My Princess

My Princess
#049



Rakes masih saja berdiri mematung di depan cermin, matanya tidak memperhatikan pantulan wajah tampannya yang ada di cermin, melainkan memandangi wajah cantik Zea yang terpajang berderetan di sepanjang sisi cermin yang panjang nan lebar tersebut.


"Zea, maaf karena hanya ini yang bisa abang lakukan untuk dirimu, abang janji setelah ini abang tidak akan lagi membuat keputusan tanpa meminta pendapatmu. Setelah kamu jadi istri abang, abang janji abang akan jaga kamu dengan lebih baik lagi, abang tidak akan membiarkan kamu terluka lagi, abang tidak akan menempatkan kamu dalam bahaya lagi, abang janji, kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi, abang janji sayang." Ungkap Rakes dengan tangan yang perlahan menyentuh wajah manis Zea yang ada di dalam foto.


"Khmmmmm!" Suara Marvel membuat Rakes segera menoleh ke arah pintu.


Perlahan Marvel terus memperhatikan sang sahabat yang sudah siap dengan penampilan ala mempelai pria yang terlihat bak seorang raja.


Stelan putih bersih semakin membuat Rakes bercahaya dan menawan.


"Boleh aku masuk?" Tanya Marvel yang masih berdiri di ambang pintu sana.


"Sejak kapan kamu minta izin? biasanya juga langsung nyosor, bahkan memakai semua barang-barang milik ku begitu saja!" Jelas Rakes yang beralih duduk ke tempat tidur.


"Itukan cerita lama, lah sekarang kan kamu bukan lagi bujangan, hanya tunggu hitungan menit kamu bakal jadi suami orang." Jelas Marvel yang langsung duduk di sebelahnya Rakes.


Perlahan tangan Marvel mengusap bahu Rakes lalu sejenak menatap wajah Rakes lalu tersenyum bahagia.


"Selamat menempuh hidup baru sahabat terbaikku! Sakinah Mawadah warahmah, jadilah suami yang bertanggung jawab, jaga Zea dengan baik. Akhirnya, setelah menjadi bayangan selama 17 tahun, akhirnya semua harapan jadi kenyataan. Benar bahwa sanya kerja keras dan doa adalah kata lain dari kerja keras. Sekali lagi selamat menjadi seorang suami!" Ucap Marvel panjang lebar dan di akhiri dengan memeluk erat sang sahabat.


"Aku doakan kamu juga cepat nyusul!" Ucap Rakes sembari menepuk bahu Marvel.


"Acaranya udah mau di mulai, ayo buruan!" Ajak Erina.


"Iya ma." Ujar Rakes.


Rakes dan Marvel segera keluar.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam setengah akhirnya kedua mobil sedan tersebut berhenti di depan sebuah mesjid nan megah yang berada di tengah-tengah pondok pesantren.


Acara akad yang memang digelar rahasia dan kecil-kecilan dan hanya di hadiri oleh keluarga terdekat saja.


Di mobil pertama, ada Iqbal bersama Elsaliani, Hadi dan juga Erina. Sedangkan di mobil yang ke dua ada Marvel, Rakes, Ayu dan Adimaja.


Semuanya bergegas ke mesjid di mana Zulfa dan sang suami menunggu kedatangan mereka sejak tadi.


Selain keluarga ada beberapa ustad dan ustazah yang ikut meramaikan acara akad nikah yang tanpa kehadiran sang mempelai wanita. Rakes yang sudah siap duduk di hadapan Iqbal, berjabat tangan dengan erat, lalu memulai Ijab qabul yang akan merobohkan semua batasan antara ia dan Zea yang selama ini begitu ia jaga dengan baik.


"Saya nikahkan dan kawin, anak saya, Nuri Zea Zahiya Saka binti Ahmad Iqbal Ardimas Saka dengan engkau Rakes Al-Maliki bin Abdul Hadi dengan mahar dua puluh gram emas dan seperangkat alat solat dibayar tunai." Ucap Iqbal dengan suara kharismatiknya.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Nuri Zea Zahiya Saka Binti Ahmad Iqbal Ardimas Saka atas diri saya, dengan mahar yang telah di sebutkan tunai." Jawab Rakes yang begitu gagah.


"Sah! sah! sah!" Jawab para saksi yang berhadir di acara yang begitu sederhana tersebut.


"Alhamdulillah!" Ucap Elsaliani dan Erina hampir bersamaan, lalu keduanya langsung berpelukan dan tersenyum bahagia.


"Kita sampai!" Seru Rakes setelah mengakhiri cerita singkat tentang acara akad nikah yang baru saja di gelar seminggu yang lalu.


Rakes menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang SMA di mana kini Zea menempuh pendidikan.


"Masa iya cuman segitu doang ceritanya? kurang seru!" Keluh Zea kesal dan enggan beranjak keluar dari mobil.


"Ya emang segitu ceritanya." Jelas Rakes.


"Akad nikah kita itu temanya simpel atau pelit sih? udah pengantin wanitanya nggak muncul pula, ngirit benar!" Cetus Zea.


"Yang penting kan niatnya, dan juga hasilnya. Mau mewah atau sederhana jika berjalan sesuai ketentuan ya sama-sama sah, nggak ada bedanya." Jelas Rakes.


"Bukan itu maksud aku!"


"Terus?"


"Oke, bey Chim chim sayang!" Ucap Zea.


Tangan Zea segera membuka pintu mobil namun ketika hendak melangkah keluar, tiba-tiba Zea kembali masuk dan menutup pintu.


"Apa ada yang tertinggal?" Tanya Rakes.


"Pinjam tangan kanan!" Pinta Zea.


Tanpa menunggu persetujuan dari Rakes, Zea langsung menarik tangan kanan Rakes dan lekas menciumnya dengan lembut.


"Mana hak aku?" Tanya Zea setelah menyelami sang suami tercinta.


"Hak? maksudnya?" Tanya Rakes kebingungan.


"Kiss!" Jelas Zea sambil menunjukkan dahinya.


"Masih kekeh mau menggoda abang?" Tanya Rakes.


"Menggoda? bukankah kata yang lebih tepat adalajlh 'Nagih Jatah' dari pada menggoda?" Jelas Zea yang langsung membuat Rakes kembali merona.


"Cepatlah masuk!" Seru Rakes yang kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Jika Chim chim nggak bisa, nih aku ajari!" Jelas Zea yang langsung mengecup kening Rakes lalu kemudian segera berlari keluar dari mobil.


"Jam empat, jangan telat!" Tegas Zea lewat kaca mobil dam kemudian ia segera berlari memasuki gerbang sekolah.


"Kayaknya aku harus lebih gesit lagi deh, jika tidak maka Zea akan membuat aku merona setiap hari." Ujar Rakes pada dirinya sendiri lalu segera meninggalkan lokasi sekolah tersebut.


______________________


"Waaaah, wanginya bikin lapar seketika!" Seru Roger sambil terus mendekati meja makan.


"Roger, kenapa pulang nggak ngabarin mama?" Tanya Erina yang masih sibuk membantu bi Leha menyiapkan makanan ke atas meja.


"Kangen sama mama!" Ujar Roger yang langsung memeluk Tubuh Erina.


"Gimana urusan di kantor? apa ada masalah?" Tanya Erina sambil mengusap lembut kepala Roger.


"Mama tenang aja, semuanya aman terkendali. Oh iya, mama masak banyak apa bakal ada tamu malam ini?" Tanya Roger.


"Iya sayang!"


"Siapa ma? apa teman kerja papa? atau rekan bisnis kakek?" Tanya Roger.


"Zea, dia bakal main ke sini nanti malam!" Jelas Erina.


"Zea? maksud mama Zea, ah kalau gitu aku naik ke atas sekarang, mau mandi dan siap-siap, bey mama!" Jelas Roger girang dan segera berlari menaiki tangga.


"Akhirnya, dia datang juga! abang rindu kamu Zea, abang rindu kamu." Ungkap Roger penuh keyakinan.


"Bagaimana ini? apa yang harus aku katakan? biasanya juga dia nginap di rumah barunya, kenapa malam ini tiba-tiba pulang, kok bisa pas banget ya dengan kedatangan Zea, aku takut semua ini malah akan membuat kesalah pahaman yabg panjang, dan aku nggak mau persaudaraan mereka berdua binasa hanya karena keadaan ini." Ungkap Erina yang mulai resah namun kembali melanjutkan perkerjaannya yang sedari tadi menata makanan untuk makan malam bersama.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE yaπŸ˜‰πŸ˜‰


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️