
"Awww" Aku terkejut melihat darah mengalir di jari telunjuknya dan aku melihat wajah Stefany yang sedang meringis.
"Sudah kubilang Stef! Berhenti jangan memasak, kalau kau lapar kau bisa bicara kepadaku. Dan lihat akibat keras kepalamu jarimu teriris pisau seperti ini!" Segera aku ambil tisu untuk menutup lukanya agar darahnya tidak mengalir.
"Ini karena kau sangat cerewet jika saja kau tidak banyak bicara aku pasti tidak apa-apa dan tidak usah berlebihan ini hanya luka kecil dikasih obat merah saja sudah sembuh" Stefany berjalan meninggalkanku untuk membersihkan lukanya dan memberikan obat merah ke lukanya.
"Biar ku bantu" aku menuangkan obat merah ke jari telunjuknya dan memakaikan plester di lukanya, setelah itu aku membawanya ke kamarnya agar ia bisa istirahat dan aku akan memesankan makanan untuknya.
"Kau diam disini sebentar jangan kemana-mana, aku akan pesankan makanan untukmu" Baru saja aku ingin berjalan ke luar kamarnya ia berbicara kembali memang gadis yang sangat cerewet dan keras kepala.
"Tidak perlu, aku langsung tidur saja kepala ku sangat sakit" Ucapnya dengan menidurkan badannya dan menarik selimut ke seluuh badannya.
"Kua tidak apa-apa? Apanya yang sakit?" Aku berjalan ke arahnya untuk memeriksa tubuhnya dan benar badannya sangat panas sekali. "Kita ke rumah sakit sekarang!" Gadis itu tetap keras kepala ia menggeleng dan tidak mau ke rumah sakit.
"Sudah ku bilang tidak perlu berlebihan, aku hanya butuh istirahat sebentar nanti juga mendingan kau tidak usah panik seperti ini Al, ini hanya sakit biasa" Ucapnya
"Baiklah, seterah kau" Aku sudah tidak mau berdebat dengannya dan percuma hasilnya aku yang akan kalah darinya dan memang benar perempuan selalu menang.
Walaupun dia tidak mau ku bawa ke rumah sakit tetapi aku tetap akan panggilkan dokter untuknya aku sangat takut jika terjadi sesuatu kepadanya.
Aku menghubungi dokter ku yaitu sahabat ku sendiri.
"Halo, ada apa dude, tumben sekali kau menghubungiku" Ucap Andrew disebrang telefon dan seperti biasa semua sahabatnya sudah sangat dewasa namun jika berhubungan dengan mereka semua pasti nada kekanak-kanakannya pasti keluar
"To the point saja Drew, aku sangat membutuhkanmu sekarang juga. Segera ke apartemen ku di New York!" Ucapku dengan to the point, jika berbicara dengan nya harus ke point nya kalau Tidka akan panjang nantinya.
"Oke oke, untunglah aku sedang ada di New York. Kau sakit Al?" Ucapnya dengan nada yang panik.
"Bukanku yang sakit, cepatlah ke apartemen ku nanti aku akan menceritakannya kepadamu" Ucapku dan langsung ku matikan teleponnya sepihak.
Aku kembali ke kamarnya, ku buk apintu kamarnya perlahan dan princessku yang sudah tertidur di ranjangnya. Aku menghampirinya dan ia benar-benar terlihat sangat lelah.
Jika saja ia menuruti perkataan ku tidak mungkin luka itu ada di kening dan jarinya, ku kecup luka dikening dan di jari manisnya.
Aku kembali keluar Drai kamarnya untuk memesankan makanan untuknya dan besok pagi aku akan membawanya ke Mension ku, aku tidak mau kejadian seperti tadi terulah kembali.
Aku memesankan makanan untuk nya dan untukku, tidak membutuhkan waktu lama makanan yang sudah ku pesan datang dan segera aku memindahnya ke atas piring untuk disajikan kepadanya.
Tidak lama kemudian Andrew datang sendiri, tumben sekali dia datang sendiri tanpa asistennya.
"Aku datang sendiri karena takut jika kau ingin privasi agar orang-orang tidak ada yg tau" ucapnya yang mengerti tatapanku.
"Jadi siapa yang sakit?" Ucapnya kembali, aku langsung membawa Andrew kedalam kamar Stefany.
"Dia gadis yang waktu itu kabur dari Mension ku di Madrid" Andrew menatap ku dengan tatapan tanda tanya dan akupun mengerti dengan tatapannya segera kuberitahu kepadanya.
"Aku tidak menyangka kepada kau Al, bagaimana bisa kamu menyakiti seorang perempuan, kita sebagai kaum laki-laki harus tetap menghormati perempuan Al siapapun dia" Ucap Andrew, ya memang Andrew dan javiero yang selalu menasehatiku dan selalu memberi wejangan kepadaku tapi semua ucapannya ada benar nya juga.
"Aku tidak apa-apa kan dia, tadi dia terjatuh dan kepalanya terkena meja. Tadi juga dia sedang memasak padahal aku sudah melarangnya dan kau tau aku trauma dengan kejadian masa lalu itu akibatnya, akibat dia membantah perkataan ku untuk tidak menyentuh benda tajam dan jadilah tangan nya teriris pisau" aku menjelaskan semuanya kepada Andrew, agar Andrew tidak mencap jelek kepadaku.
"Aku percaya kepadamu Al, baiklah aku periksa dia dulu" Andrew memeriksa Stefany dan aku merasa sangat khawatir kepadanya.
"Bagaimana Drew?" Ucapku ketika Andrew selesai memeriksanya.
"Apakah dia tidak makan sedari tadi?" Ucap Andrew dan aku menggeleng.
"Dia tidak makan dari kemarin pas aku bawa dia dari Madrid ke New York, panjang ceritanya Drew" Aku menghembuskan nafas kasar setelah mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu.
"Bisa kamu ceritakan kepadaku Al?" Sepertinya sudah seharusnya aku ceritakan kepada Andrew.
"Jadi waktu aku di Madrid Stefany masuk rumah sakit dia kabur dari rumah sakit, untungnya ada si kutu Javiero yang menemukannya, Javiero menemukan Stefany di rumah Grandma Alexa setelah Stefany tertidur aku membawa dia ke New York dengan helikopter ku dan dia dari kemarin pas aku membawanya ke New York dia belum makan sama sekali" Ucapku dan membuat Andrew terkejut.
"YA TUHAN!" Andrew menepuk keningnya dan membuatku bingung.
"Pantas saja badannya dingin" Ucap Andrew dengan menatap Stefany yang tertidur lesu.
"JANGAN MENDEKAT AKU MOHON!!! KAU LAKI-LAKI ******** KAPARAT!!! PAPAH TOLONG AKU DIA JAHAT MAU MENYIKASAKU!!" Stefany mengingau dengan suaranya yang menggelegar, badannya yang menggigil dan tangisannya yang tidak berhenti. Aku segera menghampirinya Andrew pun juga terlihat panik juga.
"Tidak ada yang menyakitimu princess, aku akan menjagamu nyawaku akan ku pertaruhkan untukmu princess. Wake up princess don't cry wake up Stef" Aku segera memeluknya untuk menenangkannya dan sangat terasa tubuh nya sangat gemetar dengan tangannya mencengkram bahuku namun mata nya tidak terbuka.
"Stef wake up please wake up!" Aku berusaha membangunkannya dan ia pun terbangun dengan memeluk erat tubuhku dengan sangat kencang sekali.
"Jangan tinggalkan aku please hikss" Ucapnya dengan suara yang terisak membuat hatiku sangat pilu mendengar ucapannya.
"Tidak akan pernah aku meninggalkanmu, aku sudah berjanji kepada dunia ini" Ucapku dengan mengecup keningnya dan menenangkannya.
πππππ
TBC
Aku mohon bantuannya agar cerita ini tembus 1k ya teman-teman π
Aku mohon di pencet jempolnya dan di komen mohon bantuannya dan kalian bisa share ke teman-teman kalianππβ€οΈ
Salam penulis Amatir π
DINβ€οΈ