
Stefany diperbolehkan pulang dan tepat pada malam hari, Stefany pun segera membersihkan badannya dan membereskan barang-barangnya.
Alrico pamit untuk meeting pada siang hari namun ia belum pulang juga, Stefany tetap membereskan pakaiannya.
Stefany berniat untuk kabur dari rumah sakit ini untuk menghindari Alrico sebenarnya ia sangat benci di atur-atur tentang kehidupannya.
Kamar inap Stefany di depannya terdapat taman rumah sakit yang memudahkannya untuk kabur dari Alrico, ia pun terburu-buru untung saja jarum infus sudah di copot oleh suster.
Setelah selesai membereskan pakaiannya walaupun hanya dua pasang baju yang ia bawa. Stefany melihat ke arah luar taman untungnya taman nampak sepi dan memudahkannya untuk kabur dari rumah sakit ini.
Dikamarnya terlihat cctv dan Stefany menutup cctv itu dengan sapu yang berada di ruangannya, dengan sangat mudah nya.
Ia pun sudah menulis surat untuk Alrico, surat terimakasih darinya karena sudah membiayai pengobatan di rumah sakit dan sudah menjaganya.
Stefany memakai pakaian biasanya dan masker, untung saja ia selalu menyimpan masker di saku celananya. Ia pun segera membuka jendela yang berada di kamar inap nya dengan hati-hati matanya pun melihat sekeliling untuk memastikan jika tidak ada orang yang melihatnya.
Setelah berhasil keluar dari kamar inap nya itu, ia berjalan seperti layaknya pengunjung disini agar tidak ada yang curiga kepadanya.
Mungkin cara kabur adalah hal yang paling mudah untuknya, buktinya sekarang ia bisa keluar dari rumah sakit itu dan ia pun tidak tau harus kemana.
Namun Stefany harus kabur sejauh mungkin agar Alrico tidak bisa menemukannya, ia teringat dengan bibi angkatnya yang selalu menolongnya.
Stefany akan pergi ke rumah Bibi angkatnya dahulu baru nanti ia akan pikirkan akan pergi ke mana, ia bisa pergi kemana saja namun keuangan yang mempersulitnya untuk kabur.
Stefany berlari sekencang mungkin, ia takut jika ada yang mengikutinya apalagi jika yang mengikutinya Al bisa gagal ia untuk kabur, untung saja rumah bibi angkatnya berada di perkotaan dan dekat dengan rumah sakit itu.
Tidak butuh waktu lama untuk menuju rumah bibi angkatnya, Stef pun sudah sampai di rumah bibi angkatnya. Ia mengetuk pintu rumah bibinya, dan pintu rumah bibinya pun terbuka.
"Bibi, I Miss you" Stefany meghambur pelukan kepada bibinya dan bibinya pun memeluk Stefany kembali.
"Are you okey Stef?" Stefany pun menatap wajah bibinya dengan wajah pucat.
"Oh my God! Kamu sangat pucat sekali, ayo masuk nak" Bibinya membawa Stefany masuk kedalam rumahnya.
Bibi Alexa adalah bibi angkatnya Stefany, dulu pas ia sedang bekerja di salah satu Cafe dekat dengan rumah bibinya, bibi angkatnya selalu membeli koffe di tempat ia bekerja. Bibi Alexa tinggal sendiri ia tidak mau merepotkan anaknya dan cucunya, walaupun anak dan cucunya sudah mapan dan mempunyai semuanya namun ia tetap tidak mau tinggal bersamanya.
Bibi Alexa walaupun sudah menua namun wajah cantiknya tidak pernah hilang dan senyumannya itu yang sangat hangat dan tulus.
"Kau dari mana nak? Kenapa wajahmu pucat sekali? Apakah kamu sudah makan?" Ucap Bibi Alexa dengan pertanyaan-pertanyaan nya.
"Kau sakit apa nak, dan kamu juga sudah jarang menemui ku Stef aku kesepian jika tidak ada kau" Stefany memeluk bibi Alexa yang tampk khawatir.
"Aku tidak apa-apa kok bi dan sekarang aku sudah sehat lagi, maafkan aku bi karena aku sangat sibuk dengan pekerjaanku" Bibi Alexa menganggukkan kepalanya ia sudah tau semua tentang Stefany.
"Owh iya Bi, aku boleh menginap di rumah bibi untuk beberapa hari, apakah boleh bi?" Stefany bertanya kepada Bibi Alexa.
"Dengan senang hati nak, bibi malah senang sekali jika kau menginap di rumah bibi" Bibi Alexa pun sangat senang jika Stefany menginap di rumahnya.
"Apakah kamu mau makan?" Tanya bibi Alexa.
"Tidak usah bi, aku masih kenyang" Stefany menjawab nya dengan senyiman dan bibi Alexa pun tersenyum kepadanya.
"Ok, aku akan antarkan kau ke kamar mu dan semoga betah ya di rumah bibi" Bibi Alexa mengantarkan Stefany ke kamar tamu, ia baru lihat kamar tidur seluas ini. Rumah bibi Alexa memang terlihat sederhana dan nyaman namun di dalam rumah nya sangat besar dan seperti rumah putri yang ada di dongeng.
"Aku pasti sangat nyaman tidur di kamar ini, tapi apakah tidak ada kamar yang kecil bi? Ini terlalu besar" Ucap Stefany kepada bibi Alexa.
"Hanya kamar ini dan kamar bibi nak, tidak apa-apa kamu tidur saja disini ya dan jika butuh sesuatu kamar bibi berada di sebelah kamarmu. Dan istirahat lah wajahmu terlihat sangat pucat dan lelah" Ucap bibi Alexa dan mengecup kening Stefany.
"Good night my princess" Ucap bibi Alexa dan tersenyum.
"Good night too bibi Alexa" bibi Alexa tersenyum dan menutup pintu kamar Stefany.
πππππ
TBC
hai hai maaf ya lama update nya πππ
aku mohon di pencet tombol jempolnya dong sama di komen hehe supaya lebih semangat lagi buat ceritanya.
dan maaf ya kalau ada kata-kata yang kurang jelas, karena aku nulisnya lagi sakit agak kebelinger heheheπππ
semoga kalian suka dengan ceritaku ya semuanya adaπ
salam dari penulis amatir β¨π
DINβ€οΈπβ¨