
'Plaaaaak' Tangan Hadi mendarat sempurna di pipi Roger yang saat ini berada di dalam ruangan interogasi.
"Abang Hadi..." Ujar Angel yang segera ikut masuk lalu menghentikan aksi Hadi yang kembali ingin menampar Roger.
Bawahan Angel yang sedang menjalankan tugasnya di ruangan tersebut pun ikut bangun dari kursinya, perlahan Hadi kembali mendekati Roger yang masih duduk di kursinya.
"Hukum dia sesuai undang-undang yang berlaku!" Gumam Hadi dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Lanjutkan interograsi!" Perintah Angel dan segera menyusul Hadi keluar.
"Siap!" Jawabnya tegas lalu kembali menjalankan tugasnya.
"Abang Hadi!" Panggil Angel sambil terus berlari mengejar Hadi.
"Aku benar-benar muak dengan semua tingkahnya!" Ujar Hadi dengan penuh kecewa.
"Tenanglah dulu, belum tentu semua ini Roger yang melakukannya. Belum ada bukti yang jelas, kasus ini masih dalam penyelidikan!" Jelas Angel.
"Dimana Roger?" Tanya Iqbal yang baru saja datang bersama dengan Hendra.
"Masih di ruangan interograsi." Jawab Angel.
"Dion dan yang lainnya?" Tanya Hendra.
"Juga masih dalam penyelidikan!" Jawab Angel.
"Kemungkinan yang ada?" Tanya Iqbal.
"80% mengarah pada mereka!" Jelas Angel.
"Kali ini jangan lagi lepaskan dia, penjarakan dia!" Gumam Hadi dan lekas pergi.
"Abang...." Panggil Iqbal dan segera menyusul Hadi.
"Tuntaskan semuanya, tanpa ada kesalahan sedikitpun. Abang serahkan semuanya sama kamu, abang tau kamu akan melakukannya dengan baik. Abang akan coba untuk menenangkan abang Hadi." Jelas Hendra.
"Hmmmmmm!" Ujar Angel.
___________________
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Jordan yang terlihat jelas begitu di penuhi dengan amarah, ia bahkan menghantam meja yang ada di depannya dengan cukup keras.
"Pa, tenanglah dulu! abang Hadi sedang menyelidiki semuanya!" Jelas Erina.
"Jika memang nanti anak kesayangan mu itu terbukti bersalah maka papa akan mengambil semua aset papa kembali, papa akan membuat dia mendekam di penjara, biar dia sadar kalau apa yang selama ini dia lakukan adalah salah!" Jelas Jordan.
"Pa....!" Ujar Erina.
"Jangan lagi membela bocah nakal itu, kesalahan yang dia lakukan selama ini adalah buah dari sikap kita yang kerap kali memanjakan dia." Jelas Jordan.
"Pa, biar polisi yang memutuskan semuanya." Ujar Erina.
"Kamu tau? kali ini dia membuat nyawa anak Revtankhar dalam bahaya, bagaimana kalau hal buruk terjadi pada Marvel? apa yang harus papa katakan pada mereka!" Jelas Jordan.
"Erin akan ke rumah sakit sekarang, Erin pamit pa!" Ujar Erina dan lekas pergi.
"Semua salah aku karena begitu memanjakan dia!" Gumam Jordan yang terus menyalahkan dirinya sendiri.
____________________
"Dokter, katakan sesuatu?" Pinta Kania dengan penuh harap.
"Saya belum bisa memastikan apa-apa, saat ini keadaan pak Marvel masih kritis, saya akan terus memantau keadaannya. Maaf hanya ini yang bisa saya sampaikan, permisi." Jelas Sang dokter dan lekas pergi bersamaan dengan ranjang di mana Marvel masih terbaring lemah dibawa keluar dari ruang operasi.
"Abang...." Ujar Kania saat melihat wajah pucat Marvel.
"Abang...." Panggil Mariana lalu mencoba menyentuh tangan Marvel.
"Maaf bu, untuk saat ini pasien masih harus dirawat secara intensif. Bapak dan ibu tidak boleh dulu menemuinya." Jelas seorang suster.
"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?" Gumam Zea pada dirinya sendiri.
"Tenanglah sayang, tenang, kita hanya harus mendoakan Marvel, percayalah semuanya akan baik-baik saja!". Ujar Rakes mencoba menenangkan Zea.
"Marvel adalah laki-laki yang kuat, dia pasti akan segera melewati masa kritisnya, pasti!" Tegas Rafeal meyakinkan dirinya sendiri.
"Dimana Marvel?" Tanya Aryani yang baru saja datang dengan didampingi oleh suami tercinta.
"Apa Marvel masih di ruangan operasi?" Tanya Revtankhar.
"Baru saja dipindahkan keruang rawat!" Jawab Kania.
"Udah, Kamu tenang ya sayang. Papi kenal banget dengan anak papi, dia pasti kuat, dia akan segera bangun untuk kamu, istri tercintanya!" Ujar Revtankhar sambil merangkul bahu Kania dengan penuh kasih sayang.
"Mami, papi, ini semua salah aku, jika saja aku tidak menyetujui permintaannya untuk menggantikan aku, pasti ini semua tidak akan terjadi padanya, aku minta maaf, aku yang salah!" Jelas Rakes dengan kepala tertunduk.
"Sayang, Rakes..." Ujar Aryani yang perlahan melangkah pada Rakes lalu mengusap lembut rambut Rakes.
"Jika kamu yang terbaring di sana, mami yakin Marvel akan lebih terluka, dia pasti akan terus menyalahkan dirinya sendiri." Jelas Aryani.
"Tapi...." Keluh Rakes.
"Kamu masih ingat betul kejadian beberapa tahun yang lalu kan? saat Rafeal terluka?" Tanya Aryani yang kembali mengenang kisah mereka bertiga.
"Hmmmmmm, waktu itu bahkan dia hanya berdiam diri di kamar selama satu minggu tanpa makan dan tanpa bicara sama sekali, dia terus saja menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menolong aku." Jelas Rafeal dengan penuh kesedihan.
"Kalian, tenanglah, semuanya akan segera membaik!" Ujar Revtankhar.
"Hmmmmmm, abang pasti akan segera bangun!" Ujar Kania.
"Kalian pasti capek banget, istirahatlah sebentar, sini biar Uzun sama mami aja!" Jelas Aryani yang mengambil Uzun dari Rafeal.
"Iya, paling tidak duduklah sebentar!" Ujar Revtankhar lalu ikut mengambil Azan.
"Cucu oma, kasian kalian nak, harus tidur kayak gini!" Ujar Aryani.
"Kenapa masih berdiri? duduklah!" Pinta Revtankhar dan semuanya langsung menurut.
Mereka hanya terdiam untuk beberapa saat sembari melepas lelah dan juga mencoba untuk sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Saat semuanya terbawa suasana tenang tiba-tiba sebuah ranjang digiring melewati lorong dimana mereka berada.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Zea yang langsung bangun saat melihat sosok yang terbaring di ranjang sana telah ditutupi dengan kain putih.
"Ke....kenapa kalian membawanya keluar?" Gumam Kania dengan air mata.
"Jangan bercanda, kembalikan Marvel ke ruang rawatnya!" Gumam Rafeal penuh amarah ia bahkan langsung berlari mendekati ranjang tersebut.
Tangan Rafeal hendak menyikap kain yang menutupi wajah tersebut namun sebuah suara menghentikan geraknya.
"Jauhkan tangan mu dari suami ku!" Tegas seorang wanita yang segera mendekati Rafeal ia bahkan menangkis kasar tangan Rafeal.
"Maaf pak, ini bukan pak Marvel! maaf!" Ujar Salah seorang suster dan lekas membawa mayat tersebut pergi.
"Maaf!" Ujar seorang suster yang datang dari arah lainnya.
"Kenapa? apa yang terjadi?" Tanya Mariana panik.
"Maaf, yang mana ibu Kania?" Tanya Suster tersebut.
"Saya...." Ujar Kania.
"Mari ikut bersama saya!" Ajaknya lagi.
"Kemana?" Tanya Rakes.
"Pak Marvel baru saja siuman, dan sebenarnya belum bisa di temui, tapi pak Marvel meminta agar istrinya dibolehkan masuk, ayo mari bu Kania!" Jelas Suster tersebut.
"Syukurlah!" Ujar semuanya hampir berbarengan.
"Ayo!" Ajak Kania yang bahkan langsung berlari menuju ruang rawat Marvel.
"Benarkan kata papi, dia itu anak papi, jadi papi tau kalau dia kuat!" Jelas Revtankhar dengan raut wajah bahagia.
💜💜💜💜💜💜💜
Jangan lupa LIKE Comen n vote@ ya😉
stay terus sama My Princess 😘😘
Khamsahamida💜💜💜