My Princess

My Princess
#189



~Ntar malam jam satu~ Srigala.


~Yakin????~ Harimau.


~apa ini? jangan membuat aku kebingungan, ada apa? kalian mau kemana?~ Kancil.


~πŸ™„πŸ™„ situ bisa off nggak sih? berisik~ Srigala.


~😀😀😀 jangan mulai deh!~Kancil. ~Udah bocah minggir sana, ini urusan pria dewasa!~ Harimau.


~🀬🀬🀬~ Kancil.


~Kita ketemu di tempat biasa!~ Srigala.


~πŸ‘πŸ‘~ Harimau.


~Aku ikut!~ Kancil.


~🀨🀨 selagi masih ku pantau, buruan off~ Srigala.


~Perintah di tolak😎😎~ Kancil.


~Dasar keras kepala!~ Harimau.


~Aku benar-benar ingin menemui Roger, tolong biarkan aku ikut~ Kancil.


~Cuma ikut?~ Harimau.


~IyaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰~Kancil.


~Oke!~ Srigala.


"Lagi chat sama siap?" Tanya Zea yang baru saja habis dari kamar mandi dan mendapati Rakes yang sedang asyik dengan ponselnya.


Melihat kedatangan Zea dengan spontan Rakes langsung melemparkan ponselnya ke bawah kolom meja, lalu bergegas mendekati Zea sebelum Zea lebih dulu mendatangi dirinya.


"Ayo tidur!" Ajak Rakes yang malah membawa Zea ke ranjang.


"Selagi aku bertanya secara baik-baik, jawablah!" Cetus Zea dengan tatapan dingin dan kembali memutar arah menuju meja Rakes.


"Zea, apa Mikeal nginap di sini?" Rakes kembali mengubah topik pembicaraan.


Tangannya dengan lembut menggenggam tangan Zea lalu membawa sang istri ke dalam pelukannya.


"Apa tadi itu chat dari kak Una, sang mantan abang?" Tanya Zea yang langsung menarik tubuhnya dari pelukan Rakes lalu beralih duduk ke sofa.


"Zea...." Ujar Rakes lalu ikut duduk di sofa.


"Aku tau harta abang nggak akan habis sampai sepuluh turunan, tapi abang nggak perlu kok sampai melempar ponsel abang seperti tadi, aku juga cukup sadar diri." Jelas Zea.


"Tadi itu bukan Una!" Tegas Rakes.


"Siapapun itu aku nggak peduli, aku capek, aku tidur duluan!" Jelas Zea yang kini beranjak ke tempat tidur.


Rakes sama sekali tidak membantah, ia hanya melangkah mengikuti Zea yang kini sudah berbaring di atas kasur.


"Oh ya, soal abang Mikeal, dia baru aja pulang! selamat malam." Ujar Zea lalu memejamkan matanya disaat yang bersamaan ponsel milik Rakes berdering, lagu Bad Liar menggema pertanda satu panggilan masuk.


"Buru gih diangkat, ntar kak Una marah loh!" Jelas Zea yang langsung membalikkan badannya ke arah lain.


Rakes bangun dari duduknya dan langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di kolong meja.


"Siap! perintah dilaksanakan." Jelas Rakes setelah menerima panggilan tersebut lalu kembali mematikannya.


"Pergilah!" Jelas Zea bahkan sebelum tangan Rakes berhasil menyentuh bahu Zea.


"Dari 'Kepala', dia meminta pasukan abang ke kantor sekarang juga." Jelas Rakes.


"Lalu chat yang tadi?" Tanya Zea yang perlahan bangun dan duduk dengan posisi yang langsung menyandarkan kepalanya di dada Rakes.


"Dari group pasukan abang, ada hal yang harus kami urus, dan abang tidak ingin kamu terlibat di dalamnya, abang nggak mau kamu kenapa-kenapa lagi!" Jelas Rakes dengan membelai lembut rambut Zea.


"Jangan ulangi lagi, jangan buat aku curiga, abang cukup bilang apa adanya, aku akan coba untuk memahaminya." Jelas Zea.


"Maafkan abang!" Pinta Rakes.


"Untuk kali ini aku maafkan, tapi jangan pernah ulangi lagi, janji?" Jelas Zea.


"Abang janji!" Ujar Rakes yang mempererat dekapannya.


"Apa abang harus pergi sekarang?"


"Hmmmmm abang masih ada waktu sepuluh menit, kenapa?"


"Sepuluh menit? hmmmmm"


"Mau minta apa?"


"Apa ya......."


"Apa? buruan, ini waktunya terus jalan loh!" Goda Rakes.


"Sini!" Pinta Zea.


Perlahan Zea menarik wajah Rakes lalu memandunya untuk mendekat pada perut buncitnya, alhasil kini telinga Rakes menempel tepat pada perut Zea.


"Berasa sesuatu nggak?" Tanya Zea.


"Nggak sama sekali!" Jawab Rakes.


"Yang benar? tapi berasa loh, apa kuping Chim chim mulai bermasalah ya?" Jelas Zea dengan wajah polosnya yang terlihat begitu kebingungan.


"Maksud Chim chim, aku nih yang bermasalah?" Cetus Zea kesal.


"Zea, Raze Junior yang belum aktif." Jelas Rakes lembut.


"Tapi.... seharusnya....!" Ucapan Zea serba tertahan.


"Berhenti membaca situs-situs yang nggak jelas, mending perbanyak baca Quran, terutama surat Yusuf, biar nanti Raze Junior setampan nabi Yusuf." Jelas Rakes.


"Tunggu...! emang Chim chim tau dari mana kalau Raze Junior itu cowok?"


"Firasat seorang Daddy!"


"Iya kali! serius? beneran?"


"Seratus persen!" Jawab Rakes pasti.


"Syukurlah kalau memang benar?"


"Kenapa? apa Zea kurang suka jika nanti anak kita cewek?"


"Bukan gitu, sebenarnya mau cewek atau cowok nggak masalah yang penting dia foto copynya Chim chim!"


"Sayang...."


"Udah lebih dari sepuluh menit loh, ntar Chim chim telat, sana gih berangkat!" Jelas Zea yang langsung mengecup kening Rakes lalu mengecup lembut punggung tangan Rakes.


"Abang permisi, setelah urusan abang selesai abang akan langsung pulang, kalian istirahat lah!" Jelas Rakes setelah membalas kecupan di kening Zea.


"Hati-hati!" Ujar Zea yang kembali berbaring.


Rakes membenarkan selimut Zea, lalu sejenak mengelus pipi Zea dan lekas pergi.


________________


'Tok, tok, tok, tok" Suara ketukan pintu dari luar membuat Marvel dan Rafeal yang sedang bersiap di kamar Rafeal saling menatap satu sama lain.


"Mau kemana?" Tanya Mariana yang dengan lancang membuka pintu kamar Rafeal.


"Kenapa capek-capek mengetuk pintu jika pada akhirnya kamu malah menerobos masuk!" Cetus Rafeal yang langsung menjauh dari Marvel.


Karena sebelum Mariana menerobos masuk, Marvel sedang membantu Rafeal mengenakan bajunya.


"Kalian membuat ku cemburu?" Cetus Mariana yang mempercepat langkahnya mendekati Rafeal.


"Eh eh eh! jangan macam-macam!" Cetus Marvel yang langsung menarik tangan Mariana yang hendak menyentuh baju Rafeal.


"Bilang aja kalau situ cemburu!" Cetus Rafeal yang sontak membuat Mariana dan Marvel saling memandang.


"Hah! sejak kapan kamu suka di pegang sama Ana?" Tanya Marvel penasaran.


"Iya nih, apa kamu mulai waras? aaaah aku tau, kamu pasti mulai tergoda dengan kecantikan ku yang membahana ini kan?" Goda Mariana yang bahkan dengan spontan langsung mencuil hidung Rafeal.


"Jangan salah paham!" Cetus Rafeal yang mundur beberapa langkah menjauh dari Mariana.


"Sepertinya mulai besok kalian tidak bisa lagi tinggal dalam satu atap!" Jelas Marvel.


"Abang nggak usah menggila ya! jangan buat keputusan sepihak, orang Mami sama papi aja nggak masalah, kalau abang cemburu udah boyong aja Kania ke sini!" Jelas Mariana yang kini beralih duduk ke sofa.


"Kalian mulai meresahkan! harus di awasi dengan ketat!" Jelas Marvel.


"Kamu pikir aku cowok apaan! buruan gih, jangan sampai tuh Srigala ngamuk karena kita telat!" Jelas Rafeal yang langsung lari keluar dari kamar tersebut.


"Ana, abang belum selesai sama kamu. Besok kita lanjutkan lagi, abang pergi!' Jelas Marvel.


"Abang jangan coba-coba menghasut papi sama mami ya, awas aja, aku bakal buat Kania ninggalin abang kalau abang macam-macam!" Cetus Mariana.


"Jangan mengajak abang membuat kesepakatan, abang pergi!" Jelas Marvel lalu mengusap pelan rambut Mariana dan lekas pergi.


"Hati-hati abang terbaik ku!" Ucap Mariana pelan dengan senyuman bahagia.


__________________


"Siaaaaaaaaal!" Gumam Rakes penuh amarah saat ketiganya berada di kamar asrama mereka, sesaat setalah menghadap sang Kepala.


"Tenanglah dulu!" Pinta Marvel yang mencoba menenangkan Rakes yang terlihat begitu di penuhi amarah.


"Aku yakin, pasti seseorang dengan sengaja membuat laporan pada Kepala, dan pastinya orang yang melakukannya adalah orang yang dekat dengan kita!" Jelas Rafeal yang terus saja kepikiran dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh atasan mereka.


"Sepertinya kita harus melakukan misi secara tersembunyi, hanya kita bertiga!" Usul Rakes.


"Kita pikirkan itu besok, sekarang lebih baik kita temui Roger, sebelum yang lainnya lebih dulu menemukannya!" Jelas Marvel.


"Ayo gerak!" Ajak Rafeal.


Langkah ketiganya seketika terhenti saat sosok Jordan Muchtar berdiri diambang pintu kamar mereka.


"Tuan Jordan!" Ujar Rakes dengan tatapan maut yang seakan siap menerkam Jordan hidup-hidup.


Melihat Rakes yang mulai tak terkendali membuat Rafeal dan Marvel menggenggam tangan Rakes, keduanya mencoba untuk menenangkan Rakes yang memang berdiri tepat di tengah-tengah keduanya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ