My Princess

My Princess
#170



Rakes terus menambah kecepatan laju motornya, dengan perasaan khawatir akhirnya ia sampai tepat di lokasi titik merah yang sejak tadi berkedip di layar ponsel miliknya. Kaki panjang Rakes terus berlari memasuki lokasi restauran dimana posisi Zea berada, kedatangan Rakes langsung di sambut oleh Mariana dan Rafeal.


"Kenapa kesini? apa kamu tidak melacak keberadaan Zea?" Tanya Rafeal panik saat melihat kedatangan Rakes.


"Lokasinya di sini!" Tegas Rakes dengan nafas ngos-ngosan.


"Ada apa sebenarnya? kenapa jadi kacau begini? siapa Roger sebenarnya?" Tanya Mariana yang begitu ketakutan dan juga dipenuhi dengan rasa bersalah.


"Apa kamu yang menelpon Zea tadi? Ana, kamu yang menyuruhnya kesini?" Tanya Rakes.


"Iya, aku hanya membantu Roger yang begitu ingin bertemu dengan Zea, maaf jika aku malah menyebabkan masalah besar." Pinta Mariana yang mulai menitikkan air mata.


"Ini bukan salah kamu Ana, pulanglah! aku harus mencari Zea!" Jelas Rakes dan bergegas mencari Zea ke seluruh sisi restauran.


"Aku harus menemukan Zea." Jelas Rafeal dan juga ikut bergerak.


" Aku ikut!" Tegas Mariana dan segera mengikuti langkah Rafeal yang telah lebih dulu pergi.


"Zea, Zea....." Teriak Rakes saat ia berada di depan toilet cewek.


Tak ada jawaban sama sekali, membuat Rakes langsung menerobos masuk ke toilet tanpa peduli dengan para wanita yang terus memandangnya heran.


Rakes terus membuka setiap pintu toilet namun ia tetap tidak bisa menemukan Zea.


"Haisssssh!" Gumam Rakes frustasi dan segera berlari keluar dari toilet.


"Pak Rakes!" Panggil Ivent saat melihat Rakes yang sedang melintas di depan toilet cowok.


"Ivent! dimana Zea?" Tanya Rakes.


"Zea, bukannya dia lagi makan siang bersama Mariana?" Jawab Ivent.


"Sial!" Pekik Rakes penuh amarah.


"Apa terjadi sesuatu? seharusnya aku tidak meninggalkannya." Jelas Ivent.


"Apa kamu tau kalau Roger datang menemuinya Zea?"


"Roger? maksudnya Roger adiknya pak Rakes?" Tanya Ivent.


"Siapa lagi, cepat cari mereka!" Perintah Rakes dan lekas pergi.


"Sial!" Pekik Ivent kasar dan segera berlari mencari Zea.


____________________


"Apa yang ingin abang bicarakan?" Tanya Zea saat ia dan Roger berada di dalan ruangan VIP dari restauran mewah tersebut.


Roger sengaja membawa Zea ke ruangan yang memang sudah ia pesan sejak awal, karena ia tidak mau orang lain terus memperhatikan keberadaannya dan Zea.


"Duduklah dulu..." Pinta Roger yang kini telah duduk didepan hidangan yang telah memenuhi meja.


Zea menurut, ia langsung duduk.


"Ini semua makanan favorit kamu, makanlah dulu, setelah itu baru kita bicara!" Jelas Roger.


"Aku tidak lapar!" Bohong Zea, karena pada nyatanya ia sejak tadi bahkan terus berusaha menahan air liurnya saat bertatapan dengan makanan yang sejak tadi seakan terus memanggil namanya.


"Zea, abang kenal kamu bukan sehari, dua hari, makanlah dulu?" Pinta Roger yang memang paham kalau saat ini Zea pasti ingin menyantap semua hidangan yang ada.


"Tapi...." Protes Zea.


"Nih di coba!" Ujar Roger yang langsung menyuapkan dimsum ke mulut Zea.


"Ayolah!" Pinta Roger karena Zea tak kunjung membuka mulutnya.


"Aki bisa sendiri!" Ujar Zea yang segera mengambilnya lalu memakannya dengan lahap.


"Zea, berapa usia kandungan mu?" Tanya Roger.


"Kenapa abang ingin tau?" Zea justru balik bertanya.


"Apa iya itu anak abang Rakes?" Tanya Roger yang sukses membuat Zea mengernyitkan dahinya.


"Apa maksud abang bertanya seperti itu? apa abang sedang meragukan aku? apa niat abang Roger sebenarnya?" Tanya Zea yang mulai emosi.


"Abang hanya ingin memastikannya, Zea kamu itu Queen abang, sejak kamu belum lahir abang sudah melamar kamu sama tante El, bahkan abang setiap waktu menantikan kedatangan kamu ke dunia ini. Zea, abang janji kalau abang akan melakukan apapun agar kamu kembali pada abang, jadi abang mohon tolong kembalilah jadi Queen abang." Jelas Roger.


"Abang Roger lepas!" Gumam Zea sembari mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan Roger.


"Zea tolong, tolong tetap bersama abang, abang benar-benar nggak bisa melepaskan kamu untuk abang Rakes. Kembalilah pada abang!" Pinta Roger yang semakin mengeratkan dekapannya.


"Lepas! aku bilang lepas!" Tegas Zea terus meronta.


Bukannya menuruti permintaan Zea, Roger kini malah menumpu wajahnya di bahu Zea lalu berusaha untuk menghirup aroma tubuh Zea dengan terus berusaha mencium leher jenjang Zea yang tertutup jilbab.


"Abang Roger lepas!" Gumam Zea yang mulai sesak dengan perlakuan Roger.


"Nggak Zea! Abang masih begitu merindukan mu!" Tegas Roger.


"Abang sakit, aku mohon lepas!" Protes Zea yang mulai merasa sakit pada bagian perut buncitnya karena sejak tadi terus di dekap erat oleh Roger.


"Zea..."


"Aku bilang sakit!" Teriak Zea lalu dalam sekali hentakan ia berhasil melepaskan tubuhnya dari dekapan Roger.


Meski dengan nafas yang ngos-ngosan dan keringat yang bercampur dengan air maha kini mulai membasahi wajahnya.


"Zea..." Ujar Roger dan kembali mendekati Zea.


"Stop! aku bilang stop sebelum aku bersikap kasar pada abang!" Tegas Zea.


"Zea..." Panggil Roger yang kian mendekat dan hendak kembali memeluk Zea.


"Bener bener!" Gumam Zea yang langsung melayangkan tinjunya telat di bahu kanan Roger.


"Awwwww!" Desah Roger kesakitan.


Lagi dan lagi Roger malah kembali mendekat membuat Zea kembali melayangkan tinjunya.


"Zea...." Tegas Roger lalu menepis tinju Zea dan kembali berusaha memeluk Zea.


Kali ini kaki Zea yang beraksi, dengan kasar tendangannya mendarat di lutut kanan Roger membuat Roger bergumam menahan rasa sakit namun di menit berikutnya malah Zea yang menjerit kesakitan.


"Auwwwwwww!" Jerit Zea yang dengan spontan mendekap perut buncitnya dengan kedua tangannya.


"Zea..." Panggil Roger khawatir.


"Stop! jangan mendekat!" Teriak Zea dengan terus menahan rasa sakit pada bagian perutnya.


"Dimana yang sakit? ayo ke rumah sakit!" Ajak Roger yang kini terlihat panik.


"Jangan sentuh aku! jauhkan tangan abang dari bayi ku!" Gumam Zea yang terus berusaha menjauh dari jangkauan Roger.


"Zea....." Panggil Rakes yang baru saja tiba dituangkan tersebut.


"Bajingan! apa yang kamu lakukan pada istri abang?" Gumam Rakes penuh amarah dan langsung menarik leher jas Roger.


Dengan kasar Rakes menghempaskan tubuh Roger ke pojok ruangan lalu segera mendekati sang istri.


"Abang...." Tangis Zea yang langsung memeluk Rakes.


"Kali ini abang tidak akan memaafkan mu, Roger. Kami sudah kelewat batas!" Gumam Rakes penuh amarah.


"Abang, sakit!" Lapor Zea dengan wajah yang terlihat jelas sedang menahan rasa sakit.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Ajak Rakes yang langsung menggendong Zea dan lekas pergi.


"Urusan kita belum selesai, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Zea maka aku sendiri yang akan membuat mu menderita!" Gumam Ivent dengan tatapan yang begitu dingin.


Ivent segera berlari mengikuti Rakes dan meninggalkan Roger begitu saja.


"Ayo ke mobil!" Jelas Ivent yang berlari ke parkiran dan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Rakes dan Zea.


Ivent langsung menjalankan mobil lalu membawa Rakes dan Zea menuju rumah sakit terdekat dari lokasi tersebut.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamidaπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ