
Setelah keluar dari restauran mewah tersebut, Rakes dan juga Zea langsung meluncur dengan taxi menuju istana megah milik Jordan yang selama beberapa bulan terakhir ini jarang Rakes datangi.
Sepenjang perjalanan Rakes terlihat begitu gelisah, ia seakan sedang menahan segala amarah yang ingin segera ia lepaskan. Mata elangnya hanya menatap jalan lewat kaca mobil, melihat keadaan sang suami membuat Zea ikut resah, perlahan dengan begitu lembut Zea menyentuh pundak Rakes lalu mengusapnya pelan, membuat mata Rakes segera beralih pada wajah Zea yang tersenyum padanya.
"Tenang lah! tidak semua hal harus di selesaikan dengan amarah. Aku percaya kakek tidak pernah bermaksud untuk merusak hidup siapapun termasuk Mariana atau juga abang Roger. Saat kita tiba nanti, bicaralah secara baik baik dengan kakek, jangan sampai emosi Chim chim justru membuat hati kakek terluka. Chim chim...." Jelas Zea yang langsung terhenti karena Rakes mulai mengusap jilbabnya.
"Hmmmmm!" Ujar Rakes dengan mencoba memamerkan senyuman terindahnya.
"Auwwwwww!" Jerit Zea dengan tangan yang spontan memegang bagian dadanya.
"Kenapa? apa ada yang sakit? kamu oke?" Tanya Rakes panik.
"Adek meleleh bang! senyuman Chim chim merontokkan hati ku." Jelas Zea.
"Kambuh lagi deh!" Ujar Rakes lalu menarik Zea dalam pelukannya.
Taxi terus melaju membawa mereka hingga sampai tepat di depan rumah Jordan.
Setelah membayar tagihan taxi, Rakes dan Zea langsung bergegas memasuki gerbang yang menjulang nan tinggi. Pak satpam yang memang begitu mengenali Rakes segera membukakan gerbang.
"Tuan muda, wah sudah lama tuan muda nggak main ke sini, ayo mari bapak antar." Jelas Pak Wandi yang merupakan satpam yang sudah bertahun-tahun berkerja di rumah tersebut.
"Terima kasih!" Ucap Rakes.
Keduanya langsung masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka menuju pintu utama rumah megah milik Jordan.
Halaman yang begitu luas, membuat kaki lelah untuk menelusurinya.
Enam menit berlalu mereka sampai tepat di depan pintu yang begitu besar dengan warna keemasan.
"Apa kakek ada di rumah?" Tanya Rakes.
"Baru saja pulang, mau bapak panggilkan?" Tanya pak Wandi setelah membukakan pintu mobil untuk Rakes dan Zea.
"Nggak usah pak, biar saya langsung menemuinya sendiri." Jelas Rakes.
"Baiklah tuan muda, kalau begitu saya kembali ke pos." Jelas pak Wandi.
"Iya, terima kasih pak." Ujar Rakes.
Setelah menekan bel para pelayan pun membukakan pintu, saat melihat bahwa yang datang adalah Rakes seketika para pelayan langsung menundukkan kepala memberi hormat, Rakes bergegas menelusuri setiap ruangan, hingga akhirnya ia berhenti tepat di ruang santai di mana sang kakek sering menghabiskan waktu luangnya.
"Aku ingin bicara!" Jelas Rakes yang langsung duduk di hadapan Jordan sedangkan Zea masih saja berdiri di ambang pintu sana.
"Zea, ayo duduk sini!" Ajak Jordan.
"Iya kek!" Jawab Zea yang perlahan masuk lalu duduk di dekat Rakes.
"Kek!" Panggil Rakes.
"Apa kalian sudah makan? kita makan siang dulu setelah itu baru kamu bicarakan apa yang ingin kamu protes." Jelas Jordan.
"Tolong batalkan perjodohan Roger dan Mariana!" Tegas Rakes yang seketika menghentikan kaki Jordan yang tadinya ingin meninggalkan ruangan tersebut.
Zea mencoba menyentuh jemari Rakes, mencoba untuk menenangkan hatinya. Jordan kembali duduk di posisi semula.
"Kenapa kamu tidak bertanya lebih dulu kenapa kakek menjodohkan mereka?" Tanya Jordan.
"Aku tidak peduli dengan semua itu, yang aku mau batalkan perjodohan mereka." Tegas Rakes.
"Apa kakek melakukannya untuk menyelamatkan hubungan Kania dan abang Marvel?" Tanya Zea.
"Zea, di hati dan pikiran kakek nggak ada tentang hal apapun kecuali tentang kebahagiaan suami mu, segala hal yang kakek lakukan adalah demi cucu kesayangan kakek." Jelas Jordan.
"Apa hubungannya dengan aku? ini tentang Roger bukan aku!" Tegas Rakes.
"Sejak dulu yang Roger mau bukan Kania tapi Zea. Sejak dulu yang dia mau jabatan yang lebih tinggi dari kamu bukan warisan, dia ingin unggul dalam segala hal dari kamu. Adik mu itu yang terlihat begitu menyayangi mu, tapi dalam diam mencari cara untuk menjatuhkan mu. Jika kakek tidak menjodohkannya dengan Mariana putrinya Gaffar, maka dia akan terus berusaha untuk merebut istri mu." Jelas Jordan.
"Zea, Roger sangat mencintaimu. Rasa sayang dia buat kamu membuat hatinya membenci saudaranya sendiri." Jelas Jordan.
"Cukup kek! hentikan omong kosong ini!" Tegas Rakes.
"Kakek akan bertanggung jawab pada setiap keputusan yang kakek ambil. Ini semua salah kakek karena sejak kecil kakek tidak mendidiknya dengan baik, sejak kecil kakek lebih banyak mencurahkan kasih sayang kakek padamu hingga kakek membuatnya tumbuh menjadi sosok yang seperti ini." Jelas Jordan dan langsung meninggalkan ruangan tersebut.
Zea yang mulai di serang dengan rasa bersalah seketika membuat hatinya berkecamuk gundah. Jemarinya terus meremas satu sama lain. Pandangan yang terus menunduk pada detik ini berakhir dengan tetesan air mata. Rakes menggeserkan tubuhnya mendekat pada Zea.
"Semuanya akan baik-baik saja. Ini bukanlah salah kamu." Jelas Rakes pelan.
"Tapi aku yang secara tak langsung membuat Kania dan Mariana harus berada dalam masalah." Jelas Zea.
"Abang akan merapikan semua kekacauan ini, ini kan resiko punya istri cantik." Ujar Rakes yang sontak membuatnya menerima pukulan pada bagian dadanya.
"Sakit! ntar kalau lecet mau tanggung jawab?"
"Nanti malam akan aku obati!" Jelas Zea yang segera berlari meninggalkan Rakes.
"Zea, skill mesum mu semakin hari semakin meningkat aja, selalu sukses buat jantung abang menggila tak karuan." Ujar Rakes.
"Tuan muda, makan siangnya sudah siap. Tuan Jordan pesan, sebelum pulang tuan muda dan nona harus makan siang dulu." Jelas seorang pelayan wanita.
"Memangnya kakek kemana?" Tanya Rakes.
"Tuan Jordan baru saja pergi bersama sekretaris nya."
"Oke, terima kasih mbak."
"Sama-sama tuan muda, permisi" Ujar pelayan tersebut dan langsung pergi.
Rakes pun segera bergegas ke ruang makan dimana Zea sudah lebih dulu menunggunya di sana.
______________________
"Roger!!!!" Teriak Marvel yang menerobos masuk ke dalam kantornya Roger bahkan Marvel membuat para satpam kewalahan dengan dirinya.
Marvel yang datang dengan membuka kasar pintu kantor Roger membuat sang empunya terperanjat dari kursi tatahnya. Empat orang satpam bahkan ikut masuk dan juga dua sekretaris nya Roger.
"Kami sudah mencegahnya pak, tapi dia tetap juga memaksa untuk masuk!" Jelas salah seorang satpam.
"Maafkan kami pak!" Jelas salah seorang sekretaris nya.
"Kalian keluarlah, dia tamu istimewa saya." Jelas Roger.
"Baik pak!" Jawab mereka dan lekas keluar.
"Kalau mau datang kesini, datanglah dengan cara baik baik, kita keluarga kan? aku pasti akan menyambut kedatangan abang dengan baik." Jelas Roger yang perlahan duduk kembali.
Marvel terus melangkah menuju meja kerja Roger, lalu dengan kasar kedua tangannya bertumpu pada meja tersebut, dalam jarak yang begitu dekat, Marvel terus menatap wajah Roger.
"Jangan ganggu wanitaku. Jangan sentuh salah satu dari ketiganya! Tidak Kania, Zea dan juga adik aku, Mariana. Jangan pancing kegilaan aku, karena aku bisa lebih gila dari pada Rakes." Tegas Marvel.
"Wanita mu?" Ulang Roger sinis.
"Kania, dia calon istriku, Mariana adik aku satu-satunya dan Zea istri dari sahabat aku. Jangan usik mereka atau aku akan memperkenalkan pada mu bagaimana rasa sakit yang sebenarnya!" Tegas Marvel dan lekas keluar dari ruangan tersebut.
"Wanita ku? aku juga akan memperlihat pada mu siapa aku sebenarnya. Meski harus menjadikan Mariana sebagai jembatan untuk mendapatkan My Queen, aku akan tetap melakukan nya. Akan aku tempuh jalan manapun untuk mendapatkan My Queen ku kembali. Tunggu, istri? sejak kapan mereka menikah? apa ada yang aku lewatkan? apa yang sebenarnya telah terjadi??" Gumam Roger dengan penuh ambisi.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ