
Roger yang baru saja turun dari mobilnya langsung bergegas berlari menuju pintu rumahnya. Dengan tangan yang gemetaran ia buru-buru membuka pintu lalu segera masuk dan langsung menutup pintu kembali, ia terus melangkah menelusuri setiap ruangan hingga ia sampai tepat di depan pintu kamarnya.
"Apa dia baik-baik saja? apa yang harus aku lakukan? bagaimana kalau om Iqbal dan papa tau semuanya, tidak, tidak.... untuk sementara sebaiknya aku pergi, yah aku harus menghilang untuk sementara waktu, sampai keadaan ini aman." Jelas Roger pada dirinya sendiri.
Roger beranjak dari depan pintu kamarnya ia kini berlari menuju ruang kerjanya yang ada di lantai atas.
Setelah menutup pintu kembali, Roger segera menuju mejanya lalu terus membongkar semua laci, ia terus saja mencari sesuatu di laci sana.
"Queen maafkan aku! aaah aku hampir lupa, bocah itu nggak kenapa-napa kan? apa aku terlalu kasar merobek jahitan lukanya, haissssss sial!" Umpat Roger saat kembali mengingat kejadian tadi.
"Sudah ku duga, ternyata benar kamu yang membuat luka Rafeal kembali berdarah? bajingan!" Gumam Marvel yang duduk santai di atas sofa.
Dengan spontan tangan Marvel melempar vas yang ada di atas meja tepat mengenai bahu kanan Roger.
"Haiiiiiissss!" Gumam Roger lalu segera bergerak menuju jendela.
Tangan Roger langsung menarik jendela, ia hendak meloncat namun seseorang muncul dari balik jendela.
Dengan kasar tangan Rakes mengcengkaram leher Roger hingga membuat sang empunya susah untuk bernafas. Rakes yang muncul dari balik jendela langsung mendorong tubuh Roger kembali kedalam ruangan bersamaan dengan kakinya yang ikut mendarat di lantai ruangan tersebut.
"Apa ini yang kamu cari?" Tanya Rakes sambil memamerkan paspor milik Roger yang ada di tangannya.
"Abang.....!" Ujar Roger lalu berusaha untuk kembali berdiri tegak.
"Abang? kamu yakin aku ini abang mu?" Tanya Rakes dengan tatapan horornya.
"Fadhil, kamu berkerja sama dengan Fadhil, iya kan?" Tanya Marvel yang kini beranjak bangun dari sofa lalu mendekati Rakes dan Roger.
"Apa yang kalian inginkan? abang, aku adik kamu, aku juga anak seorang tentara, kalau kalian terus menyerang aku, maka aku tidak ada pilihan lain, aku akan memasukkan kalian ke dalam penjara." Jelas Roger.
"Abang? jika memang aku ini abang mu lalu kenapa kamu terus saja merebut semuanya dari aku, aku sudah melepaskan semuanya tapi kenapa belum juga cukup, kenapa masih merampas istri dan anak ku? Kenapa?" Gumam Rakes penuh amarah dengan tinju yang mendarat sempurna tepat pada dinding berjarak hanya beberapa centi dari wajah Roger.
"Sejak awal aku sudah mengingatkan mu, jangan sentuh milikku sedikit pun, tapi lihat apa yang kamu lakukan? kamu malah melukai mereka berdua, maka jangan salahkan aku jika aku terpaksa melakukannya!" Jelas Marvel yang langsung menarik kasar tubuh Roger.
Dengan tangan kekarnya Marvel terus mencengkram leher Roger dengan posisi punggung Roger yang menempel pada dinding.
"Abang, tolong aku, lakukan sesuatu, jangan biarkan monster ini membunuh ku, aku adik mu!" Jelas Roger dengan suara yang tertahan dan mata yang memerah karena menahan rasa sakit yang membuat lehernya tidak bisa ia gerakkan sama sekali.
"Adik? adik aku sudah lama menghilang, kamu bukan Roger yang dulu, aku sudah tidak mengenal kamu lagi!" Jelas Rakes yang duduk manis di atas meja kerjanya Roger, ia hanya tersenyum melihat adegan yang ada tepat di depan matanya.
Roger yang seolah kehabisan tenaga untuk melawan serta nafas yang tertahan akhirnya tak sadarkan diri, Marvel melepaskan cengkeramannya hingga membuat tubuh Roger terkulai lemas di atas lantai.
"Apa dia pingsang?" Tanya Rakes yang begitu khawatir dan langsung mendekati tubuh Roger yang telah pingsan.
"Aku rasa dia benar-benar pingsan." Jelas Marvel setelah memeriksa detak nadi Roger.
"Baguslah!" Ujar Rakes lega lalu terduduk lemah dengan punggung yang tersandar pada dinding.
"Aku rasa Roger tidak bisa mengendalikan obsesinya terhadap Zea, ia tidak lagi mencintai Zea, yang tersisa hanya obsesi belaka, jika cinta dia tidak akan mungkin menyakiti Zea, dia tidak akan mengusik kebahagiaan Zea." Jelas Marvel.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Rakes frustasi.
"Apa maksud mu mengajukan pertanyaan seperti itu?" Tanya Marvel.
"Hanya saja aku merasa akulah penyebab Roger jadi seperti sekarang!"
"Hentikan omong kosong mu! dia memang adik mu, tapi tetap saja kamu tidak harus mengorbankan semua milik mu demi bahagianya, karena kamu juga berhak untuk bahagia." Tegas Marvel.
"Lalu, apa rencana mu sekarang?" Tanya Rakes.
"Aku akan bawa Roger bersama ku, kembali ke rumah sakit, temani Zea." Jelas Marvel.
"Kamu mau membawanya kemana? lagi pula di rumah sakit sudah ada mama, uma, ayah dan juga papa. Aku akan ikut kamu." Jelas Rakes.
"kalau begitu ayo bawa dia ke tempat rahasia kita, kita harus menyadarkan dia, sebelum pak Iqbal dan papa Hadi tau semuanya, aku yakin mereka akan mengirim dia ke ujung dunia jika mereka tau tentang kejadian hari ini." Jelas Marvel.
"Ayo bawa dia..." Ajak Rakes yang langsung mengangkat tubuh Roger.
"Ayo..." Ajak Marvel yang ikut membantu dari sisi kiri.
"Rafeal, bagaimana keadaannya? siapa yang menjaganya?" Tanya Rakes saat keduanya mulai keluar dari ruangan tersebut.
"Aku meminta Andika untuk berjaga di depan pintu, dan juga Kania, Ana dan mami yang menemaninya di dalam ruangan." Jelas Marvel.
"Baguslah! Aaah, kita harus bergegas sebelum dia sadar!" Jelas Rakes yang mempercepat langkahnya.
"Udah santai aja, obat biusnya akan tahan selama delapan jam." Jelas Marvel santai.
"Iya..." Jelas Marvel dengan senyuman lebar saat ia mengingat kembali adegannya barusan yang diam-diam menyuntikkan obat bius pada leher Roger.
"Good job!" Ujar Rakes dengan senyuman lega.
Keduanya terus membopong Roger menuju mobil lalu bergegas menuju tempat rahasia yang menjadi tujuan ke duanya.
______________________
"Khmmmmmm, ini masih ruang rawat kan? kenapa jadi sepi kayak kamar manyat sih!" Cetus Mariana yang sejak tadi begitu risih dengan keadaan yang penuh dengan kebisuan.
"Ana, kamu ini kalau ngomong selalu aja ngasal!" Ujar Aryani.
"Habis kalian semua terus aja diam, bahkan mulut aku sampai gatal pengen ngomong!" Ujar Mariana.
"Mami, aku baik-baik saja, jadi kalian pulang lah dan istirahat!" Jelas Rafeal.
"Mami mau istirahat di sini!" Tegas Aryani lalu mengusap lembut tangan Rafeal yang sejak tadi memang berada dalam genggamannya.
"Mi, pulanglah, aku tidak ingin menyusahkan mami." Jelas Rafeal.
"Jika kamu tidak ingin menyusahkan mami, maka berhentilah menyuruhnya pulang, diam dan istirahatlah!" Jelas Mariana lalu berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
"Kania, kamu juga pulanglah!" Pinta Rafeal.
"Baiklah, aku pulang, selamat malam, semoga abang cepat sembuh!" Ujar Kania.
"Kamu sendirian sayang?" Tanya Aryani.
"Aku bisa naik taxi kok mi, aku pamit!" Jelas Kania.
"Nggak, lebih baik kamu juga nginap disini aja, atau biar mami suruh pak Rahman jemput kamu" Tegas Aryani.
"Nggak usah mi!" Ujar Kania.
"Mami benar Kania, ini udah malam, bahaya, menginaplah di sini!" Jelas Rafeal.
"Baiklah!" Ujar Kania lalu beranjak duduk di sofa di dekat Mariana.
"Kamu juga istirahatlah sayang." Jelas Aryani lalu mengusap lembut rambut Rafeal.
"Mami juga tidurlah!" Ujar Rafeal.
"Iya sayang!" Ucap Aryani dan juga ikut pindah ke sofa.
Kania perlahan merebahkan tubuhnya di sofa lalu perlahan memejamkan matanya, di susul dengan Aryani yang juga ikut rebahan di sofa tepat di samping Kania.
Perlahan Mariana bangkit dari tidurnya lalu pelan-pelan melangkah mendekati Rafeal.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Rafeal saat merasakan bajunya tersingkap ke atas.
"Aku hanya ingin memeriksanya, aku tidak ingin kembali dibohongi!" Jelas Mariana.
"Ana..." Ujar Rafeal pelan.
"Aku juga cukup pandai bermain licik, jadi jangan bodohi aku, aku bisa lebih licik dari yang kamu bayangkan!" Jelas Mariana.
"Tidurlah!" Pinta Rafeal.
Mariana duduk di kursi yang ada disebelah Rafeal lalu perlahan merebahkan kepalanya padi sisi ranjang tepat di samping tangan kanan Rafeal. Perlahan tangan Mariana beranjak melingkar di pinggang Rafeal.
"Jangan lagi membuat aku menggila, aku tidak ingin terus memperlihatkan kegilaan aku pada mu, jadi diamlah! biarkan aku menjadi gadis manis dihadapan mu, jangan paksa aku lepas kendali dalam mendapatkan cinta mu! Rafeal, tetaplah di samping ku." Jelas Mariana lalu memejamkan matanya bersamaan dengan tetesan air mata dari ujung kedua mata indahnya.
"Ana, aku akan berusaha melakukannya, meski aku tidak bisa menjanjikan apapun, tapi aku akan mencobanya!" Ujar Rafeal lalu perlahan mengusap kepala Mariana.
Mariana yang merasakan sentuhan Rafeal pada rambutnya, membuat ia semakin menangis bahagia, Rafeal perlahan menjauhkan tangannya dari rambut Mariana lalu sejenak menatap sosok Kania yang telah terlelap di sofa sana, matanya beralih pada sosok Aryani lalu kembali memejamkan matanya.
"Semoga ini adalah pilihan terbaik untuk kita semua, karena aku hanya ingin membuat kalian bertiga bahagia, mami, Ana dan juga kamu Kania, aku harap kalian akan terus bahagia selamanya." Ungkap hati Rafeal.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ