
Tepat pukul 24.00 Rakes terlihat begitu telaten memasang beberapa pisau di bagian kaki panjangnya, setelah siap dengan stelan serba hitam lengkap dengan topi dan masker Rakes segera keluar dari kamarnya. Rakes terus berjalan dengan begitu pelan, menuruni tangga hingga ia sampai tepat diruang tamu di mana Iqbal sedari tadi menunggu dirinya.
"Gimana udah siap?" Tanya Iqbal ketika melihat kedatangan Rakes.
"Siap! Kali ini tak akan aku lepaskan mereka semua!" Gumam Rakes.
"Kita sudah merancang semuanya selama tiga hari, dan ayah tidak ingin kita gagal. Ayo berangkat!" Jelas Iqbal.
"Ayo!"
Keduanya mengenakan pakaian yang berwarna senada, bahkan postur tubuh keduanya juga terlihat sama, hanya saja Iqbal sedikit lebih tinggi dari Rakes, yah terlihat bak foto copy.
Keduanya langsung memasuki mobil dan siap meluncur.
"Zafran, mulai!" Perintah Iqbal setelah memasangkan alat di telinganya.
"Siap!" Jawab Zafran dari seberang.
Kali ini Iqbal dan Rakes melakukan misi tanpa sepengetahuan siapapun, mereka memilih beraksi secara diam-diam, tidak menggunakan jabatan apapun, mereka datang sebagai diri mereka masing-masing.
Rakes sengaja meminta bantuan Zafran agar semuanya bisa terkendali dengan mudah.
Dua hari yang lalu, Rakes mendekati putri tercintanya Temi lalu diam-diam memasang alat pelacak pada mobil milik Kesya, ya nama putri Temi adalah Kesya Marissa. Setelah membuat perencanaan sebaik mungkin, akhirnya malam ini mereka beraksi dengan di pandu oleh Zafran lewat alat-alat canggihnya.
Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang dua puluh menit, mobil yang di kemudikan Rakes berhenti di depan sebuah rumah minimalis lalu keduanya turun.
"Ini masih jarak sembilan rumah lagi kan? kenapa meminta kami berhenti di sini?" Tanya Iqbal kesal dengan perintah Zafran.
"Om Iqbal, jika kita berhenti terlalu dekat, om dan abang Rakes akan langsung di sambut oleh para penjaga istananya Temi." Jelas Zafran.
"Ciiiih kamu pikir om tidak sanggup....." Penjelasan Iqbal langsung di sela oleh Zafran.
"Tau, om kan monster. Tapi masalahnya malam ini om sedang dalam misi rahasia." Jelas Zafran.
"Oke, aku jalan lebih dulu." Jelas Rakes yang segera melangkah menuju istana mewah nan megah milik Temi.
"Kamu kearah Timur ayah yang masuk lewat Barat." Jelas Iqbal, lalu keduanya berpencar.
Iqbal bergegas kearah Barat, ketika ia sampai di pagar rumahnya Temi, Iqbal langsung menyusup dengan menaiki pagar beton nan tinggi, tubuh Iqbal mendarat sempurna di rerumputan halaman belakang istana megah tersebut. Mata elang Iqbal terus memperhatikan para penjaga yang mondar mandir di setiap sudut rumah, penjagaan mereka benar benar sangat ketat, butuh perkiraan yang handal agar bisa terlepas dari mata sangar para penjaga.
"Om langsung menuju pintu belakang, disana hanya ada beberapa penjaga." Jelas Zafran.
"Apa kamu sudah menemukan kamar Temi?" Tanya Iqbal.
"Pasti dong! Lantai dua kamar paling ujung merupakan kamar Kesya lalu di sebelahnya merupakan kamar Lestari sedangkan kamar Temi ada di lantai Tiga." Jelas Zafran.
"Om akan masuk ke plan B, Rakes maju, dan segera lakukan plan C!" Jelas Iqbal.
"Siap!" Jawab tegas Rakes yang langsung meloncat pagar depan dan langsung di sambut oleh para penjaga.
Rakes sudah bersiap untuk beraksi namun tiba-tiba seseorang kembali mendarat di sampingnya, kedatangannya membuat Rakes segera melihat kearah dimana ia berada.
"Aku nggak telat kan?" Tanya Zea dengan mengedipkan matanya.
"Habisi mereka!" Seru salah seorang pengawal.
Belum sempat Rakes bicara para anak buah Temi sudah menyerang mereka lebih dulu membuat Rakes dan Zea dengan sigap melawan.
Perkelahian pun terjadi, dengan gesit Rakes melawan para musuh ia bahkan masih sempat memperhatikan Zea meski ia juga sedang bergelut dengan para penjaga yang kian berdatangan.
"Cuma segini doang? mana lagi, coba mana, aku mau lihat!" Jelas Zea sambil mematahkan tangan salah satu penjaga yang terus menyerangnya.
"Haissssh!" Seru penjaga lainnya sambil melayangkan sebilah pisau kearah perut Zea, untungnya Zea bisa menghindar sehingga pisau tersebut hanya mengenai ruang kosong.
Rakes mendekat, lalu menyerahkan sebilah pisau pada Zea.
"Bunuh mereka semua!" Tegas Rakes yang langsung menerima anggukan dari Zea.
Keduanya terus bertarung hingga akhirnya satu persatu para penjaga tumbang, sepuluh menit berlalu dan semua musuh telah mereka bantai tanpa sisa.
Rakes menarik tangan Zea, menyeretnya untuk ikut bersama ke area taman belakang rumah.
"Apa ini Zea?" Tanya Rakes yang langsung melepaskan alat yang ada di telinga kirinya.
"Mengasah skill lama!" Jawab Zea sekenanya.
"Kenapa datang tanpa izin abang?"
"Apa Chim chim marah?"
"Lain kali, bicara dulu sama abang baru buat keputusan. Kamu adalah tanggungan abang, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?"
"Maaf!" Pinta Zea dengan wajah tertunduk.
Perlahan Rakes menyelipkan sebilah pisau di saku jaket Zea, lalu sedikit memperbaiki letak topi yang Zea kenakan.
"Siap komandan." Jawab Zea dengan penuh semangat.
"Ayo!" Ajak Rakes yang langsung menggenggam erat tangan Zea lalu keduanya kembali beraksi.
"Rakes bagaimana?" Tanya Iqbal.
"Aman! aku sedang menuju lantai dua." Jelas Rakes.
Dilain sisi, Iqbal tampak sedang bersiap untuk membuka pintu kamar Temi. Setelah dirasa semuanya aman, Iqbal langsung beraksi, langkah Iqbal disambut hangat dengan tinju yang membabi buta dari segala arah, membuat Iqbal tidak bisa mengelak hingga wajahnya menerima dua tinju dari arah yang berbeda.
"Apa ini?" Teriak Iqbal yang sukses membuat Zafran terperanjat kaget serta Rakes yang seketika menghentikan langkahnya.
"Apa yang terjadi? aku tidak bisa melihat apa apa lagi!" Tegas Zafran yang mana semua layar yang tadinya menampilkan seluk beluk istana Temi kini buram seketika.
"Zafran apa yang terjadi?" Tanya Rakes yang begitu khawatir.
"Sial, mereka memblokir semua signal, aku tidak bisa mengakses apapun!" Gumam Zafran.
"Ayah dimana? aku ke sana sekarang!" Jelas Rakes yang kembali mempercepat langkahnya.
"Stop! tetap di tempat semula, ayah bisa mengatasinya." Perintah Iqbal.
"Tapi..." Keluh Rakes.
"Kalian tenanglah, ini lahan ku!" Tegas Iqbal yang langsung melepaskan alat pendengarnya.
"Haaaiiiiiish! keluarlah! kamu tidak bermaksud untuk terus bersembunyi kan?" Seru Iqbal dengan suara lantang setelah melumpuhkan sepuluh penjaga di kamar utama tersebut.
"Bukannya kalian yang harusnya datang dengan lantang? kenapa datang secara diam-diam? lain kali bertamu lah dengan baik, maka aku akan menyambut kedatangan mu dengan pintu terbuka!" Jelas Temi yang baru saja masuk ke kamar tersebut.
"Oke, deal! bukankah kamu sudah tau kedatangan ku, jika tidak kamu tidak mungkin mempersiapkan kejutan ini!" Jelas Iqbal.
"Wowww ternyata kamu lebih sensitif dari dugaan ku. Bagaimana? apa kamu suka dengan penyambutan ku?" Tanya Temi.
"Tentu!" Jelas Iqbal masih betah di posisi semula.
Perlahan pintu kamar kembali terbuka, Seorang wanita yang mengenakan dress merah muda masuk, lalu kian melangkah mendekati Iqbal.
"Hai, lama tidak berjumpa, kamu terlihat semakin tampan saja." Sapa wanita tersebut dengan tangan yang menyentuh lembut wajah Iqbal.
"Jangan sentuh aku!" Gumam Iqbal yang langsung menangkis tangan Lestari dengan kasar.
"Wowww ternyata kamu masih sama, nggak ada yang berubah. Iqbal pemarah, emosi dan egois, yah kamu memang monster sejati." Jelas Lestari.
"Katakan apa yang kalian inginkan dari aku?" Tanya Iqbal.
"Kamu! yah sejak dulu kamulah yang aku mau. Kembalilah pada ku, maka aku akan membiarkan wanita cupu itu hidup dengan tenang!" Jelas Lestari.
"Wah! keren, apa aku harus berterima kasih dengan saran mu itu?" Ujar Iqbal sambil menepuk tangannya lalu perlahan mengitari Lestari.
"Hah! konyol!" Cetus Lestari.
"Sejak kapan kalian jadi tim?" Tanya Iqbal.
"Apa aku harus menjawab pertanyaan bodoh mu itu?" Tanya Temi dengan tatapan sinis.
"Nggak harus. Oke, aku rasa basa basinya cukup sampai disini, ayo kita mulai!" Jelas Iqbal yang langsung mengarahkan Senjatanya.
Pistol yang ada di tangan kanan mengarah sempurna di kepala Temi sedangkan yang di genggam di tangan kiri tertuju pada Lestari.
"Baiklah ayo kita mulai permainannya." Jelas Temi yang langsung melempar bantal kearah Iqbal membuat Iqbal melepaskan peluru tepat mengenai bantal yang melayang kearahnya.
Dengan gesit Iqbal berpindah tempat lalu menarik Lestari dibawah sandraannya.
Suara tembakan yang menggema membuat Rakes dan Zea mempercepat pekerjaannya di tangga, setelah semua musuh terkapar tak berdaya Rakes dan Zea segera menuju ke asal suara tembakan yang baru saja terjadi.
"Tepat waktu!" Tegas Temi yang menyambut kedatangan Rakes dan Zea dengan menyodorkan senjatanya tepat di kepala Rakes dan sebilah pisau yang ujungnya tepat di bagian perut Zea.
"Dua satu!" Jelas Temi dengan tawa puas penuh kemenangan.
"Dua dua!" Tegas Zea yang mengeluarkan pisau dari saku jaketnya lalu mengarahkannya tepat di bagian jantungnya Temi.
Mata Zea menatap Temi dengan penuh dendam, seakan Zea siap menarik keluar jantung Temi dengan kasar.
"Pastinya kamu juga bukan manusia, darah monster pasti akan mengalir dan melahirkan monster juga!" Gumam Temi yang juga ikut menantang tatapan Zea.
๐๐๐๐๐๐๐
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE๐๐
Stay terus sama My Princess๐๐๐
KaMsaHamidaโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธ