
"Apa yang ingin dokter bicarakan?" Tanya Rakes setelah duduk tepat di hadapan Dokter yang selama beberapa hari ini merawatnya.
"Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Jelas Dokter.
"Apa ini tentang luka ku?" Tanya Rakes lalu sekilas menatap bahunya yang masih memiliki bekas luka.
"Bukan, tapi tentang darah mu?"
"Itu bukan urusanmu! kamu hanya dokter yang menangani luka ku, nggak lebih. Jika bukan tentang luka ini, aku permisi! keluarga aku sedang menungguku untuk pulang bersama." Jelas Rakes yang langsung beranjak dari kursi.
"Rakes, ada kelainan pada darah mu! mungkin untuk saat ini semuanya masih berfungsi normal dan malah membuat daya tahan tubuh mu semakin meningkat, tapi kita harus melakukan tes, setidaknya kita harus tau efek sampingnya, kita masih bisa mencegah hal buruk terjadi." Jelas Dokter.
"Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak akan melakukan apapun. Hubungan kita selesai, luka aku sudah sembuh, dan kamu bukan lagi dokter ku!" Tegas Rakes dan langsung keluar dari ruangan dokter lelaki muda tersebut.
"Chim chim!" Panggil Zea pelan sembari menyentuh lembut tangan Rakes.
Semenjak keluar dari rumah sakit tadi hingga mereka hampir sampai di tempat tujuan, Rakes masih saja diam seribu bahasa, ia terlihat termenung begitu dalam.
Sentuhan Zea membuat Rakes segera mengarahkan pandangannya pada Zea.
"Hmmmm, kenapa?" Tanya Rakes.
"Apa lukamu masih belum sembuh?" Tanya Iqbal yang masih fokus menyetir.
"Sudah sembuh, bahu aku baik-baik saja." Jelas Rakes.
"Rakes..." Ujar Elsaliani yang langsung menghentikan ucapannya karena melihat raut wajah Rakes yang terlihat sedang begitu khawatir.
"Kenapa uma?" Tanya Rakes.
"Nggak ada apa-apa." Jelas Elsaliani lalu kembali menghadap ke depan.
Zea semakin mengeratkan tangannya di jemari Rakes, lalu menatap lekat wajah Rakes.
Mobil terhenti di depan sebuah pemakaman umum, keempatnya segera turun lalu melangkah menuju sebuah makam mungil yang dipenuhi dengan taburan bunga. Zea dan Elsaliani langsung mendekat lalu bersimpuh di kepala makam tersebut.
"Assalamualaikum sayang, putra uma tertampan. Maaf, karena baru sekarang uma datang, maaf karena tidak bisa mengantarkan mu! dek Ziyad tunggu kami di surga ya sayang. Uma tau, uma bukanlah sosok ibu yang sempurna, maaf karena tidak bisa menjaga dek Ziyad dengan baik." Ungkap Elsaliani dengan tetesan air mata.
"Sayang....." Ujar Iqbal lalu merangkul bahu Elsaliani diikuti dengan merangkul Zea yang juga berada disisinya.
"Uma adalah uma terbaik di dunia ini. Zea bersyukur banget karena terlahir dari Uma." Ucap Zea lalu mengusap lembut wajah Elsaliani.
"Iya sayang, kamu adalah wanita terbaik untuk kami. Kamu selalu sabar dengan semua tingkah aneh mas dan Zea, kamu begitu tenang melayani segala kebutuhan kami berdua bahkan kamu mengabaikan kepentingan mu sendiri. Mas sangat mencintai mu, sayang." Ungkap Iqbal.
"Uma juga mencintai kalian semua." Ujar Elsaliani.
"Rakes, kenapa hanya berdiri di sana? kemarilah!" Pinta Elsaliani yang mengulurkan tangannya ke arah Rakes.
"Iya uma." Rakes segera mendekat, lalu ikut memeluk Elsaliani.
Keempatnya mulai membacakan doa-doa untuk Ziyad, lalu mengakhirinya dengan bacaan selawat, setelah ziarah selesai keempatnya segera meninggalkan area pemakaman tersebut.
_______________________
"Boleh aku masuk?" Tanya Zea setelah membuka sedikit pintu kamar Rakes.
"Masuklah!" Ujar Rakes yang terus melanjutkan push up nya.
Zea melangkah masuk setelah menutup kembali pintu, ia terus mendekati Rakes lalu duduk lesehan dihadapan Rakes.
"Kenapa?" Tanya Zea.
"Apa?" Rakes balik bertanya karena memang ia tidak paham dengan maksud dari pertanyaan singkat yang Zea ajukan.
"Semenjak keluar dari ruangan dokter tadi siang, Chim chim terlihat sangat pendiam, apa yang Chim chim sembunyikan dari aku?" Tanya Zea yang terus fokus menatap Rakes yang masih melanjutkan olahraga malamnya.
"Terjadi sesuatu Zea, dan abang sendiri belum tau pasti. Beri abang sedikit waktu, setelah abang mengerti dengan keadaan ini yang sebenarnya maka orang pertama yang akan abang kabari adalah kamu, abang janji." Jelas Rakes lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Zea.
"Apa ini tentang kejadian kemaren?" Tanya Zea sembari mengusap lembut rambut Rakes yang semakin menghalangi matanya untuk menatap wajah sempurna milik Rakes.
"Aku akan menunggu sampai Chim chim bisa menceritakan semuanya."
"Terima kasih karena begitu pengertian sama abang yang naif dan egois ini."
"Harusnya aku yang berterima kasih karena Chim chim mau terbuka pada istri yang bar-bar dan gesrek ini!"
"Abang sangat menyayangi mu, Zea."
"Chim chim!"
"Hmmmmm"
"Boleh aku jujur?"
"Tentu, katakanlah!"
"Beneran?"
"Iya, bicaralah!"
"Aku, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi dengan keadaan ini!" Jelas Zea.
"Apa maksudmu? apa kamu mulai bosan sama abang? Kenapa? apa kamu ingin beralih pada lelaki lain?" Tanya Rakes dengan begitu khawatir ia bahkan sontak bangun lalu duduk di hadapan Rakes.
"Jangan bodoh!"
"Lalu? bukannya tadi kamu mengatakan kalau kamu tidak lagi bisa bertahan dengan keadaan ini!"
"Kenapa pikiran Chim chim selalu saja nggak sejembatan sama otak aku sih?"
"Ya, abang....."
"Apa Chim chim kira aku tidak tergoda? Penampilan seksi dengan keringat bercucuran, kotak-kotak Chim chim seakan terus tersenyum lebar memanggil tanganku untuk segera berlayar di sana, dinding beton kokoh Chim chim dari tadi terus mengusik otak polosku, belum lagi di tambah dengan wajah Chim chim yang keringatan lalu poni yang menitikkan keringan, huuuuuuf! aku bisa gila. Aku tidak kuat jika godaannya sesempurna ini!" Jelas Zea yang langsung menyentuh dada bidang Rakes.
"Kenapa menahan diri dari sesuatu yang halal?" Tanya Rakes dengan senyuman menggoda.
"Jangan mempermainkan aku!" Cetus Zea yang kini memeluk erat tubuh Rakes.
"Abang sama sekali tidak mempermainkan mu, Jannati!"
"Berhenti membuatku menggila, jika pada akhirnya Chim chim akan menyuruhku untuk lekas tidur karena alasan harus sekolah besok!" Tegas Zea yang melepaskan pelukannya lalu bergeser menjauh dari Rakes.
"Maaf jika abang membuat mu kesal dan kecewa."
"Sudahlah, aku mau tidur selamat malam My lovely Chim chim." Ucap Zea dengan senyuman yang begitu imut dan segera berdiri dari duduknya.
Tanpa ucapan sepatah katapun, Rakes bangun lalu segera menggendong tubuh mungil Zea lalu membawanya ke atas kasur.
"Jangan gerak, berhentu! Chim chim jangan bercanda." Jelas Zea yang telah terbaring di kasur.
"Mau mulai dari mana?" Tanya Rakes.
"Chim chim!" Ujar Zea dengan suara berat dan gemetar, wajahnya bahkan mulai berkeringat dingin.
"Inilah alasannya kenapa abang tidak bisa agresif. Zea, ada hal yang belum kamu mengerti secara sempurna. Abang benar-benar tidak ingin egois, abang akan membuat kamu lebih mengerti, tunggulah! Kita mulai dengan hal-hal kecil, jangan terlalu memaksakan diri. Abang akan tunggu sampai kamu benar-benar dewasa. Love you Jannati. Tidurlah, abang mau mandi." Jelas Rakes panjang lebar dengan tangan yang membelai lembut rambut Zea.
Zea masih membisu dengan tatapan yang jelas terlihat begitu kebingungan, Rakes bergegas ke kamar mandi.
"Apa ini? kenapa Chim chim selalu saja memperlakukan aku dengan sangat baik. Dia bahkan menyembunyikan semua kekecewaannya hanya agar aku nyaman. Chim chim, kamu benar-benar suami idaman, kamu cowok terbaik di dunia ini, dan betapa beruntungnya aku karena Allah memperuntukan Chim chim untuk aku, yang bahkan jauh dari kata rata-rata apalagi istimewa." Ujar Zea pada dirinya sendiri.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ