My Princess

My Princess
#045



"Na nana na nana woooo na nanana hmmm!" Suara Zea yang bersenandung tak jelas terasa begitu memekakkan telinga.


Zea yang kini sedang berada di atas pohon jambu sana, terlihat begitu asyik menikmati setiap jambu yang ia petik.


"Jadi rindu sama pasukan sengklek, jadi ngga sabar nunggu masuk sekolah lagi!" Ungkap Zea yang masih terus mengunyah jambu.


"Wo oo kamu ketahuan, kangen sama kami, pada hal juga baru tujuh hari, kita tak bertemu." Seru Bian dengan nyanyian yang terdengar begitu merdu.


"Kapan kalian datang?" Tanya Zea ketika melihat semua pasukannya yang mulai berkumpul satu persatu di bawah pohon sana.


"Cepat turun!" Pinta Taufan.


"Mending kalian yang naik, ayo cepat!" Pinta Zea.


"Hmmmmm manisnya!" Seru Rafeal.


Rafeal yang begitu bersemangat langsung manjat lalu menikmati buah jambu bersama Zea.


"Serius? oke, aku datang!" Seru Rayyan yang ikut manjat.


"Tunggu apa lagi? ayo Taufan!" Ajak Bian yang langsung ikut manjat.


"baiklah!" Ujar Rafeal dengan bermalas-malasan lalu mengikuti Bian dengan perasaan yang begitu terpaksa.


"Ada rencana apa nih? tumben ke sini tanpa kabari aku." Tanya Zea.


"Ayo kita jalan!" Ajak Rayyan.


"Kemana?" Tanya Zea.


"Liburanlah! semuanya udah beres yang harus kalian lakukan hanya bersiap-siap, dan go!" Jelas Taufan.


"Liburan? kemana?" Tanya Zea.


"Sebelum kembali ke bangku sekolah, ayo kita gunakan waktu kita dengan bersenang-senang!" Seru Bian penuh semangat.


"Dasar doyan gratisan!" Seru Rafeal.


"Gimana jadi?" Tanya Rayyan.


"Kemana?" Tanya Zea ulang.


"Bali, gimana seru kan? bakal pecah banget!" Seru Taufan yang begitu antusias.


"Ayah pasti nggak akan ngebolehin!" Ujar Zea.


"Tenang, soal izin biar aku yang urus!" Ujar Rafeal.


"Gimana caranya?" Tanya semuanya serentak.


"Ajak aja abang Rakes, pasti langsung dapat izin dari om Iqbal." Jelas Rafeal.


"Nggak perlu, mending nggak usah liburan aja sekalian kalau dia harus ikut." Cetus Rayyan yang langsung meloncat turun ke bawah.


"Kenapa? bukankah yang penting Zea bisa ikut?" Tanya Taufan.


"Yang liburan itu kita, jadi kenapa dia harus ikut?" Gumam Rayyan kesal.


"Berhenti berdebat!" Seru Zea yang ikut meloncat turun.


"Kalian pergilah!" Lanjut Zea lalu segera masuk ke dalam.


"Zea tunggu!" Pinta Bian yang segera menyusul Zea.


"Ada apa sebenarnya? apa kamu masih belum bisa mengiklaskan Zea untuk abang Rakes?" Tanya Taufan.


"Aku cuma nggak mau ada orang lain saat kita liburan!" Tegas Rayyan.


"Kita batalkan aja rencana liburannya, sampai ketemu di sekolah baru kita!" Jelas Taufan dan bergegas pergi.


"Aku tau kalau kamu masih sangat mencintai Zea, tapi cobalah untuk memilah antara perasaan pribadi dengan persahabatan kita, aku tau kamu jauh lebih bisa berfikir dewasa dari pada aku." Jelas Rafeal yang perlahan menepuk bahu Rayyan.


_________________


"Marahan lagi? sampai kapan kalian berdua akan begitu terus?" Tanya Bian yang terus mengikuti langkah Zea.


"Siapa yang marah?" Tanya Zea dengan wajah kesal.


"Zea...!" Panggil Fadhil yang baru saja muncul dari ruang makan.


"Ada apa?" Tanya Zea kesal.


"Tante El, nyuruh aku buat panggilkan kamu dan teman-temanmu untuk makan siang bersama." Jelas Fadhil dan segera kembali ke ruang makan.


"Siapa dia?" Tanya Bian setelah Fadhil menghilang dari pandangan mereka.


"Anaknya teman ayah! sana gih makan, uma pasti udah nungguin kalian dari tadi di meja makan." Jelas Zea.


"Lalu kamu nggak ikutan?" Tanya Bian.


"Udah kalian duluan aja, aku mau mandi!" seru Zea dan bergegas naik ke atas.


"Hmmmm butuh tenaga ekstra untuk merukunkan kembali mereka berdua." Ungkap Bian.


___________________


"Siapa cowok yang barusan uma?" Tanya Rayyan.


"Dia Fadhil Pangestu!" Jawab Rafeal yang terlihat begitu menikmati makan siangnya.


Jawaban yang Rafeal utarakan sukses membuat semua mata menatap heran padanya tidak terkecuali Elsaliani yang juga ikut menatap Rafeal dengan penuh tanda tanya, Rafeal yang menyadari keadaan sekeliling mulai menghentikan aksi makannya lalu menatap mereka satu persatu.


"Zea yang mengatakannya pada ku!" Tegas Rafeal yang merasa risih di perlakukan bak seorang tersangka.


"Hmmmm dia Fadhil, anaknya temannya om Iqbal!" Jelas Elsaliani.


"Apa dia tinggal disini?" Tanya Rayyan.


"Iya." Jawab Elsaliani.


"Bukan hanya tinggal di rumah om Iqbal, tapi om Iqbal juga memasukkan cowok tersebut ke sekolah yang sama dengan kita." Jelas Taufan.


"Kenapa kamu bisa tau?" Tanya Bian.


"Papa aku yang bilang, kata papa, om Iqbal yang meminta bantuan sama papa untuk memasukkan Fadhil di sekolah yang sama dengan Zea.


"Benarkah tante?" Tanya Bian menyakinkan.


"Sepertinya begitu!" Ujar Elsaliani.


"Udah berhenti berpikir yang tidak penting, ayo di lanjutkan makan siangnya." Pinta Elsaliani.


"Baik Tante!" Ucap mereka hampir berbarengan lalu kembali melanjutkan makan siang mereka.


_________________


"Udah jam sepuluh kenapa masih di luar?" Tanya Iqbal yang baru saja pulang.


Fadhil yang sedang santai di teras segera bangun ketika melihat Iqbal datang.


"Cari udara segar!" Jawab Fadhil.


"Tapi ini udah larut, masuklah!" Ajak Iqbal.


"Baik!" Jawab Fadhil yang mengikuti langkah Iqbal masuk ke dalam.


"Apa benar om akan menikahkan Zea dengan abang Rakes?" Pertanyaan Fadhil sontak membuat Iqbal menghentikan langkahnya.


"Kenapa?"


"Aku hanya ingin tau, apa alasan om Iqbal menyerahkan gadis secantik Zea pada lelaki seperti abang Rakes?"


"Apa kamu kenal baik dengan mereka berdua?" Iqbal balik bertanya.


"Tidak!"


"Lalu kenapa bisa dengan beraninya kamu menilai mereka berdua."


"Aku....."


"Jangan usik mereka berdua, jika tidak maka om yang akan mengusik hidupmu dan juga keluargamu!" Tegas Iqbal yang langsung meninggalkan Fadhil yang masih begitu kebingungan.


"Sebaik apa Rakes sebenarnya hingga om Iqbal begitu memuja dan mengelukan namanya? akan aku buktikan kalau dia tidak akan ada apa-apa jika di bandingkan dengan aku!" Tegas Fadhil.


_____________________


"Mas...." Panggil Elsaliani ketika Iqbal tiba di kamar.


Elsaliani segera bangun lalu duduk dengan bersandar di kepala ranjang.


"Kenapa masih belum tidur? apa adek bayi mulai gerak?" Tanya Iqbal lalu mendekat dan duduk di samping Elsaliani.


"Nggak kok mas. El hanya rindu sama mas!" Ungkap Elsaliani yang langsung memeluk erat tubuh kekar Iqbal.


"Mas...." Ujar Elsaliani dengan tangan yang terus mengusap kedua telapak tangan Iqbal.


"Bicaralah! apa yang mengganggu pikiran sayang?"


"Mas, tahun ini Zea sudah genap delapan belas tahun."


"Terus?"


"El mau mas segera menikahkan Zea dengan Rakes, secepat mungkin, bila perlu sebelum Zea mulai aktif sekolah lagi!" Jelas Elsaliani.


"Kenapa buru-buru? apa ada hal yang terjadi yang tidak mas tau?"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😉😉


Stay terus sama My Princess 😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️