My Princess

My Princess
#188



"Akhirnya hari kemerdekaan ini tiba juga, ayo Zea! kita harus merayakannya." Ajak Rafeal penuh semangat.


"Let's go!" Seru Zea yang tak kalah semangat dari Rafeal.


Zea bahkan langsung turun dari ranjang dan langsung menggenggam erat ujung jaket Rafeal dari belakang dan keduanya berjalan riang hendak meninggalkan ruangan yang sudah selama lima hari mengurung keduanya.


"Khmmmmmm!" Seru Rakes yang masih sibuk membereskan semua barang-barang Zea ke dalam tas.


"Mau kabur lagi?" Tanya Marvel yang muncul dari pintu dengan kedua tangan yang menjinjing tas.


"Siapa yang kabur, orang mau cari lapak!" Jelas Zea.


"Cari lapak? nggak ada, ayo pulang!" Tegas Marvel.


"Kamu gila? kami udah cukup menderita tak berdaya dikurung berhari-hari di ruangan ini dan sekarang kamu meminta kami pulang, jangan becanda!" Cetus Rafeal.


"Apa aku harus menyeret kalian?" Gumam Rakes yang telah siap dengan ransel di punggungnya.


"Ayolah, paling nggak bawa kami menghirup udara segar!" Rengek Rafeal.


"Pulang!" Desak Rakes.


"Ke pantai, please!" Pinta Zea manja.


"Nggak Zea, angin pantai nggak baik buat pemulihan kalian berdua!" Jelas Marvel.


"Berarti ke taman!" Usul Rafeal.


"Ayo ke taman!" Ajak Mariana yang baru saja datang.


"Ayo...." Ujar Zea penuh semangat ia bahkan langsung beralih menggenggam tangan Mariana.


"Kalian ini!" Cetus Rakes.


"Ayo kita berangkat!" Ajak Rafeal yang langsung mengambil langkah.


"Kemana?" Tanya Kania yang baru saja datang.


"Pulang ke rumah!" Tegas Marvel yang langsung menyeret Rafeal untuk ikut bersamanya.


"Ke rumah? padahal aku baru saja mau ngajak semuanya makan siang." Jelas Kania.


"Makan, Ayo Kania, kakak lapar banget!" Ajak Zea.


"Kita makannya di rumah aja, terserah mau di rumah uma atau rumah mami yang penting kita pulang!" Jelas Marvel yang begitu protektif.


"Dasar pria tua, taunya pulang doang, udah Kania, Zea, ntar kakak carikan pria yang lebih modern buat kalian, tinggalin aja tuh orang tua!" Jelas Mariana dan langsung menggandeng tangan Kania dan Zea lalu lekas pergi.


"Pria tua?" Gumam Marvel kesal.


"Cari yang lebih modern? benar-benar tuh anak! " Gumam Rakes.


"Pria tua, udah kalian berdua pulang aja, aku mau ikut makan dulu, maklum kita-kita kan beda generasi sama situ!" Jelas Rafeal dengan tawa yang begitu puas karena akhirnya ia bisa menang dari kedua lelaki yang sering kali menindasnya.


"Sepertinya mulut Ana harus kita sterilkan, jangan sampai yang lainnya terpengaruh nih!" Jelas Rakes.


"Kamu benar, bisa gawat kalau sampai Kania berpaling ke lain hati apa lagi kalau sampai Rafeal ngelunjak sama kita, nggak bisa di biarkan, ayo cepat sebelum kita kehilangan jejak mereka!" Jelas Marvel.


Keduanya segera berlari menyusul yang bahkan sudah berada di dalam mobil Mariana dan mereka siap untuk meluncur. Secepat kilat Rakes dan Marvel masuk ke dalam mobil dan lekas menyusul mobil Mariana.


___________________


"Kenapa ikutan? bukannya kalian harus pulang!" Goda Rafeal.


"Nggak mungkin kan aku membiarkan istri aku jalan sama kamu!" Jelas Rakes yang langsung duduk di samping Zea.


"Aku harus jagain adik dan calon istri aku!" Jelas Marvel yang langsung duduk di samping Mariana.


"Dasar, ayo pesan!" Ujar Mariana.


"Sepertinya sup udang enak nih!" Ujar Rafeal.


"Nggak!" Tegas Rakes dan Marvel serentak.


"Wowww! Slow, kalian berdua malah terlihat seperti suami istri yang sedang ngurusin putranya!" Goda Zea.


"So sweet!" Ujar Kania dengan senyuman manisnya.


"Biar aku yang pesankan!" Jelas Marvel yang langsung mengambil alih pena dan buku dari tangan pelayan.


Ia langsung mencatatnya sendiri lalu menyerahkan kembali pada pelayan tanpa bertanya lagi pada siapapun.


"Abang apa-apaan sih?" Cetus Mariana kesal.


"Udah makan aja apa yang datang!" Jelas Marvel.


"Yang penting kan bisa dimakan, udah tenang aja, kalau nggak ada yang mau biar aku yang habiskan!" Jelas Zea.


"Aku siap bantu!" Cetus Rafeal.


"Kalian ini!" Ujar Rakes lalu mengusap pelan jilbab Zea.


"Apa kakak dan baby baik-baik aja?" Tanya Kania lalu beralih menatap wajah Zea.


"Iya dong, kami baik-baik saja!" Ujar Zea lalu menyentuh lembut wajah Kania.


Sesaat kemudian pesanan datang lalu semuanya langsung melahap semua makanan yang memenuhi meja, setelah semuanya selesai dan Marvel membayar semua tagihan, keenamnya lekas keluar dari Restauran tersebut dan segera menuju parkiran.


"Kania!" Panggil sebuah suara yang mana langkahnya kian mendekat pada Kania.


"Abang Mikeal..." Ujar Kania girang dan entah kenapa Kania bahkan langsung memeluk erat tubuh Mikeal.


"Abang..." Ujar Zea yang ikut memeluk Mikeal.


"Zea...." Ujar Mikeal lalu mendekap kedua gadis tersebut.


"Ada urusan kerjaan, kalian habis makan siang bereng nih cerita? abang telat dong!" Jelas Mikeal.


"Kan masih bisa makan malam!" Jelas Kania.


"Woke, ntar malam ya abang jemput!" Jelas Mikeal.


"Khmmmm!" Marvel berusaha menyadarkan ketiganya yang begitu larut tanpa peduli dengan keberadaan yang lainnya.


"Apa aku boleh ikut?" Tanya Mariana.


"Ana, kamu juga ada disini?" Ujar Mikeal.


"Udah sejak tadi kali, emang ya aura Zea sama Kania luar biasa sampai aku aja nggak kelihatan." Cetus Mariana.


"Sorry, ya udah ntar malam aku jemput kalian!" Jelas Mikeal.


"Khmmmmm!" Kali ini Rakes yang mulai berdehem tak jelas.


"Izin dulu kali! main bawa aja anak gadis orang?" Cetus Rafeal kesal.


"Jangan khawatir, aku pasti bakal izin sama om Iqbal, om Hendra dan juga pak Revtankhar." Jelas Mikeal.


"Gawat!" Ujar Rafeal pelan.


"Ana nggak boleh ikut!" Tegas Marvel.


"Lah kenapa?" Tanya Mariana tak mengerti.


"Zea juga nggak boleh ikut, Kania juga!" Tegas Rakes.


"Apa-apaan?" Protes Zea.


"Abang Rakes kenapa sih? kita cuma mau jalan sama abang Mikeal." Jelas Kania.


"Abang Rakes, abang Marvel, aku janji aku bakal jagain adik-adik kalian dengan baik, karena mereka adik aku juga." Jelas Mikeal.


Tangan Mikeal bergerak lalu sedikit membenarkan Jilbab Kania, entah apa yang terjadi dengan spontan Rafeal langsung menepis tangan Mikeal agar tidak menyentuh jilbab Kania.


Marvel bergerak lalu menarik Kania ke sampingnya.


"Meski kalian dekat sejak kecil tetap saja kalian bukan muhrim, cukup adegan pelukan mesra kalian jangan lanjutkan dengan menyentuhnya lagi!" Tegas Marvel yang tidak lagi bisa menahan rasa cemburunya.


"Abang Marvel..." Ujar Kania yang sedikit mulai ketakutan dengan sosok Marvel yang terlihat berbeda dari biasanya.


"Ana ikut abang pulang! Ayo Kania." Tegas Marvel yang langsung menyeret Mariana dan Kania masuk ke mobil.


Marvel pergi begitu saja.


"Abang Mikeal, sepertinya aku juga pamit pulang, gimana kalau nanti malam abang ikut makan malam di rumah aja, biar nanti aku bilang sama uma dan ayah!" Jelas Zea.


"Baiklah!" Ujar Mikeal yang juga mulai merasa tidak enak dengan yang lainnya.


"Aku duluan! Ayo Rafeal kita pulang!" Jelas Rakes yang langsung masuk ke dalam mobil disusul oleh Zea.


Perlahan Rafeal mendekati Mikeal.


"Aku tidak tau apa hubungan mu sebenarnya dengan Kania atau pun Zea, tapi aku ingatkan kalau mereka berdua milik sahabat aku. Satu lagi, Ana, bertemanlah selayaknya teman, karena dia calon istri ku, permisi." Jelas Rafeal dan langsung menyusul masuk ke dalam mobil.


_________________


"Lepaskan aku!!!!" Teriak Roger dari dalam kamar dengan tangan yang terus menggedor-gedor pintu dari dalam.


"Aku bilang lepaskan aku!" teriak Roger dengan penuh amarah.


Berulang kali Roger berusaha untuk keluar dari kamar tersebut namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa apa.


Sudah beberapa hari ia terkurung di sana, meski berulang kali ia mencoba untuk kabur tetap saja tak ada celah sama sekali, seakan ia berada di dalam penjara.


"Aku akan membalas mu, Marvel! akan aku buat kamu membayar semua ini, aku akan menghancurkan semua milik mu!" Gumam Roger penuh emosi dengan tangan yang terus saja membanting semua barang yang ada di dekatnya.


Perlahan pintu terbuka dari luar, Roger langsung bergegas menyerang namun tetap saja ia kalah cepat, sebuah tangan memasangkan borgol di tangannya lalu menyeret Roger ke ranjang dan kemudian memasangkan sisi borgol yang satunya lagi tepat di kaki ranjang.


"Lepaskan aku!" Teriak Roger.


"Kamu pikir ini ulahnya Marvel dan Rakes? kamu salah Roger, ini semua perintahnya pak Jordan, Tuan Jordan Muchtar." Tegas Lexel.


"Ciiiih! kakek tidak mungkin melakukan semua ini pada cucu kesayangannya!" Jelas Roger.


"Roger harusnya kamu sadar dengan semua kesalahanmu, Tuan Jordan menghukum mu karena kamu sudah berani menyentuh calon ahli warisnya." Tegas Lexel.


"Apa maksud mu?" Tanya Roger.


"Bayi yang ada di kandungan Zea, Tuan Rakes Junior, adalah ahli waris tunggal tuan Jordan." Jelas Lexel.


"Apa kamu sedang bercanda? lepaskan aku.....!" Gumam Roger semakin tak terkendali.


"Aku tidak akan melepaskan mu sampai kamu sadar atas semua kesalahan mu!" Tegas Lexel dan lekas keluar meninggalkan Roger.


"Jaga dia dengan baik, sediakan segala keperluannya dan juga jangan katakan pada pak Rakes dan juga pak Marvel kalau aku datang kesini!" Jelas Lexel setelah menutup pintu kembali.


"Siap pak!" Jawab semua pengawal yang terus berjaga di depan pintu kamar tersebut.


"Maafkan aku Rakes, aku harus melakukan semua ini untuk melindungi kamu dan Marvel, aku harus membawa nama tuan Jordan dalam masalah ini agar Roger berhenti memburu kalian berdua. Sekali lagi maafkan aku!" Ungkap Lexel yang terus saja menelusuri setiap lorong lalu lekas meninggalkan lokasi tersebut.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamidaπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ