My Princess

My Princess
#019



"Uma!" Panggil Zea dengan suara menggema ke seluruh ruangan.


Zea terus saja memasuki rumah dengan wajah yang tidak bisa berhenti tersenyum bahkan dia sesekali tampak menari bahagia sambil terus berjalan melewati setiap ruangan.


"Zea, berapa kali harus uma katakan, beri salam sebelum masuk rumah, kenapa masih saja berteriak membuat telinga uma pekak!" Jelas Elsaliani yang sedang bersantai di ruang keluarga bersama sang suami tercinta.


"Assalamualaikum, uma, ayah." Ujar Zea dengan suara yang begitu lembut lalu menyalami kedua orang tuanya.


"Hai adik, apa kabar? miss you." Sapa Zea sambil duduk di samping Elsaliani lalu menepis tangan Iqbal yang sedari tadi berada di perut rata Elsaliani lalu menggantikannya dengan usapan lembut dari tangannya.


"Baik kak Zea, miss kakak juga." Ujar Elsaliani dengan menirukan suara bayi.


"Udah awas, sana gih ganti baju, ganggu aja!" Cetus Iqbal yang kini membalas perlakuan Zea terhadapnya barusan.


Iqbal menjauhkan tangan Zea dari perut Elsaliani lalu kembali meletakkan tangannya di sana.


"Ayah apa-apaan sih? minggir!" Cetus Zea kesal lalu kembali mencoba menepis tangan Iqbal.


"Lah kok ayah yang minggir? ini kan istri ayah, terserah dong mau ayah apain aja, toh halal!" Jelas Iqbal lalu memeluk erat tubuh Elsaliani.


"Belum puas dari pagi sampai siang menempel sama uma? Zea juga punya jatah buat dekat-dekat sama uma dan adek, kan Zea juga anak uma!" Protes Zea.


"Berhenti berdebat, uma pusing!" Jelas Elsaliani yang sedikit kewalahan karena dihimpit dari kedua sisinya.


"Uma pusing? ayo rebahan, istirahat." Pinta Zea dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Dimana yang sakit sayang, ayo kita ke rumah sakit." Ajak Iqbal yang tak kalah panik dari Zea.


"Uma nggak perlu rebahan apa lagi ke rumah sakit, yang uma mau tolong beri ruang buat uma bergerak dan bernafas, ayah sama Zea membuat uma sesak!" Jelas Elsaliani.


"Sorry!" Pinta Iqbal dan Zea bersamaan lalu agak bergeser mencoba memberi ruang gerak untuk Elsaliani.


"Terima kasih, uma sayang Zea, ayah dan juga adek!" Ujar Elsaliani lalu mengecup kening Zea dan juga Iqbal secara bergantian.


"Kami jauh lebih sayang sama uma?" Ujar Zea dan segera memeluk erat uma tercinta.


Iqbal kembali mendekat lalu merangkul keduanya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan.


"Apa tadi terjadi sesuatu di sekolah?" Tanya Elsaliani setelah memperhatikan wajah Zea yang terlihat begitu bahagia.


"Apa kamu bolos lagi? kamu pasti nggak masuk kelas, iya kan?" Tebak Iqbal.


"Ayah selalu saja negatif thinking sama Zea, emang Zea murid apaan." Gumam Zea yang berusaha membuat Iqbal untuk berhenti mencurigainya.


"Zea yang duluan buat ayah curiga dan was-was, waktu itu Zea pulang dengan begitu bahagia terus besoknya datang surat kalau Zea cabut dari sekolah. Nah kalau sekarang ayah negatif thinking, bukan salah ayah dong!" Jelas Iqbal.


"Itukan cerita lama ayah, sekarang Zea udah taubat!" Tegas Zea.


"Bagus dong!" Ujar Iqbal.


"Jadi apa yang membuat putri tercantik uma terlihat begitu bahagia hari ini?" Tanya Elsaliani.


"Ada deh!" Ujar Zea dengan senyuman menggoda.


"Oke, jadi mau main rahasia-rahasiaan nih sama uma?" Tanya Elsaliani.


"Uma tenang aja, ntar Zea ceritain kok. Kalau gitu Zea keatas dulu mau mandi, bye ayah, bye uma!" Jelas Zea yang segera berlari menuju tangga dan bergegas ke kamarnya.


"Mas lihat tadi kan? pasti terjadi sesuatu." Tebak Elsaliani dengan mata yang masih menatap kepergian Zea.


"Zea udah gede sayang, adakalanya dia punya cerita yang tidak harus dibagi sama kita."


"El tau, cuma, hmmmmmm, gimana kalau sekarang ini Zea sedang jatuh cinta."


"Bagus dong!"


"Mas, gimana kalau orang yang membuat Zea terlihat bahagia seperti tadi bukanlah Rakes tapi orang lain, bagaimana kalau justru Rayyan yang berada dibalik tawa Zea"


"Zea masih remaja, paling juga cinta monyet, biarkan saja, karena pada akhirnya hanya Rakes yang akan menjadi menantu kita, bukan yang lainnya." Tegas Iqbal.


"Rakes adalah orang yang sangat mencintainya, tidak ada yang mencintai Zea seperti yang Rakes lakukan."


"El tau, toh El juga begitu berharap mereka bisa bersama. Tapi memaksakan kehendak kita bukanlah hal baik."


"Apapun ceritanya, Zea hanya akan menikah dengan Rakes."


"Apa mas ingin melihat reka ulang masa lalu kita pada mereka?"


"Apa maksud ucapan sayang?"


"Mas, Zea itu mas didik menjadi setangguh dan sekuat mas, aku hanya takut Zea dan Rakes justru akan terluka"


"Sayang, apa sayang sadar dengan apa yang baru saja sayang katakan? Sayang sedang mengenang semua kisah kelam mas kan?"


"Bukan itu maksud El..."


"Mas tau, mas pernah membuat cerita kelam dalam hidup sayang, mas menyakiti sayang lahir dan batin, mas memang salah..."


"Mas, bukan itu maksud El." Sergah Elsaliani yang langsung memotong pembicaraan Iqbal.


"Mas tau, sayang takut kan kalau Rakes akan mengulangi masa lalu mas pada Zea?"


"Justru sebaliknya, El takut Zea yang akan menoreh luka pada Rakes. Mas lihat, Rakes begitu mencintai Zea, dia akan melakukan semuanya demi Zea. Tapi Zea, dia bahkan tidak pernah menoleh pada Rakes."


"Sayang..."


"El hanya tidak mau kalau sampai Rakes mengalami hal yang sama seperti yang pernah El alami. Jujur, mencintai dalam diam itu sangat menyiksa, dada terasa sesak setiap kali melihat orang yang kita cintai justru mengatakan cintanya pada orang lain, sakit mas!" Jelas Elsaliani dengan tetesan air mata lalu menundukkan pandangannya.


"Sayang, maaf!" Pinta Iqbal yang segera merangkul tubuh sang istri ke dalam dekapannya.


"El memang sudah melupakan semuanya, karena itu El tidak ingin ada orang lain yang merasakannya, lebih-lebih Rakes, lelaki baik yang penuh tanggung jawab. Dia bahkan mengorbankan cita-citanya hanya untuk melindungi Zea."


"Mas ngerti, mas akan kembali membicarakan tentang ini semua dengan Rakes."


"Maaf, karena El merusak semua rancangan mas! El hanya tidak ingin ada yang kembali terluka."


"Mas paham sayang, kita akan melakukan yang terbaik untuk mereka berdua. Maafkan keegoisan mas!"


Iqbal semakin mempererat pelukannya hingga membuat Elsaliani tenang dalam dekapan hangatnya.


___________________


"Chim-chim, khmmmm! Chim-chim...." Seru Zea sambil terus mengendap-ngendap ke dalam kamar Rakes.


Zea terus saja celingak-celinguk mencari sosok Rakes yang tak kunjung terlihat. Setelah menelusuri ke seluruh bagian kamar namun ia tidak juga bisa menemukan sosok yang begitu ia rindukan dari tadi siang.


"Kemana sih? main ngilang tanpa kabar, udah malam bukannya pulang malah keluyuran sana sini. Padahal aku udah nyiapin nama panggilan ter-unyu buat dia, capek-capek berjam-jam nyariin nama yang pas, eh pas di panggil malah nggak ada yang dengar, kesal! awas aja, bakal aku raba tuh dada kekar, hahahaha!" Gumam Zea seorang diri lalu membaringkan tubuhnya ditempat tidur.


Kedua tangan Zea terus mengusap lembut bagian seprei di kedua sisinya, lalu menghirup aroma wangi yang menebar di seluruh kamar.


"Perfect!" Seru Zea.


"Zea...!" Seru sebuah suara bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mandi.


Mendengar namanya di panggil Zea tersenyum bahagia, lalu dengan cepat bangun dan segera mengarahkan pandangannya ke asal suara tersebut.


"Chim-chim! aku ka...." Suara lantang Zea langsung terhenti, wajahnya yang memamerkan senyum bahagia hilang seketika, kini hanya wajah yang di penuhi kebingungan bahkan langkah kakinya langsung mundur tanpa terkendali.


"Abang Ro.....ger!" Seru Zea dengan suara terbata-bata.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😉😉


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️