
Alrico sudah berhasil mendaratkan helikopternya di New York yang membawa ia dan Stefany. Stefany masih tertidur pulas tidurnya tidak terganggu sama sekali.
Alrico menggendong Stefany ala bridgestyle untuk turun dari helikopternya dan ia membawa Stefany ke mobil yang sudah menjemputnya. Alrico memasukkan Stefany ke dalam mobil begitu juga dengannya.
Stefany yang berada di samping Alrico dan mobil pun meninggalkan bandara tersebut dan menuju ke apartemennya.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke apartemennya, karena apartemennya itu berada di pinggir kota dan dekat dengan bandara hanya butuh 5 menit untuk sampai ke apartemennya.
Mobil Mercedez sudah terparkir di depan apartemen dan supir membukakan pintu untuk Alrico. Stefany masih belum terbangun dari tidurnya dan Alrico kembali menggendongnya untuk membawanya masuk ke dalam apartemennya.
Alrico berbicara kepada sang supir pribadinya jika ia berada di New York, supir yang bisa ia andalkan dan supir nya yang jujur dan bertanggung jawab.
"Sekarang tugas anda menjadi supir dia, dan ingat jika ia ingin pergi segera hubungi saya. Anda mulai menjadi supir dia besok pagi dan anda beh pergi" Serunya dengan pandangannya mengarah ke Stefany yang berada di gendongannya.
"Baik tuan" Ucap sang supir.
Alrico berjalan masuk ke dalam apartemen dan seluruh pegawai menunduk kepadanya, namun banyak sekali yang berbisik-bisik dengan rekan kerjanya.
"Tuan Alrico bawa siapa lagi? Aku mau deh jadi perempuan itu" ucap pegawai perempuan kepada rekan kerjanya.
"Kamu tahu sendiri kan tuan banyak sekali perempuannya, sama aku juga mau jadi simpanannya" ucap rekan kerjanya.
Alrico sudah terbiasa membawa perempuan ke apartemennya tempat untuk bermainnya, dan para pegawai pun sudah terbiasa dengan Alrico membawa perempuan yang gonta-ganti.
Alrico memencet lift ke lantai 19 tempatnya untuk lift nya sepi dan mempermudahnya. Lift pun terbuka dan Alrico berjalan menuju apartemennya.
Alrico membuka pintu apartemennya setelah itu ia menutup pintunya, apartemen yang mempunyai 2 kamar yang satu kamar untuk bermain dengan wanitanya dan yang satu lagi kamar pribadi nya kamar yang tidak boleh seorang pun memasukinya.
Alrico membawa Stefany ke kamar tempat ia bermain, Alrico menidurkannya di atas ranjang dengan sangat hati-hati takut jika ia terbangun.
Setelah berhasil menaruh Stefany di ranjang, Alrico merasa sangat capek sekali belum lagi ia harus menggendong Stefany dan mengendalikkan helikopternya sendiri.
Alrico mengecup kening Stefany setelah itu mengusap rambutnya yang menutupi wajahnya dan tidak lupa candunya yaitu bibir ranumnya Stafany yang sangat menggodanya, hanya sekejap dan setelah itu Alrico pergi menuju kamarnya.
πππππ
Malam hari Stefany terbangun dari tidurnya dan ia mengerjapkan matanya, ia tidur seperti orang pingsan.
Stefany meneliti ruangan kamar tempat ia tidur.
"Aku dimana?" Ucapnya dengan mengedarkan matanya dan tempat yang sangat asing baginya.
Stefany berjalan ke arah pintunya dan membuka pintu kamarnya betapa terkejutnya ruangan yang sangat besar dengan nuansa putih, ia pun mengedarkan matanya dan berjalan ke arah balkon apartemen.
Stefany di kejutkan dengan patung liberty yang sangat besar.
"Apa aku gak mimpi?" Ucapnya kepada dirinya sendiri.
Tiba-tiba tangan seseorang melingkar di pinggang Stefany dan membuatnya kaget sekali hingga ia memutarkan badannya hingga menghadap ke arah seseorang itu.
Seseorang itu adalah Alrico siapalagi kalau bukannya, apasalnya di apartemen ini ia sendiri dan tidak ada pembantu disini beda dengan di mensionnya.
"Kamu gak mimpi Princess" Ucap Alrico tepat berada di depan wajah Stefany.
Stefany tersadar dari lamunannya dan kembali membalikkan badannya menghadap ke patung liberty, namun pergelangan tangan Alrico masih melingkar di pinggang rampingnya Stefany.
"Kau tidak bisa kemana-mana princess, disini hanya ada kamu dan aku" Alrico menyeringai dengan senyumnya, Stefany sudah kembali dengan nada ketusnya.
"Tidak masalah, aku tidak akan membawa mu ke kantor polisi. Tapi lihat nanti aku akan menancapkan pisau di perutmu, jantungmu dan setelah itu aku akan potong-potong dagingmu untuk santapan harimau!" Alrico menelan salivanya susah kali ini ia terjebak oleh perempuan seperti macan ini.
Stefany menyeringai kepada Alrico, ia tidak mau kalah dengannya. Namun Alrico menstabilkan kembali dirinya untuk bersikap seperti biasanya.
"Sebelum kau menghabisi ku, aku akan mencicipi tubuhmu, dengan membayangkan tubuhmu saja sudah membuatku ingin bermain" Alrico menatap Stefany dengan tatapan menelanjanginya dan secara reflex Stefany menutup dadanya yang tertutup dengan pakaiannya.
"Kau jangan macam-macam!" Kini Stefany tidak bisa berkata apa-apa, sedangkan Alrico berjalan pelan ke arah Stefany.
Stefany yang menyadari Alrico yang jarak nya tidak jauh dengannya segera lari dari balkon dan menuju ruang tamu.
"Menjauh dariku!" Ucapnya sambil berlari dan Alrico pun ikut berlari untuk mengejarnya.
"Jangan berlari seperti itu, nanti kau akan jat.." belum selesai menyelesaikan ucapannya, Stefany sudah terjatuh akibat ia terpeleset di karpet yang berada di ruang tamun dan keningnya terkena ujung meja tamu yang lancip.
"Auuuu" Stefany memegang keningnya yang terkena meja tadi.
"Kan sudah aku bilang jangan berlarian seperti anak kecil, lihat sekarang apa yang terjadi!" Ucapnya dengan panik membuat Stefany terdiam, Alrico mengambil tangan Stefany untuk melihat lukanya.
"Keningmu berdarah, sebentar aku ambilkan obat. Jangan di pegang-pegang lukanya diam disitu!" Alrico sangat panik sekali hingga ia berbicara tidak seperti biasanya, suaranya kini meninggi membuat Stefany sangat takut.
Alrico telah kembali dengan membawa p3k nya dan ia mengeluarkan cairan alkohol dituangkan ke kapas.
"Tahan sebentar, sakit nya cuma sebentar" Alrico membersihkan luka Stefany dengan alkohol yang telah dituangkan di kapas. Stefany meringis dan ia mencengkram tangan Alrico. Alrico juga merasakan sakit karena cekalan tangan Stefany namun ia bersikap biasanya.
Setelah selesai membersihkan lukanya, Alrico memplester lukanya. Untungnya hanya luka goresan kecil, stelah itu ia membereskan kembali alat-alat nya.
"Terimakasih Al" Ucap Stefany menghap ke arah Alrico.
"You're welcome, lain kali jangan berlarian seperti itu dan maafkan aku telah berbicara sangat kencang kepadamu" Ucap Alrico tersenyum dengan menatap wajah Stefany.
"Kau tidak usah meminta maaf, harus nya aku yang meminta maaf kepadamu" seru Stefany dengan mengalihkan pandangannya ke karpet putih.
"Kalau bicara dengan seseorang di tatap jangan mengalihkan pandanganmu" Alrico memang tidak suka dengan seseorang yang sedang berbicara menatap ke arah lain tidak menatap ke arah lawan bicaranya.
"Iya maaf" Kini Stefany menatap Alrico ditatapnya mata indah Al yang hijau dengan hidung yang mancung bibir nya yang tipis sungguh sempurna sekali ia.
"Sudah cukup meneliti wajahku" Ucap Alrico dengan senyumnya dan membuat Stefany salah tingkah dengan mengusap lehernya sendiri.
"Owh iya bagaimana bisa kau menculikku" Stefany mengalihkan pembicaraan nya dan bukannya menjawab malah Alrico bertanya kembali kepadanya.
"Owh iya bagaimana caranya kamu kabur dari rumah sakit? Dan apakah kamu menghindari ku?" Ucap Alrico dan membuat Stefany skakmat dengan ucapannya.
πππππ
TBC
Aku mohon bantuannya agar cerita ini tembus 1k ya teman-teman π
Aku mohon di pencet jempolnya dan di komen mohon bantuannya dan kalian bisa share ke teman-teman kalianππβ€οΈ
Salam penulis Amatir π
DINβ€οΈ