
"Selamat malam sayang..." Sapa Rakes lalu duduk di sebelahnya Urshia yang terlihat sedang termenung di balkon sebelah kamarnya.
Menyadari kedatangan sang daddy, Urshia yang tadinya duduk termenung di atas besi pembatas segera bangun lalu mendekati Rakes dan langsung memeluknya dengan erat.
"Kenapa sayang? ayo cerita sama daddy!" Ujar Rakes sambil mengusap pelan jilbab Urshia yang bahkan terlihat begitu kusut tak berantakan.
"Daddy..." Ujar Urshia yang bahkan diiringi dengan air mata.
"Ayo duduk sini, cerita sama daddy! apa ini ulah Uzun?" Tanya Rakes yang membawa Urshia duduk ke sofa di dekat pembatas.
"Bukan, ini tentang..."
"Tentang apa?"
"Tentang perasaan Shia."
"Jika kamu tidak lagi mencintai Uzun, maka jangan paksakan. Daddy nggak mau kamu tertekan. Shia, sekarang kamu sudah besar, kamu pasti bisa melihat dengan baik siapa yang baik untuk hidup mu nanti, jangan karena Uzun anaknya daddy, lalu kamu mengorbankan perasaan mu sendiri."
"Bukan itu maksud Shia! ini bukan tentang perasaan Shia untuk abang Uzun."
"Lalu??"
"Ini tentang perasaan Shia yang begitu egois, bahkan kerap kali melukai perasaan abang Uzun."
"Itu wajar, saat kita ingin mengikat orang yang kita cintai agar selalu di sisi kita, agar tak tersentuh oleh orang lain sedikit pun."
"Tapi Shia justru membuat abang Uzun dibenci oleh banyak orang!"
"Itu konsekuensi dia sendiri!"
"Daddy...." Seru Urshia dengan gelak tawa sambil menatap wajah Rakes.
"Shia, daddy sama sekali tidak ingin memaksa apapun dari kalian berempat, daddy tidak ingin megekang kalian untuk melakukan semua keinginan daddy. Saat Uzun dan Azan memilih jalan mereka dan sama sekali tidak ingin menjadi anggota seperti kami, lalu apa daddy harus memaksa mereka berdua? Terlepas dari apapun pilihan mereka, daddy tetap akan mendukung mereka berdua, begitu juga dengan Shia dan Arin, jika memang nantinya kalian berempat tidak berjodoh, tak ada yang harus di salahkan, karena cinta tidak bisa di paksakan."
"Jika nanti Shia harus melepaskan abang Uzun, maka akan Shia lakukan jika itu adalah pilihan yang abang Uzun buat."
"Yang bisa membuat pilihan cuman kamu. Udah terlalu larut, sana gih tidur, good night, anak gadis daddy tersayang." Ujar Rakes lalu kembali mengusap lembut jilbab Urshia lalu pergi meninggalkan Urshia.
"Daddy terlalu baik pada ku, sampai aku jadi bingung sebenarnya yang anak Daddy itu aku atau abang Uzun sih?" Ujar Urshia dengan senyuman bahagia.
"Khmmmmmm!" Perlahan Uzun melangkah mendekati Urshia yang masih duduk di tempat semula.
"Jangan cari gara-gara!" Jelas Urshia lalu cepat-cepat bangun dari tempat duduknya.
Sebelum Urshia berhasil beranjak dari tempatnya, tangan Uzun telah lebih dulu menahan tangannya Urshia.
"Abang jangan gila, kalau daddy tau dia bakal memotong tangan abang!" Tegas Urshia yang langsung menarik paksa tangannya dari genggaman Uzun.
"Duduklah, ada hal yang ingin abang bicarakan!" Pinta Uzun yang kini memilih duduk pada pembatas balkon.
Sejenak mematung dengan menatap pada Uzun yang sejak tadi duduk dengan kepala tertunduk, perlahan Urshia kembali duduk di tempat semula.
"Apa ada masalah?" Tanya Urshia yang masih setia menatap kearah Uzun.
"Boleh abang yang pilihkan masa depan untuk Shia?"
"Maksudnya"
"Ayo kita sering bertemu, di rumah, di jalan, dan juga di tempat kerja."
"Apa sekarang abang sedang meminta Shia tuk jadi dokter?"
"Hmmmm" Jawab Uzun yang kini mulai mengangkat wajahnya dan memandang wajah Urshia yang kini menatap Uzun dengan wajah heran.
"Kalau Shia tak suka, abang tidak akan memaksa kok, sama sekali tidak." Jelas Uzun lalu bangun dari tempat duduknya.
"Tidurlah, selamat malam!" Lanjut Uzun dan beranjak dari tempat tersebut.
"Setelah tamat nanti, aku akan mendaftar di universitas kedokteran, mohon bantuannya ya pak dokter!" Jelas Urshia dan lekas kembali ke kamarnya.
"Kamu benaran? abang nggak salah dengar kan?" Tanya Uzun yang masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Jangan lupa, bantuannya!" Teriak Urshia lalu menutup pintu kamarnya.
"Yes, yeeeee. Waaaah, kamu hebat Uzun. Yes! berhasil." Seru Uzun kegirangan ia bahkan meloncat penuh kebahagiaan.
"Bahagia benar! menang jacpot atau gimana nih?" Tanya Arina yang melintasi balkon dengan segelas air di tangannya.
"Arin, ini lebih dari sekedar jacpot!"
"Apaan sih? ada apa?"
"Shia bakal masuk universitas kedokteran!" Cerita Uzun masih dengan senyum bahagia.
"Terus gimana dengan kalian? udah ikut abang Azan aja, sekalian dijagain supaya nggak di goda sama wanita lain." Jelas Uzun.
"Maunya sih gitu!"
"Lah terus?"
"Masalahnya, abang Azan nggak ngebolehin!"
"Apa? biar abang yang bicara!"
"Percuma, mama Nia udah bicarakan, tapi..."
"Tapi, kenapa?"
"Dulu aku pernah cerita, kalau aku ingin jadi dokter, dan sekarang aku bilang mau pilih jurusan hukum, abang Azan malah melarangnya, dia nggak mau aku mengorbankan cita-cita aku hanya agar bisa mengikutinya. Pada hak nggak gitu, oke, dulu memang aku ingin jadi dokter tapi tuk sekarang aku benar-benar ingin menjadi jaksa, dan itu sama sekali bukan karena abang Azan." Jelas Arina.
"Bodoh!"
"Abang ngatain aku?"
"Bukan kamu, Arin. tapi abang Azan, biar nanti abang yang menyadarkan dia dari kebodohannya itu!"
"Apa akan berhasil?"
"Pasti, pokoknya apapun akan abang lakukan untuk adik abang tersayang!" Jelas Uzun sambil mengusap pelan kepalanya Arina.
"Terima kasih abang terbaik ku!" Ucap Arina dengan senyuman manis.
"Udah, sana gih tidur, selamat malam!" Ujar Uzun dan kembali ke kamarnya begitu pula dengan Arina yang bergegas ke kamarnya.
__________________
Tanpa sepatah kata pun Uzun langsung masuk ke dalam mobil Azan. Uzun bahkan langsung memasang sabuk pengaman tanpa peduli dengan tatapan Azan yang sejak tadi seakan meminta penjelasan atas tingkah Uzun yang main nyosor ke dalam mobilnya.
"Nanti adek jelaskan, udah berangkat gih, ntar telat! pagi ini abang ada sidang kan?" Jelas Uzun sembari memejamkan matanya.
"Kalau pun mau ikut, ya paling tidak tuh kartu tanda pengenalnya di lepas dulu kali, toh semua orang juga tau kalau kamu dokter bedah terbaik." Jelas Azan.
"Saraf!" Tegas Uzun.
"Iya dokter saraf. Saraf adek tuh yang bermasalah!" Gumam Azan dan langsung menjalankan mobilnya.
Mobil mulai melaju menelusuri sepanjang jalan menuju pengadilan yang akan menjadi tempat Azan bertarung hari ini.
"Mau menonton sidang atau ada hal yang ingin adek bicarakan dengan abang?" Tanya Azan yang masih fokus mengemudi.
Lama terdiam, Azan tak juga kunjung mendapatkan jawaban dari Uzun.
"Adek!" Panggil Azan dengan mata yang mencoba melirik pada Uzun yang duduk di sebelahnya.
"Bushhhh, tidur nih anak! Uzun, Uzun." Ujar Azan pelan, dan membiarkan adiknya tertidur lelap, ia yang tadinya ngebut kini malah sedikit mengurangi laju mobil agar Uzun bisa tidur setidaknya sedikit lebih lama lagi.
Azan tau betul kalau Uzun kerap kali kurang tidur, banyaknya jadwal operasi belakangnya ini malah membuatnya jarang pulang ke rumah, kalau pun pulang itu hanya sekedar ganti baju atau ingin melihat Urshia.
beberapa menit berlalu, kini mobil Azan berhenti di parkiran tepatnya di depan gedung pengadilan nan megah. Setelah memarkirkan mobilnya, sejenak menatap wajah teduh Uzun, lalu mau tidak mau ia tetap harus membangunkan Uzun.
"Adek, Uzun..." Panggil Azan pelan dengan tangan yang menyentuh lembut lengan kekar milik Uzun.
"Hmmmmmm" Sahut Uzun lalu perlahan membuka matanya.
"Mau lanjut tidur atau ikut masuk ke ruang sidang sama abang? kebetulan ini sidang terbuka!" Jelas Azan.
"Aku ikut abang aja!"
"Yakin?"
"Hmmm, demi Arin!"
"Demi Arin?"
"Ah...hmmmm nanti aku jelaskan, sekarang ayo kita masuk!" Ajak Uzun yang bahkan langsung keluar dari mobil.
Azan pun segera keluar dan bergegas kembali menghampiri Uzun.
"Apa maksudnya?" Azan kembali bertanya.
"Udah abang sidang dulu, ntar bari kita bicara!"
"Baiklah!" Ujar Azan ngalah dan langsung menuju ke ruang sidang dengan diikuti oleh Uzun.
💜💜💜💜💜💜💜