
Rakes yang baru saja masuk ke dalam penjara langsung menarik sosok Lestari yang masih terbaring lelap lalu menyeretnya keluar bahkan sebelum Lestari bisa membuka matanya dengan sempurna.
"Lepas! mau kamu bawa kemana aku? lepas atau aku akan teriak." Gumam Lestari setelah menyadari bahwa tangan gagah yang sedang menyeretnya paksa bukanlah para polisi melainkan Rakes.
"Diam!" Seru Rakes yang masih terus menyeret Lestari hingga ke ruang introgasi.
"Haaaah! ternyata kamu juga bisa dengan leluasa bergerak di kantor polisi, lepaskan tanganmu dari tubuh ku!" Gumam Lestari penuh amarah.
Dengan kasar tangan Rakes menghempaskan tubuh Lestari ke atas kursi lalu secepat kilat tangan kanan Rakes mengarahkan pistol tepat di kening Lestari bersamaan dengan tangan kirinya yang bergerak mengarahkan pisau tepat di bagian perut Lestari membuat tubuh Lestari tak bisa berkutik sama sekali.
"Aku akan membunuh mu dan juga putra kesayangan mu!" Gumam Rakes dengan tatapan yang diselimuti dengan amarah dan mata tajam yang seakan siap menerkam mangsa.
___________________
**Tiga puluh menit sebelum Rakes tiba di kantor polisi.**
"Aku akan menemui tante Lestari!" Jelas Rafeal saat ketiganya berada di kamar.
"Kenapa?" Tanya Rakes.
"Aku tau ini semua pasti ulah dia!" Gumam Rafeal.
"Aku rasa juga begitu, kita temui dia sekarang!" Jelas Marvel.
"Aku yang akan ke penjara!" Tegas Rakes yang langsung beranjak.
"Tapi....!" Keluh Rafeal.
"Aku yang akan urus Fadhil, aku rasa mereka telah merencanakan semua ini jauh sebelum tante Lestari mendekam di penjara." Jelas Marvel.
"Lalu aku?" Tanya Rafeal yang kebingungan saat kedua sahabatnya terlihat sedang bersiap dengan senjata mereka dan kini berdiri di dekat jendela.
"Kamu urus Lexel!" Seru Marvel.
"Aku? aihsssss! kenapa selalu saja bagian aku nggak enak!" Protes Rafeal kesal.
Protes yang Rafeal ajukan membuat Rakes dan Marvel tertawa puas dan langsung keluar lewat jendela.
"Pastikan kamu mengurus Lexel dengan baik!" Jelas Marvel.
"Huuuuuush!" Gerutu Rafeal kesal sambil menatap kepergian kedua sahabatnya.
"Hati-hati! Fadhil pasti dilindungi dengan ketat!" Jelas Rakes saat keduanya mendarat diaspal jalan setelah meloncat pagar beton tinggi rumah Jordan.
"Kamu juga hati-hati, aku sudah minta bantuan tante Angel agar kamu bisa masuk ke penjara tanpa ada yang tau!" Jelas Marvel.
"Ucapan kamu bikin aku malah jadi ketakutan! ayo gerak!" Jelas Rakes.
Keduanya berpisah di jalan dan langsung meluncur menuju tujuan mereka masing-masing.
________________
"Apa Angel ada di belakang mu? aku jadi semakin bersemangat untuk menghancurkan kalian semua. Oke, akan aku ubah urutannya, sepertinya Angel dulu baru Iqbal dan setelah itu baru disusul dengan Elsaliani, manusia licik itu....." Jelas Lestari dengan penuh ambisi.
Spontan tangan kanan Rakes menekan ujung pistolnya di dahi Lestari. Dengan kasar tangan kiri Rakes menancapkan pisau tepat beberapa centi dari tangan Lestari, pisau menancap sempurna di atas meja.
"Oke, cobalah sesukamu, dan aku juga akan menggila semau ku! jika kamu menyentuh tante Angel dan uma aku, aku juga akan menerkam putra kesayangan mu!" Ancam Rakes.
"Rakes!" Ujar Angel yang baru saja bergabung.
Perlahan Angel mendekati kursi dimana Rakes dan Lestari berada.
"Biar tante yang urus wanita ular ini! kamu bergabunglah dengan Marvel, habisi Fadhil, bunuh dia!" Gumam Angel dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
"Kalian!" Gumam Lestari.
"Iya, kami. Kami akan membuat kamu berakhir mengerikan. Rakes waktu mu di sini sudah habis, pergilah sebelum yang lain datang!" Jelas Angel.
"Tapi...." Keluh Rakes.
"Tante yang urus wanita jalang ini, pergilah karena sebentar lagi mereka akan kembali, tante tidak bisa menghentikan mereka terlalu lama." Jelas Angel.
"Bajingan kalian!" Cela Lestari.
"Bukankah kamu bajingan yang sesungguhnya! aku permisi tante!" Jelas Rakes yang segera melarikan diri.
_________________
"Oke, Marvel ayo gunakan kecerdasan mu! kamu hanya harus percaya pada dirimu sendiri! lets go." Tegas Marvel pada dirinya sendiri.
Marvel langsung berdiri tegak, lalu bersiap untuk meloncati pagar nan tinggi tersebut, namun sebelum Marvel memulai aksinya keributan yang tiba-tiba terjadi di gerbang sana membuat fokus Marvel teralihkan, ia lekas mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana.
"Buka gerbangnya sekarang juga!" Teriak seorang gadis yang terus melemparkan batu kearah gerbang.
"Aku bilang buka sebelum aku menghancurkannya!" Gumamnya lagi.
"Jangan buat keributan di tengah malam, pulanglah!" Pinta seorang penjaga gerbang.
"Suruh bajingan itu keluar, aku harus menemuinya!" Jelas Gadis tersebut dan terus saja mengamuk tanpa jeda.
"Sepertinya dia tak bisa terkendali, segera laporkan pada bos!" Jelas salah seorang dari para penjaga yang langsung dilaksanakan oleh yang satunya lagi.
"Katakan padanya aku, aku, Amel menunggunya!" Teriak gadis yang ternyata bernama Amel.
"Mbak tolong tenang jangan buat keributan, atau kami akan berlaku kasar pada mbak!" Ancam sang penjaga.
"Apa kamu sedang mengancam aku? lakukanlah! ayo maju!" Jelas Amel yang terus mendekati gerbang.
Tangan Amel langsung meraih jas salah seorang dari penjaga, lalu menariknya kasar.
"Apa kamu ingin melihat posisi siapa yang lebih terancam? aku kekasihnya bos kalian!" Tegas Amel.
"Kekasih? waaaaah ini lebih seru! saat ini pasti waktu sedang berpihak pada ku, saatnya beraksi!" Jelas Marvel dari kejauhan sana dan langsung bersiap untuk meloncat.
Kaki panjang Marvel mulai bersiap di saat yang bersamaan seseorang ikut meloncat dan mendarat bersamaan dengan Marvel.
"Ayo!" Ajak Lexel.
"Lexel! kamu? kenapa di sini? Rafeal mana?" Tanya Marvel.
"Rafeal? atau Amel? siapa yang kamu tanya?" Tanya Lexel dan dengan santai langsung melangkah menelusuri rumah megah tersebut.
"Apa hubungannya Rafeal sama Amel? sebenarnya ada apa?" Tanya Marvel yang masih begitu kebingungan.
"Amel itu kakaknya Risty adiknya Rafeal!" Jelas Rakes yang baru saja mendarat di samping Marvel.
"Waaaaah! jadi itu Kancil? benar-benar menakjubkan, aku hampir saja oleng di buatnya, visualnya saat jadi cewek emang nggak main-main." Jelas Marvel.
"Buruan!" Desak Rakes yang langsung bergegas beraksi.
Marvel segera mengikuti Rakes dan juga Lexel yang telah lebih dulu masuk.
_________________
"Ada apa ini?" Tanya Fadhil yang baru saja muncul bersama beberapa pengawal pribadinya.
"Sayang! sayang tolong cepat buka pintunya!" Pinta Amel dengan nada yang begitu manja.
"Siapa kamu? kenapa memanggil aku sayang?" Tanya Fadhil yang masih terus menatap sosok Rafeal dalam wujud sebagai seorang Amel.
"Apa? kamu tanya siapa aku? sayang kamu lupa dengan aku, dengan semua yang telah kita lalui selama ini? ucapan mu melukai hatiku, sayang. Aku kecewa sama kamu!" Jelas Amel diiringi dengan tetesan air mata yang begitu memilukan.
"Aku sama sekali nggak kenal sama kamu! seret dia, jangan bikin keributan disini!" Tegas Fadhil dan hendak pergi.
"Kamu kejam sayang, setelah kejadian manis di malam itu, kamu langsung membuang aku, aku tak akan sesedih ini jika yang kamu campakkan hanya aku, tapi bagaimana dengan nasib bayi kita, darah daging kamu sayang." Jelas Amel yang perlahan kedua tangannya mengusap lembut bagian perutnya.
Penjelasan Amel sontak membuat semua mata menatapnya tak terkecuali Fadhil yang bahkan terlihat begitu syok dengan penjelasan Amel. Ia bahkan mematung dengan terus menatap sosok Amel dari ujung kaki hingga kepala.
(Dia kah gadis malam itu? kenapa aku sama sekali tidak mengenalinya? ahhhh dia pasti berbohong, lalu bagaimana kalau dia bicara jujur, haruskah aku mengulangi masa lalu papa aku sendiri? apa yang harus aku lakukan?) Fadhil membatin dengan segala hal yang memenuhi otak warasnya.
(Bagaimana kalau dia tau aku berbohong, haissssss sudahlah, jika semuanya kacau aku tinggal menggunakan otot kekar ku! huuuuf, semoga semuanya sesuai rencana) Bisik hati Rafeal yang terus berusaha meneteskan air mata.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️