
Senyup-senyap suara azan nan merdu mulai terdengar dari mesjid-mesjid terdekat. Rakes yang memang sudang duduk berzikir di atas sajadah lekas menghentikan zikirnya, sejak selepas sholat tahajud tiga jam yang lalu, Rakes tidak melanjutkan tidurnya lagi ia malah terlihat begitu larut dalam zikirnya. Tasbih yang ada di tangannya, kini ia letakkan tepat diatas sajadah disisi kanan, kini mulutnya mulai sibuk menjawab setiap lantunan azan hingga azan berakhir lalu ia melanjutkannya dengan membaca doa.
Perlahan Rakes menoleh kearah tempat tidur dimana Zea masih terlelap di sana. Rakes beranjak bangun lalu mendekati Zea, dengan lembut ia menyentuh kepala Zea lalu memindahkan rambut yang menutupi wajahnya hingga terlihatlah wajah lelap Zea yang begitu tenang dan damai.
"Jangan sentuh uma, aku mohon lepaskan uma ku. Kalau kalian melukai uma maka ayah tidak akan memaafkan kalian, ayah akan membunuh kalian semua jadi aku mohon jangan sentuh uma ku, hanya ayah yang boleh menyentuhnya. Lepaskan uma!" Gumam Zea dalam tidurnya, wajahnya terlihat seolah sedang memohon dengan penuh harap, bahkan terlihat jelas ada air mata yang mulai menetes dari ujung matanya yang masih terpejam.
"Zea...." Ujar Rakes dengan begitu lembut.
"Chim chim!" Ujar Zea yang baru saja membuka matanya.
Dengan cepat Zea langsung memeluk Rakes.
"Zea, wajah kamu panas banget, apa kamu mimpi buruk?" Tanya Rakes setelah menyentuh pipi Zea yang memang sedang begitu panas.
"Chim chim kenapa kenangan itu mulai muncul lagi?" Tanya Zea dengan suara yang melemah.
"Kenangan? kenangan yang mana?"
"Kenangan waktu itu, seakan begitu nyata, seakan semuanya memang terulang kembali. Bagaimana bisa tiba-tiba kenangan itu muncul lagi?" Keluh Zea.
"Kamu hanya terlalu banyak pikiran, masa lalu tetap masa lalu. Tidurlah, abang akan ambilkan obat penurun panas."
"Nggak mau!"
"Zea badan kamu panas banget, kamu harus minum obat dan memar di lengan dan kakimu juga harus di cek ulang. Rebahan lah, abang akan memeriksanya." Jelas Rakes.
"Nanti saja, sekarang kita sholat dulu. Ayo!"
"Kamu kuat untuk berdiri? kalau memang masih lemah sambil duduk aja."
"Aku kuat kok, Chim chim, sekedar informasi ya, istri Chim chim bukan cewek lemah ya, aku kuat pakek banget malah." Jelas Zea yang langsung bangun lalu bergegas ke kamar mandi.
"Pertanda apa lagi ini? satu masalah belum selesai, masalah lainnya sudah mulai bermunculan. Zea, kenapa kenangan terburuk itu datang lagi, bagaimana kalau justru abang lah pemicu masa lalu itu datang menghantui." Jelas Rakes pada dirinya sendiri.
"Teraaaaaa! aku udah siap, ayo subuh berjamaah!" Jelas Zea yang sudah siap dengan mukenanya.
Meski wajah Zea terlihat jelas memerah dan sedikit pucat, namun ia tetap memamerkan senyuman andalannya.
"Abang wudhu sebentar!" Jelas Rakes yang lekas ke kamar mandi.
Hanya beberapa menit saja Rakes telah kembali dengan wajah yang masih meneteskan air wudhu, ia segera berdiri di sajadahnya diikuti dengan Zea yang sudah siap tepat di belakang Rakes.
Setelah sholat subuh berjamaah, membaca surat Al-Waqi'ah bersama, dan diakhir dengan bermunajat doa yang di pimpin oleh sang imam tercinta.
Setelah semuanya selesai, perlahan Zea mendekat lalu mengecup lembut punggung tangan Rakes yang di balas dengan elusan lembut di kepala Zea, Zea semakin bergeser lalu merebahkan tubuhnya dengan kepala yang berada didalam pangkuannya Rakes.
"Chim chim!"
"Hmmmmm!"
"Apa uma dan ayah pernah cerita tentang kejadian yang aku alami saat aku lulus SD dulu?"
Rakes terdiam seribu bahasa, lidahnya kelu tubuhnya membeku mendapat pertanyaan dari Zea.
"Pasti belum ya? atau tentang aku yang harusnya sudah kelas tiga tapi harus duduk di kelas satu SMA, apa Chim chim tau cerita di balik semua ini?" Tanya Zea dengan mata yang menatap intens bola mata Rakes.
"Abang sama sekali tidak peduli dengan masa lalu kamu. Ayo minum obat, wajah kamu masih panas banget." Jelas Rakes yang segera mengendong tubuh Zea lalu membaringkannya ke atas tempat tidur.
Zea menurut, dia hanya menatap Rakes yang beranjak mengambil kotak obat lalu kembali menghampirinya.
"Ayo minum!" Pinta Rakes.
Rakes mambantu Zea untuk duduk lalu memberikannya obat penurun panas, setelah meminum obat, Rakes kembali membaringkan tubuh Zea.
"Tangan!" Pinta Rakes yang langsung menerima uluran tangan Zea.
Dengan hati-hati dan penuh kelembutan Rakes kembali mengolesi salep pada bagian kaki dan lengan Zea yang masih terlihat memar.
"Istirahatlah, abang akan minta izin, jadi kamu nggak perlu masuk sekolah hari ini." Jelas Rakes yang sedikit memperbaiki selimut Zea.
"Berbaringlah di sini!" Pinta Zea dengan tangan yang mengusap lembut kasur disampingnya.
"Uma dan ayah masih belum pulang, jadi abang akan membuatkan sarapan untukmu, tidurlah abang akan segera kembali."
"Aku sama sekali tidak butuh sarapan, aku hanya butuh Chim chim."
"Zea....!"
"Kalau aku libur itu artinya Chim chim juga harus libur, aku nggak mau di tinggal sendirian di rumah."
"Abang harus ke sekolah, kan nggak enak baru masuk tapi udah izin. Udah kamu tenang aja, abang akan minta bawahan ayah untuk memperketat penjagaan di rumah ini." Jelas Rakes.
"Chim chim, Aku tidak butuh pengawasan, aku bisa jaga diri aku dengan baik, aku hanya butuh Chim chim, aku butuh pelukan. lalu apa aku harus memintanya pada bawahan ayah?"
"Jangan gila!"
"Ya habis Chim chim nggak bisa ya udah cari yang bisa aja."
"Chim chim obat termujarap untuk segala penyakit aku, mungkin saja jika waktu itu Chim chim datang aku tidak akan tertidur begitu lama, jika saja waktu itu Chim chim memeluk dan merawat aku, mungkin aku tidak akan se-terlambat ini." Jelas Zea lalu memejamkan matanya.
(Zea, andai saja kamu tau, abang lah yang menyebabkan malapetaka itu datang, abang yang membuat kamu kehilangan waktu terindah mu selama dua tahun) Bisik hati Rakes yang begitu merasa bersalah.
"Istirahatlah! cepat sembuh Jannati!" Ujar Rakes yang kembali mengeratkan pelukannya.
_________________
**Hari ini aku off! Kancil, kamu ambil alih ular, dan Harimau tetap jaga dan lindungi kupu kupu?* ~Srigala*~
Satu chat masuk, Rafeal yang terlihat sedang sibuk menyalin tugas dari buku Rayyan langsung menghentikan kegiatannya lalu segera membuka ponselnya dan membawa chat tersebut.
**Princess masih di rumah kan? elo apain dia sampai jam segini dia belum juga muncul di kelas?* ~Kancil*~
*🙄🙄kok pikiran aku mulai treveling yah? apa jangan-jangan🤔🤔 upsss🤭* ~Harimau~
*🤦🏽♀️Princess sakit, karena penjaganya nggak becus😠*~Srigala~
*Khaaaak! nggak becus?😓 tw jangan-jangan kamu yang malah buat Princess nggak bisa jalan🤣🤣*~Kancil~
*uwoooowooo😘😘*~Harimau~
*Dasar otak tak berpendidikan! udah laksanakan tugas kalian!* ~Srigala~
Seketika Rakes langsung off.
*Tuh kan! Pasti semalam itu Srigala habis mengeksekusi Princess*~Kancil~
*🤫🤫Biar kita cepat dapat ponaan, oke aku juga harus ke kelas nih, selamat menunggu kedatangan pak guru terrrrkeren😎 tercerdasss😘 terwowww🤩 pokoknya guru terterter lah🤣🤣* ~Harimau~
Rafeal langsung melempar ponsel keatas mejanya, terlihat jelas mukanya yang seakan sedang mencari tempat pelampiasan untuk menenangkan hatinya yang di buat panas oleh Marvel.
"Kenapa?" Tanya Bian yang duduk tepat dibelakangnya.
"Ada makhluk aneh yang chat aku!" Tegas Rafeal yang kembali mencatat tugasnya.
"Zea kok belum datang ya?" Tanya Rayyan yang sedari tadi memang terus mencari sosok Zea.
"Dia lagi sakit!" Jelas Rafeal.
"Sakit apa? ah palingan juga lagi bobo chantik!" Gumam Taufan.
"Mungkin dia masih lelah, ya udah nanti pulang sekolah kita jenguk." Usul Namira.
"Oke deal!" Jawab Taufan penuh semangat.
"Guru datang!" Jelas seorang siswa yang baru memasuki kelas membuat semuanya bersiap ditempat mereka masing-masing.
________________
Bel istirahat berbunyi membuat semua murid segera berhamburan ke kantin.
"Aku duluan, mau ke kamar mandi!" Jelas Rafeal yang langsung berlari keluar kelas.
Ia terlihat begitu panik, dengan terus berlarian ke seluruh penjuru sekolah, dengan langkah yang tergopoh-gopoh, keringat yang bercucuran, Rafeal memutuskan untuk menemui kepala sekolah.
"Maaf pak, aku mau periksa ruang keamanan." Jelas Rafeal.
"Ada apa? apa sesuatu terjadi?" Tanya Hilman yang dibuat kaget dengan kedatangan Rafeal.
"Aku mau mencari keberadaan Fadhil." Jelas Rafeal.
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin memastikan keberadaannya saat ini!"
"Oke, hanya melihat tanpa bergerak dan waktumu sepuluh menit." Jelas Hilman.
"Terima kasih!" Tegas Rafeal yang segera berlari ke ruang pemantauan cctv sekolah.
Rafeal yang memang sudah di kenal oleh sang penjaga ruang kontrol tersebut langsung beraksi, dia mulai mencari apa yang dia inginkan. Ia terus memperhatikan setiap detik di setiap tempat namun hasilnya nol, dia sama sekali tidak menemukan Fadhil setelah jam istirahat di mulai, tiba-tiba saja dia menghilang tepat di lorong kantin.
"Haissssh!" Gumam Rafeal kesal dengan tangan yang menghantam meja.
Rafeal kembali fokus pada sudut sekolah lainnya.
"Roger? tante Lestari? ada apa ini? kenapa mereka bertiga terlihat begitu dekat?" Tanya Rafeal pada dirinya sendiri ketika menemukan sosok Fadhil yang menemui Roger dan Lestari didekat pagar belakang sekolah sana.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️