
Acara perpisahan yang di buat oleh pihak sekolah cukup membuat Rakes dan Marvel lelah. Acara yang begitu meriah, tidak terlihat seperti acara perpisahan pada umumnya, hingga membuat Rakes dan Marvel harus menjadi sorotan semua pihak, setelah semua agenda selesai termasuk sedikit pesan kesan dari Marvel dan juga beberapa patah kata motivasi dari Rakes acarapun di akhiri dengan penutupan oleh sang kepala sekolah.
Hari ini adalah hari terakhir Marvel dan Rakes menjadi guru magang di SMA tersebut. Marvel sempat membuat kehebohan dengan mengumumkan bahwa Nuri Zea Zahiya Saka dari kelas 10/1 adalah adiknya dan meminta agar tidak ada seorangpun yang mengganggunya, semua itu Marvel lakukan atas perintah Rakes, karena memang Rakes tidak ingin lagi kejadian tempo hari terulang kembali saat mereka tidak ada lagi di sekolah.
Tepat pukul dua belas semua murid bubar dari lapangan yang mereka jadikan sebagai tempat perpisahan. Namun banyak dari para murid bukannya bubar malah memburu para guru magang untuk minta foto bareng dengan alasan sebagai kenangan.
Tak terasa satu jam telah berlalu, Marvel dan Rakes masih saja di cegat oleh para siswi hingga akhirnya Hilman turun tangan untuk melerai kerumunan yang cukup membuat Rakes dan Marvel kewalahan.
"Terima kasih pak!" Ucap Marvel setelah para siswi pergi.
"Sama-sama." Ujar Hilman.
"Kalau gitu kami permisi pak, terima kasih atas semua bantuannya selama ini, kami harus segera kembali ke kantor untuk melapor." Jelas Rakes.
"Baiklah, saya juga berterima kasih atas bantuan tenaga pengajar ahli, gratis pula." Ujar Hilman dengan senyuman.
Penjelasan Hilman membuat Rakes dan Marvel tertawa, lalu ketiganya berjabat tangan, Rakes dan Marvel langsung bergegas ke parkiran.
"Ah aku lupa..." Ujar Rakes saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Ada apa? apa ada yang ketinggalan?" Tanya Marvel yang bahkan tidak jadi menghidupkan mesin mobil.
"Aku ada janji sama dokter!"
"Kamu sakit?"
"Bukan aku, tapi Zea."
"Ya udah, biar aku aja yang kembali ke kantor."
"Nggak bisa dong, tugaskan kita kan beda."
"Ah iya, aku amnesia!" Ujar Marvel dengan wajah cengengesan.
"Garing!" Cetus Rakes yang langsung mengambil ponselnya.
"Terus gimana?" Tanya Marvel.
Bukannya menjawab pertanyaan yang Marvel ajukan, Rakes malah mulai berbicara dengan orang lain lewat ponselnya.
"Dimana? princess masih sama kamu?" Tanya Rakes.
"Nih lagi di jalan sama semua pasukan." Jawab Rafeal yang memang tidak begitu jelas, ia tidak ingin membuat teman-teman curiga.
"Tolong bawa princess ke rumah sakit, aku udah janji mau mengecek kesehatannya, soalnya dia semalam kurang sehat, tapi sekarang aku harus kembali ke kantor untuk melapor." Jelas Rakes.
"Oke!" Jawab Rafeal singkat dan langsung mematikan ponselnya secara sepihak.
"Gilaaaaa! makin hari makin kurang ajar aja nih orang!" Gumam Rakes kesel lalu melempar ponselnya ke jok belakang.
"Udah maklumi aja, yang penting udah oke kan?" Jelas Marvel.
"Untung teman kalau nggak udah aku jadiin orang-orangan sawah!" Cetus Rakes.
"Ciiiiiih! bukannya elo orang pertama yang akan panik jika tuh bocah kenapa-napa?"
"Au ah, buruan!" Ujar Rakes yang langsung memejamkan matanya.
Marvel lekas menjalankan mobil menuju kantor keduanya.
"Terima kasih karena sudah jadi sahabat terbaik untuk aku dan Rafeal, sejak kejadian malam itu hidup kami berdua berubah pesat, kamu bagai cahaya yang datang lalu menerangi masa SMA kami yang begitu kelam. Berkat kamu, kami bisa jadi seperti ini sekarang." Jelas Marvel.
"Nggak usah lebay deh! sok puitis pula, geli aku dengarnya!" Cetus Rakes yang memang selalu mengalihkan pembicaraan jika kedua sahabatnya mulai membahas kebaikannya.
"Rakes, kamu benar-benar teman sejati. Sekalinya teman, sampai mati terus saja kamu jadikan kami sebagai prioritas. Aku janji, aku akan membalas semua kebaikanmu!" Jelas Marvel.
"Oke, kamu cukup membalasnya dengan memberikan aku setengah dari warisan mu!"
"Ambil aja semuanya, aku bisa minta ganti sama kakek Jordan, harta warisan mu pasti lebih banyak dari aku, secara cucu terrrrrrsayang, lah aku harus bagi lagi kan sama mama, sama Ana juga, sedangkan kamu pasti dapat seutuhnya, oke kita tukar tempat aja!" Jelas Marvel.
"ngehalu lagi!" Cetus Rakes.
"Siapa yang halu? ini fakta bro, fakta!"
"Helllo! udah mobil aku, aku juga yang jadi sopir eh malah yang numpang protes emang nggak ada akhlaknya sama sekali nih anak!"
"Biarin,,," Cetus Rakes yang langsung kembali memejamkan matanya.
Marvel hanya tersenyum senang lalu kembali fokus menyetir, mobil terus melaju hingga keduanya sampai di tempat tujuan.
______________________
Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, Zea kembali duduk di kursi tepat di hadapan sang dokter yang sedari tadi menanganinya.
"Kamu ke sini sama siapa sayang?" Tanya Dokter wanita paruh baya tersebut.
"Sama teman." Jawab Zea.
"Cowok?"
"Iya."
"Bisa tolong panggilkan dia untuk masuk?"
"Baik!"
Zea segera memanggil Rafeal untuk ikut ke ruangan dokter yang bernama Melia tersebut. Keduanya duduk di hadapan Melia dengan dibatasi oleh meja kerjanya Melia.
Melia terus memperhatikan keduanya yang ternyata sama-sama menggenakan seragam SMA, Melia menarik napas pelan hingga akhirnya mulai bicara.
"Sudah berapa lama?" Tanya Melia.
"Berapa lama? maksudnya?" Tanya Zea kebingungan.
"Hubungan kalian?" Jelas Melia.
"Sejak SMP, kenapa? apa ada yang aneh?" Tanya Rafeal yang tak suka dengan tatapan sang dokter ketika melihat keduanya secara bergantian.
"Astaghfirullah, baiklah! pertama kali melakukannya?" Tanya Melia yang mencoba untuk tetap tenang.
"Melakukan apa? sebenarnya apa yang ingin dokter tanyakan?" Tanya Zea yang semakin kebingungan.
"Melakukan apa yang seharusnya tidak kalian lakukan, kalian masih SMA harusnya kalian bisa menjaga diri dengan baik, kalau sudah begini, kalian pasti berencana untuk menggugurkannya kan? berapa dosa yang sudah kalian buat, apa kalian ingin menambahnya dengan dosa membunuh?" Jelas Melia yang tak lagi bisa mengendalikan emosinya.
"Tunggu! maksud dokter Zea hamil?" Tanya Rafeal.
"Dokter, apa benar saya hamil?" Tanya Zea memastikan.
"Iya, kamu hamil. Saya mohon jangan lagi tambahkan dosa kalian, bayi ini sama sekali tidak berdosa kalian lah yang melakukan dosa, mau jadi apa kalian berdua ini? kalian menghancurkan diri kalian sendiri, Astaghfirullah ya Allah, ampunilah dosa mereka." Jelas Melia sembari terus mengusap dadanya.
"Bu dokter, saya rasa ibu salah paham tentang satu hal!" Jelas Rafeal.
"Salah paham? saya yang salah paham dengan pezinahan kalian berdua, maksudnya?" Tanya Melia.
"Bu dokter, saya sudah menikah, saya punya suami, saya bukan pezina yang seperti ibu dokter tuduhkan." Jelas Zea.
Zea segera membuka tasnya lalu mengambil dompetnya, tangan Zea melemparkan buku nikah miliknya ke atas meja sang dokter.
"Lihatlah!" Pinta Zea.
Perlahan tangan Melia menyentuh buku nikah tersebut, lalu memeriksanya dan ternyata benar, di sana tertulis jelas nama serta foto Zea.
"Dia teman saya, suaminya sedang ada tugas jadi saya diminta tolong oleh suaminya untuk mengantarkan teman saya ini ke rumah sakit. Oh ya, lain kali sebelum menuduh seseorang, dengarkan dulu penjelasannya, tidak semua orang sehancur yang dokter pikirkan. Permisi!" Jelas Rafeal yang langsung bangun dari kursinya.
"Terima kasih atas bantuannya, selanjutnya saya akan konsul dengan dokter kandungan. Permisi!" Jelas Zea yang ikut bangun.
Keduanya langsung keluar dari ruangan dokter Melia.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ