
*Dua Bulan Kemudian*
Di depan meja rias sana, Mariana masih duduk dengan mata yang terus saja menatap pantulan dirinya yang ada di cermin, sesekali matanya beralih menatap kedua tangannya yang dipenuhi inai berwarna putih.
"Akhirnya hari ini datang juga, apa ini akhir dari perjuangan cinta ku? atau mungkin permulaan bagi cinta ku? bagai mimpi rasanya bisa memiliki Rafeal, semoga semua ini adalah yang terbaik untuk semuanya!" Ungkap Mariana dengan tetesan air mata.
Sebuah tangan dengan lembut menyodorkan selembar tisu pada Mariana.
"Apa kamu ingin membuat riasan wajah mu luntur?" Tanya Marvel yang langsung mengusap air mata Mariana karena Mariana sama sekali tidak mengambil tisu pemberiannya.
"Abang..." Ujar Mariana dan langsung memeluk erat tubuh Marvel.
"Selamat bahagia adik ku tersayang!" Ucap Marvel lalu mengecup kening sang adik semata wayang.
"Selamat bahagia juga malaikat pelindung ku, abang terbaik sejagad raya." Ujar Mariana lalu balas mengecup lembut kening sang abang.
"Terima kasih Ana, terima kasih karena sudah memilih Rafeal sebagai pengganti abang untuk melindungi mu, abang percaya kalau Rafeal akan menjaga mu dengan sangat baik." Jelas Marvel.
"Harusnya aku yang berterima kasih karena abang sudah mempertemukan aku dengan Rafeal." Jelas Mariana.
"Sayang...." Panggil Aryani yang perlahan masuk mendekati kedua anak tersayangnya.
"Mami...." Ujar Mariana dan Marvel hampir bersamaan lalu segera memeluk erat sang mami tercinta.
"Selamat bahagia sayang! Marvel, jagalah Kania dengan baik, bahagiakan dia dengan segenap jiwamu, jangan pernah lukai hatinya, dia adalah gadis yang baik, jika sedikit saja kamu melukai perasaannya maka mami tidak akan pernah memaafkan mu!" Jelas Aryani.
"Aku janji mi, aku akan menjaga menantu mami dengan sangat baik!" Jelas Marvel.
"Dan kamu Ana, jangan pernah mencoba untuk melukai Rafeal, jangan pernah bersikap kasar padanya, karena jika kamu berani menyakiti Rafeal maka mami akan mencabut semua aset yang kamu miliki, tanpa terkecuali, termasuk Rafeal, mami akan mengambilnya darimu!" Jelas Aryani.
"Mami tenang aja, aku akan jaga putra kesayangan mami dengan sangat baik, karena aku sangat mencintainya, mi." Jelas Mariana.
"Mami tenang aja, jika dia macam-macam, aku yang akan merebut paksa Rafeal darinya." Jelas Marvel.
"Aku juga akan merampas Kania jika abang berani melukainya, aku akan cincang-cincang tubuh abang lalu aku jadikan santapan ikan di lautan!" Jelas Mariana.
"Dasar...." Cetus Marvel lalu mengusap lembut bahu Mariana.
"Udah-udah! ayo berangkat, yang lain pasti sudah menunggu kedatangan kita, ayo sayang!" Ajak Aryani.
"Ayo mi!" Ujar Mariana penuh semangat dan langsung menggandeng tangan Aryani.
"Ayo!" Ujar Marvel yang ikut mengandeng tangan Aryani yang sebelahnya lagi, dan ketiganya lekas keluar dari kamar tersebut.
__________________
"Khmmmmm! boleh abang masuk?" Tanya Rafeal yang masih berdiri diambang pintu sana.
"Abang Rafeal, masuklah!" Ujar Kania lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Tetaplah di sana, biar abang yang datang pada mu!" Jelas Rafeal lalu perlahan melangkah mendekati Kania yang telah kembali duduk di sofa sana.
"Apa sudah waktunya kita berangkat?" Tanya Kania.
"Om dan tante masih siap-siap, Kania..."
"Iya, kenapa?"
"Kamu cantik, benar-benar sempurna!" Puji Rafeal.
"Abang juga tampan, sangat tampan!" Jelas Kania dengan senyuman lebar.
"Kania..."
"Hmmmmm!"
"Selamat bahagia, selamat menjadi seorang istri dan semoga kalian berdua selalu bahagia."
"Abang juga, semoga abang dan kak Ana bahagia, bukan hanya di dunia, tapi hingga ke akhirat kelak, selamat menjadi seorang suami!" Jelas Kania lalu mengulurkan tangan kearah Rafeal.
"Iyah, kamu juga, selamat menjadi istri!" Ujar Rafeal yang langsung menjabat tangan Kania.
"Sebelum kita berangkat, bolehkah aku meminta sesuatu sama abang?" Tanya Kania dengan tatapan yang begitu serius.
"Tentu! katakanlah!"
"Bolehkah aku memeluk abang untuk yang terakhir kalinya?" Tanya Kania.
"Kania..." Ujar Rafeal yang terlihat begitu kebingungan dan juga canggung.
"Jangan salah paham, aku hanya ingin melakukannya sebagai ucapan terima kasih atas semua kebaikan abang selama ini, terima kasih karena diam-diam telah menjaga aku dengan begitu baik, terima kasih karena sudah mencintai aku dengan begitu tulus dan juga terima kasih karena selalu ada untuk aku meski tanpa aku tau. Dan juga, maaf karena aku berulang kali menyakiti perasaan abang, maafkan aku!" Jelas Kania.
Tanpa jawaban sepatah kata pun, Rafeal langsung membawa tubuh Kania ke dalam dekapannya. Perlahan tangan Rafeal mulai mengusap lembut kepala Kania yang terbungkus indah dengan jilbab putih.
"Berbahagialah dengan orang yang begitu kamu cintai dengan begitu abang juga akan bahagia. Kania, Marvel adalah lelaki yang sangat baik, kamu beruntung karena bisa dicintai olehnya." Jelas Rafeal yang bahkan mengecup pucuk kepala Kania.
"Hmmm, abang juga beruntung karena mendapatkan cinta dari gadis sebaik kak Ana..." Ujar Kania yang kian mempererat dekapannya.
"Rafeal, Kania, ayo berangkat!" Teriak Hendra dari luar sana.
"Iya pa..." Jawab Kania yang langsung melepaskan pelukannya dan lekas keluar dari kamarnya.
Disusul oleh Rafeal yang juga ikut keluar.
"Kalian sudah siap kan?" Tanya Angel.
"Iya tante!" Jawab Rafeal.
"Ayo!" Ajak Hendra.
"Ayo!" Ujar Rafeal dan Kania hampir bersamaan dan mereka pun bergegas ke tempat tujuan.
_______________
Elsaliani bahkan terus saja mondar mandir sejak tadi, sambil terus menatap kearah tangga berharap sang anak, menantu dan cucunya segera turun.
"Sayang, ayo duduk sini, kita masih punya banyak waktu, kamu tenang dan kita tunggu mereka siap!" Jelas Iqbal yang terlihat begitu santai di sofa sana.
"Mas, bagaimana El bisa tenang, mas tau sendiri kan bagaimana Zea? biar El ke kamar mereka." Jelas Elsaliani.
"Sayang...." Panggil Iqbal yang langsung mencegah Elsaliani.
Tangan Iqbal menggenggam lengan kanan Elsaliani lalu membawanya untuk ikut dirinya ke sofa.
"Mas....!" Keluh Elsaliani.
"Biarkan mereka mandiri, mas tau sayang khawatir, tapi biarkan mereka mengurusnya sendiri, hmmmm?" Jelas Iqbal.
"Siapa yang mengurus siapa? mas juga tau kan apa yang selama ini terjadi? Rakes yang mengurus semuanya, bukan hanya si kembar tapi Zea juga!" Jelas Elsaliani.
"Sayang, Rakes tau apa yang harus dia lakukan, sayang percaya kan sama Rakes?"
"Bukannya El nggak percaya sama Rakes, tapi El nggak mau......"
"Sssssst, tenang lah, mereka akan segera turun kok!" Jelas Iqbal lalu mengusap lembut kedua bahu Elsaliani, hingga akhirnya Elsaliani luluh dan mau mendengarkan semua penjelasan Iqbal.
_______________
"Abang...." Panggil Zea.
"Hmmmm!" Jawab Rakes yang masih sibuk memakaikan baju Uzun.
"Abang tolong!" Pinta Zea yang kini berdiri tepat di samping Rakes.
"Sebentar!" Pinta Rakes yang masih sibuk dengan Uzun.
"Huuuf, abang..." Seru Zea saat tangan Azan menarik bagian bajunya yang terkibas kearah Azan.
"Sayang, jangan dong!" Pinta Rakes yang kini beralih pada Azan.
"Azan lepas, ntar baju mommy koyak loh sayang." Jelas Zea yang berusaha membuat Azan melepaskan cengkramannya dari bajunya.
"Azan, lepas sayang!" Pinta Rakes pelan.
Azan tertawa puas lalu perlahan melonggarkan cengkramannya dan akhirnya melepaskannya.
"Terima kasih Azan sayang!" Ujar Zea lalu mengecup pipi Azan.
"Udah siap?" Tanya Rakes.
"Tolong!" Jelas Zea sambil memperlihatkan resleting belakang bajunya.
"Sebentar abang pakaikan kaos kaki Uzun dulu!"
"Biar aku yang pakaikan!" Jelas Zea yang langsung ambil alih.
Zea segera berbalik lalu memakaikan kaos kaki Uzun dan Rakes langsung membatu Zea.
"Udah!"
"Aku juga, iya kan Uzun? ayo kita berangkat!" Jelas Zea yang juga sudah selesai memakaikan sepatu Uzun.
"Ayo!" Ajak Rakes yang langsung membawa Azan ke dalam gendongannya lalu mengambil tas Zea.
Sedangkan Zea menggendong Uzun lalu keempatnya segera keluar dari kamar dan bergegas menuruni tangga.
"Kalian udah siap?" Tanya Iqbal lalu bangkit dari duduknya.
"Udah ayah, ayo kita berangkat?" Jelas Zea.
"Yakin udah siap? nggak ada yang lupa atau tertinggal?" Tanya Elsaliani.
"Udah semua uma, semua keperluan Azan dan Uzun udah di dalam tas semua!" Jelas Rakes.
"Yakin?" Tanya Iqbal memastikan.
"Iya!" Jawab Rakes.
"Kamu yakin mau ke acara nikahnya Rafeal dan Marvel dengan memakai handuk?" Tanya Iqbal.
"Handuk??" Ulang Rakes yang langsung menatap pada dirinya. Ya, dia hanya mengenakan kemeja dengan handuk yang masih melekat di pinggangnya.
"Sini Azan sama uma!" Ujar Elsaliani yang langsung mengambil alih Azan dari Rakes.
"Aku akan segera kembali!" Jelas Rakes yang segera berlari kembali ke kamar.
"Karena ngurusin cucu-cucu dan anak uma, dia justru lupa mengurus dirinya sendiri." Jelas Elsaliani yang langsung mengambil Uzun dari Zea.
"Tunggu apa lagi, sana tanggung jawab!" Jelas Iqbal.
"Hmmmmm, baiklah!" Jelas Zea dan segera menyusul Rakes ke kamar.
"Kami tunggu di mobil, ayo sayang!" Jelas Iqbal.
"Ayo mas!" Ujar Elsaliani.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ