My Princess

My Princess
#078



Sesampai di rumah mereka bertiga langsung berpisah di ruang tamu, Iqbal bergegas ke kamarnya begitu pula dengan Rakes, ia segera menaiki tangga berlari ke kamar tanpa lagi memerhatikan Zea. Zea hanya mengikuti Rakes perlahan dari belakang dengan mulut yang terus terbungkam, entah apa yang merasuki Zea hingga membuat ia terlihat sangat berbeda, setelah keluar dari mobil ia hanya diam saja. Sesampai di kamar, Rakes langsung menyambar handuknya, lalu segera ke kamar mandi, namun langkahnya seketika terhenti karena mendapati sosok Zea yang hanya berdiam diri di ambang pintu kamar sana.


"Kenapa mematung di situ?" Tanya Rakes.


Zea masih saja diam, dengan mata yang terus menatap Rakes.


"Zea....." Panggil Rakes yang kini beranjak mendekati Zea.


"Hei, apa kamu terluka?" Tanya Rakes yang mulai mencoba memeriksa seluruh tubuh Zea.


"Ampunkan aku!" Pinta Zea seiring dengan pecahnya tangis yang sedari tadi ia coba tahan.


"Jannati, ada apa ini?"


"Maaf karena pergi tanpa izin sama Chim chim, maaf karena membuat tangan Chim chim terluka dan maaf karena jadi istri yang durhaka!" Ungkap Zea dengan pandangan yang tertunduk.


Perlahan Rakes menyentuh kedua tangan Zea yang saling menggenggam erat satu sama lain, Rakes membawa kedua tangan Zea untuk menyentuh dadanya hingga membuat Zea beralih menatap wajahnya.


"Jangan menangis! diamlah!" Pinta Rakes yang begitu khawatir lalu membawa tubuh mungil Zea kedalam pelukannya.


"Maafkan aku!" Pinta Zea yang masih sesegukan.


"Kamu adalah istri terbaik untuk abang, jangan pernah lagi bicara tentang durhaka, karena kamu adalah istri Solehah, dan soal luka ini, tangan abang hanya sedikit tergores saja, udah berhenti berfikir yang tidak-tidak!"


"Apa masih sakit?" Tanya Zea yang kini beranjak menyentuh tangan Rakes yang terluka.


"Kan sudah mendapatkan pertolongan pertama dari dokter Zea."


"Isssssh serius!"


"Periksa aja lagi!"


Zea menurut, ia langsung membuka kain yang membalut tangan Rakes hingga lukanya terlihat dengan jelas.


"Tunggulah sebentar, aku ambil obat dulu!"


"Nggak perlu!" Tegas Rakes yang langsung menahan langkah Zea.


"Kenapa?"


"Ayo duduk! ada yang ingin abang ceritakan." Jelas Rakes yang langsung menuntun Zea untuk ikut duduk di sofa.


Setelah keduanya berada di sofa dengan posisi saling berhadapan, tangan Rakes menyentuh lembut wajah Zea membuat sang pemilik wajah memejamkan mata karena mendapat sentuhan yang begitu menenangkan jiwa.


'Cup' Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Zea.


"Kemaren saat abang dirawat di rumah sakit, sebelum pulang dokter memanggil abang, dokter ingin mengecek ulang keadaan abang." Rakes mulai bercerita.


"Lalu apa hasilnya? kenapa tidak cerita? apa Chim chim baik-baik saja?" Tanya Zea yang terlihat begitu khawatir.


"Abang tidak melakukan tes yang dokter sarankan."


"Kenapa?"


"Zea, sebenarnya ada kelainan pada darah abang. Setiap kali abang dirawat di rumah sakit pasti dokter yang menangani abang akan meminta abang untuk melakukan tes terhadap darah abang, dan abang nggak mau semua orang tau tentang keanehan yang ada pada tubuh abang."


"Keanehan?" Tanya Zea yang sama sekali tidak bisa memahami dengan apa yang sedang Rakes bicarakan.


"Setiap kali abang terluka, maka darah yang keluar dari tubuh abang akan langsung terhenti dengan sendirinya, seakan tubuh abang memberi sinyal bila terus mengeluarkan darah maka stok darah abang akan rendah, meskipun terluka parah sekalipun, tubuh abang tidak pernah membutuhkan donor darah. Mungkin cerita abang membingungkan, abang sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada tubuh abang!" Jelas Rakes yang terlihat begitu frustasi.


"Bukankah ini terdengar seperti keajaiban? aku jadi iri sama Chim chim."


"Zea...." Lirih Rakes.


"Apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaan Chim chim aku akan selalu berdiri disamping Chim chim hingga selama lamanya." Ungkap Zea yang langsung memeluk erat tubuh Rakes.


"Zea, terima kasih!"


"Apa ini sudah terjadi sejak abang lahir?"


"Nggak Zea, semua keanehan ini terjadi karena abang...sebenarnya, abang pernah, hmmmm."


"Jika belum ingin cerita Chim chim bisa menundanya dulu, aku akan tunggu sampai Chim chim benar-benar siap."


"Abang pernah terjebak sendirian di hutan dalam keadaan terluka parah. Itu kali pertama abang bertugas, kami bertiga berpencar. Saat abang kehabisan banyak darah, abang begitu panik dan juga takut, takut jika semuanya berakhir bahkan saat abang baru saja memulainya, abang takut tidak bisa berpisah secara manis dengan kamu, abang tak ingin pergi dengan keadaan seperti itu. Disaat pikiran abang sedang menggila, tiba-tiba ada seekor Serigala yang munculnya entah dari mana abang pun tak tau, kala itu abang benar-benar tidak lagi bisa berpikir dengan baik, abang tidak ingin menjadi mangsanya, karena itu dengan kejam abang membunuh Serigala itu lebih dulu bahkan sebelum ia melihat keberadaan abang, lalu dengan brutal abang meminum darahnya. Abang lebih buas dari binatang kan? sekarang abang pasti terlihat begitu menakutkan di mata kamu kan? abang tau, kalau abang begitu menjijikan." Jelas Rakes yang dengan spontan menjauh dari Zea.


"Menjijikan? bagaimana bisa orang yang ingin bertahan hidup di sebut menjijikan?"


"Zea..."


"Mendekatlah! atau aku yang akan menyerang!"


Rakes masih berdiam di posisi semula membuat Zea tak ingin tinggal diam, Zea kembali mendekat lalu mengecup lembut bibir Rakes.


"Apa aku boleh melakukannya lagi?"


"Stop! dengarkan aku baik-baik, sekalipun Chim chim punya kelainan yang bahkan bisa menular, aku akan tetap memeluk erat tubuh Chim chim!" Tegas Zea yang kembali melakukan aksi 'Tabrakan Maut' nya.


"Benar-benar tak kenal takut!" Ujar Rakes yang kini mengambil alih permainan, kini Rakes yang mulai menyerang.


"Apapun yang terjadi jangan pernah beranjak dari sisi aku, bukankah menahan belati bersama lebih nyaman dan menyenangkan dari pada menyaksikan salah satu dari kita tertikam!" Jelas Zea setelah Rakes menghentikan 'Tabrakan Maut' nya.


"Dapat kata-kata bijak dari mana?" Tanya Rakes sambil mencuil hidung mancung Zea.


"Rahasia dong!" Seru Zea dengan senyuman manisnya.


"Mau lanjut?"


"Raze join?"


"Zuzuzuzu zuzuzu zuzuzu!" Goda Rakes dengan meniru gaya Zea saat menggodanya.


"Issssh apaan sih? nggak usah copy paste deh, nggak mirip!"


"Biarin! Zuzuzuzu zuzuzu zuzuzu!"


"Chim chim!"


Zea terlihat begitu kesal dengan tingkah Rakes, namun semua itu tidak bertahan lama, karena Rakes segera menyambar tubuh Zea lalu meluncurkan aksi Raze join yang sedari tadi begitu ia inginkan.


_________________


"Foto siapa ini?" Tanya Handra.


Kania yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya dengan langkah terburu-buru mendatangi meja makan di mana kedua orang tuanya berada. Tangan Kania meletakkan ponsel dengan layar yang menampilkan wajah Marvel tepat di hadapan Hendra.


"Calon suami aku!" Tegas Kania.


Meski sebenarnya ia takut namun ia tetap berusaha untuk terlihat kuat di depan kedua orang tuanya.


"Calon suami? sini pa, mama mau lihat!" Jelas Angel yang mengambil alih ponsel Kania.


"Bukannya ini Marvel?" Tanya Angel setelah memperhatikan gambar di layar ponsel.


"Iya benar itu Marvel temannya Rakes." Jelas Hendra.


"Kania, bicaralah!" Pinta Angel.


"Aku sudah menjalin hubungan selama beberapa tahun yang lalu. Aku mencintainya, tidak, sebenarnya aku sangat sangat mencintainya. Tolong jangan jodohkan aku dengan abang Roger!" Jelas Kania.


"Kania!" Ujar Hendra.


"Pa, tolong jangan paksa hati aku! aku mencintai abang Marvel, lagi pula abang Marvel jauh lebih baik dari abang Roger, meski dia tidak sekaya dan se-mapan abang Roger." Jelas Kania.


"Sayang, dengarkan mama, kamu jangan salah paham!" Jelas Angel.


"Nggak ma, aku tidak akan menikah selain dengan abang Marvel. Tidak ada lagi yang harus kita bahas, aku berangkat sekolah dulu, Assalamualaikum." Jelas Kania yang langsung pergi begitu saja.


"Kania.....!" Panggil Angel.


"Udah biarkan aja." Jelas Hendra santai.


"Biarkan bagaimana, dia salah paham!"


"Biarkan saja, papa justru mau lihat setangguh apa perjuangan putri kita dalam memperjuangkan cintanya."


"Tapi kita sama sekali tidak menentang, lagi pula kita sama sekali tidak merima lamaran abang Hadi."


"Sudahlah ma, sekarang papa malah penasaran dengan putri kita, rupanya dia tangguh juga."


"Jelas dong kan nurun dari mamanya!"


"Dari papanya kali!"


"Ya jelas dari mamanya lah!"


"Pastinya dari kita berdua dong sayang, kan kita bikinnya sama-sama!"


"Apaan sih!" Gumam Angel yang langsung beranjak dari meja makan.


"Kamu masih sama sayang, meski begitu tangguh, kuat dan sangar tapi giliran di goda langsung memerah tuh muka, jadi makin pengen berulah nih!" Jelas Hendra yang segera menyusul Angel.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😊😊


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️