My Princess

My Princess
#217



"Abang...." Panggil Zea sambil terus memasuki kamar mengikuti langkah Rakes yang kini terhenti di depan jendela sana.


"Kenapa makannya di tinggalin?" Tanya Rakes cuek.


"Ngambek?" Tanya Zea yang langsung memeluk tubuh Rakes dari belakang.


"Udah sana lanjutin makannya!" Ujar Rakes.


"Yakin nih? beneran?" Tanya Zea.


"Udah sana gih balik ke gerobak bakso, nggak usah peduliin abang!" Ujar Rakes.


"Oke, kalau gitu aku lanjut makan lagi ya, good night!" Ujar Zea dan hendak melepaskan pelukannya.


Dengan cepat tangan Rakes langsung menghentikan aksi Zea, ia seakan tidak membiarkan Zea melepaskan pelukannya.


"Kan udah berulang kali aku katakan, jika abang mau apapun, maka mintalah, karena aku sama sekali nggak paham dengan bahasa diamnya abang! kalau rindu ya bilang aja rindu, kalau mau di manja yang langsung minta, jangan dibuat ribet." Jelas Zea yang langsung berdiri dihadapan Rakes.


"Abang juga nggak ngerti dengan diri abang! Terkadang abang hanya bisa diam tanpa bisa menjelaskan apa-apa!" Jelas Rakes.


"Yah! persis seperti Azan, tidak bisa dipahami karena memang kalian berdua selalu saja tidak pernah mengutarakan apa yang kalian inginkan!"


"Abang bahkan kerap kali cemburu sama kamu dan Uzun yang selalu saja gesit tentang apapun yang kalian inginkan!"


Perlahan tangan Zea menyentuh lembut wajah Rakes, memandangnya dengan begitu teduh lalu perlahan mengecup hangat kening sang suami.


Kedua tangan Zea kini perlahan menyentuh kedua tangan Rakes lalu menggenggamnya dengan erat, keduanya saling menatap dengan tatapan yang begitu dalam.


"Maafkan sikap abang!"


"Kenapa minta maaf? toh abang sama sekali nggak salah!"


"Makasih karena selalu bisa ngertiin abang!"


"Chim chim, I love you."


Zea langsung memeluk erat tubuh sang suami.


"Mommy, Daddy...." Teriak Uzun sambil terus berlarian masuk ke kamar kedua orang tuanya.


Uzun terus berlari dengan disusul oleh Azan dan keduanya langsung ikut memeluk kedua orang tua mereka.


"Aku juga mau di peluk!" Protes Uzun yang bahkan seketika mencoba untuk naik ke tubuh Rakes.


"Iya, ayo sini!" Ujar Rakes yang langsung membawa Uzun ke dalam gendongannya.


"Sini sayang!" Ujar Zea lalu mengulurkan tangannya pada Azan.


"Abang udah gedek nggak mau di gendong lagi!" Protes Azan yang justru berlawanan dengan sang adik.


"Cieee, anaknya mommy udah dewasa ternyata!" Ujar Zea sambil mengusap lembut rambut Azan.


"Iya dong, kan sebentar lagi bakal punya adek!" Jelas Azan.


"Ciiiih bilang aja cemburu!" Gumam Uzun.


"Nggak tuh!" Dalih Azan.


"Dasar...." Cetus Uzun.


"Biarin!" Tegas Azan.


"Ihhhhhh abang nyebelin deh!" Gumam Uzun.


"Udah-udah, berhenti ribut, atau mommy bakal jewer tuh telinga!" Ancam Zea.


"Abang yang mulai duluan!" Protes Uzun.


"Kok abang? kan kamu yang duluan!" Ujar Rakes menengahkan.


"Uzun, minta maaf sama abang!" Pinta Zea.


"Maaf!" Ujar Uzun dengan wajah kesal.


"Uzun!" Ujar Rakes.


"Maaf! lain kali nggak akan Uzun ulangi!" Ujar Uzun.


"Abang maafkan!" Ujar Azan dengan senyuman.


"Nah gini nih baru anak-anak daddy!" Ujar Rakes yang langsung mencium Uzun dan Azan secara bergantian.


"Mommy juga mau dong!" Ujar Zea.


Tanpa tunggu lama ketiga lelaki tampan tersebut langsung mencium pipi Zea secara bergantian.


__________________


"Rafeal...!" Panggil Mariana saat keduanya hendak bersiap untuk tidur.


"Iya? apa ada apa-apa yang kamu butuhkan?" Tanya Rafeal yang masih saja duduk di sisi kiri tempat tidur.


"Sini, lebih dekat lagi!"


Rafeal segera bergeser mendekati Mariana yang kini telah berbaring di sebelahnya.


"Kenapa? apa ada yang sakit?" Tanya Rafeal yang seketika langsung khawatir.


"Aku baik-baik aja, hanya saja, mau terus dekat-dekat, mau dimanja!" Jelas Mariana dengan tangan yang langsung menyentuh wajah Rafeal.


"Dimanja?" Ulang Rafeal yang kini perlahan mengusap perut besar Mariana.


"Si kecil atau mamanya?" Tanya Rafeal dengan tangan yang beralih menyentuh wajah Mariana.


"Dua duanya!" Ujar Mariana dengan senyuman.


"Sayang, baik-baik terus di sana ya, jangan nakal, dan cepat-cepat lah datang, tuhhhh calon suami mu udah nggak sabar nungguin kedatangan kamu!" Jelas Rafeal.


"Iya juga sih, kayaknya di banding kita Azan lebih nggak sabaran!"


"Ya, semoga saja Azan akan seperti abang Rakes, terus mencintai satu wanita hingga selamanya!"


"Aku juga gitu!"


"Yakin?"


"Hmmmmm, ya itu kan...."


"Aku paham, dan nggak perlu di bahas, lagi pula yang sekarang ada di sini kan hanya aku dan baby!" Ujar Mariana sambil menyentuh dada bidang Rafeal.


"Maafkan aku, mungkin agak telat, tapi percayalah kini dan seterusnya hanya akan ada kamu dan baby di hati ini!"


"Terima kasih karena mau menerima aku!"


"Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu dengan tangan terbuka menerima aku dengan sejuta kekurangan ku!" Ujar Rafeal lalu membelai lembut rambut Mariana.


"Gimana udah memikirkan nama untuk tuan putrinya Azan?" Tanya Mariana yang mencoba mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin terus berada di situasi yang buat keduanya canggung.


"Siapa ya? kalau menurut mu?"


"Hmmmmmm! siapa ya?"


"Jinan? Arina Jinan?"


"Arina Jinan, nama yang cantik, aku suka!" Ujar Mariana.


"Arina Jinan putri kesayangan papa, baik-baik di sana yang sayang!" Ujar Rafeal yang kembali mengusap perut Mariana.


"Jinan!" Ujar Mariana yang ikut menyentuh perutnya.


________________


"Abang..." Panggil Kania sambil duduk perlahan di atas kasur lalu sedikit bersandar di kepala ranjang.


"Iya, kenapa sayang?" Tanya Marvel yang masih saja duduk di sofa sana.


"Kemari lah!" Pinta Kania.


"Emang boleh? beneran? nggak apa-apa nih?" Tanya Marvel memastikan.


Pasalnya selama satu bulan ini Kania terus saja menjaga jarak darinya, bahkan saat tidur pun Kania tidak membolehkan Marvel tidur seranjang dengannya.


"Iya..." Jawab Kania.


"Boleh abang duduk di sini?" Tanya Marvel yang kini tepat di samping Kania.


"Duduklah!" Ujar Kania dengan mata yang begitu memerah karena menahan air matanya.


"Ada apa? apa ada yang salah? atau ada yang sakit? apa kamu nangis?" Tanya Marvel yang langsung panik saat mendapati air mata yang perlahan menetes dari ujung mata indahnya Kania.


"Boleh abang peluk aku? sebentar saja!" Pinta Kania bahkan dengan memejamkan matanya karena menahan sebisa mungkin agar air matanya tak kian menetes.


"Sayang...." Ujar Marvel yang langsung memeluk Kania.


Seketika tangis Kania pecah di dalam pelukan Marvel.


"Maaf karena dalam beberapa minggu ini aku sering buat abang kesal, aku bahkan terus saja menjaga jarak dari abang, maafkan aku!" Pinta Kania penuh penyesalan.


"Hei sayang! abang paham, sayang kan lagi hamil, banyak sikap yang tiba-tiba muncul bukan karena ingin sayang tapi ya karena bawaan bayi kita, abang ngerti, abang paham!" Jelas Marvel.


"Tapi...."


"Sssstttt, udah, sayang nggak salah sama sekali, dan abang baik-baik aja!" Jelas Marvel sambil terus mengusap pelan punggung Kania.


"Apa sekarang sayang agak baikan? nggak mual lagi dekat-dekat sama abang?"


"Agak mendingan!"


"Berarti, hmmmmmmm!" Ujar Marvel menggantung dengan terus menatap Kania.


"Boleh!" Jawab Kania yang memang paham dengan arah pembicaraan Marvel.


"Benarkah?" Tanya Marvel yang begitu girang.


"Hmmmmm!" Ujar Kania.


"Asyik!" Seru Marvel yang segera berbaring di samping Kania.


"Kalau peluk-peluk sedikit saja, boleh kan?" Tanya Marvel lagi.


"Hmmmmmm!" Ujar Kania yang langsung membuat tangan Marvel seketika memeluk tubuhnya.


"Sesenang ini kah abang?"


"Senang banget, luar biasa senang karena bisa dekat sama kamu dan juga buah hati kita!"


"Terima kasih!"


"Abang yang harusnya terima kasih sayang!" Ujar Marvel yang perlahan mengecup lembut kening Kania.


"Selamat malam papa Marvel tampan!" Ujar Kania.


"Selamat malam juga bidadarinya abang dan juga permaisurinya abang Uzun." Ujar Marvel dengan senyuman manisnya.


___________________


Jangan lupa LIKE Comen vote😘


Stay terus sama My Princess 😘😘😘😘


Khamsahamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Oh ya manteman jangan lupa main ke novel baru aku ya,,,


🍁Xue_Lian🍁


Ditunggu kunjungannyaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ™πŸ™