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️❤️