My Princess

My Princess
#033



"Abang hanya takut kalau kamu nggak akan pulang." Jelas Rakes yang bergerak menjauh dari Zea.


Rakes mencoba duduk menjauh ke ujung sofa, membuat jarak diantara ia dan Zea. Zea hanya menatap bagian sofa yang kosong diantara mereka.


"Apapun yang terjadi aku hanya milik Chim chim!" Tegas Zea yang langsung membuat Rakes menatap intens wajah Zea.


"Jika berhasil tak dipuji, jika gagal dicaci maki, jika hilang tak di cari, jika mati tak diakui." Jelas Rakes dengan suara parau dan mata yang masih menatap dalam kedua bola mata bening milik Zea.


"Apa ini hasil cerita yang sedari sembilan jam yang lalu Chim chim karang?"


"Itulah abang! selama ini abang terlalu banyak membuat kebohongan hingga abang sendiri bingung memilah mana yang benar mana yang bohong belaka. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, abang tidak pernah berbohong tentang rasa cinta dan sayang abang untuk kamu."


"Kenapa begitu membingungkan? tetaplah berbohong, aku tidak bisa mengerti dengan apapun yang baru saja Chim chim bicarakan! tetaplah seperti biasa."


"Zea, pada akhirnya kamu juga akan tau semuanya, namun biarkan semua ini berjalan seadanya, abang akan ceritakan semuanya satu persatu, di mulai dari siapa abang sebenarnya. Abang bukanlah mahasiswa sebagaimana yang kamu ketahui."


"Lalu? apa Chim chim pengangguran?"


"Bukankah tadi sudah abang katakan?"


"Yang mana?"


"Jika berhasil tak dipuji, jika gagal dicaci maki, jika hilang tak di cari, jika mati tak diakui. Itu lah selogan yang menggambarkan siapa sebenarnya abang." Ulang Rakes kali ini dengan ucapan yang begitu pelan dan tegas.


"Jadi Chim chim sama seperti ayah? seorang prajurit negara?"


"Bukan Zea!"


"Polisi? jadi Chim chim partner kerjanya tante Angel?"


"Zea, dengarkan abang baik-baik, Selain mama, papa, tante El, om Iqbal dan pasukannya tidak ada yang tau siapa abang sebenarnya. Tolong rahasia semuanya untuk abang, abang adalah seorang Intelijen negara, yang bahkan harus menyembunyikan semua indentitasnya dengan dapat bahkan di hadapan para keluarga sendiri.


Penjelasan Rakes sontak membuat Zea tertawa terpingkal-pingkal, dia benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.


"Konyol, kalaupun abang mau bohong jangan keterlaluan seperti ini. Aku tau abang bingung mau menjelaskan semua ini, tapi paling tidak cerita lah hal yang masuk akal."


"Zea, abang serius!" Tegas Rakes.


Rakes bangkit dari duduknya, melepaskan enam pisau tajam yang ada di sisi kedua kakinya, diikuti dengan dua unit pistol yang ada di pinggangnya, lalu sebuah chip dari telinganya, sebuah bom rakitan dari ranselnya dan terakhir ia bahkan membuka kotak yang sedari tadi ia bawa hingga terlihatlah sebuah senjata dengan ukuran yang cukup membuat Zea terkejut, semua barang-barang tersebut sengaja Rakes letakkan di atas sofa di samping Zea.


"Ini semua milik abang!" Jelas Rakes.


"Aku tau! tapi aku tidak pernah menyangka kalau Chim chim akan secepat ini mengatakan semuanya padaku." Jelas Zea dengan nada yang begitu serius, jika sesaat tadi ia tertawa kini wajahnya bahkan terlihat begitu tegas.


"Zea....!"


"Aku pernah beberapa kali melihat Chim chim pergi tengah malam, pulang dengan beberapa luka dan lebam, semua itu sudah cukup membuat aku gila memikirkannya. Apa Chim chim tau, setiap kali aku melihat Chim chim pergi, hati ini tidak pernah bisa tenang sebelum memastikan Chim chim kembali dengan selamat. Aku ketakutan jika sewaktu-waktu Chim chim tak kembali lagi, aku takut Chim chim pergi untuk selamanya tanpa melakukan perpisahan dengan cara yang manis." Jelas Zea dengan tetesan air mata.


"Sejak kapan kamu tau semuanya?"


"Sejak aku jatuh cinta sama Chim chim, segala hal tentang Chim chim aku tau semuanya, aku hanya ingin menunggu sampai Chim chim nyaman dan menceritakan semuanya tanpa beban dan paksaan."


"Maafkan abang!"


"Kenapa minta maaf? tidak peduli siapa abang sebenarnya, aku akan tetap mencintai abang hingga selamanya." Jelas Zea.


"Apa kamu juga tau tentang chip yang abang pasang?"


"Yang ini?" Tanya Zea dengan telunjuk yang langsung mengarah pada kaki kirinya.


"Terima kasih karena telah menjaga aku dengan begitu baik, bahkan saat aku tertidur pun abang masih menjaga aku dengan penuh perhatian. Terima kasih karena mencintai ku dengan cinta yang begitu besar."


"Apa lagi yang kamu tau?"


"Zea!"


"Kenapa memilih pekerjaan yang begitu menyeramkan?


"Tidak tau! hanya saja ini semua membuat abang bisa menjagamu dengan lebih baik!" Jelas Rakes lalu melangkah mendekati Zea.


"Om Iqbal memiliki musuh yang begitu banyak dan tersebar dimana-mana, mereka bisa mencelakai kamu dan tante El kapan saja dan dimana saja, dengan menjadi Intel itu akan mempermudah abang menjangkau mereka semua. Dengan menjadi Intel abang bisa mendapatkan akses tanpa batas tentang semua pengacau, mafia, ******* dan semua organisasi hitam yang dapat merugikan negara, dengan begitu abang bisa meminimalkan musuh om Iqbal."


Dengan tatapan teduh nan lembut, Zea bergerak menghapus jarak yang masih terbentang dua langkah dari posisi Rakes, kini tidak ada lagi ruang jarak diantara keduanya, perlahan tangan kanan Zea bergerak menyentuh topi Rakes lalu sedikit membenarkan posisinya membuat wajah Rakes semakin tertutup.


"Jangan pernah biarkan para target mengenali Chim chim, jangan biarkan tangan-tangan kotor itu menyentuh tubuh Chim chim, teruslah menjadi benteng kokoh yang takkan roboh meski dihantam ribuan pisau dan peluru. Dan segeralah menjadi lelaki yang tidak lagi harus menjaga jarak dari aku!" Jelas Zea lalu dengan nakal mencuil hidung mancung Rakes.


"Zea!" Gumam Rakes yang melangkah mundur.


"Kenapa?"


"Tadi udah nyerang dengan pelukan, sekarang mulai nyentuh, sebentar lagi apa yang akan kamu lakukan? abang harus pergi sekarang sebelum otak mesum mu kembali beraksi!" Jelas Rakes yang segera mengambil semua peralatan tempur miliknya.


"Baru juga tangan aku yang gerak, gimana kalau bibir?" Tanya Zea yang langsung mendorong tubuh Rakes hingga terjatuh di sofa.


"Benar-benar!" Gumam Rakes dan segera bangun namun Zea kembali menghadang.


Zea menatap horor Rakes mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala lalu kedua tangannya langsung beraksi mencoba menyentuh dada kekar Rakes.


"Sedikit aja!" Pinta Zea dengan mengedipkan mata kanannya.


"Apa abang juga harus menggila untuk menghadapi kegilaan mu?" Tanya Rakes yang sontak menarik tubuh Zea dan menghempasnya ke sofa.


"Gimana? masih mau lanjut?" Tanya Rakes yang bergerak mengikis jarak.


"Wooooow! tidak sia-sia perjuanganku selama ini, akhirnya Chim chim pandai juga!"


"Mau memulainya dari mana?" Tanya Rakes lalu menggerakkan tangannya hendak menyentuh wajah Zea membuat Zea seketika memejamkan matanya.


"Sepertinya abang harus mempercepat pernikahan kita, sebelum abang benar-benar kamu buat lepas kendali. Bagaimana kalau tiga bulan lagi?" Tanya Rakes yang beralih kembali mengambil semua senjatanya.


"Benarkah? Ayo!" Seru Zea girang.


"Dasar mesum!" Gumam Rakes lalu menjitak kening Zea hingga membuat punggung Zea kembali tersandar di sandaran sofa.


Setelah siap dengan semua barang miliknya Rakes sejenak kembali menatap Zea yang masih meringis kesakitan sambil mengusap dahinya.


"Berhenti balapan liar, belajar yang rajin, jika kamu bisa lulus dengan nilai tertinggi, abang akan langsung menikahi mu!" Jelas Rakes.


"Benarkah? abang tidak sedang bercanda kan? deal! lihat aja, aku bakal dapat nilai paling tinggi dan bersiaplah dengan janji yang baru saja Chim chim buat!"


"Oke Deal!" Seru Rakes.


"Oke, Zea! kamu pasti bisa membuat keajaiban, semua ini demi dada kotak-kotak, dinding beton, dan juga bibir sexi nan merah itu! lihat saja, aku bakal mengambil semua milik aku yang begitu menggoda keimanan setiap hawa yang melihatnya" Jelas Zea dengan senyuman devil nya.


Rakes segera melarikan diri dari gadis yang semakin membuat bulu kuduknya merinding.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya😉😉


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️