
"Bagaimana?" Tanya Hilman yang tak lain adalah kepala sekolah SMA yang kini sedang membawa Rakes keliling gedung sekolah.
"Sejauh ini oke, saya akan turuti semua peraturan yang bapak ajukan, tidak akan membuat para murid resah, tidak akan beraksi tanpa persetujuan bapak dan juga tidak akan melukai siapapun yang ada di sekolah ini." Jelas Rakes.
"Saya harap kamu dan juga rekanmu bisa menjaga janji kalian, selamat datang di sekolah kami, yah meski hanya untuk dua minggu, semoga kalian betah." Jelas Hilman.
"Siap pak, dan terima kasih atas kerja samanya." Ucap Rakes.
"Lalu dimana rekanmu?" Tanya Hilman.
"Dia akan datang besok, berhubung hari ini dia sedang tugas di tempat lain." Jelas Rakes.
"Oh ya satu hal lagi, peraturan itu bukan hanya untuk kalian berdua tapi juga untuk satu lagi temanmu yang sukses menipu bapak dengan wajah polosnya yang terlihat persis layaknya siswa SMA. Ingatkan dia agar tidak macam macam, kalau tidak bapak akan langsung mengadukan kalian bertiga kepada atasan kalian!" Jelas Hilman.
"Siap pak! saya akan bicara lagi dengan dia." Jelas Rakes.
"Kalau begitu saya pamit lebih dulu, kalau kamu masih mau melihat-lihat silahkan di lanjutkan, saya permisi." Jelas Hilman.
"Baik pak, terima kasih atas waktunya."
"Sama-sama, selamat bergabung di sekolah kami, selamat siang!"
"Selamat siang!"
Hilman langsung meninggalkan Rakes yang masih berada di lorong kelas sana.
"Huuuf! Jadi guru, semoga saja aku bisa." Ujar Rakes mencoba menyemangati dirinya sendiri.
"Abang Rakes!" Panggil Reva yang terus berjalan mendekati Rakes.
"Hai, gimana kabar kamu? apa ada yang sakit?"
"Baik, hmmm berkat abang aku baik-baik saja. Kenapa abang di sini?"
"Itu, hmmm abang akan magang di sekolah ini."
"Apa? waaaah bakal seru nih, jadi nggak sabar mau belajar sama abang."
"Semoga saja benar-benar seru!" Ujar Rakes dengan senyuman lebar.
"Mau makan siang bersama?"
"Ah, abang masih harus kembali ke kampus."
"Yah di tolak deh, padahal aku cuma mau traktir abang sebagai ucapan terima kasih karena kemaren abang udah nolongin aku." Jelas Reva dengan raut wajah kecewa.
"Mungkin lain kali aja, atau besok di kantin sekolah, gimana?"
"Beneran?"
"Iya, deal?"
"Oke, deal." Jawab Reva penuh semangat.
"Kalau gitu abang duluan, assalamualaikum." Ujar Rakes.
"Waalaikumsalam." Jawab Reva dengan senyum penuh kebahagiaan.
Rakes segera menuju parkiran, disaat Rakes sudah siap diatas motornya, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh lengan Rakes yang sontak membuat Rakes reflek dan langsung menangkis tangan tersebut lalu mengarahkan tinjunya kearah tangan barusan berasal namun sebelum tinju Rakes mendarat mengenai wajah sang pemilik tangan, ia telah lebih dulu menangkis tinju tersebut.
"Sakit tau!" Protes Zea sambil mengusap tangannya.
"Maaf, abang nggak sengaja, abang kira siapa." Jelas Rakes yang segera turun dari motornya dan segera memeriksa tangan kiri Zea.
"Tanggung jawab!"
"Ayo naik, kita ke rumah sakit."
"Nggak perlu ke rumah sakit, langsung aja Chim chim obati disini." Jelas Zea sambil mengarahkan tangannya kearah Rakes.
"Abang nggak bawa obat!" Jelas Rakes.
"Obati aja pakai bibir Chim chim."
"Ayo pulang!" Tegas Rakes yang kembali ke motornya.
"Nggak mau pulang sebelum Chim chim obati tangan aku!" Tegas Zea.
'Cup' Bibir Rakes mendarat sempurna di tangan kiri Zea.
"Lagi"
"Kita lanjutin di rumah, ayo pulang!" Ajak Rakes.
"Oke, bakal aku tagih ntar malam!" Seru Zea.
Keduanya segera pulang meninggalkan lokasi parkiran yang ternyata dari kejauhan sana di pantau oleh Reva.
"Giliran sama aku aja bukan muhrim, nggak boleh dekat-dekat, nggak boleh bersentuhan. Dasar licik, pasti kak Zea main curang kalau nggak abang Rakes nggak bakal begitu nurut dengan semua perintahnya, sampai cium tangan segala. Tunggu aja, aku tidak akan membiarkan kakak mempengaruhi abang Rakes, abang Rakes nggak boleh jadi boneka yang bebas kak Zea mainkan kapan saja, aku akan mengambil kembali milikku." Tegas Reva yang memang sedang di penuhi dengan api cemburu.
__________________
"Kalian udah pulang!" Ujar Elsaliani ketika melihat kedatangan Rakes dan Zea.
"Iya uma." Jawab Rakes dan Zea hampir bersamaan lalu segera menyalami Elsaliani.
"Abang Roger." Ujar Zea.
"Abang nungguin kamu loh dari tadi." Jelas Roger.
"Ada apa?" Tanya Zea.
"Tapi aku harus izin dulu." Jelas Zea.
"Tante boleh kan?" Tanya Roger yang langsung meminta izin pada Elsaliani.
"Hmmmmm" Elsaliani terlihat begitu kebingungan.
"Aku naik ke atas dulu, oh ya Roger kirim salam abang buat mama, abang permisi." Jelas Rakes.
"Siap, nanti aku sampaikan." Ujar Roger.
Rakes langsung meninggalkan ruang tamu.
"Boleh kan tante?" Tanya Roger lagi membuat Elsaliani semakin kebingungan.
"Iya, boleh!" Jawab Elsaliani.
"Ya udah tunggu apa lagi, cepat ganti baju, kita berangkat sekarang!" Jelas Roger.
"Iya, tunggu sebentar." Ujar Zea yang perlahan menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampai di kamar ia sama sekali tidak menemukan Rakes di sana. Zea kembali keluar dari kamarnya lalu bergegas memasuki kamar Rakes.
"Pergilah! abang izinkan." Jelas Rakes bahkan sebelum Zea bicara sepatah katapun.
"Beneran?" Tanya Zea dengan wajah kesal.
"Hmmm!" Jawab Rakes tanpa melihat Zea, ia menyibukkan dirinya dengan merapikan buku-buku di rak.
"Apa Chim chim sama sekali tidak cemburu?"
"Kenapa harus cemburu, Roger adik abang, dan kamu istri abang, abang percaya pada kalian berdua, pergilah dan pulanglah sebelum magrib." Jelas Rakes.
"Terkadang kerabat terasa seperti orang asing." Jelas Zea yang kini berdiri tepat di hadapan Rakes.
"Maksudnya?"
"Setelah kejadian waktu itu, aku terus menjaga jarak dari abang Roger, aku bukannya tidak memaafkan kesilapan abang Roger, hanya saja bayangan hari itu begitu membekas dalam ingatan aku, selalu saja ada perasaan takut disaat bersamanya. Kini, dia bagaikan orang asing bagi aku." Jelas Zea dengan kepala tertunduk.
Rakes segera menyentuh kepala Zea yang masih terbalut dengan jilbab sekolahnya, Zea yang ternyata sudah menitikkan air mata langsung membenamkan kepalanya di dada Rakes.
"Jangan meminta aku untuk pergi berdua dengan abang Roger." Pinta Zea.
"Hei, kamu nangis? baru kali ini abang lihat cewek bar-bar nangis, cup cup, udah jangan nangis lagi, masa iya ratu balap cengeng." Goda Rakes sembari mencuil hidung mancung Zea.
"Jangan menggoda ku!" Tegas Zea yang langsung memukul dada Rakes.
"Sana gih ganti baju!"
"Chim chim, aku benar-benar tidak ingin pergi!"
"Serius?"
"Iya!"
"Ya udah biar abang pergi berdua aja sama Roger."
"Chim chim juga ikut?"
"Iya, dari awal abang memang sudah berencana untuk ikut!"
"Kalau gitu aku siap-siap sekarang!" Tegas Zea yang kembali girang dan segera kembali ke kamarnya.
_______________
"Ayo berangkat!" Ajak Rakes yang sudah rapi dengan jeans dan kaos yang berwarna hitam, kaos dengan lengan yang menenggelamkan seluruh tangannya dan leher yang mengekspos jelas bagian leher dan juga sedikit bagian bahu serta dadanya.
"Apa abang juga bakal ikut kita?" Tanya Roger.
"Iya, Fadhil juga." Jelas Rakes.
"Abang bercanda kan? aku cuma ngajak Zea doang!" Jelas Roger.
"Lah bukannya lebih rame bakal lebih seru." Ujar Elsaliani.
"Tante El benar, lagi pula aku juga sudah lama nggak jalan-jalan." Jelas Fadhil.
"Ya udah ayo kita berangkat!" Ajak Zea yang begitu bersemangat.
"Kami permisi tante!" Ujar Fadhil.
"Hati hati!" Pesan Elsaliani.
Keempatnya langsung berpamitan pada Elsaliani lalu lekas keluar menuju mobil mewah milik Roger.
"Waaah makin kaya aja adek abang, boleh dong sesekali belanjain abangnya!" Ujar Rakes.
"Oke, hari ini kalian boleh beli apa aja sepuasnya!" Jelas Roger yang langsung masuk ke dalam mobil.
Rakes ikut masuk dan duduk di samping Roger sedangkan Zea dan Fadhil berada di kursi belakang, mobil mewah tersebut segera meluncur menuju pusat perbelanjaan sesuai dengan kesepakatan bersama.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ