
"Abang!" Panggil Zea dengan suara yang begitu pelan dan bibir yang masih terlihat jelas masih gemetaran.
"Tetap berdiri sini, pegang erat kemeja abang, jangan biarkan siapapun melihat rambutmu lagi!" Tegas Rakes.
Zea menurut, ia masih berdiri di tempat semula dengan kedua tangan yang menggenggam erat kedua sisi kemeja yang menutupi kelapanya.
Rakes yang sedari tadi memang tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, dengan gagahnya kaki panjang Rakes mulai mendekat kearah Fadhil yang telah kembali berdiri tegak seolah menantang Rakes.
Tanpa ucapan sepatah katapun, kaki kiri Rakes langsung menghantam lutut Fadhil secara bergantian membuat sang empunya langsung ambruk ke lantai, tak hanya sampai disitu, kini tangan Rakes mulai menyerang wajah Fadhil. Pukulan Rakes yang membabi buta membuat Fadhil semakin kewalahan.
Dengan tanpa belas kasih Rakes mematahkan tangan Fadhil yang tadi ia gunakan untuk menyentuh bibir Zea, perbuatan Rakes sontak membuat Fadhil menjerit histeris.
"********!" Teriak Fadhil yang terlihat begitu kesulitan menahan rasa sakit di tangan dan seluruh wajahnya.
"Ini sama sekali belum sepadan dengan apa yang sudah kamu lakukan! Aku akan membunuhmu!" Gumam Rakes yang kini mengarahkan pistol tepat di dahinya Fadhil.
"Haaaah! kamu pasti belum pernah mencicipi bibirnya kan? jadi aku penikmat pertamanya? wow! terima kasih, tadi itu benar-benar ciuman ter-nikmat yang pernah aku rasakan! pacarmu benar-benar candu yang membuatku ketagihan!" Jelas Fadhil dengan wajah mesumnya.
Kaki Rakes kembali mendarat di dada Fadhil, hingga tubuh Fadhil kembali terlentang di lantai.
"Abang, dia bohong! aku, aku....!" Jelas Zea dengan nada melemah dan seketika tubuhnya ambruklah sudah.
"Zea...!" Seru Rakes yang segera berlari mendekati Zea.
Rakes membawa tubuh lemah Zea kedalam dekapannya, dengan lembut tangan kanan Rakes mengelus punggung Zea, mencoba menenangkan sang kekasih tercinta yang saat ini terlihat begitu kacau.
"Aku masih suci! percaya sama aku..." Jelas Zea dengan penuh kekhawatiran, ia begitu takut jika semua kebohongan yang Fadhil lakukan akan membuat Rakes membencinya.
"Tenanglah!" Pinta Rakes yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Akan ku antar kamu ke neraka!" Gumam Rakes dan kembali mengangkat senjatanya dan mengarahkannya tepat di mata Fadhil.
"Akan aku hancurkan matamu yang melihat apa yang tak seharusnya kamu lihat dari istriku!" Tegas Rakes lalu menarik pelatuk hingga....
'Dorrrrr!' Suara peluru yang keluar dari induknya menggema memenuhi setiap ruangan, hingga membuat pintu kamar tersebut di buka kasar dari luar. Segerombolan pria masuk namun semenit kemudian tubuh mereka berjatuhan dilantai.
"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Iqbal dengan mata yang menatap kedua orang yang begitu ia cintai.
Setelah membuat 17 orang pasukan Fadhil berjatuhan, kini Iqbal melangkah mendekati sosok Fadhil yang masih duduk dengan keadaan yang begitu mengkhawatirkan.
Wajah Fadhil dipenuhi luka-luka, tangannya yang patah serta peluru yang menembus pergelangan kakinya, membuat Fadhil tidak bisa bergerak sama sekali.
"Rakes bawa Zea keluar dari tempat ini, biar om dan Marvel yang menyelesaikan pertarungan ini!" Jelas Iqbal yang mulai berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan Fadhil.
"Baik Kapten! Ayo Princess." Rakes membantu Zea berdiri lalu segera membawanya pergi.
"Kapten!" Seru Marvel yang masuk ke kamar tersebut dengan membawa seorang lelaki dalam sandraannya.
"Siapa dia?" Tanya Iqbal.
"Dia yang ada dalam vidio yang mereka kirimkan untuk kapten!" Jelas Marvel.
"Siapa otak dari semua ini! katakan atau mati?" Tanya Iqbal yang langsung memamerkan pisau tajam di kedua tangannya.
"Dia, dia yang menyuruhnya!" Tegas lelaki tersebut sambil menunjuk kearah Fadhil.
"Bocah ingusan ini? hah kamu bercanda? baik, aku akan langsung mengantarmu ke neraka!" Tegas Iqbal yang mengayunkan pisau lalu menghentikannya tepat sebelum pisau tersebut merobek leher lelaki tersebut.
"Lestari!" Teriak lelaki tersebut yang begitu ketakutan.
"Dasar pengkhianat!" Cela Fadhil dengan nafas yang memburu.
"Lestari? jadi, apa kamu putra nya?" Tanya Iqbal yang segera mengalihkan pandangannya pada Fadhil.
"Iya, aku anak mu yang kau campakkan hanya karena kamu memilih ******* yang bernama Elsaliani. Kamu membuang aku dan ibu ku, kamu ********!" Gumam Fadhil lalu terjatuh pingsan karena memang sedari tadi darah terus mengalir di bagian kakinya yang terkena peluru.
"Ahhhh! sekarang aku baru paham apa yang sebenarnya sedang terjadi! Marvel bawa bocah ini ke markas, obati lukanya!" Jelas Iqbal.
"Baik!" Jawab Marvel dan segera mengambil alih Fadhil.
"Lestari, kamu benar-benar wanita iblis, kamu mengorbankan anakmu sendiri hanya untuk membalas dendam yang tak berasal, dasar egois!" Cela Iqbal setelah Marvel membawa Fadhil keluar.
"Jangan buat laporan apapun tengang kasus hari ini, aku akan menyelesaikan sendiri kasus ini tanpa melibatkan pihak manapun!"
Setelah memberi perintah pada pasukannya, Iqbal langsung memutuskan panggilan tersebut lalu beralih mengetik sebuah pesan.
"Lestari Kemala, putri dari pak Vikram. Carikan informasi sedetailnya! jangan ada yang terlewatkan!"
Lalu mengirimkan pesan tersebut pada Zafran.
Setelah menyimpan kembali ponsel kedalam saku celananya, Iqbal langsung meninggalkan tempat tersebut.
______________________
"Dokter, aku sama sekali tidak membutuhkan perawatan, aku baik-baik aja!" Jelas Zea kepada sang dokter yang terlihat sedang bersiap dengan peralatan medisnya.
"Luka di kaki kamu harus dijahit, dan juga luka di wajahnya harus diobati!" Jelas dokter wanita yang memiliki name tag yang bertuliskan 'Annisa' yang menempel di saku jas kedokterannya.
"Aku akan menjahitnya dengan pelan, tenanglah!" Pinta Dokter Annisa.
"Zea!" Seru Rakes yang baru saja masuk keruangan tersebut.
"Tolong tenangkan pasien, Aku akan mulai menjahit luka di kakinya!" Pinta dokter Annisa.
"Baik dok!" Jawab Rakes yang langsung mendekat pada Zea.
"Tahanlah, cuma beberapa jahitan kok!" Jelas Rakes mencoba menenangkan Zea.
"Chim chim jangan salah paham! aku bukan takut dengan jarum hanya saja aku merasa kalian berlebihan, aku cuma lecet sedikit aja!" Jelas Zea mencoba tetap tenang.
"Abang tau, tenanglah semuanya akan membaik seperti sedia kala!" Jelas Rakes.
"Apa kalian pasangan kekasih?" Tanya Annisa yang kini beralih mengobati bagian wajah Zea.
"Bukan!" Jawab Rakes lantang bersamaan dengan Zea tapi dengan jawaban yang berbeda karena dengan penuh semangat Zea memberi jawaban "Iya". Jawaban keduanya sontak membuat Annisa tertawa.
"Dia bukan kekasihku, tapi calon ibu dari anak-anakku!" Lanjut Rakes yang langsung membuat Zea tersipu malu.
"Manisnya, semoga kalian selalu bersama hingga akhir nanti. Nah, udah selesai, istirahatlah beberapa jam sebelum pulang, aku akan membuat resep untuk obatnya." Jelas Annisa.
"Terima kasih dokter!" Ucap Zea dengan senyuman lebar.
"Sama-sama!" Balas dokter Annisa dengan senyuman manis lalu melangkah meninggalkan pasangan tersebut.
"Apa lukanya begitu terlihat jelas?" Tanya Zea sambil menyentuh wajahnya sendiri.
"Lukanya akan segera menghilang." Jelas Rakes.
"Chim chim, soal ucapan Fadhil tadi....."
"Abang tau kalau dia bohong!"
"Benarkah?"
"Hmmmmmm"
"Bibir aku benar-benar masih perawan." Tegas Zea yang langsung membuat Rakes salah tingkah.
"Abang....!"
"Terima kasih karena datang tepat waktu, dan terima kasih juga atas jilbab uniknya!" Jelas Zea sambil menyentuh kemeja Rakes yang masih membalut kepalanya.
"Hmmmm, Bagaimana, apa masih terasa sakit?" Tanya Rakes khawatir.
"Kalau aku bilang masih apa Chim chim mau mengurangi rasa sakit itu?"
"Pasti akan abang lakukan!"
"Serius?"
"Iya!"
"Kalau aku bilang aku ingin melakukan first kiss aku sekarang, gimana?"
"Zea!"
"Please!"
Rakes mendekat lalu dengan lembut menyentuh pucuk kepala Zea yang terbalut dengan kemejanya, lalu mengusapnya pelan hingga beberapa menit.
"Semua akan abang berikan, tunggulah sebentar lagi, abang akan segera menghalalkan mu, dan setelah itu kamu bebas mau melakukan apapun pada tubuh abang." Jelas Rakes dengan tatapan mata yang begitu teduh membuat Zea luluh seketika.
"Tidak bisakah........?"
"Nggak Zea, nggak bisa meski hanya sedikit."
"Tapi...."
"Tolong pahami maksud abang, abang hanya ingin menjagamu dengan baik!"
"Love Chim chim forever!" Ungkap Zea dengan senyuman lebar.
"Abang jauh lebih cinta dan sayang pada Jannati!" Ungkap Rakes dengan senyuman yang tak kalah indah dari Zea.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE yaππ
Stay terus sama My Princessππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ