
"Tidak, tidaaaaak!" Teriakan Zea hingga membuat ia terbangun dari tidurnya.
Ivent yang tepat berada di sebelah Zea langsung menghentikan mobil dengan tiba tiba.
"Ada apa?" Tanya Ivent yang begitu mengkhawatirkan Zea.
"Aku rasa abang Roger tidak berada di lokasi kejadian waktu itu, atau ingatan aku yang salah, ini sudah cukup lama dan itu terjadi sebelum aku kecelakaan, tapi kenapa seolah mimpi ini terus datang tanpa jeda, mimpi yang terasa begitu nyata, atau mungkin ini adalah ingatan? lalu bagaimana bisa aku memutar kembali kepingan memori itu. Iya, itu mimpi bukan ingatan, aku, aku harus mendapatkan kembali ingatan tentang kejadian itu karena hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa membebaskan ayah dari tuduhan palsu dan juga menyelamatkan uma dan juga abang Rakes." Jelas Zea.
"Zea, apa kamu ada dalam kejadian itu? mengapa bicara tidak ada yang bisa aku mengerti? kamu mimpi apa sebenarnya?" Tanya Ivent.
"Aku tidak bisa mengingat semuanya dengan benar, tapi aku yakin, aku ada di sana, saat memejamkan mata, aku bahkan bisa merasakan tangan pak Vikram menyentuh kasar bagian leherku!" Jelas Zea.
"Aku akan mengabari pak Hadi!"
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Aku nggak mau mengabari papa tentang hal yang belum jelas kepastiannya, bagaimana kalau bukan abang Rakes, tapi justru aku pelakunya?"
"Zea.....!"
"Lanjutkan perjalanan kita!"
"Baiklah!"
Ivent kembali menjalankan mobil mereka, tanpa lagi berani mengajukan protes.
___________________
Mobil yang di kemudikan oleh Rafeal terus melaju memecah kesunyian malam, di sebelahnya ada Rakes yang masih bermain dengan segala macam pikirannya. Keduanya diam membisu hingga ponsel Rakes berdering, satu chat masuk.
"Rakes!" Panggil Rafeal karena melihat Rakes masih saja larut dalam lamunannya.
"Iya, kenapa?" Tanya Rakes.
"Siapa tau chat penting!"
"Chat? apa ponsel aku berdering?" Tanya Rakes yang segera merogoh saku jeans nya.
"Zafran, vidio? apa ini?" Ujar Rakes yang langsung membuka vidio yang baru saja ia terima dari Zafran.
"Aku juga mau lihat!" Jelas Rafeal.
"Lalu bagaimana dengan bocah di belakang sana?"
"Aman, aku sudah membuat dia tertidur untuk sementara waktu!
"Bagus lah, Oke, ayo kita nonton!" Rakes langsung memutarkan vidio tersebut.
__________________
"Rakes, aku sama sekali tidak ingin menyakitimu, jadi lepaskan bocah itu, urusanku hanya dengan dia. Aku harus melenyapkannya!" Jelas Vikram lantang.
"Tidak, tolong jangan sakiti adik aku! dia sama sekali tidak bersalah!" Jelas Rakes yang langsung menjadi tameng untuk tubuh Zea.
"Dia memang tidak bersalah, tapi kehadiran dia dan ibunya menjadi petaka untuk putri dan cucuku, karena dia Iqbal menelantarkan putri kesayanganku, karena kedatangan ibunya membuat putriku harus kehilangan orang yang begitu dia cintai. Aku harus melenyapkan mereka berdua, hanya itu satu-satunya cara agar Lestari dan dan juga putranya bisa hidup bahagia." Jelas Vikram.
"Tidak pak! aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti adik aku!" Tegas Rakes yang terus menggenggam erat kedua tangan Zea yang berdiri dibelakang tubuhnya.
"Kalau begitu kamu juga harus mati!" Tegas Vikram bersamaan dengan mengarahkan senjata tepat di kepala Rakes.
"Abang….." Gumam Zea pelang lalu mendekap erat tubuh Rakes dari belakang.
"Abang akan melindungi mu, Zea!" Janji Rakes.
Dengan gampangnya, Vikram menarik tubuh Rakes dari pelukan Zea, lalu menghempaskan nya ke pojok ruangan, bahkan pistol yang ada di tangannya juga ikut terlempar jauh.
Kaki Vikram kini mendekati Zea lalu dengan kokoh tangannya mencengkram leher Zea. Mata Zea terus menatap tajam mata Vikram yang dipenuhi dengan dendam.
"Ayah mu yang sudah menghancurkan hidup putri ku, maka aku akan menghancurkan hidup putrinya, agar dia tau bagaimana hancurnya aku!" Jelas Vikram yang semakin menekan kukunya di leher jenjang Zea.
'Dhoorr!' Satu peluru lepas dari induknya.
Rakes perlahan membuka mata yang sejak tadi ia tutup rapat. Vikram masih saja berdiri tegak, satu peluru sama sekali tidak membuat tubuh Vikram kesakitan.
'Dhorrrr' Tanpa jeda tiga peluru kembali terlepas dari induknya, ketiganya mengenai sasaran dengan sempurna, kini tubuh Vikram tumbanglah sudah.
Tubuh Vikram terjatuh ke lantai dengan darah segar yang terus mengalir mengotori lantai. Rakes masih berdiri mematung dengan tangan kiri yang masih menggenggam erat pistol.
"Pergilah, kabur dari tempat ini!" pinta Rakes dengan kedua tangan yang mendekap kedua bahu Zea.
"Abang!" Lirih Zea.
"Pergilah! abang mohon!" Pinta Rakes.
Disaat itu pula Iqbal muncul entah dari mana. Kaki jenjang Iqbal terus berlari mendekati tubuh Vikram.
"Dia mati, om yang membunuhnya. Kamu tidak pernah muncul disini dan sekarang bawa Zea pergi bersama mu, om akan selesaikan semuanya." Jelas Iqbal yang dengan sigap mengambil alih pistol dari tangan Rakes lalu membersihkannya.
Iqbal menyentuh tubuh Vikram yang tak bernyawa lagi, lalu melumuri tangannya dengan darah dan terakhir menempelkan kedua tangannya di tubuh Vikram dan juga di pistol. Rakes dan Zea masih saja mematung dengan mata yang terus saja menatap mayat Vikram.
Iqbal bangun lalu berusaha melihat keadaan sekitar, setelah merasa lokasi aman dari pantauan cctv dan juga saksi lainnya, Iqbal kembali mendekati Rakes.
"Om minta tolong sama kamu, pergilah bawa Zea! cepat Rakes." Perintah Iqbal.
"Rakes!" Gumam Iqbal karena sejak tadi Rakes masih saja berdiam diri.
"Om, aku yang membunuhnya!" Jelas Rakes.
"Ayah!" Ujar Zea.
"Sayang, percaya sama ayah, semuanya akan baik-baik saja" Jelas Iqbal.
"Tapi aku yang membunuhnya!" Tegas Rakes.
"Tidak, kamu dan juga Zea bahkan tidak pernah datang ke tempat ini, om pelakunya, pergilah!"
"Bagaimana bisa kesalahan aku om yang tanggung!"
"Rakes! ini bukan waktunya kamu keras kepala, ini demi kebaikan kita semua, pergilah!" Jelas Iqbal.
Rakes langsung menggenggam erat tangan Zea, lalu membawa Zea bersamanya, keduanya pergi meninggalkan lokasi kejadian.
____________________
"Akan aku kirimkan untuk pak kepala!" Ujar Rakes yang hendak mengirimkan vidio tersebut pada sang atasannya.
"Tidak Rakes, jangan lakukan itu!" Tegas Rafeal.
"Sejak awal akulah pelakunya, aku tau mereka menyeret ayah dengan sepenggal vidio ini, aku akan buktikan kalau ayah tidak bersalah!" Tegas Rakes.
"Lalu kamu akan menyia-nyiakan pengorbanan pak Iqbal begitu saja? pikirkan dengan akal sehat mu, kenapa pak Iqbal melakukan semua ini? itu karena dia tau kalau kamu tidak salah! aku percaya pada pak Iqbal, dia pasti sudah menyusun rencana yang lebih baik dari kita, dia bahkan bersembunyi dari pangkat dia yang sebenarnya, sekarang aku paham dengan jalan pikirannya pak Iqbal, dan aku sepihak dengannya!" Jelas Rafeal yang langsung merebut paksa ponsel milik Rakes.
"Rafeal kembalikan!" Pinta Rakes.
"Kita akan tiba secepatnya di rumah pak Adimaja Saka!" Jelas Rafeal lalu menambah kecepatan laju mobilnya.
______________________
"Iqbal! berhenti melakukan semua ini! bekerjasama lah dengan kami!" Jelas Hamdan yang malam ini kembali mendatangi Iqbal yang masih ditahan di ruang introgasi.
"Aku pelakunya, bukankah sejak dulu aku sudah mengakui semuanya lalu kenapa kalian kembali membuka kasus lama? pada hal aku sudah menyelesaikan semuanya." Jelas Iqbal.
"Iqbal, Rakes kan pelakunya?"
"Berapa kali harus aku katakan? aku, bukan yang lainnya!"
"Lihatlah!" Jelas Hamdan yang langsung memutar video yang baru saja ia dapatkan.
"Kamu tidak harus bertanggung jawab, karena Rakes sama sekali tidak melakukan kesalahan, dia hanya membela adik dan dirinya sendiri! sekarang aku paham, dia berlian yang sejak awal begitu kamu lindungi kan?"
"Pak....!"
"Aku akan menggugat mereka balik! lain kali perkenalkan aku dengan berlian berharga mu itu!" Jelas Hamdan yang langsung keluar begitu saja.
"Rakes, vidio ini, ini masih ada kelanjutannya, ceritanya belum usai sampai di potongan ini, karena ayah lah yang membunuhnya!" Jelas Iqbal pada dirinya sendiri sembari terus menonton vidio yang berakhir saat Rakes pergi dengan membawa serta Zea bersamanya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️